Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
144. Pergi Dari Rumah.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Dion baru saja tiba di rumahnya saat malam hari. Setelah bertemu dengan Arjun dan Galih sore tadi, moodnya sedikit berubah.


Berkumpul bersama sahabat-sahabatnya sedikit mampu mengurangi masalahnya.


Setidaknya tertawa bersama mereka, Dion lupa akan kehidupan nya yang amat tertekan.


Terlahir dari keluarga Konglomerat, tak juga terlepas dari masalah.


Justru semakin kaya seseorang, banyak sekali masalah yang harus di hadapi.


Memang masalahnya berbeda, tapi tetap membuat kepala terasa pening dan hendak pecah.


Dion masih berada di dalam mobil. Mengamati pemandangan di Carport yang berbeda dari biasanya.


Karena ada 2 mobil lain di sana. Yang tidak tau milik siapa.


Pasti ulah Papa... batinnya bicara.


Tadinya Dion sudah pulang di Apartemen, tapi entah kenapa ia tidak bisa masuk ke dalam sana. Password Apartemen nya telah di ubah seseorang yang kemungkinan adalah Papa Dion sendiri.


Tidak ada alasan lain untuk Papanya melakukan hal semacam itu, selain untuk memaksa Dion pulang ke rumah mereka.


Karena Dion memang jarang pulang dan memilih tinggal di Apartemen.


Dan disini lah Dion berada. Masuk dalam jebakan Papanya. Walaupun tidak ingin melakukan nya, Dion terpaksa harus masuk ke dalam rumah bergaya Eropa menemui orangtuanya.


Dengan langkah lemah, pria itu berjalan menuju ke pintu masuk.


Mengedarkan matanya menjelajahi ruang tamu yang ramai dengan seseorang bercengkrama sesekali tertawa.


Tidak tau diri! apa mereka tidak tau jam berapa sekarang? batin Dion mengutuk.


Tidak sepantasnya jam 9 malam seperti ini masih bertamu di rumah seseorang.


Karena penghuni rumah tentu saja ingin sekali beristirahat.


"Papa!" panggil Dion hingga membuat semua orang terdiam dan mengalihkan pandangan mereka ke arahnya.


"Baru pulang Yon?" tanya tamu pria di ujung sana. Sekedar berbasa-basi menyambut kedatangan putra keluarga ini.


Sedangkan Dion hanya mengangguk tanpa memperlihatkan seutas senyum sama sekali. Karena tidak ada urusannya dengan tamu itu. Urusan Dion hanya pada Papanya saja.


"Duduklah dulu... sambut tamu kita..." jawab Papa.


"Itu tamu Papa kan? bukan tamu Dion..." bantah Dion benar-benar berani.


Membuat Mamanya yang tadinya duduk terlihat khawatir dan berdiri berharap Dion tidak melewati batasannya.


Karena bagaimanapun sifat Papa, Dion sebagai anak tidak pantas untuk meninggikan bicaranya di depan mereka termasuk tamu yang saat ini berada di rumah mereka.


"Dion..." pinta Mamanya mengiba. Jangan sekarang... begitu sorot matanya bicara.


Membuat hati Dion tersentak. Dion bisa melawan Papanya, tapi tidak dengan wanita yang melahirkannya.


Jangankan untuk membantah, bicara dengan nada tinggi saja tak pernah Dion lakukan kepada Mamanya.


"Kenapa Papa mengganti Password Apartemen Dion?" tanya Dion sedikit merendahkan nada bicaranya.


"Karena kalau tidak begitu, kamu tidak akan datang ke rumah ini... ke rumah mu sendiri..." jawab Papa jujur.

__ADS_1


Sama-sama memliki dua anak laki-laki, Papa merasa kalau Dion sangat berbeda dengan kakaknya. Dimana Kakak Dion mudah diatur dan diarahkan olehnya, sedangkan Dion selalu membantah apapun yang di katakan sang Papa. Membangkang lebih tepatnya.


"Duduklah, jamu tamu kita... mereka sudah terlalu lama menunggumu pulang..." jawab Papa menjelaskan.


