
HAPPY READING...
***
Akira menatap suaminya dengan pandangan yang aneh. Pandangannya lebih kearah memohon agar Arjun mengubah keputusannya. Walaupun sepertinya sangat mustahil untuk Arjun melupakan keinginannya untuk mencium Akira, tapi tetap saja. Tidak ada salahnya untuk mencoba bukan? dan itulah yang dilakukan Akira.
"Arjun... bagaimana kalau lain kali saja?" Akira masih bernegosiasi.
Tentu saja Arjun kesal. "Kamu sudah sepakat tadi..." berusaha untuk mengingatkan Akira tentang bayaran atas kalung pemberiannya tadi.
"Kapan?"
Padahal dia yang seenaknya mengambil keputusan... aku tadi belum mengiyakan bukan? ck... menyebalkan...
"Ciuman apa sulitnya sih buatmu... lagian kamu juga pernah melakukannya dengan pacarmu bukan..." tuduh Arjun.
Tapi hal yang membuatnya terkejut ketika Akira menggelengkan kepalanya. What???
"Apa? lo belum pernah ciuman dengan si Brengs*k itu?" Arjun terkejut sendiri dengan ucapannya. Apa itu nyata? nyata terjadi pada gadis ini?
Untuk kedua kalinya Akira menggelengkan kepalanya dengan yakin. Itulah yang membuat Akira ragu untuk melakukannya dengan Arjun kali ini.
"Kenapa?" tanya Arjun dengan mode bodohnya.
Apanya yang kenapa? bingung sendiri Akira dengan pernyataan konyol dari suaminya itu.
"Maksud ku kenapa dia tidak pernah mencium mu? apa dia tidak normal? atau jangan-jangan dia pecinta jenis yang sama?" tanya Arjun.
Sedangkan Akira langsung menunjukkan wajah tak sukanya. Apa dia bilang? maksudnya Dean h*mo begitu?
"Aku benar-benar tidak percaya ada pria yang seperti itu," ucap Arjun penuh keheranan.
Ciuman adalah hal wajar di lakukan oleh pasangan kekasih di dunia modern ini. Ada juga yang memang tidak seperti itu sih, tapi kebanyakan pasangan muda-mudi sudah pernah melakukannya.
Bahkan untuk Arjun, sudah tak terhitung lagi jumlahnya. Bahkan ia sampai lupa telah melakukannya dengan siapa saja.
"Dean itu beda denganmu!" semprot Akira. Bagaimanapun ia tidak mau Arjun menyamakan diri dengan mantan kekasihnya.
Dean sangat menjaga Akira, atau karena tidak ada kesempatan untuk mencium gadis itu ya?
Entahlah, pokoknya Dean jauh berbeda dengan Arjun.
"Jelas beda lah... aku tidak pernah menjalin hubungan dengan istri orang lain," jawab Arjun ketus.
Berani sekali istrinya itu membandingkan dirinya dengan pria lain. Apalagi dengan bocah ingusan bernama Dean yang hanya mengandalkan cinta saja.
Jelas beda lah... gue pria mapan, tampan dan mempesona... para wanita di luaran sana bahkan sampai berteriak histeris saat bertemu dengan ku...
"Kenapa membahas itu lagi?" protes Akira. Bahkan hatinya masih sakit sampai saat ini ketika teringat dengan ucapan Dean saat memutuskan hubungannya dulu.
"Karena kamu sudah selingkuh...".
"Ck..." Akira hanya bisa berdecak. Geli sekali ia mendengar ucapan Arjun yang mengatainya selingkuh. Walaupun pada kenyataannya memang iya sih... hehehe
"Jadi gimana? aku sudah jujur kan? jangan sekarang..." Akira masih berusaha untuk bernegosiasi.
"Mana bisa begitu, kamu sudah janji akan membayar kalung itu dengan ciuman...".
Kapan aku bilang begitu? padahal dia yang punya rencana agar kalungnya di bayar dengan sebuah ciuman... licik sekali melimpahkannya kepadaku...
