
HAPPY READING...
***
Mobil yang dikendarai Galih dan juga Tiara baru saja menepi pada sebuah jalanan. Mereka sengaja tidak berhenti tepat di depan gerbang sebuah rumah mewah karena permintaan seseorang.
Tepat setelah mematikan mesin mobil, sebuah suara keras mengejutkan mereka. Bahkan membuat Tiara sampai terperanjat kaget.
"Suara apa itu?" tanyanya spontan. Sedangkan Galih langsung membuka Seatbelt yang melingkar di tubuhnya. tatapannya pias bersamaan dengan kebingungan yang menghiasi wajah Tiara.
Dalam kepala Galih, hanya terpikirkan satu hal. dimana suara yang terdengar jelas itu tercipta dari sebuah senjata api. tapi entah siapa yang dengan mudahnya melepaskan peluru tersebut.
Perasaan Galih berubah khawatir. tak lain tak bukan karena Dion. Ya... hanya pria itu yang Galih cemaskan. Apalagi dari telepon yang ia terima beberapa saat yang lalu, jelas sekali terdengar suara Dion yang menandakan kalau pria itu terlibat masalah.
"Biar gue cek dulu..." ucap Galih, tapi segera di cegah Tiara saat tangan Galih sudah menyentuh gagang pintu mobil hitamnya.
"Jangan..", sungguh Tiara benar-benar takut. ia takut terjadi sesuatu nantinya.
"Tidak akan terjadi apapun..." jawab Galih.
"Tapi Gal-,".
"Dioonnn!" terdengar lagi suara yang amat keras. membuat Galih dan Tiara saling pandang untuk kesekian kalinya.
"Tunggu di sini..." jawab Galih dan bergegas keluar mobil tanpa memperdulikan Tiara yang masih khawatir. karena Tiara akan baik-baik saja di dalam sana sedangkan ada nyawa orang lain yang sedang bahaya.
"Dionnn..." raungan Gadis menjadi satu-satunya suara yang mampu terdengar malam ini. menangisi kekasihnya yang tersungkur di pelataran karena beberapa saat yang lalu tangan sebelah kirinya terserempet peluru dari sang Papa.
untung saja tidak sampai mengenai tulang lengannya, tapi tetap saja darah mengucur deras membasahi jas serta kemeja dan menetes hingga jemarinya.
"Jangan khawatir..." bisik Dion terdengar kesakitan. tapi di depan Gadis, ia harus terlihat kuat karena hanya kepada Dion lah Gadis bisa menggantungkan keselamatannya saat ini.
hanya Dion lah yang mampu membawa Gadis pergi dari rumah ini.
Dengan menyeimbangkan tubuhnya, Dion mencoba bangkit. pria itu yakin kalau tak bisa melawan ataupun memukul lawannya kali ini. jadi jalan satu-satunya yang bisa ia tempuh adalah mengambil pistol yang telah ia siapkan sejak tadi.
Dion tak lagi memikirkan apapun. kalaupun ia harus tewas malam ini, tak apa. Asal Gadis bisa pergi tanpa kekurangan apapun.
"Larilah Gadis...". perintah Dion bahkan tanpa melirik sedikitpun ke arah kekasihnya yang saat ini berdiri tepat di belakangnya.
"Tidak Dion..." jawab Gadis menggelengkan kepalanya. bagaimana ia bisa pergi sendirian dan meninggalkan pria itu. padahal jelas sekali sesuai ucapan Dion tadi kalau mereka akan keluar dari rumah ini sama-sama. seharusnya memang seperti itu bukan? walaupun Gadis takut melihat keadaan Dion yang tertembak sekalipun.
"Larilah Gadis, gue mohon... selamatkan diri Lo..." perintah Dion bahkan lebih memohon dari terkahir kali.
Gadis semakin menangis terisak, ia tak mau selangkah pun pergi meninggalkan Dion. kalau memang takdir mereka seperti ini, Gadis rela mati bersama Dion. karena lebih terhormat jika mereka meninggal karena memperjuangkan restu keluarga itu daripada lari seperti seorang pengecut.
