
HAPPY READING...
***
Suasana Vila terlihat jauh berbeda dari biasanya. Bahkan masih pukul 8 pagi, tapi semua penghuninya telah bangun. Suara tangisan Starla menjadi satu-satunya suara yang mampu di dengar setiap orang.
Bahkan Tiara yang tadinya bersiap mandi mengurungkan niatnya dan menghampiri bayi kecil itu.
"Cup sayang... kenapa menangis?" tanya Tiara dan langsung mengambil alih Starla dari gendongan pengasuhnya. sedangkan tak ada Arjun maupun Akira disana. hingga membuat Tiara penasaran dan bertanya, "dimana Akira?".
"Nona Akira sedang mandi..." jawabnya membuat Tiara paham. Ya... semua ibu muda akan merasakan hal sama ketika memiliki bayi seumuran Starla.
Jangankan untuk mandi, makan saja kerap kali menjadi pemicu bayinya menangis. itulah sebabnya banyak sekali ibu-ibu muda yang mengesampingkan kebutuhannya sendiri demi untuk menjaga sang buah hati tetap senang.
termasuk dengan menunda mandinya kalau tak ada seorang pun yang membantu menjaga bayinya untuk beberapa saat.
Ajaibnya dalam gendongan Tiara, Starla langsung menghentikan tangisnya. walaupun masih terdengar isak tangis tapi lebih baik daripada tadi. Tiara menimang Starla tanpa menyadari tatapan seseorang yang berada di ambang pintu sebuah kamar di lantai dasar.
Tatapan yang sulit di artikan tapi jelas terlihat kalau ada sebuah kebanggan di manik mata berwarna cokelat itu. Bangga dengan cara Tiara yang mampu menghentikan tangis Starla.
Hingga setelah cukup lama, bayi dalam gendongan Tiara itu tertidur dengan sendirinya. Tiara sedikit menghentikan ayunan tubuhnya untuk membuat Starla lebih nyaman.
"Biar saya gendong Nona..." ucap pengasuh Starla. kerena ia juga tau kalau Tiara harus mempersiapkan diri untuk acara nanti siang.
"Jangan khawatir... masih lama kok..." tolak Tiara. Menggendong Starla tak membuat dirinya lelah. justru dalam hatinya merasa senang, mungkin itulah yang dirasakan setiap perempuan di dunia ini.
"Jangan menyukai pria lain,".
"Cukup menyukaiku saja... mengerti?".
"Kenapa? gue berhak untuk menyukai siapapun bukan? lagian siapa lo sampai memerintah ku seperti itu?".
"Gue... karena gue suka sama lo...".
Tiara tersentak kembali dengan kilasan-kilasan yang Galih ucapkan tadi malam. hanya mengatakan seperti itu saja, hati Tiara seperti tersengat aliran listrik. wajahnya kembali memanas mengingat semuanya. senang, lucu sekaligus aneh mulai merayapi hatinya.
Hingga setelah bisa menguasai dirinya, Tiara menyerahkan Starla ke gendongan pengasuh itu dan pergi menuju ke kamarnya.
Tiara berniat untuk mandi dan mempersiapkan diri untuk menghadiri pernikahan Dion dan Gadis.
***
Di kediaman keluarga Gadis, telah disulap sedemikian rupa. warna putih mendominasi semuanya. mulai dari tempat duduk tamu undangan, bunga-bunga juga dengan Altar yang akan di gunakan kedua mempelai mengambil sumpah di depan Tuhan.
Gadis, wanita yang biasanya terlihat ala kadarnya telah berubah menjadi seorang putri kerajaan dengan gaun pengantin panjang berwarna putih.
Riasan wajahnya menambah kesan cantik dan elegan. "Pengantin perempuan seharusnya selalu tersenyum..." goda perias itu. karena yang nampak dalam wajah Gadis hanyalah kecemasan saja.
"Gue takut..." adu Gadis. entah kenapa tiba-tiba tubuhnya terserang kegugupan yang amat besar. Gadis takut akan mengacaukan segalanya, apalagi dengan high heels yang menjadi alas kakinya ini.
