Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
229. Rasa Penasaran Galih.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


1 minggu Kemudian.


Tiara tergesa-gesa berjalan sangat cepat menyusuri trotoar menuju ke Perusahaan dimana ia bekerja.


bahkan Tiara menggunakan sandal jepit dan menggantikan dengan sepatu nanti ketika telah sampai di Pradipta Group.


Gara-gara lupa tidak menghidupkan alarm semalam, Tiara benar-benar terlambat bangun. Bahkan pagi ini, ia tidak sempat untuk sarapan ataupun meminum susu lebih dulu.


Mandi dan langsung bergegas berangkat bekerja. sialnya lagi, Tiara lupa membawa dompet hingga tak bisa naik kendaraan umum seperti biasanya.


Untung saja Perusahaan Pradipta Group terletak tak jauh dari tempat kostnya. jadi dengan berlari kurang lebih 10 menit, Tiara sudah sampai.


Tiara akhirnya tiba di depan gedung pencakar langit. Memperlambat jalannya dan kembali mengatur nafas.


"Huh.. hah... untung saja tidak terlambat..." ucapnya dengan suara parau.


Hingga setelah melewati satpam, Tiara duduk di sofa yang ada di Lobi gedung itu.


Mengatur detak jantungnya yang berantakan sambil mengganti sandal dengan sepatu yang telah Tiara siapkan.


"Halo..." sapa seseorang mengejutkan Tiara. membuat Gadis itu sedikit mendongak untuk mencari sumber suara yang diyakini memang menyapanya seorang.


Dan benar saja, di depan Tiara seorang pria berdiri. senyum ramahnya terlihat sumringah menyambut kedatangan Tiara pagi ini.


"Kamu baru sampai?" tanya pria bernama Joe itu.


"Iya..." jawab Tiara.


"Tumben," ucap Joe heran. Karena Tiara biasanya datang lebih pagi dan sekarang datang ketika pekerjaan hampir di mulai.


"Alarm ku tidak berbunyi..." bohong Tiara. padahal ia lupa menghidupkan alarm tadi malam.


"Drakor mulu sih..." goda Joe hingga membuat Tiara tersenyum. Benar apa yang dikatakan pria itu, Tiara memang baru kecanduan nonton film Korea akhir-akhir ini. bahkan sampai lembur hingga dini hari untuk menyelesaikan setiap episode yang semakin seru saja dan sayang kalau di lewatkan.


Tanpa terduga, Joe merogoh saku jasnya untuk mengambil sapu tangan. menggenggamnya dan sedikit membungkuk untuk menyeka keringat Tiara.


"Joe-," ucap Tiara terkejut dengan perlakuan Joe yang tiba-tiba.


"Keringat mu banyak..." ucap pria itu masih dengan nada lembut dan amat sopan.


"Tapi-,".


"Ini bersih kok, belum aku pakai..." jelas Joe. Tak mau Tiara salah paham oleh sapu tangan miliknya.


"Aku bisa sendiri..." ucap Tiara merampas paksa sapu tangan dari tangan Joe dan menyeka keringatnya sendiri. Tiara hanya aneh saja diperlakukan seorang pria di tempat umum. apalagi bukan seperti itu hubungan Tiara dan Joenatan. dimana nanti akan ada desas-desus yang membuat Tiara semakin tak enak.


Bersamaan dengan itu, Presdir Pradipta Group baru saja masuk dengan seorang pria yang setia bersamanya. siapa lagi kalau bukan Galih.


Bohong jika mereka tidak melihat Tiara dan Joenatan yang ada disana juga. bahkan jelas tangan pria itu terulur di wajah Tiara tadi sebelum Tiara mengambil alih sapu tangan untuk menyeka keringatnya sendiri.


Kedatangan Arjun dan Galih seketika membuat semua karyawan di tempat itu berdiri, menundukkan kepalanya sesaat untuk memberi hormat. termasuk Joe dan juga Tiara.


Mereka menjadi orang terakhir yang bangkit dan ikut menundukkan kepala sampai sang Presdir melewatinya.

