
HAPPY READING...
***
Sudah 4 hari sejak kabar Dion meninggalkan Ibukota. Selama itu pula Arjun maupun Galih sama sekali tidak mendapat kabar apapun. Ponsel Dion benar-benar mati sehingga tidak dapat Arjun hubungi.
Arjun juga telah bertanya pada kakaknya Dion, nyatanya pria itu juga tidak membuka mulutnya sama sekali. Seperti tidak peduli lagi tentang keadaan adiknya.
"Dion di usir karena tidak mau di jodohkan dengan anak Adiguna..." sela Galih membuka pembicaraan.
Itulah informasi yang Galih dapat dari seseorang.
Sampai separah itu? batin Akira yang tak menyangka.
Bagaimanapun Akira juga prihatin mendengar kabar dari sahabat suaminya.
Apalagi Dion yang selama ini terlihat oleh Akira
adalah sosok pria jenaka yang selalu tersenyum.
Ya, tidak ada yang tau bagaimana isi hati seseorang. Terkadang orang yang sering memperlihatkan senyumnya adalah orang yang memikul banyak beban di pundaknya. Seperti itulah Dion. Tidak pernah memperlihatkan bebannya pada siapa saja tapi membungkus beban itu dengan sebuah senyum jenaka.
"Gue rasa Papanya sangat keterlaluan..." nilai Arjun pada orangtuanya Dion.
Arjun memang tau bagaimana ambisi dari Papanya Dion.
Mulai dari menjodohkan anak pertamanya pada pemilik perusahaan Batu bara, agar perusahaan bisa berkembang sempurna dan menambah pundi-pundi kekayaannya.
Tapi nyatanya keserakahan orang tua Dion tidak berhenti sampai di situ saja, mereka kembali merencanakan perjodohan Dion dengan anak orang kaya lain.
Jika Arjun adalah Dion, mungkin ia juga sama tertekannya. Dan mungkin seperti inilah yang Arjun tempuh. Pergi dadi rumah dan meninggalkan keluarga yang terus menekannya.
"Apa dia pergi sendirian?" tanya Arjun penasaran. Kalaupun iya, kenapa Dion sama sekali tidak memberitahu Arjun ataupun Galih. Mereka adalah sahabat, dimana Arjun maupun Galih akan suka rela membantunya bahkan tanpa di minta sekalipun.
"Katanya sih tidak, dia pergi bersama satu anak buahnya... tapi dugaan ku dia pergi bukan hanya di pinggiran kota... mungkin kota lain yang jauh dari sini..." ucap Galih. Karena jika hanya di luar Ibukota, tentu saja ia bisa melacaknya. Tapi kepergian Dion benar-benar tidak bisa di lacak sama sekali. Pria itu hilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
"Aku jadi kasihan dengan Dion..." keluh Akira.
Seketika membuat Galih dan Arjun tentu saja menatap wanita itu penuh keheranan.
Apa dia bilang? batin Arjun tak suka.
"Kasihan? jangan kasihan pada siapapun kecuali aku..." ucap Arjun ketus. Kenapa juga istrinya harus mengasihani Dion.
Akira adalah istrinya, jadi tak perlu memikirkan pria lain selain Arjun.
"Apa sih," senggol Akira pada lengan Arjun.
"Apanya yang apa? kenapa kamu kasihan pada Dion? memang dia suami mu? aku saja yang sering mual tidak di kasihani...malah kasihan pada pria lain," celoteh Arjun tanpa henti.
Dan tentu saja membuat Galih menggelengkan kepala nya heran sekaligus geli dengan tingkah sahabatnya itu.
Ck... cemburu...
Usia kandungan Akira telah genap 2 bulan, tapi masih Arjun yang merasakan mual. Bahkan Arjun kehilangan nafsu makannya padahal bukan dirinya yang mengandung bayi.
"Sayang... kenapa kamu marah? lagian bukan salahku kan kalau kamu yang mual gara-gara aku tengah hamil..." protes Akira tak mau di salahkan.
Apa aku meminta untuk dia yang mual? tidak kan...
__ADS_1
"Lagian gara-gara kamu, aku jadi hamil..." tambah gadis itu.
Galih yang mendengar penuturan Akira sedikit tersentak dan geli. Entah kenapa sejak Akira hamil, gadis itu seringkali berkata secara bar-bar beda dengan Akira yang dulu. Apakah ini hormon ibu hamil? batinnya.
"Ya bukan salahku juga, kamu juga keenakan bukan saat membuatnya...?" tambah Arjun.
Kembali membuat Galih tersedak liurnya sendiri.
Pasangan gila! umpatnya.
Untung saja sore ini tidak ada sosok yang biasa duduk di samping Galih. Siapa lagi kalau bukan Tiara. Karena kalau ada gadis itu, mungkin semakin membuat otak Tiara tercemar dengan polusi suara yang tercipta dari Arjun dan Akira.
"Siapa yang merem melek saat aku bergerak di atas?" tanya Arjun tanpa filter sama sekali.
Belum sempat Akira menjawab pertanyaan Arjun, Galih tah menginjak rem hingga membuat kendaraan itu berhenti dan menepi di jalan. "Kalian bisa diam tidak sih?" omelnya.
Galih benar-benar bisa kena serangan jantung mendengar ucapan vulg*r Arjun.
Mengganggu konsentrasi mengemudi nya.
