
HAPPY READING...
***
Pagi sekali, Galih sudah berada di depan kediaman Pradipta. Berseragam rapi sama seperti sebelum-sebelumnya. Sesekali mengecek kendaraan di sampingnya karena kondisi kendaraan juga mempengaruhi semuanya kali ini.
Sedangkan di dalam rumah, lebih tepatnya di dalam kamar yang berada di lantai 2 terlihat Akira yang memasangkan dasi kepada suaminya. Padahal sekarang masih jam 6 pagi, tapi Arjun benar-benar sudah siap dengan pakaian kerjanya.
Akira memasangkan dasi tanpa banyak bicara, itulah yang membuat Arjun tersenyum sambil tak henti-hentinya menatap wajah istrinya.
"Kenapa cemberut?" tanya Arjun lembut.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dari sebuah hubungan yang Arjun dan Akira ciptakan sendiri, membuat mereka merasa nyaman. Masih tidak menyangka kalau ini adalah bulan ke-6 Arjun dan Akira hidup bersama. Semuanya benar-benar terasa seperti mimpi. Dari yang selalu berdebat serta bertengkar, Arjun dan Akira bisa bertahan.
"Kamu yakin akan seminggu di sana?" tanya Akira.
Entah kenapa rasanya seperti aneh. Selama mereka tinggal di rumah ini, inilah pertama kalinya Arjun dan Akira akan berpisah untuk beberapa hari.
Dan itu membuat Akira sedih, bukan! lebih tepatnya ia akan merasa kesepian tinggal di rumah mewah ini tanpa Arjun.
"Sesuai rencana memang begitu..." jawab Arjun.
Jika bukan karena kesehatan Papi Johan yang kurang sehat, mungkin pekerjaan ini tidak akan di gantikan kepada Arjun.
Ya... bagaimanapun mereka harus profesional dalam menangani pekerjaan.
Dan sekarang Arjun lah yang akan pergi ke luar kota bersama dengan Galih.
"Kenapa? kamu tidak rela?" tanya Arjun menebak isi hati istrinya. Walaupun Arjun bukan penebak ulung, tapi ekspresi yang di tunjukkan istrinya kali ini jelas terlihat kalau enggan berpisah dengannya.
"Bukan begitu..." masih tak mau mengaku. Tentu saja, semua wanita akan melakukan hal itu.
"Aku akan pulang lebih awal..." jawab Arjun sambil bergelayut di pundak Akira.
Bahkan sedikit menundukkan pandangannya untuk dapat melihat wajah gadis itu lebih dekat.
Wajah ini yang akan aku rindukan selama sepekan... Aghh... mungkin selama seminggu aku tidak akan bisa tidur nyenyak...
"Bawa oleh-oleh untukku nanti..." ancam Akira.
Semua pasangan akan seperti itu bukan saat pulang dari pekerjaan jauh?
Membawa oleh-oleh untuk istrinya.
"Oleh-oleh apa?" tanya Arjun.
"Apa saja..." jawab Akira penuh semangat.
Tok tok tokk...
Pintu kamar Arjun dan Akira di ketuk dari luar...
"Masuk," jawab Arjun.
Di detik selanjutnya, datang seorang pelayan yang sesaat menundukkan kepala memberi hormat.
"Tuan, saya hendak mengambil koper Tuan Muda...".
Arjun paham, "Itu..." tunjuk nya pada koper berwarna abu-abu yang berada di samping ranjang tempat tidurnya.
Pelayan itu segera mengambil koper yang di maksud dan langsung keluar. Tak lupa menutup pintu kembali.
__ADS_1
"Ayo..." ajak Arjun kepada istrinya. Setidaknya Akira harus mengantarkan sang suami sampai di depan pintu.
"Tunggu..." cegah Akira.
Ada apa lagi? batin Arjun bertanya-tanya. Akira pagi ini benar-benar tidak terlihat seperti biasanya. Bahkan tangan gadis itu tak henti-hentinya menggenggam tangan Arjun walaupun tanpa diminta sekalipun.
"Apa - ..." Akira ragu untuk mengucapkan apa yang ia inginkan.
Arjun bahkan sampai mengangkat sebelah alisnya saking penasaran.
"Apa-... apa aku... - boleh memelukmu sebentar?" tanya Akira dengan ucapan yang berantakan bahkan sampai menundukkan pandangannya. Ada kesan malu sekaligus canggung dalam hatinya. Malu jika Arjun menolak dan canggung ketika Arjun sampai menertawai keinginan konyolnya nanti.
Ucapan Akira seperti sebuah petir di siang bolong. Terkejut? tentu saja. Gadis yang selama ini hanya mengajak Arjun berdebat tiba-tiba meminta untuk di peluk.
Ck... jangankan minta di peluk... di Unboxing sekarang juga, gue bersedia kok... Gue rela mengundur perjalanan...
Tapi itu hanya ada di dalam kepala Arjun saja. Karena mustahil Akira meminta hal seperti itu.
Sadar Arjun!
"Tentu saja sayang..." Arjun membuka tangannya lebar-lebar. Kapan lagi ia mendapat vitamin pagi seperti ini. Rasanya Arjun ingin selalu pergi ke luar kota karena mendapat pelukan dari istrinya.
Akira menghambur memeluk tubuh suaminya. Menenggelamkan wajah di dada bidang pria itu untuk sekedar merasai wangi parfum yang selalu Arjun pakai. Parfum yang melekat di tubuh suaminya benar-benar seperti candu yang membuat Akira tenang.
"Jangan pergi terlalu lama..." pinta Akira tiba-tiba. Entah kenapa kata itu lolos begitu saja dari mulutnya. Padahal Akira sudah menahannya sejak tadi agar tak terucap. Tapi sepertinya mulutnya benar-benar telah mengkhianati Akira.