Gadis memang tidak bisa menggunakan sepatu hak tinggi.
"Ini tidak terlalu tinggi kok..." bela Perias. Kerena sepatu yang Gadis kenakan saat ini tergolong rendah. untung saja Gadis memiliki tinggi badan semampai jadi tak akan tenggelam walapun menggunakan heels yang rendah.
__ADS_1
"Bagaimana riasanku? apakah cantik?" tanya Gadis lagi. entah kenapa semuanya terlihat aneh baginya. Gadis takut mengecewakan Dion di acara yang mereka nantikan seumur hidup.
setidaknya Gadis ingin yang sempurna untuk hari ini saja.
"Cantik, sangat cantik... mempelai pria akan terpesona nanti..." ucap Perias itu dengan yakin. tanpa polesan make up juga Gadis tergolong gadis yang cantik. jadi dengan riasan seperti ini sungguh menambah kecantikannya bertambah.
"Sudah selesai...".
Beberapa orang telah meninggalkan Gadis sendirian di kamar.
Sambil menunggu, sesekali Gadis melirik jarum jam yang tergantung di dinding kamarnya. Sudah waktunya dia datang...
Beberapa saat kemudian, terdengar alunan musik menandakan kedatangan calon pengantin pria. dada Gadis semakin bertalu, sungguh walaupun hanya duduk tapi rasanya Gadis tengah berlari berkilo-kilo meter panjangnya.
membuat perutnya juga mulas dan aneh.
gue gugup... batinnya dalam hati.
Di depan sana rombongan pengantin pria telah tiba. 4 mobil dengan dengan hiasan bunga di depannya terpakir rapi. 2 mobil terisi penumpang dan 2 lainnya terisi seserahan dari pihak pengantin pria kepada pihak pengantin wanita.
"Siap?" tanya Galih kepada Dion. membuat pri yang duduk di bangku tengah itu sejenak menarik nafas panjang dan membuangnya bersamaan dengan keguguran yang menyelimuti hatinya.
Tenang Dion... semua orang akan merasakan gugup semacam ini... batinnya pada diri sendiri.
Hingga kepalanya mengangguk bersamaan dengan Galih yang keluar dan membuka pintu untuk Dion.
Juga dengan mobil yang berada di samping mereka, sepadang suami istri dan putrinya juga keluar setelah dibukakan pintu oleh Agus.
Karena di kota ini sangat kental dengan adatnya, Akira memilih kebaya modern untuk ia kenakan bermotif sama dengan gaun yang Starla kenakan. Sedangkan Arjun yang biasanya mengenakan jas lengkap, kini memakai kemeja berbahan batik senada dengan istri dan putrinya.
Semuanya telah bersiap. Dengan diapit Agus dan juga Galih, Dion berjalan lebih dulu sedangkan Arjun, Akira dan juga Tiara mengikutinya dari belakang. semua tamu langsung melihat calon pengantin pria itu tanpa berkedip sama sekali.
Dion yang bisanya memang tampan bertambah kharisamanya dengan Tuxedo putihnya. Pria itu berusaha tenang walaupun jantungnya terasa berkejaran bahkan mungkin sudah jatuh sampai di perutnya.
Tangannya juga sedikit dingin karena gugup.
"Muka lo terlihat bodoh nyet!" bisik Galih hingga membuat Dion langsung menampakkan wajah tak sukanya.
T*i... umpat Dion dalam hati. bukannya membuat hatinya tenang, Galih malah seperti menertawau kegugupannya.
"Lo tidak akan tau rasanya nyet... sono cepeten nikah!" balas Dion dan kembali membuat wajahnya setampan mungkin agar yang melihatnya menjadi terpana.
karena calon menantu Kepala Desa harus terlihat tampan bukan?
Rombongan itu masih berdiri mendengarkan sambutan dari pemilik rumah, hingga mereka semua duduk di bangku paling depan tepat di depan Altar.