__ADS_1
Masih berdebat, langkah Papa semakin mendekati mereka. setiap langkah kaki yang beliau ambil seperti mempercepat detak jantung Gadis. kemalangan apa yang akan mereka rasakan nanti bahkan memenuhi kepala. membuat rada sesak dan pertama kalinya Gadis seperti diperlihatkan bagaimana pemandangan akhirat.
Tuhan... lindungi kami... lindungi Dion... hanya itu doa yang Gadis panjatkan saat ini.
Setelah terdengar suara tembakan, Rega dan anak buahnya juga ikut berhamburan keluar. mata mereka jelas terlihat terkejut dan panik saat menyadari tambahan yang di lepaskan itu mampu mengenai mangsanya.
Sekarang Papa dan Dion benar-benar berhadapan, mengikis jarak diantara mereka dengan ujung pistol yang menyentuh dada satu sama lain.
Kalaupun meninggal, bukan hanya gue tapi juga Papa...
Pikiran Dion kalut. saat ini batas kesabarannya telah habis. tak apa jika kelak dia dikenang sebagai anak durhaka yang dengan beraninya menodongkan senjata api pada Papa nya.
"Dion, Papa!" teriak Rega. hatinya benar-benar takut melihat semua itu. ini pertama kalinya ia melihat anak dan ayah berhadapan jelas dimatanya.
"Jangan mendekat Kak..." tolak Dion. tatapannya begitu redup beda dengan Papa yang justru terlihat berkobar penuh kemarahan.
"Ini urusan kita..." tambahnya.
Otomatis membuat Rega terdiam beberapa langkah di antara Dion dan Papa. tak lagi berani melangkahkan kakinya.
"Karena seorang pemenang tak akan menyerang lawannya dari belakang..." sindir Dion pada sang Papa.
Dia pengecut... itulah penilaian gue selama ini...
menindas orang yang lemah, memaksakan kehendaknya pada anak dan juga istrinya, bahkan tak segan melukai Gadis...
Di dalam kamar, Istri dari Rega tergopoh-gopoh kembali naik ke lantai atas dimana kamar mertuanya berada. "Mama..." panggilnya dengan nada berantakan.
wanita itu ingin memberitahu apa yang telah terjadi di halaman rumah, tapi lidahnya terlalu keluarga untuk mengucapkan. bahkan lututnya gemetar hebat saat mengetahui ada yang terluka dari suara tembakan yang terdengar nyaring tersebut.
"Ada apa nak?" tanya Mama. walaupun sempat khawatir saat mendengarnya juga, tapi Mama berusaha untuk berpikiran positif. mungkin saja Dion hanya melepaskan tembakan untuk menggertak orang-orang di bawah sana.
"Dion...-," menantu pertamanya itu tak bisa meneruskan ucapannya karena air mata lolos begitu saja saking paniknya.
"Ada apa? kenapa Dion?" Mama kembali khawatir. bahkan beliau langsung bangkit dari ranjang. menyentuh kedua bahu menantunya untuk mendengar penjelasan darinya.
"Dion... Dion tertembak Ma..." jawabnya pias.
Mata Mama menggenang. Tangannya gemetar dan "Dionnn..." memilukan saat terucap sebuah nama dari mulutnya. tanpa basa-basi Mama segera berlari. keluar kamar dan menuruni anak tangga untuk menuju ke halaman depan rumah. "Bagaimana bisa terjadi... siapa yang melakukan itu pada anakku?". walaupun tanpa bertanya sekalipun Mama sudah tau siapa pelakunya.
Hingga di depan teras, Mama terus berlari diantara anak buah Papa yang berdiri di depan sana. terlihat Rega yang juga berdiri tapi tetap menjaga jarak dari adik dan Papanya yang tengah mengacungkan senjata satu sama lain.
"Mama! berhenti disana..." ucap Dion tetap menahan nada bicaranya agar tidak meninggi walaupun sebenarnya ia ingin membentak agar tidak ada siapapun yang mendekat ke arahnya.