"Tidak... aku akan menyelesaikannya secepat mungkin terus pulang..." jawab Arjun meyakinkan.
"Hiks..." hanya terdengar isak tangis dari gadis di depan Arjun. Tentu saja hal itu membuat Arjun terkejut dan langsung memberi jarak untuk sekedar melihat istrinya. Dan benar saja, mata Akira sudah menggenang menahan air mata yang kaan jatuh.
"Kenapa menangis?" tanya Arjun sambil berusaha menyeka mata Akira dengan ibu jarinya. Sedangkan Akira hanya menggelengkan kepala.
Tanpa meminta persetujuan dari Akira, Arjun segera ******* bibir gadis itu. Mendorongnya ke dinding untuk lebih leluasa.
Sangat beda dari ciuman-ciuman mereka sebelumnya, kali ini Akira berusaha untuk mengimbangi permainan Arjun. Bahkan tangannya benar-benar bergelayut di pundak Arjun dan memejamkan mata.
Setelah cukup lama, Arjun menempelkan keningnya di kening Akira sambil berusaha untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
"Kamu sudah pintar..." puji Arjun kepada Akira.
"Aku belajar darimu..." jawab gadis itu dengan bangga. Siapa lagi yang mengajarinya seperti itu kalau bukan Arjun.
Hanya pria itulah yang membuat Akira berbeda dari yang dulu.
Mereka tersenyum bersama-sama.
***
Di teras, Galih berulang kali melihat jam tangan
yang melingkar di pergelangan tangannya. Mulutnya berulang kali bergumam pelan, Bukan! lebih tepatnya mengumpat karena sudah 1 jam ia berada di sini tapi yang di tunggu tak kunjung keluar.
Padahal sesuai rencana awal, Galih dan Arjun akan berangkat dari sini pukul 6:30. Tapi sampai pukul 7:00 Arjun tak juga terlihat batang hidungnya.
Nih monyet kemana sih? di tungguin lama banget... Apa dia sedang Ngew* sebelum pergi? Ha?
Galih terkejut sendiri dengan isi kepalanya.
"Masak sih mereka begituan?" gumamnya lagi. Terakhir kali Galih mendengar, Arjun dan Akira belum pernah begituan sampai saat ini.
Masih tenggelam dalam pemikirannya sendiri, tiba-tiba pintu utama terbuka dan menampakkan sepasang suami istri yang saling bergandengan tangan.
__ADS_1
Ck... pamer! umpat Galih.
Entah kenapa ia punya bos yang sedikit sombong seperti Arjun. Karena romantis dengan istrinya saja selalu di perlihatkan kepada dirinya.
"What? apa itu?" Entah kenapa Galih memiliki mata elang pagi ini. Ia mampu melihat penampakan sangat... entahlah dari jarak yang lumayan jauh.
Tapi melihat Arjun yang seperti nya tidak tau, membuat Galih ingin sekali menggoda sahabatnya. Kapan lagi ia memiliki kesempatan seperti ini. Kesempatan yang sangat langka...
Masak sih dia tak menyadarinya? jangan-jangan itu adalah salah satu bagian dari sifat pamernya? duga Galih.
"Baiklah... aku berangkat ya..." pamit Arjun pada Akira.
"Hati-hati..." jawab Akira.
Arjun segera masuk ke dalam mobil yang pintunya telah terbuka sejak tadi.
Sedangkan Galih langsung ikut masuk dan menjalankan mobil itu keluar dari kediaman Pradipta.
"Lo habis makan ayam mentah?" sindir Galih dengan sedikit tawa di akhir kalimatnya. Bahkan ia sendiri geli sekaligus malu untuk mengatakan hal itu di depan Arjun.
"Ha?" tentu saja Arjun tak paham dengan apa yang di katakan Galih barusan.
Ayam mentah? gue hanya memakan Sandwich tadi...
"Itu..." tunjuk Galih pada sudut bibir sahabatnya.
Otomatis Arjun langsung berkaca untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Detik selanjutnya pria itu tersenyum sambil menghapus apa yang di katakan Galih barusan.
Hahaha... kenapa gue tidak sadar?
"Hahaha... gue geli melihatnya..." ucap Galih lagi.
"Jangan di lihat! memang gue minta lo melihatnya tadi?" semprot Arjun.
"Gue heran aja, bisa-bisanya lo ngelakuin itu di saat seperti ini..." cerca Galih.
"Ngelakuin apa? ini adalah ciuman suami istri sebelum berpisah... jomblo kayak Lo mana paham yang begituan...".
Tai... umpat Galih dalam hati. Menyesal sekali dia memberitahu Arjun tentang bekas lipstik di sudut bibirnya.
Tau gitu gue malu-maluin saja tadi... nyesel gue!
Di lain tempat, Akira sedang tersenyum sendirian di dalam kamar. Kali ini yang dilakukannya adalah mengamati dirinya di cermin yang berada di dalam kamar mandi.
Tangannya terulur meraba hasil kelakuan Arjun beberapa saat lalu yang masih tercetak jelas di bagian dadanya.
"Ini adalah mahakarya dariku..." ucap Arjun bekas keunguan yang berada di d*da istrinya.
Akira kembali teringat dengan ciuman serta kecupan yang di berikan Arjun tadi. Rasanya benar-benar seperti banyak sekali kupu-kupu yang berterbangan dan menggelitik di dalam perutnya.
"Arjun...", hanya itu yang terucap dari bibir Akira.
***
Waduh waduh waduh... tak mau berkata-kata lagi... hehehe...
Like dan komentar banyak-banyak...
__ADS_1