__ADS_1
"Karena ini ciuman pertama bagimu, aku akan membuatmu terkesan... bahkan sampai kamu mengingatnya sampai kapanpun..." ucap Arjun dan tiba-tiba telah memegangi kedua pipi Akira dengan tangannya.
Tentu saja Akira langsung membulatkan matanya. Gadis itu sangat gugup tapi sialnya lagi Akira tak sempat menghindar.
"Arjun..." ucapnya dengan nada pelan.
"Jangan khawatir, pejamkan matamu..." pinta Arjun dan langsung mendekatkan wajahnya mengikis jarak di antara mereka.
Hembusan nafas hangat Arjun mampu Akira rasakan. Hal itu semakin membuatnya memejamkan mata lebih kuat. Dada Akira langsung bergemuruh hebat dan membuatnya benar-benar hampir pingsan.
Hingga tiba-tiba sebuah benda kenyal mendarat sempurna di bibirnya.
Tubuh Akira menegang merasakan kecupan dari pria yang seperti menjelajahi setiap inci bibirnya. "Buka mulutmu..." perintah Arjun di sela-sela aktifitasnya.
Tanpa berpikir panjang, Akira menuruti keinginan pria itu untuk membuka mulutnya.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, lidah Arjun langsung menerobos masuk. Menari-nari di setiap rongga m*lut istrinya dan menciptakan bunyi berdecak yang hanya di dengar mereka berdua. "Akira, bernapas..." perintah Arjun dan sejenak menghentikan kegiatannya karena menyadari istrinya menahan nafas sejak tadi.
"Huuhh...".
"Kamu bisa mati kalau tidak bernapas..." ucap Arjun dengan senyum geli. Heran sekali dia melihat kelakuan istrinya itu. Bagaimana bisa di cium saja membuat seseorang lupa untuk bernafas.
Wajah Akira seketika memerah dengan apa gang Arjun katakan. Bahkan ia berani menatap pria di depannya yang seperti mengamati Akira tanpa berkedip sama sekali.
Duh malunya ...
Akira mengira kalau semua itu sudah berakhir, tapi nyatanya Arjun kembali memegang kedua pipi gadis itu hingga membuatnya protes.
"Sudah kan?".
"Kapan aku bilang untuk menyudahinya?" ucap Arjun dengan seringai yang sama di bibirnya.
Bedanya kali ini dengan durasi yang lama jika dibandingkan dengan tadi.
Lama kelamaan apa yang dilakukan Arjun benar-benar sedikit menuntut. Arjun meletakkan tangannya di tengkuk leher istrinya untuk memperdalam ciumannya hingga membuat Akira kelabakan. Tapi sekarang ia sedikit terbiasa, tak lagi lupa untuk bernafas.
"Terima kasih..." ucap Arjun setelah melakukan apa yang ia mau. Sambil menatap wajah istrinya yang berubah merah, ibu jarinya menghapus jejak di bibir Akira dengan sangat lembut.
Tapi yang dilakukan Akira hanya terdiam mengamati binar mata pria itu yang terlihat bercahaya karena sinar lampu kamar.
Jantungku... jantungku... sepertinya tidak lagi berada di tempatnya... batin Akira karena detak jantungnya yang menggila.
Ini adalah pertama kalinya jantungnya berdetak tak karuan.
Karena merasa sangat berbahaya berdekatan dengan Arjun, Akira langsung berlari menuju ke kamar mandi. Meninggalkan Arjun dengan keheranan. "Kenapa dia? apa dia malu?" Arjun tersenyum dengan ucapannya sendiri.
Sedangkan Akira, di dalam kamar mandi ia hanya memandangi cermin tanpa berkata apapun. Mengamati wajahnya yang benar-benar memerah seperti seekor kepiting rebus yang baru saja matang.
Apa ini nyata? Apa ini benar-benar terjadi padaku dan Arjun? Apa kami benar-benar ciuman tadi? Huaa... kenapa rasanya aneh...
"Akira, sadar..." Akira menepuk pipinya untuk membuat kesadarannya kembali.