__ADS_1


Beda dengan Arjun yang tampak biasa saja, mata Galih seperti menyala oleh kobaran api kemarahan. Tapi pria itu berusaha untuk tidak menunjukkan nya di depan semua orang.


Hingga Arjun dan Galih berlalu pergi, masuk ke dalam Lift yang akan membawa mereka ke lantai dimana ruangan Arjun berada. Didalam sana, Arjun sesekali mencuri pandang menatap ke arah Galih untuk melihat bagaimana reaksi pria itu.


"Sepertinya lo dalam masalah..." ucapnya tiba-tiba. setidaknya membuat kobaran api dalam hati Galih semakin berkobar dan kebakaran.


Tapi ucapan Arjun tak membuat Galih bereaksi. tak mengatakan apapun atau mengumpat seperti yang sudah-sudah.


"Apa mereka pacaran?" Arjun bersuara lagi.


Tapi tetap saja, tak membuat Galih berkomentar atau pun meladeni ucapan Arjun yang terlihat tak bermanfaat sama sekali.


Ck... menjengkelkan sekali dia... umpat Arjun karena Galih sama sekali tak merespon.


"Hahaha... Jangan-jangan lo sudah bukan tipenya lagi," ucap Arjun dengan jumawa.


Kali ini ucapannya mampu mengenai sasaran karena Galih langsung menatap Arjun dengan tatapan aneh.


"Kenapa? apa ucapan gue salah?" tanya Arjun dengan polosnya.


"Lo bisa diam tidak?" umpat Galih, padahal sebenarnya ia sudah kesal ditambah Arjun yang berbicara banyak semakin membuat Galih bertambah kesal.


"Ya! berani sekali lo memerintah Presdir untuk diam!" teriak Arjun tak terima.


"Apa lo lupa dengan jabatan gue?" omel Arjun ketika egonya terlukai. bahkan ketika marah, mulut Arjun mungkin seramai mulut istrinya.


mengucapkan kata-kata yang tidak bisa dicegah sama sekali.


Tapi Galih tidak ambil pusing karena bersamaan dengan Arjun yang mengomel tanpa henti, pintu Lift terbuka membuat mereka mau tak mau segera melanjutkan langkahnya menuju ke ruangan mereka.


Siapa dia? awas saja, gue tandai wajah Lo! batin Galih mengingat siapa pria yang bersama Tiara tadi.


***


Galih sengaja mengambilkan makan siang Arjun lebih dulu sebelum ke bagian personalia untuk mencari tau sesuatu.


Jam makan siang seperti ini, Perusahaan terlihat lenggang bahkan bisa dikatakan sepi. Itulah sebabnya Galih segera pergi, menemui kepala bagian untuk menanyakan sesuatu yang amat mengganggu pikirannya sejak tadi pagi.


Siapa lagi kalau bukan pria yang begitu manis yang tengah bersama Tiara di Lobi.


Bahkan Galih sampai perlu mengingat wajah pria itu.


"Orang yang bapak maksudkan di tempatkan di bagian apa Pak?" tanya pria cukup berumur di depan Galih. membolak-balikan berkas Perusahaan untuk mencari data dan penempatan karyawan perusahaan.


"Mana saya tau dia bekerja di bagian apa, pokoknya dia laki-laki, tinggi mungkin sepantaran denganku dan tadi memakai kemeja berwarna biru..." jelas Galih seperti tengah memberi keterangan pada kantor polisi.


"Kemeja biru? siapa ya?" yang di tanya juga kebingungan. karena bukan hanya 5 atau 10 orang saja karyawan perusahaan ini. Bahkan ia juga tidak hafal dengan nama-nama mereka satu persatu. apalagi cuma menyebutkan bagaimana ciri-cirinya dimana pakaian tidak bisa menjadi tolak ukur seseorang.


"Pokoknya dia tampan," ucap Galih dan kembali melongo sadar dengan apa yang ia katakan barusan. Ck... kenapa malah terdengar memujinya? sewot nya.


Seharusnya Galih tak perlu memuji bagaimana pria yang bersama Tiara tadi bukan? kalau begitu sama saja Galih mendukungnya.


"Anda juga tampan pak..." jawab pegawai itu. dan langsung mendapat tatapan horor dari Galih.


