Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
58. Arjun VS Dean (2).


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Dean masih mencengkeram keras jaket Arjun. Walaupun mungkin usia Dean jauh di bawah Arjun, tapi tak ada gentar sedikitpun dari hatinya. Dean marah, kesal dan juga muak dengan pria di depannya itu.


"JAWAB!" bentaknya untuk membuat Arjun bicara tentang alasan apa yang membuat pria itu dengan teganya memecat sang ayah.


Mungkin Arjun tidak tau siapa ayahnya Dean. Tapi pria yang telah di pecat itu adalah seorang kepala keluarga yang masih menafkahi istri dan kedua anaknya yang masih sekolah.


Ayahnya Dean bekerja untuk menghidupi keluarga dan agar kedua anaknya tetap bisa melanjutkan sekolah.


Dari hasil keringat ayah juga yang mampu membuat perut mereka tetap bisa merasa kenyang. Karena pekerjaan itu pula, Ibunya Dean menabung untuk masa tua mereka.


Tapi semuanya benar-benar di rampas oleh Arjun tanpa rasa kasihan sama sekali.


Dan sekarang Dean tak tau harus berbuat apa, mungkin ia tidak akan melanjutkan sekolahnya dan juga sang adik.


"Gue sudah bilang kan, kalau Lo macam-macam... jangankan Lo, gue bisa menghancurkan keluarga Lo! memecat ayah Lo adalah salah satunya!" Arjun menghempaskan tangan Dean dengan sangat kasar. Mengibaskan kerah jaketnya yang seolah telah terkena debu dari tangan Dean barusan.


"Siapa Lo sampai berani memecat ayah gue? apa kesalahan ayah?" tanya Dean dengan mata memerah.


"Gue adalah anak pemilik Pradipta Group, pemilik pabrik dimana ayah lo bekerja!"


Seketika tubuh Dean terhuyung ke belakang. Matanya membulat dengan nafas yang tercekat di tenggorokan.


Jadi dia pemilik Pradipta Group? Perusahaan terbesar di negara ini? dan suaminya Akira?


Hal itu tidak di sia-sia kan Arjun untuk sedikit memberi pelajaran kepada pria muda di depannya. Tanpa aba-aba, Arjun melayangkan pukulannya kepada Dean.


Bukk...


"Harusnya Lo meminta maaf, bukannya berlagak seperti seorang sampah yang tidak tau diri..."


Satu pukulan telah mendarat sempurna di wajah Dean. Membuatnya tersungkur karena Dean sama sekali tidak bersiap menerima pukulan dari Arjun.


Arjun kembali mendekati Dean. Mencengkeram kaos sama seperti yang dilakukan Dean beberapa saat yang lalu. Seketika Dean terpaksa untuk bangun, bibirnya sedikit robek oleh pukulan Arjun tadi.


"Sebenarnya gue tidak ingin melukai Lo, tapi seperti nya Lo memang tidak tau diri,"


"Lo benar-benar jauh dari citra baik yang di buat oleh media, Lo benar-benar brengs*k, Bagaimana bisa Lo mengikat Akira dengan sebuah pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya?" tanya Dean dengan nada penuh umpatan.


"Kenapa Lo lakuin ini pada Akira?" teriak Dean tanpa takut sama sekali. Jika ia harus mati di tempat ini, setidaknya Dean tidak mati karena hanya diam saja melihat ketidakadilan yang menimpa kekasihnya.


"Kenapa? gue dan Akira telah menikah secara resmi,"

__ADS_1


Arjun tersenyum penuh ejek.


"Lo mengikatnya brengse*k! Lo membuat hidupnya seperti di neraka... Akira sama sekali tidak mencintai mu!" teriak Dean saat Arjun sudah menjauhinya.


Akira mencintai ku saja... dia mencintai ku...


Arjun berdiri dengan mengepalkan tangannya. Darahnya benar-benar mendidih mendengar omongan Dean yang tidak berguna sama sekali.


"Perbuatan Lo salah Arjun! Lo tidak bisa mempermainkan sebuah pernikahan!" tambah Dean.


Arjun yang tadinya sudah membelakangi Dean, benar-benar marah. Arjun membalik tubuhnya demi untuk melihat wajah pria tidak tau diri itu,


"ARJUN!" teriak Galih berusaha mencegah Arjun yang kembali mendekati Dean, tapi semuanya sia-sia karena Arjun telah melayangkan pukulannya kembali bahkan lebih keras dari yang tadi.


Buukk...


"Jika apa yang gue lakukan itu sebuah kesalahan, menjalin hubungan dengan wanita yang telah bersuami bisa di benarkan? Ha?"


Tentu saja Dean juga salah. Akira adalah wanita yang telah bersuami dan Dean juga tau hal itu. Tapi Dean sama sekali tidak punya keinginan untuk menyudahi hubungannya dengan Akira.