Terlihat beberapa anggota keluarga Gadis ikut menurunkan seserahan dari mobil Dion dan meletakkannya di samping Altar.
Tiara celingukan mencari keberadaan Gadis. ia amat penasaran dengan calon pengantin itu. sedangkan Galih yang duduk di setelahnya juga berkomentar, "Hadapi depan!" bisiknya.
"Kenapa?" tanya Tiara tak paham. toh ia hanya mencari keberadaan Gadis dengan matanya bukan? jadi tak akan mengganggu siapapun.
"Jangan banyak bicara, hadap depan saja!" perintah Galih tak bisa di gugat. membuat Tiara patuh walaupun bibirnya mengerucut sebal.
__ADS_1
MC kembali bersuara, memimpin jalannya acara siang ini.
Dion berdiri menyambut kedatangan Gadis. Wanita yang akan ia nikahi sebentar lagi itu terlihat berjalan pelan digandeng oleh Bapak.
Tatapan keduanya bertemu di satu garis lurus, menciptakan sebuah perasaan yang amat dalam dan hanya dirasakan oleh mereka saja.
Gaun pengantin yang melekat pada tubuh Gadis seperti sedang menyapu karpet putih di bawah sana. bahkan setiap tamu seperti tersihir dan tatapan mata mereka hanya tertuju pada Gadis saja.
Hingga tak terasa Gadis telah berdiri di depan Dion. Tangan Bapak terulur menyatukan tangan Gadis dengan tangan pria yang akan menua bersama dengan putri kesayangannya.
Berakhir sudah tanggung jawab seorang ayah pada anak perempuannya. karena setelah ini, Dion yang menggantikan tugas Bapak untuk mendidik dan meluruskan jalan Gadis.
"Bapak percaya padamu Dion..." ucap Bapak terdengar tulus dan mengharukan. bahkan membuat hati Gadis terasa sesak, dan ingin sekali menangis.
"Jaga putri Bapak... bahagiakan dia, dan ingatkan dia kalau Gadis salah arah... karena setelah ini, tanggung jawab Bapak beralih padamu...".
"Iya Pak..." jawab Dion.
Setelah mengatakan hal itu, Dion menatap Gadis sejenak. wanita yang akan ia nikahi benar-benar terlihat cantik.
"Siap?" bisiknya. Sedangkan Gadis langsung mengangguk setuju. Tangannya erat menggenggam tangan Dion untuk menuju kw Altar Pernikahan.
Tapi baru mengambil beberapa langkah, Dion kembali terdiam. seperti sesuatu tengah mengganggu pikirannya.
"Dion? ada apa?" tanya Gadis kebingungan.
Bukannya meneruskan langkahnya, Dion memutar tubuhnya masih terus menggenggam tangan Gadis walaupun berganti dengan tangan satunya.
pandangannya jauh melihat keluar sana.
Juga dengan tamu undangan yang terkejut dengan tingkah Dion. Mereka saling pandang dan beberapa diantaranya bahkan sampai membicarakan tindakan Dion.
Tap... Tap... Tap...
Entah berasal dari hatinya atau memang nyata, Dion mendengar derap langkah kaki seseorang menggema memenuhi telinganya.
Ia tau, suara langkah kaki itu selalu menjadi suara yang mampu membuat hatinya tenang ketika masuk ke dalam rumahnya dulu.
Dan benar saja, mata Dion memanas melihat siapa yang tengah datang ke dalam acara pernikahannya itu.
"Mama..." ucapnya tanpa ragu.
Membuat Gadis yang berdiri di sampingnya itu terkejut karena Dion mampu melihat siapa yang datang padahal jarak mereka begitu jauh.
Mama? batin Galih dan Arjun.
Pandangan keduanya juga serentak mencari keberadaan orang yang dioanggil Dion dengan sebutan Mama.
***
Di kabulkan Kan... Mamanya Dion datang...
Ayo bilang apa?? heheeh...
__ADS_1