
HAPPY READING...
***
Pagi hari masih di dalam kamar hotel yang berada di London, Akira duduk sambil mengerucutkan bibirnya.
Terlihat dua orang pelayan sedang mengemasi koper milik Arjun dan Akira.
"Kita akan liburan lagi nanti," ucap Arjun berusaha untuk membujuk istrinya yang sedang cemberut.
Bukan karena sebab, rencana mereka untuk stay disini hingga dua hari kedepan gagal total.
Semua ini karena naik Bianglala yang membuat Arjun mual.
Tapi anehnya mual nya tak kunjung mereda sampai hari ini.
Dan dengan terpaksa, rombongan Arjun dan Akira harus pulang ke tanah air secepatnya. Itu juga perintah dari Papi Johan setelah Galih menghubungi beliau semalam.
Di London, Akira bahkan belum sempat membeli oleh-oleh apapun. Karena sesuai jadwal, hari inilah mereka bisa pergi berbelanja.
Tapi nyatanya gagal total.
"Sudah semuanya?" tanya Galih yang tiba-tiba masuk untuk mengecek apakah barang-barang Arjun telah selesai di kemas atau belum.
"Sudah Tuan," jawab pelayan.
Arjun segera bangkit. Merangkul istrinya dan berjalan meninggalkan kamar tersebut.
Tepat di depan pintu, Dion sudah menunggu disana.
"Gue akan nyusul nanti," jawab Dion. Pria itu juga akan ikut pulang menyusul Arjun.
"Kabari kalau sudah sampai,".
Sedangkan Arjun hanya mengangguk.
"Kita duluan bro..." tambah Galih berpamitan pada Dion.
"Yoi,"
Inilah adalah pertama kalinya Arjun merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Sudah banyak cara yang dilakukannya untuk meredakan rasa mual di perut. Arjun juga telah meminta Akira untuk memijit nya mungkin saja karena kecapekan. Tapi nyatanya tak mengurangi mual sedikitpun.
Di pesawat pun, Arjun hanya diam dan memejamkan matanya. Berharap saat matanya terpejam, perutnya tak lagi bergejolak.
Akira juga memaklumi suaminya. Karena ia juga pernah merasakan hal yang sama ketika terlalu lama naik Bus.
Ya... Akira akan mabuk darat ketika naik Bus.
"Tidurlah..." pinta Akira dan mulai menyelimuti tubuh Arjun dengan selimut tebal.
Galih juga terlihat siaga dengan duduk di sisi samping bangku Arjun. Siapa tau Arjun membutuhkan sesuatu dan Galih bisa langsung bertindak.
Selama pesawat mengudara, Akira tak henti-hentinya mengamati suaminya.
Pandangan matanya terus melihat ke arah Arjun dan berharap tidak terjadi hal yang buruk pada tubuh suaminya.
***
Tiba di Indonesia saat dini hari, Rombongan Arjun telah di jemput oleh beberapa mobil termasuk Papi Johan dan Mami Livia sendiri.
Wajah Arjun terlihat pucat dan lemas. Bagaimana tidak, di dalam pesawat pun pria itu beberapa kali memuntahkan isi perutnya.
Bahkan selera makan pun hilang entah kemana.
"Ikut dengan mobil Papi, biar Akira pulang bersama Mami..." ucap Papi Johan.
Menantu kesayangannya juga tentu saja sangat lelah, jadi biarkan Arjun pergi ke Rumah Sakit hanya bersama Papi saja.
__ADS_1
"Akira ikut Pi..." tolak Akira. Bagaimana bisa ia pulang sedangkan suaminya pergi ke rumah sakit. Akira akan lebih khawatir nanti.
"Pulang lah dan istirahat, aku akan segera pulang nanti..." ucap Arjun meyakinkan.
Apa aku tidak perlu ikut? begitu sorot mata Akira pada Arjun.
Jika Arjun meminta Akira untuk menemaninya, tentu saja Akira tak keberatan.
"Tidak usah, istirahatlah..." jawab Arjun.
Akira hanya pasrah dengan jawaban Arjun.
"Jangan khawatir sayang, Arjun pergi bersama dengan Papi dan Galih..." Mami Livia juga ikut bersuara.
"Baiklah..." jawab Akira lemah. Bisa berbuat apa dia kalau semuanya sudah berkata demikian.
Di Bandara ini juga akhirnya Akira pulang bersama dengan Mami Livia, sedangkan di lain mobil Arjun pergi dengan Papi Johan dan juga Galih. Mereka akan langsung menuju ke Rumah Sakit untuk melakukan pemeriksaan terhadap tubuh Arjun.
Semoga baik-baik saja... batin Akira melepas kepergian mobil berwarna hitam di depan sana.
"Ayo masuk," ajak Mami dan Akira langsung ikut duduk di bangku tengah bersebelahan dengan Ibu mertuanya.
"Bagaimana perjalananmu sayang? menyenangkan?" tanya Mami penasaran. Karena selama 12 hari di Eropa, Arjun hanya beberapa kali menelpon ibunya.
Tentu saja dengan durasi perbincangan yang amat singkat.
Menanyakan keadaan anak dan menantunya, setelah Arjun menjawabnya pria itu langsung menyudahi panggilan dari Mami Livia.
"Iya Mi... Akira senang," jawab Akira. Jika bukan karena menjadi menantu keluarga kaya itu, tentu saja pergi ke Eropa adalah mimpi belaka baginya.
"Walaupun Akira sedih karena tidak tau kalau Arjun takut ketinggian..." sesalnya kemudian.
Bianglala benar-benar menjadi bencana di liburannya.
