
HAPPY READING...
***
"Duniaku adalah Anak-anakku. dan sejak dia pergi, duniaku mati saat itu juga...".
Malam hari sebelum hari pernikahan seseorang terlaksana. Di sebuah kamar yang berada di rumah mewah khas Eropa, terlihat seorang wanita paruh baya sibuk mengemasi beberapa pakaian dan memasukkanya dalam sebuah koper berwarna hitam.
Tak banyak memang, karena hanya ada beberapa gaun saja serta kebutuhan pribadi lainnya termasuk sepasang sepatu kesukaannya.
Beberapa terkahir, ia telah berpikir. menimang segala sesuatunya dengan sangat matang. dan pada akhirnya pilihannya adalah pergi dari rumah ini. rumah yang telah melindunginya dari panas dan hujan hampir 30 tahun lamanya.
"Mau kemana kamu?" tanya seorang pria yang tak lain adalah suaminya. Mereka adalah pasangan Tuan dan Nyonya Arya Guna yang melahirkan Rega dan juga Dion.
"Saya akan pergi menghadiri pernikahan Dion," jawab Mama.
Seketika handuk yang digunakan untuk mengeringkan rambut Papa, dilempar begitu saja ke lantai. mengisyaratkan ada kemarahan dalam dirinya.
"Siapa yang menyuruhmu pergi dari sini? ha?" teriak Papa. tapi sama sekali tak membuat Mama bergidik takut. ia telah terbiasa mendengar teriakan itu dari mulut pria yang dulu pernah ia banggakan itu.
Bohong jika hubungan mereka masih sama seperti dulu. dimana cinta suami kepada istrinya yang begitu besar dan menjadi pasangan yang selalu membuat iri pasangan lian. tapi itu dulu...
semuanya telah hancur ketika usia pernikahan itu akan memasuki kepala 3. sorot mata penuh cinta dari sang suami itu berubah, hanya ada ambisi yang berkobar di manik mata itu sampai kini.
"Tidak ada yang menyuruhku pergi... hanya saja aku punya waktu yang tepat kapan harus pergi dari sini,".
Dulu Mama tak pernah sekalipun membantah ataupun menyela perkataan suaminya karena beliau amat menghormati pria itu. karena peraturan kepala keluarga adalah mutlak.
Tapi sekian lama, peraturan itu bukannya membuat anggota keluarganya nyaman justru menghancurkan mereka sendiri. salah satunya adalah kepergian Dion yang merupakan buah hati mereka.
"Jangan pernah berniat untuk pergi dari rumah ini!" teriak Papa.
semakin hari istrinya benar-benar kurang ajar. tak mau mendengarkan segala ucapannya. membuat Papa marah dan kesal.
Bukan hanya Mama yang mendengar bentakan dari Papa. bahkan suara Papa sampai terdengar ke kamar Rega. membuat putri mereka terganggu karena tengah tertidur.
Karena merasa ada yang aneh, Rega memutuskan untuk menuju ke kamar orang tuanya. Ada apa lagi sih? batinnya kebingungan.
hingga di ambang pintu kamar Mama, Rega berdiri mengamati apa yang tengah terjadi.
"Maaf, tapi kali ini tidak akan ada yang bisa menghalangiku untuk pergi... Dion membutuhkanku... dan aku akan ada disana, menjadi saksi di hari bahagia mereka..." ucap Mama.
Malam ini juga, beliau sudah memutuskan untuk pergi karena besok adalah hari pernikahan Dion dan Gadis. Mama tidak mau mengecewakan putra kesayangannya itu.
walaupun harus menentang kemauan suaminya.
__ADS_1
Dengan pakaian ala kadarnya, Mama menutup koper dan bersiap pergi. Tapi baru melangkah, tangannya dicegah oleh Papa, "Mau mu apa sih?" tanya Papa dengan nada penuh kemarahan.
Ia sama sekaki tidak bisa mengerti apa yang di mau Mama. karena semua yang Papa lakukan saat ini selalu salah dimatanya.
"Aku hanya mau menemui putra bungsu ku... menghadiri pernikahan dan memberikan doa..." jawab Mama.
sejak tadi memang itu alasannya ingin pergi.
"Maaf," Mama melepaskan pegangan tangan suaminya dan kembali melangkah.
Untuk kesekian kalinya, terdengar teriakan Papa, "Jika kamu berani melangkah lagi, aku pastikan tidak akan ada jalan untukmu kembali ke rumah ini!". menggema memenuhi seluruh sudut ruangan kamar tersebut. bahkan Rega juga terkejut dengan apa yang terlontar dari mulut Papa nya.
Untuk kedua kali, mulut Papa berucap demikian. Dion dan... Mama.
Langkah Mama terhenti, Apa ini rasanya di usir? apa ini yang Dion rasakan ketika meninggalkan rumah ini waktu itu?
bukan dirinya sendiri yang Mama khawatirkan, malah memikirkan Dion.
Ya... Dion juga pernah di posisi sama seperti Mama. terusir dari rumahnya sendiri dan dari keluarganya.
Mama kembali melangkah hingga hampir mendekati ambang pintu. terdengar lagi suara Papa, "Apa ini janji yang kamu ucapkan dulu? dengan nama Tuhan kamu telah berjanji untuk setia menemani suamimu... menjaga kehormatan suami dan keluarga mu... apa ini janjimu?".
Mama memejamkan mata. kepalanya kembali menerawang sumpah yang ia ucapkan di hadapan Tuhan saat pernikahan mereka.
