Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
37. Perubahan Arjun.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Jam makan siang telah tiba. Biasanya Arjun akan pergi makan siang di luar Kantor tapi kali ini terlihat beda. Pria itu masih duduk di balik meja kerjanya sambil mengotak-atik ponsel.


"Tidak makan di luar?" tanya Galih yang berdiri tepat di ambang pintu ruangan itu.


"Tidak," jawab Arjun datar.


Pria itu bahkan tidak melihat keberadaan Galih sama sekali.


"Makan disini saja?" tanya Galih lagi.


Tentu saja ia harus menanyakan hal itu karena Bosnya itu kadang suka seenaknya sendiri. Galih tidak mau capek-capek membawa makan siang kesini dan Arjun tiba-tiba berubah untuk makan siang di luar.


Tentu saja hal itu hanya Galih yang kelelahan.


"Hm," jawab Arjun lagi. Sungguh nada bicara pria itu sama sekali tidak mengenakkan.


Andai saja bukan Bosnya, ingin sekali Galih mencekik pria itu.


"Serius?" tanya Galih lagi.


Seketika Arjun menaikkan pandangannya menatap Asisten pribadinya itu. Sorot matanya begitu menakutkan hingga membuat Galih bergidik ngeri,


"Baiklah, akan ku ambilkan..." jawab Galih dan langsung melarikan diri.


Menutup kembali pintu itu dengan sangat hati-hati karena takut.


Kini tinggal Arjun sendirian di ruangan yang penuh dengan buku dan berkas perusahaan.


"Bagaimana gue mengatakannya ya?" gumamnya pelan.


Ternyata sejak tadi Arjun mencoba untuk mengetik pesan. Berulang kali ia mengetik, berulang kali juga Arjun menghapusnya.


"Agghh... gue bingung..." ucap Arjun frustasi.


Mengirim pesan lebih dulu kepada orang lain lebih membingungkan daripada mengerjakan soal matematika di Ujian Nasional.


Itulah pemikiran Arjun, sang mantan juara kelas sejak SMP dulu.


Tidak akan ada yang menyangka kalau Arjun, yang notabene nya terlihat seperti itu... Seperti apa? Ya... seperti yang terlihat lah. Pria itu ternyata sangat pintar di bidang pendidikan.


Lulus sekolah dengan nilai memuaskan dan diterima di sebuah Universitas di Negara terkenal.


Tapi takdirnya memang ada di lingkup keluarga Pradipta dimana Arjun mau tidak mau akan memimpin perusahan ini suatu hari nanti.


Tok tok tokk...

__ADS_1


Pintu ruangan itu di ketuk dari luar.


"Masuk.." perintah Arjun.


Seketika pintu terbuka dan menampakkan seorang gadis cantik berjalan masuk dengan membawa nampan berisi Air dingin dan juga sekotak salad buah.


"Pak, ini salad buah untuk Anda..." ucap gadis itu yang tak lain adalah Sella, sekertaris Arjun.


Gadis bertubuh seksi itu mulai meletakkan air dan salad di meja tepat di depan Arjun. Tentu saja di jarak yang dekat seperti itu, Arjun mampu mencium wangi parfum yang melekat pada tubuh Sella.


"Ini buatan mu?" tanya Arjun berbasa-basi.


"Iya Pak," jawab Sella dengan senyum yang melengkung sempurna menghiasi bibir ranum miliknya.


Belum sempat berkata lagi, Galih juga telah masuk ke ruangan itu. Tapi bedanya dengan Sella, Galih langsung masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.


Eh, ada Sella... batin Galih terkejut.


Galih mendekati meja Arjun dengan membawa makan siang. Apa itu pemberian Sella?


Mata Galih tentu saja dapat melihat sekotak salad buah di atas meja itu yang ia duga adalah pemberian Sella.


Galih sudah tau sejak lama kalau Sella memang tertarik pada Bosnya.


Setiap hari gadis itu selalu mempersiapkan dirinya agar terlihat cantik juga wangi.


Dandanannya juga terlihat sangat menggoda menurut Galih, tapi tak tau bagaimana reaksi Arjun.


Galih sudah meletakkan kaman siang untuk Arjun. Tapi yang membuatnya merasa heran kenapa Sella masih berdiri di sana dan tidak berniat pergi sama sekali.


Tentu saja hal itu membuat Arjun bereaksi,


"Galih, kamu suka salad?"


