Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
161. Menemui Galih.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Seharian penuh Dion berkeliaran di Ibukota. Sesekali bersembunyi dari pria-pria di luaran yang mungkin salah satu dari anak buah Papa nya.


Hingga menjelang magrib, Dion dengan motor sport nya menuju ke sebuah gedung Apartemen mewah di jantung Ibukota.


Turun dari motornya dan masuk ke dalam gedung itu. Langkah kaki Dion membawanya berdiri tepat di depan salah satu unit Apartemen dan menekan tombol bell tanpa ragu.


Tak lama, pintu terbuka dengan menampakkan seorang gadis berambut sebahu. Membuat Dion terkejut dan melihat lagi ke nomor yang ada di dinding samping pintu. Mungkin saja ia salah rumah. Benar kok... ini Apartemen Galih... walaupun sudah lama tak lagi datang ke Apartemen sahabatnya, Dion masih sangat ingat.


"Maaf, cari siapa?" tanya gadis itu juga sedikit takut karena tamu di depan sana mengenakan pakaian serta hitam dan memakai masker. Seperti perampok di film-film.


"Ini benar Apartemennya Galih kan?" tanya Dion.


Oh jadi temannya Galih... kirain perampok... hehehe... batin Tiara.


"Silahkan masuk... Galih sedang mandi," ucap Tiara mempersilahkan tamunya.


Dion langsung melangkah masuk ke dalam. Pikirannya cuma satu, siapa gadis yang membukakan pintu untuknya tadi.


Rambutnya basah... apa mereka sedang...? hahaha... dasar Galih tidak berubah! umpat Dion dalam hati. Nyatanya sahabatnya itu sampai berani membawa seorang gadis sampai di Apartemennya. Karena yang Dion kenal dari Galih, pria itu selalu One night stand dan berakhir di Hotel.


Hingga beberapa lama, terdengar Galih sedang berbicara dengan gadis itu dan langsung menemui Dion di ruang tamu.


"Lo?" ucap Galih terkejut dengan sosok pria yang tengah duduk santai di sofa.


"Jangan pura-pura terkejut seperti itu..." gurau Dion. Walaupun sebenarnya memang ia tengah mengejutkan Galih dengan datang tiba-tiba tanpa mengabarinya.


"Lo kapan pulang? sendirian? kenapa tidak menghubungiku lebih dulu?" Galih duduk dan langsung memberondong Dion dengan banyak pertanyaan.


"Surprise... kalau gue menghubungi Lo dulu, lo pasti akan menyembunyikannya dulu... hehehe..." goda Dion. Sedangkan Galih langsung paham dengan maksud sahabatnya.


"Aa.. itu, em..." tiba-tiba Galih berubah gagap.


Membuat Dion malah semakin girang karena seperti memergoki Galih yang sedang berduaan dengan seorang gadis.


"Siapa dia?" tanya Dion sambil menaikkan kedua alisnya dengan wajah jenaka.


"Sepertinya masih muda... beeehh, seger ya...".


Ck,


"Jangan berpikir macam-macam!" Galih memperingati. Karena semua yang terlontar dari mulut Dion sama sekali tidak mendasar.


"Lo pulang sendirian?".


"Tidak, gue hanya mampir sebentar..." jawab Dion kembali pada mode seriusnya.


"Jadi lo akan kembali lagi?" selidik Galih.


Karena ia kira Dion benar-benar kembali pulang.


Nyatanya pemikirannya salah.


"Lo bisa bantu gue?" tanya Dion.


Inilah pertama kalinya Galih melihat sisi Dion yang begitu serius.


Sangat berbeda dari biasanya yang selalu terlihat jenaka dan tak pernah serius.

__ADS_1


"Sekarang gue lagi mempunyai usaha Rental mobil kecil-kecilan di Kota Y, ya tidak terlalu banyak mobil sih... cuma sedikit lebih berkembang daripada dulu..." ucap Dion dengan jujur.


"Kota Y? jadi lo sembunyi disana?" tanya Galih terkejut. Ia tak menyangka kalau Dion benar-benar meninggalkan Ibukota ke kota yang amat jauh.


"Gue gak sembunyi lah... mana ada gue sembunyi" elak Dion. Ia hanya pergi dari orangtuanya ke sebuah kota yang jauh.


"Lalu?"


"Gue ingin menjual saham dari Perusahaan Arjun untuk menambah modal..." jawab Dion jujur.


"Gue benar-benar gak bisa tinggal disini...".


Karena Dion sudah terlalu muak hidup sebagai boneka Papanya.


Hingga tanpa terasa 5 bulan jauh dari keluarga, Dion menemukan tujuan hidupnya.


Hidup damai, tentram yang selama ini ia idam-idamkan. Walaupun terlihat lebih sederhana dibandingkan saat tinggal bersama orangtuanya.


Galih otomatis membulatkan mata. Ia kira Dion akan kembali ke Ibukota suatu jari nanti. Tapi melihat Dion, Galih yakin kalau sahabatnya itu telah memutuskan segala sesuatunya.


