
HAPPY READING...
***
Akira melangkahkan kakinya menuju ke kamar Tiara. melewati Galih dan langsung menerobos masuk karena pintu kamar Tiara tidak sepenuhnya tertutup.
"Tiara..." panggil Akira. hingga di depan sana, Tiara tengah duduk di depan meja rias sambil menghapus make up nya.
"Kalian sudah pulang?" tanya Tiara basa-basi sedangkan Akira mengedarkan pandangannya mengamati seluruh penjuru kamar. dan tatapannya berakhir pada ranjang kamar itu, sedikit berantakan dengan selimut yang bahkan jatuh di lantai.
Apa yang mereka lakukan? batin Akira. bingung serta curiga kalau Tiara dan Galih melakukan hal-hal yang melewati batas.
"Akira, ada apa?" tanya Tiara hingga membuat Akira tersentak kaget.
"Oh... itu," jawab Akira gugup karena memang ia memikirkan hal lain tadi.
"Gue mau bicara sama lo!".
Apa? begitu sorot mata Tiara.
Kedua wanita itu saling menatap, Tiara yang duduk di depan meja rias sedangkan Akira bersidekap tepat di sebelahnya.
"Kenapa lo berbohong?" tanya Akira membuka pembicaraan.
Wajah Tiara menegang. Bohong? tentang apa?
"Akira -,".
"Padahal gue sahabat lo bukan? kenapa hanya gue yang tidak tau hal itu... ha?" tanya Akira kecewa.
Sejenak terjadi kontak mata diantara keduanya.
"Bahkan gue jadi yang terakhir tau kalau selama ini lo tinggal dengan Galih...".
Tenggorokan Tiara terasa tercekat. nafasnya seperti berhenti mendengar ucapan Akira. Ya... Akira memang tak tau akan hal itu. dan sekarang saat Akira mengetahuinya, Tiara yakin kalau Akira kecewa.
"Gue sahabat lo kan Ra?" tanya Akira. wajahnya berubah sedih.
Akira tak memperdulikan ada hubungan apa diantara Tiara dan Galih. tapi ada satu hal yang membuatnya kecewa, Tiara menyembunyikan semuanya pada Akira. itu jelas menyedihkan.
"Akira... maaf," ucap Tiara. Apapun yang terjadi, semuanya harus di awali dengan kata maaf.
walaupun nanti pada akhirnya, Akira marah terhadap Tiara.
"Sungguh gue tidak berniat untuk membohongi lo ataupun menyembunyikan semuanya... tapi,-".
"Gue kecewa sama Lo Tiara..." sela Akira.
Ya, Tiara sudah menduga akan hal itu. tentu saja Akira kecewa dengan Tiara. tapi mau bagaimana lagi, semuanya terjadi tiba-tiba dan tanpa bisa Tiara pikirkan lebih dulu.
Takdirnya bersama dengan Galih amat membingungkan. Bahkan sampai saat ini, rasanya seperti mimpi. dimana tiba-tiba Galih jadi orang pertama yang datang saat hari terpuruk Tiara. saat dimana Tiara merasa sendirian, Galih jadi penolongnya bahkan memberikan tempat tinggal bagi dirinya.
"Jadi kalian benar tinggal bersama?" selidik Akira.
"Akira-,".
"Jawab gue Tiara..." desak Akira. Ia hanya ingin mendengar apakah pertanyaan yang ia lontarkan membagi sebuah kebenaran.
"Yaa..." jawab Tiara lemah. karena kenyataannya memang seperti itu. ia tinggal di Apartemen milik Galih bahkan sampai saat ini.
"Tapi Ra...".
Tiara meraih tangan sahabatnya. menggenggam tangan itu dengan yakin, "Sungguh, kami tidak melakukan apapun... percaya padaku Akira... Galih membantuku menyelesaikan kuliahku... hanya itu..." akui Tiara.
Apa?