"Selesaikan masalah kalian di ranjang nanti, jangan disini... oke?" perintah Galih. Sedangkan Arjun dan Akira sama-sama terdiam seolah menyetujui perkataan Galih barusan.
"Oke, kita jalan lagi..." tambah Galih kembali menyetir mobil membelah jalanan di depan sana.
***
Tiba di rumah, Akira menghidupkan pendingin ruangan dan langsung merebahkan diri di ranjang. Lelah sekali rasanya setelah seharian kuliah.
"Kamu tidak mandi?" tanya Arjun. Sudah sangat lama sekali mereka tak lagi mandi berdua seperti dulu.
"Nanti saja, sana mandi dulu..." usir Akira. Ia hanya ingin menyegarkan tubuh menikmati pendingin ruangan yang terasa sejuk.
Padahal ia ingin mengambil jatahnya bersama sang istri.
Masuk ke dalam kamar mandi, Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepala Arjun. Seringai menakutkan dari pria itu muncul.
"Sayang..." teriaknya.
Membuat Akira yang sedang posisi nyaman mulai terganggu.
"Apa sih?" bangkit untuk melihat ke arah pintu kamar mandi.
"Tidak ada handuk disini... ambilkan dong..." pinta Arjun.
Dengan sedikit terpaksa Akira menuju ke ruang ganti pakaian. Mengambil satu handuk di tumpukan handuk lainnya dan membawanya ke arah pintu kamar mandi.
"Nih," sodornya berharap ketika Arjun membuka pintu langsung melihatnya.
Ternyata semua itu hanya akal-akalan Arjun saja. Arjun mengambil handuk beserta tangan Akira untuk memaksanya masuk ke dalam.
"Eh..." teriak Akira terkejut ditarik begitu saja.
Arjun segera mengunci pintu kamar mandi setelah Akira masuk. Menampakkan senyum manis yang selalu tersungging ketika menginginkan sesuatu.
Ck... pasti ada maunya... duga Akira.
Ia sudah sangat hafal dengan perangai suaminya tersebut.
"Ayo mandi..." ajak Arjun sambil menaikkan kedua alisnya bersamaan.
__ADS_1
Hal itu membuat Akira terpaksa menurutinya. Walaupun pada kenyataannya ia benar-benar sudah lelah.
Dan sore itu, Arjun dan Akira benar-benar melakukan apa yang mereka mau. Menciptakan suara hingga memenuhi sudut kamar mandi.
Mandi yang harusnya membutuhkan waktu sebentar berubah sangat lama.
Hingga 1 jam berlalu, Arjun keluar sambil menggendong istrinya yang terbalut jubah mandi.
"Aku lelah..." keluh Akira. Tubuhnya benar-benar tidak bertenaga walaupun hanya sekedar berjalan.
"Aku belum selesai sayang..." jawab Arjun.
Ia ingin mengulang lagi aktifitas di kamar mandi tadi.
"Tapi aku lelah..." rengek Akira.
Inilah yang membuat Akira kesal jika menuruti suaminya. Tubuhnya benar-benar kehilangan tenaga.
"Kamu cukup diam dan menikmatinya, biar aku yang bergerak..." ucap Arjun dan kembali menghujani wajah Akira dengan banyak ciuman.
"Kata dokter, di trimester pertama-" belum sempat meneruskan kalimatnya, Arjun telah mengangkat jari telunjuknya untuk menutup mulut Akira.
"Jangan khawatir, aku tidak akan menyakitinya... aku akan bergerak sangat pelan..." jawab Arjun meyakinkan istrinya.
Tentu saja dengan nada bicara yang menggoda untuk bisa mengambil hati Akira.
Licik sekali memang.
***
Galih baru saja turun dari mobil. Langkah kakinya hendak membawanya masuk ke dalam Apartemen tapi tiba-tiba ponsel di sakunya bergetar. Menandakan ada sebuah panggilan telepon yang masuk.
"Siapa sih?" gumam Galih sambil merogoh sakunya mengambil benda pipih berwarna hitam.
"Halo, ada Bel?" tanya Galih ketika sadar bahwa yang menelponnya adalah Bella.
"Kakak... kakak bisa pulang sekarang?"
Galih langsung membulatkan mata. Apalagi suara Bella terdengar sangat panik. Yang Galih takutkan hanyalah keadaan Orangtuanya ataupun Bella. Karena tidak biasanya Bella menelpon Galih untuk memintanya segera pulang seperti ini.
"Ada apa bel?" tanya Galih panik. Dalam kepalanya hanya ada dugaan-dugaan kalau Ibu ataupun Ayah tengah terluka dan membutuhkan bantuan Galih.
"Cepat pulang kak..."
"Iya ada apa? apa terjadi sesuatu?" tanya Galih semakin risau. Karena Bella tidak mengatakan alasan kenapa Galih harus pulang mendadak seperti ini.
"Bella tidak bisa jelasin di telepon, pokoknya kakak cepat pulang..." ucap Bella.
"Oke... gue pulang sekarang... gue pulang," jawab Galih dan langsung memutar langkahnya kembali menuju parkiran.
"Hubungi gue kalau terjadi apa-apa..." perintah Galih sebelum mematikan sambungan telepon dan segera menancap gas kembali beradu dengan kendaraan lain di jalanan.
Tuhan lindungi keluarga ku... batin Galih tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan kedua orang tua dan adik perempuannya.
***
Jeng jeng jeng... apa yang terjadi?
Tinggalkan Like dan Komentar banyak-banyak Yes... love kalian...
__ADS_1