"Kamu berjanji tidak akan meninggalkan rumah ini sampai nafas terakhirmu... dan sekarang, apa kamu benar-benar ingin mengingkari janjimu?" tambah Papa.
"Sadarlah Mama! sadar!" teriak Papa.
Rega jelas melihat wajah Mama yang tertunduk. Buturan air mata mulai jatuh melewati pipinya. Rega sedih, tapi tak mampu berbuat apapun.
Hingga di detik selanjutnya, terjadi kontak mata diantara Mama dan Rega. untuk pertama kalinya ada sebuah kekesalan dari manik mata yang Mama tunjukkan.
"Kamu tau Suamiku, Dunia seorang wanita adalah suaminya. itu saat awal menikah... tapi -," Mama berbalik menatap suaminya.
"Tapi setelah ada bayi yang lahir dari pernikahannya... dunia ku adalah anak-anakku,". perjelas Mama.
"Duniaku, hidupku hanya karena anak-anakku. Aku bisa hidup, kuat dan bertahan hanya karena Rega dan Dion... dan kamu tau sejak Dion pergi, duniaku ikut hancur saat itu juga... aku telah mati saat itu!" teriak Mama sambil memukul dadanya berulang kali. "Dan kamu lah yang membunuhku! kamu!" tunjuk Mama pada pria di hadapannya.
Mama menangis keras. "Jadi sejak saat itu, yang kamu lihat bukanlah istrimu... bukan... aku hanyalah cangkang tanpa isi... aku telah mati sejak lama...".
Mata Papa memerah menahan sesuatu. tangannya tergenggam dan bergetar sedangkan Rega terlihat ikut menangis di ambang pintu. Ucapan Mama benar-benar mampu menohok siapa saja.
"Bahkan sampai sekarang aku tak pernah membayangkan hal buruk terjadi padaku, pada keluarga ku... suami yang dulu terlihat amat mencintai keluarganya, berubah menjadi pria penuh ambisi dan menakutkan..." ucap Mama.
Dulu impian Arya Guna bukanlah ini. pria sederhana itu ingin memiliki keluarga yang tentram, damai dan hidup dengan penuh cinta.
__ADS_1
bahkan salah satu impiannya adalah tinggal di sebuah desa yang sangat aman, bukan seperti perkotaan seperti ini.
Itulah sebabnya Mama, menyimpan uang tanpa diketahui suaminya dan membangunkan sebuah Vila di kota yang jauh dari Ibukota. Tujuannya untuk mereka tinggali setelah Rega dan Dion dewasa.
tapi siapa sangka kalau hal itu hanya menjadi bagian dari impian mereka yang tak terwujud.
Vila rahasia itu akhirnya di tempati Dion tanpa diketahui Papa hingga saat ini.
Andai bukan seperti ini takdir keluarga Arya Guna, mungkin mereka semua akan tinggal di desa.
"Dan untukmu Rega! Mama tak pernah sekalipun membanding-bandingkan dirimu dengan Dion. Kamu juga anak Mama... anak kebanggan Mama, tapi ingat satu hal. Kamu memiliki cinta yang lengkap dari orangtuamu... sedangkan adikmu, dia hanya memiliki cinta dari Mama... jadi jangan pernah merasa dengki dengan adikmu...".
Mama kembali berjalan sambil menyeret kopernya. "Jaga rumah ini...", menepuk pelan bahu Rega dan berlalu pergi.
"Mama..." panggil Rega dan mengejar Mama, sedangkan Papa langsung terduduk di lantai. tubuhnya benar-benar seperti kehilangan tenaga. kakinya terasa lemas hanya untuk menopang tubuhnya.
---
Di teras rumah, Mama menyeka air mata yang membasahi pipinya.
"Jaga keluarga ini..." Mama mengecup pipi cucu pertamanya berulang kali, sedangkan sang menantu menangis karena tak menyangka hal ini akan terjadi.
"Mama, jangan pergi..." pinta Rega.
"Maafkan Mama, Rega... tapi adikmu sangat membutuhkan Mama... dia akan merasa berduka di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya...".
"Tapi Ma... ini sudah malam..." tolak Rega.
"Tuhan selalu bersama dengan orang-orang taat kepadaNYA bukan?" ucap Mama meyakinkan Rega kalau Tuhan selalu bersama dengan mereka setiap saat.
dan tidak akan terjadi apapun walaupun Mama harus pergi malam ini juga.
"Mama tau kalau kamu anak yang baik Rega... jaga Papa..." pinta Mama dengan lirih. walaupun terlihat jahat kepada suaminya, tapi yakin lah kalau dalam hati Mama masih tersimpan jelas cinta untuk pria yang telah menemaninya sejak muda itu.
"Jaga Papa untuk Mama...".
"Mama tak akan kembali?" tanya sang menantu.
"Mama akan kembali bersama Dion, istri dan anaknya suatu hari nanti..." ucap Mama terdengar penuh harap akan ada jalan untuk keluarga itu kembali utuh seperti sedia kala.
"Jaga diri Mama... kabari setelah Mama sampai..." ucap Istrinya Rega dan mencium punggung tangan Mama.
Malam itu juga dengan supir kepercayaannya, Mama pergi meninggalkan Ibukota. Berharap bisa menemani Dion dalam hari bahagianya.
***
__ADS_1
Kenapa selalu sedih ya kalau Bab yang membahas Mama... hiks Hiks...