__ADS_1
"Gue bekerja membersihkan Apartemen dan juga memasak... gue tidak tinggal di Apartemennya dengan cuma-cuma..." jawab Tiara lagi.
Belum sempat meneruskan kalimatnya, Galih tiba-tiba masuk ke dalam kamar Tiara. membuat tatapan Akira teralihkan.
"Gue yang memaksanya..." jawab Galih semakin membuat Tiara melongo tak percaya.
Apa? kenapa bilang begitu? Akira tidak akan mempercayai ku lagi...
"Ya... gue yang memaksa Tiara untuk tinggal bersama gue... karena...-" Galih menjeda kalimatnya dan beralih menatap mata Tiara. sangat dalam hingga membuat gadis itu salah tingkah.
"Gue suka sama Tiara...".
Akira, Arjun bahkan Tiara terkejut dengan penuturan Galih barusan.
mereka hanya membulatkan mata tanpa mengatakan sepatah katapun dari mulutnya.
Galih menyukai Tiara? benarkah? batin Akira.
Nah... korban bucin selanjutnya... batin Arjun.
sedangkan Tiara, tak terlalu terpengaruh dengan ucapan Galih. karena bisa saja Galih berkata seperti itu untuk mengelabui Akira.
setidaknya biar Akira percaya dan tak memarahi sahabatnya sendiri.
"Tapi,..." tolak Akira.
"Sudahlah sayang... toh mereka sudah dewasa, lagian ini bukan pertama kalinya mereka menjalin hubungan bukan? Tiara dan Galih sama-sama pernah pacaran sebelumnya..." bela Arjun.
"Tapi Jun, mereka... -" tunjuk Akira pada Tiara dan Galih. "Mereka belum menikah dan tinggal bersama, bagaimana itu?".
"Kenapa? kalau hamil tinggal di nikahkan saja bukan?" jawab Arjun dengan entengnya.
Hei Bodoh! konsepnya bukan seperti itu juga kali! umpat Akira pada sang suami.
"Gue sengaja menyewakannya pada orang lain," jawab Galih enteng. Bahkan terlihat sangat tenang seperti biasanya.
"Apa?" malah Akira yang semakin terkejut dengan cara pikir Galih dan Tiara tersebut.
Hahaha... licik juga dia! umpat Arjun pada Galih. tak menyangka kalau Galih benar-benar terpikirkan hal licik demi untuk mengikat Tiara.
"Jangan khawatir Akira... gue bisa jaga diri..." ucap Tiara. kembali meraih tangan Akira agar wanita itu tak lagi marah.
"Agghh... kepala ku benar-benar pusing," keluh Akira pada akhirnya. dalam kepalanya, Akira mencerna semuanya. Apa gue salah? toh mereka yang menginginkannya bukan? kenapa gue yang melarang?
Yang Akira lakukan hanyalah menyentuh pangkal hidungnya yang terasa amat ngilu. membuat Arjun yang berdiri di sampingnya ikut bereaksi.
"Mau berendam?" ucap Arjun menyarankan.
bahkan dengan wajah jenaka dan menaikkan alisnya naik turun.
Ck...
"Kalian semua benar-benar sinting!" umpat Akira terlebih pada Arjun yang tidak tau situasi. karena berendam yang Arjun maksud bermakna lain.
Akira pergi meninggalkan kamar Tiara diikuti oleh Arjun yang menepuk bahu Galih. Tidur dan beristirahat dengan Starla jauh menyenangkan... batin Akira.
Sepeninggal Arjun dan Akira, Tiara bisa bernafas dengan lega. kini tinggal dia dan Galih yang berdiri bersandar pada dinding sambil mengamati Tiara.
"Makasih bantuannya..." ucap Tiara. andai Galih diam saja, mungkin Akira masih marah hingga saat ini.
"Bantuan?" tanya Galih sambil mengerutkan dahinya.
"Hm... dengan pura-pura bilang kalau lo menyukai ku..." jawab Tiara getir. sebenarnya ia ingin ucapan Galih itu adalah kenyataan.