Sejenak Dion melihat tamu mereka, pasangan orang tua yang membawa anak gadisnya.


Membuat Dion tersenyum penuh ejekkan. Dan terpaksa duduk di samping Mamanya tanpa banyak bicara.


Mama menepuk paha Dion pelan, memastikan kalau tidak akan terjadi apa-apa pada mereka.


"Nak Dion, ini adalah putri ketiga kami... namanya Gea..." pria di seberang Dion memperkenalkan putrinya.


Membuat Dion sejenak melihat seperti apa sosok gadis bernama Gea itu. Dan baru pertama melihat, Dion sudah tau seperti apa sifat gadis itu. Manja!


Seperti itulah anak dari keluarga yang di kenal Papa nya.


"Dion, Gea adalah gadis yang cantik, anggun dan pintar. Dia lulusan Universitas Harvard,"


Terlihat sekali kalau banyak ambisi di matanya! batin Dion.


"Dan sekarang belajar memimpin perusahaan," tambah orang tuanya. Seperti sedang memamerkan sebuah maha karya yang tidak cacat sama sekali.


Mungkin inilah yang membuat Papanya Dion tertarik pada keluarga itu. Selain orang kaya, gadis itu bakal menjadi pemimpin perusahaan dan jika Dion mau menikah, perusahan mereka bisa di gabungkan dan akan menjadi perusahaan yang amat besar. Mungkin setara dengan Pradipta Group milik keluarga Arjun.


"Gea adalah tipe ideal mu," ucap Papa. Membuat gadis yang di maksud tersenyum penuh kebanggaan.


"Ah, Om terlalu berlebihan..." jawab gadis itu dengan suara seperti di buat-buat. Membuat Dion semakin muak mendengar semuanya.


"Papa harap kalian bisa lebih mengenal dan sesuai harapan kita..." ucap Papa pada Dion dan keluarga Gea.


"Hahaha... Saya juga ingin seperti itu Tuan, Dion dan Gea akan menjadi pasangan yang serasi," jawab Ayahnya Gea.


Dion sudah bersiap untuk menolak mereka semua dengan kata yang telah dirangkainya.


Jangan Nak... begitu sorot mata Mama kepada Dion.


Hingga yang bisa Dion lakukan hanya mengepalkan tangan menahan kemarahan.


"Dion mau mandi dulu," itulah keputusan yang bisa Dion ambil. Karena pembicaraan semua orang hanya untuk memuji dan menjilat lainnya.


Dion tidak menyukai hal itu.


"Oh, iya... silahkan Nak..." jawab Ayahnya Gea.


Tanpa basa basi Dion berjalan meninggalkan semua orang. Sedangkan Gea, gadis itu tak henti-hentinya tersenyum sambil melihat tubuh Dion dari belakang sampai sosok Dion menghilang di ujung anak tangga.


"Gea, bagaimana menurutmu?" tanya Papanya Dion. Karena beliau tau alasan apa hingga membuat gadis itu menatap kepergian Dion


"Sepertinya Dion tidak tertarik dengan ku Om," jawab Gea sedih.


Bagaimana cara Dion menatapnya tadi, Gea tau kalau pria itu tidak tertarik dengannya.


"Apa Dion telah memiliki kekasih?" tanya Gea memastikan.


Bisanya pria-pria terlihat dingin karena telah memiliki kekasih pujaan lain.


"Tidak Gea... Dion tidak sedang menjalin hubungan dengan gadis manapun. Dia hanya sedikit kesal karena Om mengubah akses untuk masuk Apartemennya..." ucap Papa menjelaskan.


"Baiklah, kami tunggu kabar baik selanjutnya..." ucap Ayahnya Gea berpamitan.


Apalagi sudah sangat malam dan mereka harus pulang bertamu.


"Terima kasih telah datang ke rumah kami Tuan dan Nyonya..." ucap Mamanya Dion.

__ADS_1


***


Setelah tamu mereka pulang, Dion kembali menemui orangtuanya.


