Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
72. Kekonyolan Arjun.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira merasakan hawa hangat menerpa wajahnya. Seketika tangannya berada di depan wajah untuk sedikit menghalau cahaya yang benar-benar terang.


Cahaya apa ini? batinnya bertanya-tanya.


Akira berusaha untuk membiasakan diri dengan cahaya saat ini, mengerjabkan mata berulang kali sebelum benar-benar bangun.


Baru saja membuka mata, Akira terkejut dengan sosok di depannya yang entah ngapain menatap Akira dengan jarak sangat dekat, "Apa yang lo lakukan?" tanya Akira. Untung saja jantungnya tidak copot melihat penampakan Arjun saat pertama kali membuka mata.


"Selamat pagi... apa tidurmu nyenyak? apa kamu mimpi buruk semalam? aahh... sepertinya tidak, karena Aku tidak mendengar kamu bergumam semalam..." ucap Arjun bahkan tanpa menjeda ucapannya sama sekali. Sungguh ucapannya seperti kereta api dengan banyak gerbong, panjang sekali...


Akira mengamati seluruh penjuru kamar, semua tirai telah terbuka lebar. Pantas saja ia langsung melihat cahaya terang saat membuka mata. Ternyata semua adalah kerjaan Arjun.


"Jam berapa sekarang?" tanya Akira penasaran.


Tidak mungkin kalau masih pagi, sedangkan cahaya matahari seperti sudah tidak hangat lagi melainkan panas.


"9,"


"Sem-bi-lan?" bahkan Akira sampai mengeja kalimatnya sendiri. Terkejut? tentu saja. Ini adalah pertama kalinya Akira bangun sampai jam segini.


"Iya sayang..." jawab Arjun sama menjengkelkan nya.


"Gawat!" teriak Akira dan langsung bangkit dari rebahan.


"Hei mau kemana?" teriak Arjun saat tau istrinya sudah bersiap ke kamar mandi.


"Aku terlambat kuliah..." sesal Akira.


"Sini," pinta Arjun dengan tampang aneh.


Akira kembali mendekati suaminya. Duduk du samping Arjun dengan pikiran berkecamuk.


"Aku sudah mengijinkan mu tadi,"


Tentu saja Akira terkejut dengan ucapan suaminya.


Mengijinkan? maksudnya ijin untuk tidak berangkat kuliah hari ini begitu? Hei... memang Lo siapa bisa bertindak semau Lo sendiri... Eh, dia kan Arjun... Apa sih yang tidak bisa di lakukan oleh Keluarga Pradipta... Benar juga...


"Sudah paham?" tanya Arjun. Terkadang saat kita baru saja bangun, otak memang belum bisa bekerja sepenuhnya.


Dan itulah yang Arjun lihat dari istrinya.


"Memang lo kenal mereka?" tanya Akira.


"Tentu saja..." jawab Arjun sambil membusungkan dada biar terlihat keren. Walaupun tanpa begitupun, pria itu memang sudah keren... ehh...


"Bagaimana luka mu?" tanya Arjun mengganti topik pembicaraan. Semalam Arjun khawatir karena luka Akira semalam. Itulah sebabnya ia mengijinkan Akira untuk tidak kuliah hari ini.


"Tidak apa-apa...".

__ADS_1


Tapi bukan Arjun kalau langsung percaya dengan omongan orang lain. Segera diraihnya wajah sang istri untuk mengamatinya lebih dekat.


"Arjun... lepas..." rengek Akira.


"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?"


"Ngapain?" tanya Akira terkejut. Memang siapa yang sakit sampai perlu ke rumah sakit.


"Ini untuk memeriksakan luka mu,".


Akira memukul tangan suaminya, "Jangan aneh-aneh deh... luka ini tidak terlalu parah...".


Mana ada orang yang terluka sedikit saja sampai pergi ke Rumah Sakit.


Akira berniat untuk mandi, sudah menurunkan kakinya di lantai tapi Arjun kembali bertanya " Mau kemana lagi? duduklah... nanti luka mu akan bertambah...".


Ya Tuhan! ini pria benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya... Yang sakit mulutku bukan kakiku... Kenapa dia sangat konyol sih...


"Aku mau mandi, tubuhku benar-benar lengket..." keluh Akira.


Wajahnya bahkan masih tertinggal riasan sisa semalam dan itu sangat mengganggu. Akira ingin membersihkannya bersamaan dengan mandi. Tentu tubuhnya akan segar kembali.


"Biar ku gendong..." Arjun telah bersiap untuk menggendong Akira.


Tentu saja Akira menolak, "Tidak us-... auu..." keluhnya lagi sambil menyentuh sudut bibirnya yang sedikit kaku dan mungkin lukanya kembali menganga.


"Tuh kan, makanya kalau di bilangin jangan ngeyel..." melihat Akira mengeluh, Arjun tambah mengomelinya. Bisa tidak sih, gadis itu diam dan patuh pada perkataan Arjun.