"Lo tidak bicara dengan Arjun dulu?" tanya Galih. Karena Arjun yang mempunyai wewenang tentang apapun yang menyangkut Pradipta Group.


"Kalau gue mendatanginya, mungkin bokapnya akan memberitahu Papa...".


Galih mengangguk, Benar juga...


"Gue akan menelponnya..." jawab Galih dan langsung bangkit. Meninggalkan Dion lagi untuk mengambil ponselnya di kamar.


"Lo mau minum apa?".


"Air putih saja,".


"Arjun akan kesini, jangan keluar kamar dulu... oke?"


"Ha? kenapa?" tanya Tiara ketakutan.


"Ya karena ada perlu... kalau Lo keluar dan Arjun tau hal itu, apa Lo mau Akira sampai curiga?" tanya Galih.


Antara Galih maupun Tiara memang tidak ada yang bilang kalau mereka tinggal serumah.


Untuk itulah Galih meminta Tiara untuk tetap di dalam kamar saja nanti.


"Oke, gue paham..." jawab Tiara dan langsung menutup pintu kamarnya rapat-rapat.


Sedangkan Galih kembali menemui Dion sambil membawa sebotol air putih dan menghubungi Arjun.


"Lo dimana Nyet?" tanya Galih ketika teleponnya telah tersambung.


"Kenapa?"


"Bisa ke Apartemen ku sebentar? ada hal penting yang ingin gue bicarakan..." jawab Galih.


"Apa sih? jangan sok misterius gini deh..." malah Arjun yang terdengar ngomel.


"Datang lah kesini," Dion merampas ponsel Galih tanpa meminta ijin.


Membuat orang di seberang sana terkejut.


"Lo? kapan lo datang? oke, gue cabut sekarang...".


Dion dan Galih sama-sama tersenyum senang.

__ADS_1


Tanpa banyak bertanya, Arjun memutuskan untuk datang ke Apartemen Galih setelah mendengar suara Dion.


Dan sekitar menunggu 1 jam lamanya, disinilah ketiga nya berada. Duduk di ruang tamu Apartemen milik Galih sambil melepas rindu.


"Jadi lo sudah pulang ke rumah?" tanya Arjun.


"Tidak, gue hanya berdiri cukup lama di depan gerbang... melihat Mama dari kejauhan...".


Hanya mengatakan apa yang tejadi padanya pagi tadi, membuat mimik muka Dion kembali sedih. Padahal ia ingin memeluk Mamanya walau sebentar.


"Bodoh!" umpat Arjun. Kesal sekali dia mendengar penuturan Dion.


Seharusnya Dion masuk untuk menemui ibunya. Tapi nyatanya, pria itu tidak melakukannya.


"Gue belum siap..." ucap Dion menjelaskan.


Hingga Galih mengangguk. Ia juga pernah di posisi Dion sekarang. Bahkan sampai tahun telah berganti beberapa kali, Galih dan Ayah belum saling bicara sampai sekarang. Apalagi dengan Dion yang jelas-jelas di usir dari rumah.


"Jadi lo bisa kan?" tanya Dion memastikan kesanggupan Arjun.


"Tidak," jawab Arjun. Hingga membuat Galih mengangkat pandangannya ke arah pria itu. Mencari alasan kenapa Arjun sampai tak mau membantu Dion. Padahal Dion selalu jadi orang pertama yang membantu sahabatnya ketika terkena masalah.


Sedangkan saat Dion yang terkena masalah, Arjun justru menolaknya.


"Nyet..." ucap Galih.


"Gue tidak akan membiarkan nama Lo terhapus dari Pradipta Group..." ucap Arjun lagi.


Maksudnya? begitu batin Dion bicara.


"Berapa yang lo butuhkan?" tanya Arjun penasaran.


"5 M," jawab Dion tanpa ragu.


"Oke, besok Lo bisa mencairkan nya... ini adalah hutang, jadi Lo harus membayarnya..." gurau Arjun.


Hingga membuat Dion dan Galih sama-sama tertawa.


Tidak ada namanya perhitungan dalam persahabatan mereka.


Arjun pun selalu bersikap loyal pada mereka.


Anggap saja uang itu sebagai bantuan Arjun untuk membuat Dion bangkit dan mandiri tanpa embel-embel nama Papanya.


Toh pada kenyataannya inilah yang Dion inginkan sejak dulu.


"Makasih Jun...".


"Gue gak bisa bantu apa-apa Yon..." ucap Galih. Karena untuk masalah uang, orang yang tepat adalah Arjun.


"Kenapa lo berpikir seperti itu, cepetan nikahin tuh anak orang... itu sudah membantu gue..." ucap Dion tanpa aba-aba.


Dan membuat Arjun melongo tak paham, "Maksudnya?" tanyanya dengan polos.


"Hahaha... tanya aja nih monyet..." Dion menyenggol lengan Galih hingga membuat Galih semakin gelagapan.


"Sudahlah jangan hiraukan mulut kotornya..." tunjuk Galih pada Dion yang amat menjengkelkan.


"Ck... mulut gue masih suci ya..." ledek Dion pada akhirnya.


***

__ADS_1


__ADS_2