"Papa tidak bisa seenaknya sendiri seperti itu... Dion juga berhak untuk menentukan pilihan Dion sendiri..." ucap Dion mulai mengutarakan isi hatinya.


"Dion tidak bisa menjalin hubungan dengan gadis manja seperti itu," tambahnya.


Gea sama sekali bukan tipe gadis pilihannya.


"Jaga bicaramu Dion! Gea adalah gadis yang cocok untukmu. Dia dari keluarga terhormat, pintar dan juga cantik..." bentak Papa.


"Tapi Dion tidak menyukainya Pa... jadi berhenti untuk mengatur masa depan Dion. Jangan menyamakan Dion dengan Kakak... karena kami berbeda! Dion tidak seperti kakak yang hidup sebagai boneka Papa...- ",


Plaakkk....


Sebuah tamparan mampu membuat Dion terdiam tanpa bisa meneruskan ucapannya yang bahkan belum selesai.


"Papa..." ucap Mama menjadi satu-satunya suara yang mampu terdengar.


"Jaga bicaramu Dion!" ucap Papa memperingati putranya untuk tidak bicara melewati batasnya.


Aku tidak seperti Kakak yang selalu patuh pada perintah mu! pria menyedihkan yang tidak pernah tau apa yang menjadi kemauannya sendiri. Kakak yang hidup di balik bayang-bayang mu! Dion tidak bisa... Dion punya hak untuk hidup sesuai keinginan Dion sendiri, Dion hanya ingin mengatakan hal itu di depan Papanya saat ini.


Tapi rasanya tidak mungkin.


"Papa tidak mau tau apa yang kamu inginkan, turuti kemauan Papa untuk menikah dengan Gea atau angkat kaki dari rumah ini!" ancam pria itu.


Hal itu tentu saja membuat Mama menangis, bagaimana bisa suaminya memberikan pilihan kejam seperti itu pada Dion, anak kesayangannya.


Mungkin Dion merasa kalau dirinya selalu sendirian di rumah ini, tapi sesungguhnya ada doa seorang Ibu yang selalu bersamanya.


Ada Mama yang selalu mendukung keputusan Dion walaupun Papanya menolak.


Angkat kaki dari sini? batin Dion.


"Baiklah... baiklah kalau itu mau Papi... baik, Dion akan memilih pilihan yang kedua," jawab Dion dengan yakin.


Sedangkan Mamanya tak bisa menahan tangisnya.


"Dion... jangan berkata seperti itu nak... Dion tidak boleh pergi meninggalkan Mama..." pinta Mama penuh iba.


Dion kembali menuju ke kamarnya, mengambil barang-barang pribadinya dan meninggalkan semua fasilitas yang di berikan orangtuanya.


Setelahnya pria itu turun kembali, menyeret koper berisi pakaian dan beberapa barang pribadinya.


Dion meletakkan kunci mobil, motor dan Apartemen ke meja, "Ini barang pemberian Papa... Dion tidak memerlukannya lagi. Sedangkan Ini...", memperlihatkan kunci mobil lain.


"Ini adalah hasil kerja keras Dion, jadi ini adalah milik pribadiku..." tambahnya.


Karena sudah di usir dari rumahnya sendiri, Dion tak berhak membawa apapun yang tidak jadi miliknya.


"Mama... Dion pergi," pamit Dion pada Mamanya.


"Dion... jangan pergi nak... jangan pergi," pinta Mamanya dengan penuh permohonan.


Sedangkan Papanya sama sekali tidak melihat ke arah Dion. Apapun yang terjadi, beliau tidak peduli.


"Dionnnn..." teriak Mama menjadi suara terakhir yang dapat Dion dengar sebelum langkah kaki membawa dirinya keluar dari rumah.


Dengan mobil BMW hitam, Dion meninggalkan rumah. Menerjang gelapnya malam tanpa tujuan.


"Tarik semua uang di Rekening pribadiku..." perintah Dion lewat sambungan teleponnya.

__ADS_1


***


__ADS_2