Di marahi Arjun tentu saja membuat Akira terdiam sambil cemberut. Dengan sangat yakin, Arjun menggendong tubuh kecil istrinya dan membawanya menuju kamar mandi.


Arjun menurunkan Akira tepat di lantai kamar mandi, "Apa mau aku mandiin?" Arjun mencoba untuk menawarkan diri.


"Itu sih maunya Lo!" jawab Akira ketus. Sedangkan Arjun langsung tersenyum, "Ya kali aja mau... aku kan hanya berusaha..." guraunya.


"Sayang... kalau ada apa-apa, berteriaklah... aku siap membantu..." ucap Arjun lagi sebelum Akira menutup pintu kamar mandi tersebut.


Ck... dia benar-benar konyol... tapi kenapa Arjun berubah manis sih... kalau gini terus, mungkin aku akan jatuh cinta padanya...


---


Akira duduk di sofa kamar bersama dengan Arjun. Menikmati sarapan yang benar-benar telah terlambat karena saat ini sudah jam 10 pagi. "Buka mulutmu..." perintah Arjun.


Ya, hari ini pria itu seolah menikmati perannya sebagai suami yang sangat bertanggung jawab karena istrinya sedang sakit.


Dengan telaten Arjun menyuapi sendok demi sendok ke arah mulut istrinya.


"Aku bisa sendiri Jun," tolak Akira. Ia sudah besar, akan memalukan jika makan masih di suapi seperti sekarang.


"Jangan membantah terus kenapa sih, tinggal buka mulut apa susahnya?" omel Arjun seperti seorang emak-emak ketika menyuapi anaknya tapi anaknya tak mau membuka mulut sama sekali.


Bahkan Akira selalu bilang kalau ia sudah merasa kenyang padahal entah baru 3 atau empat sendok nasi yang masuk ke dalam mulutnya.


Sebenarnya Akira lapar, hanya saja saat ini dirinya di sediakan bubur dan itulah yang membuat ***** makannya hilang. Akira memang tidak suka makan dengan tekstur nasi yang sedikit lembek, apalagi bubur seperti sekarang ini. Mulutnya benar-benar tidak bisa menerima tekstur tersebut.

__ADS_1


"Ada apa sih? kamu tidak suka lauknya? atau buburnya terlalu asin? atau malah hambar?" tanya Arjun penasaran.


Dengan wajah sedih, Akira bersuara "Sebenarnya aku tidak suka bubur... Aku tidak suka tekstur lembek seperti itu..." rengeknya.


"Lah, kenapa tidak bilang dari tadi?" ganti Arjun yang kesal. Ternyata karena bubur, Akira tidak ***** makan.


"Baiklah, makan ini saja..." Arjun kembali mengambil nasi untuk sarapannya.


"Tapi ini milikmu..." tolak Akira. Ia tidak bisa bersikap serakah dengan meminta jatah makan milik orang lain seperti itu.


"Aku tidak lapar..." jawab Arjun beralasan.


Tapi Akira tidak mempercayai hal itu. Arjun juga pasti lapar karena semalam ia tidak memakan apapun.


"Bohong!".


"Akira... kamu sedang sakit, jadi makanlah dulu..." ucap Arjun memberi pengertian. Bagaimanapun orang sakit akan selalu diutamakan daripada yang sehat.


Tapi Akira masih tetap tak mau membuka mulutnya hingga membuat Arjun kembali mengalah.


Arjun menghela nafasnya kasar dan berteriak, "Pelayan!" panggilnya karena Arjun tau ada pelayan di depan kamar yang menunggu dan membersihkan piring nantinya.


"Iya Tuan Muda, ada yang perlu saya bantu?"


"Akira tidak mau makan bubur, jadi ambilkan sarapan yang sama seperti milikku..." perintah Arjun.


"Baik,"


Pelayan itu segera undur diri.


Tak butuh waktu lama, pelayan tadi kembali masuk dengan membawa nampan berisi nasi dan juga lauk yang sama seperti keinginan Tuan mudanya.


Meletakkannya di meja dan mengganti bubur milik Akira yang telah berubah dingin.


"Ayo makan," ucap Arjun.


"Suapi..." pinta Akira dengan nada manja.


Bukannya marah, Arjun malah tersenyum senang melihat kelakuan istrinya. Kalau gini, gue jadi gemes tau... batin Arjun.


"Buka mulutmu...",


Dengan semangat, Akira membuka mulutnya tapi tidak selebar biasanya karena bibirnya masih sakit.


"Enak?" tanya Arjun. Akira pun mengangguk setuju. Makan dari tangan orang lain memang lebih terasa enak.


Tanpa ragu Arjun menyuapi mulutnya dengan sendok bekas Akira tanpa ragu. Toh pada kenyataannya mereka juga telah berciuman bukan? jadi tidak ada bedanya kaman dengan sendok yang sama atau tidak.


"Makan yang banyak...",


***


Yang ngebucin dulu Arjun ternyata... hahaha

__ADS_1


__ADS_2