Seandainya Akira tidak memaksa Arjun untuk menaiki benda itu, tentu saja hal seperti ini tidak akan pernah terjadi.
Aagghh... aku menyesal...
Tapi nasi telah menjadi bubur. Sesuatu yang terjadi tidak akan bisa di cegah.
Karena penyesalan akan muncul belakangan diiringi dengan rasa sesak dan kecewa.
"Jangan sedih... itu bukan salahmu sayang... Mami yakin kalau Arjun tidak memberitahu mu tentang itu," hibur Mami Livia.
Bagaimana mungkin Arjun akan dengan mudahnya memberitahu ketakutannya pada Akira. Tentu saja Mami Livia yakin karena seperti itulah sifat anak laki-laki nya tersebut.
Berusaha menampakkan pada orang lain kalau dirinya tak mempunyai kekurangan sedikitpun.
Jangankan tentang ketakutannya akan ketinggian. Pernah waktu kecil, Arjun berusaha menyembunyikan nilai ulangannya dari sang Ibu karena mendapat nilai buruk.
Pria itu berusaha melipat lembar jawab ulangannya menjadi kecil dan menyembunyikannya di halaman buku tebalnya berharap Mami Livia tidak mengetahui hal itu.
Karena Arjun kecil adalah anak yang berprestasi dengan nilainya selalu mendekati sempurna.
Dan bilang kepada Mami Livia bahwa nilai hasil ulangannya mendapatkan nilai seratus.
Tapi semua itu terbongkar sudah saat Mami Livia tidak sengaja mengecek buku Arjun dan mendapatkan lembar jawab tertulis angka 50.
Mami Livia mulai bertanya pada Arjun tanpa memukul anaknya sama sekali.
Dan memberitahu kalau perbuatan Arjun adalah salah dengan berbohong pada ibunya tentang nilai ulangan.
Sedangkan Arjun kecil menjawab kalau dia malu ketika mendapat nilai rendah karena tidak belajar.
Dari situlah Mami Livia paham akan sifat anaknya.
Sampai sekarang, Arjun akan menutupi kekurangannya dengan kelebihan yang dia miliki. Bahkan semua orang tidak ada yang menyadari kalau ternyata pria itu memiliki ketakutan akan ketinggian.
__ADS_1
***
"Bagaimana Dok?" tanya Papi Johan sedikit khawatir akan kondisi putra semata wayangnya.
"Tidak ada masalah Tuan Pradipta, Tuan muda hanya mengalami sedikit trauma hingga menciptakan rasa mual yang berlanjut..." ucap sang Dokter menjelaskan.
"Apa tidak ada obat yang bisa membantunya? Arjun sangat lemah dan pucat..."
"Saya buatkan resep dulu, dan Tuan Muda harus banyak istirahat... karena stamina Tuan Muda sedikit menurun..." ucap Dokter dan berjalan meninggalkan Arjun.
Sedangkan Arjun hanya mengangguk. Benar, 12 hari terakhir benar-benar melelahkan.
"Papi keluar sebentar..." pamit Papi Johan. Karena tidak ada yang perlu di khawatirkan, beliau berniat untuk menghubungi Mami Livia agar lebih tenang.
Galih sejenak membungkuk melepas kepergian Papi Johan.
"Lo paham maksud dokter tadi kan?" bisik Galih pada Arjun.
"Tau lah... di suruh banyak istirahat..." jawab Arjun.
Karena bukan hanya dirinya, Papi dan Galih juga mendengar hal itu tadi.
"Salah!" tolak Galih.
"Lalu?", Arjun bertanya-tanya dan bingung. Salah? dimana salahnya? begitu batinnya bicara.
"Jangan terlalu sering bercocok tanam nyet! stamina Lo sudah turun... hehehe," gurau Galih. Sedangkan Arjun langsung menatap sahabatnya dengan kesal.
"Si*lan!" umpatnya.
Di depan ruangan Arjun, Papi Johan terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Halo Mi..."
"Halo Pi... bagaimana Arjun baik-baik saja kan? sudah di periksa Dokter? Dokter bilang apa?"
Papi Johan tersenyum. Ia begitu paham dengan sifat istrinya itu. Mengkhawatirkan Arjun seperti ibu-ibu lain di dunia.
"Arjun baik-baik saja Mi... nanti setelah dapat obat, kami akan segera pulang. Oh iya... Akira sudah tidur?"
"Syukurlah tidak terjadi apa-apa pada Arjun. Mami sangat khawatir tadi... Akira baru saja masuk ke kamar membersihkan diri... nanti biar Mami yang memberitahunya,"
"Baiklah, Papi sudahi ya..."
"Iya, Hati-hati Pi..."
Di rumah pradipta,
Mami Livia bergegas menuju ke kamar Akira.
"Sayang... Akira..." teriak wanita paruh baya tersebut.
"Iya Mi..." jawab Akira keluar dari dalam kamar mandi.
Hal pertama yang di lihat adalah sosok Mami Livia. Membuat Akira tambah khawatir karena Mami terlihat tergesa-gesa datang ke kamarnya.
Apa ada sesuatu pada Arjun? dia tidak baik-baik saja? batin Akira dengan wajah pias.
"Sayang... Arjun baik-baik saja... dia akan pulang setelah mendapat obat," lapor Mami dengan senyum indah mengukir bibir.
Entah kenapa Akira yang mendengar ucapan Mami Livia langsung memajukan detak jantungnya lebih cepat. Beban yang berada di pundaknya seolah hilang seketika mendengar kabar kalau Arjun baik-baik saja.
Terima kasih Tuhan... Terima kasih...
***
Semoga syuka...
__ADS_1