Mereka bahkan berencana untuk menikah setelah Akira dan Arjun bercerai. Apa itu bisa di anggap benar?


"Gue hanya ingin Lo meminta maaf dan melindungi keluarga Lo! tapi Lo terlalu banyak bicara..." umpat Arjun yang masih menatap Dean yang benar-benar tak berdaya dengan darah segar yang mengucur dari sudut bibirnya.


"Lo seharusnya memohon agar gue tidak memecat ayah Lo! memohon agar gue tidak mengganggu keluarga Lo!"


"Dengarkan gue baik-baik. Lepaskan Akira dan gue tidak akan mengganggu keluarga Lo... atau Lo masih gigih mempertahankan Akira dengan mengorbankan keluarga Lo. Lo pasti tau kan bagaimana nasib orang yang masuk dalam Blacklist Pradipta Group?" ancam Arjun.


Semua orang yang masuk dalam catatan hitam Pradipta Group benar-benar hidup seperti di neraka. Semua Perusahaan lain tidak akan ada yang mau menerimanya sebagai pekerja.


Dan semua itu benar-benar nyata ada di dalam negara ini.


Tentu saja Dean menjadi bimbang. Apakah yang harus ia lakukan, apakah harus mengorbankan keluarganya hanya untuk bersama Akira? tapi jika itu terjadi, Dean tidak akan mampu menjaminnya. Bisa saja namanya juga tercatat dimana setelah lulus kuliah pun, Dean tidak akan bisa menjadi Dokter di negara ini.


"Pikirkan itu baik-baik," ucap Arjun.


Arjun benar-benar sudah melangkah meninggalkan tempat dimana Dean terduduk.


"Ayo," ajaknya kepada Dion dan juga Galih.


"Tunggu!" teriak Dean.


Arjun, Dion dan Galih kembali terdiam. Menunggu apa yang akan Dean katakan lagi.


"Apa Akira akan baik-baik saja bersama Lo?"

__ADS_1


Entah kenapa hanya keselamatan Akira yang Dean pikirkan saat ini. Ia tidak memikirkan hal lain.


"Apa Akira pernah mengadu bahwa gue menyakitinya? memukulnya? tidak kan?"


Benar, Dean memang tidak pernah mendengar Akira berbicara tentang itu. Akira hanya pernah mengatakan ia terpaksa menjalani pernikahan dengan Arjun.


"Walaupun gue dan Akira mengawali pernikahan dengan sebuah kepura-puraan, tapi di hati gue sama sekali tidak terpikirkan untuk menyakitinya," jawab Arjun yakin.


"Lo mencintainya?" tanya Dean lagi.


"Belum untuk saat ini, tapi tak dapat di pungkiri kalau perasaan itu akan gue rasakan suatu hari nanti... dan apapun yang telah menjadi milik gue, tidak akan pernah gue kasih pada orang lain..."


Setelah mengatakan semua itu, Arjun benar-benar pergi lebih dulu meninggalkan ruangan dimana Dean berada.


"Ck, gue bahkan tidak menyumbang 1 pukulan pun tadi," sesal Dion.


Sudah sangat lama Dion tidak terlibat pertengkaran dengan seseorang. Tangannya benar-benar terasa gatal untuk melakukan itu.


Tapi saat ada mangsa di depan mata seperti tadi, Dion tidak di beri kesempatan untuk sekedar memukul wajah Dean.


Tapi walaupun hanya 2 pukulan dari Arjun, sudah membuat wajah Dean benar-benar menyedihkan. Hal itulah yang membuat Dion bangga. Arjun sudah banyak berubah walaupun kadang masih bertingkah seenaknya sendiri.


"Gue kira Lo sudah kehilangan keahlian berkelahi..." celetuk Galih.


"Kenapa?" tanya Arjun tak paham dengan apa yang Galih katakan.


"Karena kadang jatuh cinta membuat seseorang terlihat bodoh!"


"Tai Lo!" protes Arjun tak terima. "Kapan gue bilang kalau gue sedang jatuh cinta?"


"Tadi,"


"Ck... telinga Lo bermasalah!" jawab Arjun.


Sedangkan Dion hanya tertawa melihat kelakuan kedua sahabatnya itu.


 


Di tempat lain, Akira masih berusaha untuk menghubungi Dean. "Dean... ayo angkat teleponku," ucapnya memohon. Sungguh hati Akira benar-benar khawatir dengan keadaan Dean saat ini.


Entah sudah berapa kali ia menghubungi pria itu tapi tak juga mendapat jawaban.


Hingga sebuah suara terdengar dari balik telepon...


"Halo...".

__ADS_1


" Halo Dean,"


***


__ADS_2