Tapi Mama tetaplah seorang ibu pada umumnya. apapun bahaya akan tetap dihadapi demi untuk melindungi semua orang yang ia cintai. termasuk dengan melindungi Dion apapun yang terjadi nanti. Mama tidak takut sama sekali.
__ADS_1
Dengan keberaniannya, Mama menyentak kasar kedua tangan pria itu. membuat Papa terkejut dan membulatkan mata.
"Apa ini tabiat keluarga ini? Ha? apa ini yang bisa terlihat dari keluarga ini?" teriak Mama murka.
pertama kali bagi Mama berteriak dengan lantang di depan suaminya.
"Kenapa kalian tidak malu? apa yang kalian perebutkan saat ini?".
Tak ada yang bersuara, hanya saling tatap yang terjadi pada Papa dan Dion. sedangkan Mama menatap suami dan anak keduanya itu bergantian.
"Apa dengan membunuh Dion bisa membuat Anda bangga, Tuan Arya Guna?" tanya Mama bahkan tak lagi memanggil suaminya dengan panggilan kebiasaan.
"Apa bisa membuat Anda merasa hebat telah melenyapkan darah daging Anda sendiri? ha?".
Masih dengan nafas yang berkejaran, Mama beralih menatap Dion. "Sikapmu juga tidak bisa di benarkan Dion... mengacungkan senjata kepada orang tua mu adalah salah..." ucap Mama. karena cara Mama mendidik putra-putranya bukanlah seperti itu. bagaimanapun sikap Papa, Dion maupun Rega tak berhak melawan Papa.
Tapi Ma? Apa Mama tak melihat kelakuannya? begitu sorot mata yang Dion tunjukkan pada sang Mama.
Dengan merobek ujung gaun yang di kenakan, Mama mendekati Dion. meraih tangan yang berdarah itu. "Apa Anda masih ingat, Anda lah yang meminta pada Tuhan untuk menitipkan lagi seorang putra dalam keluarga ini?" ingat Mama.
Saat dimana mereka telah dikaruniai anak pertama berjenis kelamin laki-laki, Papa belum puas. hingga saat Rega berumur 2 tahun, ia meminta sang istri untuk mengandung anak lagi, supaya keluarga ini terlihat sempurna.
dengan 2 orang anak laki-laki yang akan menjunjung tinggi nama mereka kelak.
"Anda bahkan tak pernah tidur nyenyak karena ikut terjaga sepanjang malam saat kehamilan keduaku... memastikan kesehatan ku, bayi dalam kandunganku bahkan memijit kaki ku sepanjang malam...". isak tangis Mama kembali terdengar.
terkadang beliau rindu masa-masa itu. Rega yang masih berumur 2 tahun sedangkan sang Mama telah hamil lagi.
"Dia... masih sama dengan bayi itu, bayi yang Papa harapkan dulu... yang akan berdiri untuk keluarganya...".
Papa menjatuhkan pistolnya ke tanah. entah kenapa ucapan dari istrinya justru seperti menyayat bagian dari tubuhnya. sakit dan menyesakkan.
Mama telah mengikat lengan Dion agar darah itu berhenti. tatapan penuh kasih pun mampu Dion lihat.
"Apa salahnya dia? dia hanya ingin hidup dengan jalannya sendiri... benar, Dion tidak seperti Rega yang memiliki jiwa di Perusahaan. tapi... Dion tidak pernah mempermalukan Anda bukan? seharusnya Anda bangga memiliki putra hebat yang bahkan bisa sukses dengan jerih payahnya sendiri...".
Ucapan Mama sudah terdengar seperti sindiran untuk suaminya bukan?
Tanpa banyak bicara, membela diri ataupun menolak perkataan Mama, Papa langsung pergi dari sana. meninggalkan semua orang yang berdiri penuh dengan kebingungan.
Juga dengan Gadis dan Galih yang sejak tadi berdiri di ambang gerbang, mereka sama-sama tak mengerti.
tapi dalam hati Gadis, lega karena tak terjadi apapun dengan Dion.
***
__ADS_1
Cepat pergi Dion... sebelum si Papa berubah pikiran... hehehe....