Di tanya seperti itu membuta Galih kebingungan. Apalagi tatapan Sella juga langsung terarah kepadanya.


"Aku sedang tidak mengkonsumsi keju... makanlah, Sella yang membuatnya sendiri..." tambah Arjun.


Tentu saja ucapannya itu adalah bentuk sebuah penolakan atas makanan yang di beri Sella tadi.


Galih tak berani menjawab, kini yang menatap ke arah Sella dengan ekor matanya. Mengamati apakah gadis itu baik-baik saja. Dia sedih...


batin Galih menyadari perubahan wajah Sella karena terang-terangan Arjun menolak pemberian Sella.


Galih langsung mendekati meja Arjun dan mengambil sekotak salad dengan banyak buah dan keju di atasnya. "Terima kasih Sella..." tentu saja Galih tak lupa berterima kasih pada gadis itu.


Sella pun tersenyum seperti di paksakan.


"Ada keperluan lain Sel?" tanya Arjun.

__ADS_1


"Oh, tidak pak..." jawab Sella dan langsung meminta ijin untuk keluar dari ruangan itu.


Sella pun membawa langkah kesedihannya keluar dari ruangan itu.


Setelah kepergian Sella, kini Galih yang bertanya pada Arjun karena ia sangat penasaran. "Kenapa lo menolaknya?" tanya Galih yang terdengar santai tidak formal seperti tadi ketika ada karyawan lain.


"Dia terlalu mencolok untuk sekedar tertarik padaku bukan?"


Semua tingkah laku Sella benar-benar mampu di baca oleh Arjun kalau gadis itu memang menyukainya.


"Terus?" tentu saja Galih yang bingung. Siapa sih yang tidak tertarik pada Arjun? dia tampan, mapan, dari keluarga kaya raya, semua wanita juga ingin menjadi kekasihnya.


"Gue gak tertarik..." jawab Arjun ketus sambil membawa makan siangnya menuju ke sofa yang berada di sudut ruangan itu.


Mendengar jawaban Arjun, ingin sekali Galih tertawa. Tidak tertarik? hahaha... Aneh, itu sama sekali bukan gayanya...


"Sejak kapan lo tidak tertarik pada wanita?" tanya Galih dengan tawa yang terselip di dalam ucapannya.


Arjun menatap Galih tanpa bersuara.


"Arjun Pradipta... Pria buaya yang tidak percaya dengan cinta, sering bergonta-ganti wanita, pria dengan julukan playboy di setiap tempat,-" ucap Galih seperti sedang membaca sebuah naskah, lucu tapi penuh penghayatan.


"Tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba tidak tertarik pada mangsa di depan mata, Apa itu hal wajar?" Galih bertanya dengan tatapan dalam kepada sahabatnya.


"Lah memang gue tidak tertarik padanya..." ucap Arjun sebagai pembelaan.


Sella memang cantik, tubuhnya juga seksi, bisa dikatakan masuk dalam kriteria cewek idaman Arjun. Dulu memang Arjun tertarik padanya, tapi sekarang entah kenapa rasa ketertarikannya itu hilang. Aneh bukan? tentu saja aneh...


"Sejak kapan? Jangan-jangan sejak ada Akira di hidup lo? atau cap playboy yang melekat pada diri Lo hilang sejak tau kalau si istri pura-pura itu memiliki selingkuhan?" tuduhan Galih tentu saja membuat Arjun membulatkan mata.


"Ck... apaan sih Lo!" elak Arjun.


Walaupun dalam hatinya ia juga merasa bingung, Apa iya gara-gara itu? Agghh... mana mungkin. Lagian cowoknya juga lebih gantengan gue... gue tidak tertandingi dari pria manapun...


kembali lagi jiwa narsisnya.


Tentu saja hal itu bukan karena Akira yang saat ini sedang menjalin hubungan dengan pria lain, Arjun sama sekali tidak menerima tuduhan dari Galih barusan.


Menurutnya memang ada yang salah dalam dirinya hingga Arjun tidak tertarik pada wanita lain.


Apa karena gue sudah lama tidak tidur dengan wanita? begitu hatinya bicara.


Kalau memang begitu, gue mau ke Klub malam nanti malam...


Arjun tersenyum dengan idenya.


"Eh, nanti malam kita ke Klub ya..." ajak Arjun kepada Galih.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Cari mangsa..." jawab Arjun dengan yakin.


***


__ADS_2