"Pura-pura?" tanya Galih bahkan dengan nada tertekan. apa dia mencerna hanya kepura-puraan saja?
__ADS_1
padahal Galih sudah memberanikan diri mengungkapkan perasaannya di depan semua orang. tapi nyatanya, Tiara memaknainya lain.
"Heh!" panggil Galih. "Sini!" perintahnya sambil menjerit kan jari telunjuknya agar Tiara bagkit dan mendekat ke arahnya.
Apa? begitu sorot mata Tiara. tapi tubuhnya langsung bangkit dan mendekat ke arah Galih.
Segera setelah Tiara mendekat, Galih mendorong gadis itu ke dinding. mengungkung dengan kedua tangannya diantara wajha Tiara.
"Apa lo begitu bodoh?" cerca Galih.
kesal sendiri dia melihat bagaimana Tiara.
karena menurutnya, bodoh dan polos itu hanya beda tipis.
"Kenapa?" tanya Tiara gugup. bagaimana tidak? di keadaan seperti ini, Galih benar-benar terasa dekat dengan dirinya. bahkan hembusan nafas pria itu mampu menerpa wajah Tiara hingga membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Kita lanjutkan yang tadi!" ucap Galih.
Tadi? belum selesai mengingat apapun, Galih telah memajukan wajahnya hingga mendekati wajah Tiara.
dan ciuman yang sempat terhenti saat kedatangan Akira kembali lagi.
***
Rumah Kepala Desa.
Semua tamu sudah berangsur meninggalkan tempat pesta. Altar yang digunakan Dion dan Gadis mengambil sumpat pernikahan terlihat sepi, karena mereka termasuk orangtua Gadis dan Mama berada di dalam rumah.
Duduk dengan suasana yang hangat.
"Maaf karena saya tidak bisa melamar Gadis secara langsung waktu itu..." ucap Mama penuh sesal. karena ia tau kalau hanya Dion yang sendiri datang melamar putri dari keluarga itu.
"Tidak apa-apa Nyonya... Saya sudah mengerti akan hal itu... Dion sudah melakukannya dengan sangat baik..." tolak Kepala Desa yang tak lain adalah Bapaknya Gadis.
"Dion benar-benar pria yang bisa mempertanggung jawabkan ucapannya..." puji Bapak.
membuat Dion yang duduk di sebelah Gadis tersenyum malu.
Anda juga pernah menolak saya Pak! batinnya.
Ya, Dion benar-benar bekerja keras untuk mendapatkan restu dari orang tua Gadis. meyakinkan keluarga Gadis kalau Dion beda dengan pria kota lainnya.
"Maaf Nyonya kalau pertanyaan saya menyinggung perasaan Anda..." ucap Bapak.
Detik selanjutnya menatap Gadis dan Dion bersamaan. "Apa... Apa Anda akan membawa Gadis ke Ibukota?".
Pertanyaan yang tak pernah terpikirkan bagi Dion dan Gadis.
Ya... mereka tak pernah kepikiran tentang hal itu.
"Kenapa? Apa Anda keberatan?" tanya Mama bahkan terdengar seperti lelucon saja.
"Tidak... Dion memiliki usaha di kota ini, kenapa saya akan membawanya pergi? Dion dan Gadis akan tetap tinggal di sini bersama saya di Vila..." perjelas Mama.
Ucapan Mama jelas melegakan hati Bapak. Padahal sejak kedatangan besannya utu, Bapak khawatir Gadis dan Dion akan kembali ke Ibukota.
Tapi beda lagi dengan Dion, pria itu tak lepas mengamati sang Ibu. Memikirkan ucapan Mama ynag tersirat sebuah pesan tersembunyi.
Maksud Mama? Mama tak akan kembali?
***
Pasti ada yang ngarep Galih segera menikah...
hehehe... gak segampang itu pemirsah...
__ADS_1