Tapi semakin ia menyadarkan diri, Akira seperti tenggelam dalam mimpi. Hingga panggilan dari luar kembali mengejutkannya,
"Akira! apa yang kamu lakukan di dalam sana?" teriak Arjun yang masih di dengar jelas oleh Akira.
"Bagaimana aku menghadapinya nanti? malu sekali bukan?" ucap Akira pada dirinya sendiri.
Kecanggungan akan mengambil alih suasana setelah kejadian tadi.
__ADS_1
Mungkin Arjun tidak akan terpengaruh, tapi bagi Akira yang baru pertama kali melakukannya akan benar-benar kelihatan bodoh di depan pria itu.
"Akira..." panggil Arjun lagi hingga membuat Akira memejamkan matanya.
Apalagi sih... batin Akira. Padahal ia berencana keluar setelah Arjun tidur. Tapi sepertinya tidak berhasil. Nyatanya pria itu tak henti-hentinya berteriak memanggil namanya.
Akira terpaksa keluar dari kamar mandi tentu saja dengan terus menundukkan pandangannya. Mendekati ranjang dan langsung merebahkan dirinya di sisi yang masih kosong.
Tanpa berkata ataupun bertanya sesuatu, Akira langsung menarik selimut dan memejamkan mata dengan posisi membelakangi tubuh Arjun.
Ck... apa-apaan dia itu? kenapa aku merasa di abaikan seperti ini? batin Arjun.
Padahal tadi mereka melakukan sesuatu yang romantis untuk sejenak, tapi sekarang mereka kembali seperti orang asing.
"Hadap sini!" perintah Arjun.
Karena tidak di turuti oleh Akira, Arjun memaksa mengubah tubuh istrinya agar menghadap dirinya. "Aku tidak mau di belakang seperti itu," protes Arjun.
"Baiklah..." jawab Akira tentu saja tanpa menatap Arjun.
"Ada apa sih?" tanya Arjun. Dirinya benar-benar merasa di abaikan.
"Tidak," elak Akira masih menyembunyikan diri di balik selimut.
Ayolah Arjun... sana cepat tidur...
"Kamu malu?" goda pria itu tanpa memikirkan bagaimana perasaan Akira saat ini.
Arjun bahkan sengaja menurunkan selimut agar bisa melihat wajah istrinya. Benar... wajahnya merah... hahaha...
Entah kenapa Arjun merasa senang sekali setelah menggoda istrinya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya tadi? kan itu pertama kalinya untukmu..." tanya Arjun penasaran.
Kenapa bertanya seperti itu sih? aku jadi teringat kan... Akira benar-benar frustasi. Bahkan tanpa Arjun bertanya sekalipun, di kepala Akira hanya ada kilasan-kilasan bagaimana mereka melakukannya tadi. Semuanya masih terasa jelas, bagaimana lembutnya perlakuan Arjun kepadanya, bagaimana rasanya, semua masih Akira ingat. Sangat ingat...
"Sudahlah jangan menggodaku!" rajuk Akira.
"Hahaha..." hanya tawa yang terdengar dari mulut Arjun. Antara lucu juga geli melihat bagaimana reaksi sang istri.
Kenapa kamu menggemaskan sekali sih...
"Baiklah, ayo tidur..." perintah Arjun dan langsung memposisikan tangannya memeluk perut Akira seolah sedang memeluk sebuah guling.
Serta tak lupa menciumi parfum yang melekat pada tubuh gadis itu, membuat Arjun cepat memasuki alam mimpi.
---
Di pagi hari, saat Arjun masih terlelap di ranjang. Akira bangun dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Hal pertama yang dilakukannya adalah terdiam sambil mengamati wajahnya dari cermin.
Perlahan Akira menyentuh bibirnya sama seperti yang dilakukan Arjun tadi malam. Hal itu tentu saja mengingatkan Akira tentang ciumannya bersama dengan Arjun.
Kenapa hanya mengingatnya, jantungku kembali berdetak tak karuan? batin Akira sambil menyentuh dadanya.
"Arjun... kamu benar-benar membuatku gila...".
***
Hahaha...
__ADS_1
Maafkan Part ini yahh.... Authornya Khilaf...