"Sini biar ku cari sendiri..." ucap Galih dan merampas berkas berisi karyawan Pradipta Group.


Jam istirahat digunakan Galih untuk mencari, membaca dan mengamati satu persatu data kepegawaian. mencocokkan foto dengan ingatannya hingga sebuah foto mengalahkan perhatiannya.

__ADS_1


Ini dia kan? batinnya membenarkan apa yang Galih lihat.


"Joenatan," gumamnya pelan.


"Agghh... Joe... dia sudah bekerja di sini 1 tahun yang lalu... anaknya rajin dan terampil dalam membuat desain berbagai produk yang diluncurkan Pradipta Group..." sela Kepala personalia itu.


Ck... apa harus bersaing dengan bocah itu? batin Galih kesal karena pria yang ia anggap sebagai Rival itu jauh di bawahnya dadi segi umur. Bagaimana tidak, saat ini umur Galih telah menginjak angka 31 tahun.


"Cetak semua informasi dirinya dan serahkan padaku..." perintah Galih pada akhirnya.


Buat apa? walaupun penasaran dengan alasan apa yang membuat Galih ingin hal itu, tapi yang di perintah hanya bisa mengangguk kepala mengiyakan perintah tanpa berani bertanya sedikitpun.


Hingga pada akhirnya, Galih keluar dari ruangan itu. Semua yang membuat ia penasaran terjawab sudah. siapa dan apa jabatan pria yang telah berani mendekati wanitanya.


Tepat di lantai 2 gedung Pradipta, Galih tak sengaja berpapasan dengan pria yang membuatnya pemasaran sejak pagi. Ya... Joenatan dan juga Tiara. sangat kebetulan bukan Galih bisa melihat keduanya di waktu yang bersamaan.


"Siang Pak..." sapa Joe pada Galih. sedangkan Tiara hanya terdiam tapi ikut menundukkan kepalanya singkat sebagai bentuk hormat.


Sial! apa perlu seramah itu padaku? omel Galih dalam hati.


Galih masih berdiri mengamati mereka berdua, menajamkan mata seperti hendak menerkam Tiara.


Jangan takut Tiara... lo tak perlu mengharapkannya lagi... batin Tiara menyemangati diri sendiri.


Hingga Joe dan Tiara telah melangkah beberapa langkah, dan Galih baru bersuara "Tiara..." panggilnya dengan suara tegas.


membuat langkah kaki Tiara maupun Joe sama-sama terhenti dan juga terkejut karena orang kepercayaan Presdir sampai memanggil nama Tiara.


Tiara memutar tubuhnya kembali menghadap Galih, juga dengan Joe walaupun kepalanya di penuhi oleh banyak pertanyaan.


Ada apa? Apa Tiara punya masalah dengan Pak Galih? batin Joenatan.


"Bisa bicara dengan saya sebentar?" tanya Galih formal sama seperti ketika bicara dengan karyawan lain.


membuat Tiara mengangguk walaupun dadanya tiba-tiba berdetak tak karuan.


Apa yang membuat Galih ingin bicara dengannya? begitu pikirnya.


"Joe, kembalilah dulu..." bisik Tiara pada Joenatan.


"Kamu punya masalah?" tanya Joe jelas di dengar oleh telinga Galih.


Galih menaikkan alisnya.


Ck, apa urusannya? apa dia akan jadi pahlawan kalau memang Tiara bermasalah? cerca Galih dalam hati.


"Tidak..." jawab Tiara. Karena memang ia sama sekali tak membuat masalah sedikitpun. "Kembalilah dulu... nanti aku susul...". Hingga pada akhirnya Joenatan memang pergi meninggalkan Tiara sendirian di hadapan Galih.


"A- ada a-pa?" tanya Tiara terbata.


Apalagi dengan Galih yang berjalan mendekatinya. membuat jantung Tiara semakin berpacu cepat. Tenang Tiara... tenang... batinnya.


***


Cut...


hahaha... Kita lanjut senin ya...

__ADS_1


Cuma mau bilang, Selamat ber penasaran... xixixi...


__ADS_2