
HAPPY READING...
***
pagi hari, Arjun berdiri mengamati istrinya yang tengah sibuk mengikatkan dasi di leher. bibir pria itu cemberut seperti paruh bebek saking panjangnya. membuat Akira tak tahan untuk tidak tertawa.
"Berhenti memperlihatkan bibir monyong seperti itu!" gerutunya.
walaupun pada kenyataannya, Akira tau alasan Arjun seperti itu. apalagi kalau bukan semalam? gagal untuk berkeringat bareng karena Akira sedang kedatangan tamu bulanannya.
Hal itu membuat mood Arjun buruk hingga pagi tiba.
"Aku marah padamu..." cerca Arjun. sedangkan Akira menanggapinya dengan tertawa.
Ya, Akira paham kalau Arjun tidak benar-benar marah padanya.
"Nanti jangan pulang terlalu malam ya..." pinta Akira.
"Kenapa?" tanya Arjun. setelah selesai dengan dasinya, pria itu berjalan ke arah ranjang. mengambil tas kerjanya.
"Bantu aku menyelesaikan skripsi..." ucap Akira bahkan menampakkan senyum indah yang mampu membuat semua hati meleleh.
Ck... dia selalu bisa membuatku tak bisa menolak... batin Arjun.
"Mau kan?".
"Aghh... baiklah..." jawab Arjun pasrah.
"Makasih sayang..." seru Akira dan memeluk pinggang Arjun manja.
Sedangkan Arjun tentu saja membalas pelukan istrinya sama hangatnya sambil menciumi pucuk kepala Akira tanpa henti.
"Baiklah, aku turun... jaga putri kita, emuach..." pamit Arjun dan setelahnya turun ke lantai dasar.
"Hati-hati sayang...".
Di lantai dasar rumah Pradipta, suasana terlihat seperti biasanya. Para pelayan hilir mudik dengan pekerjaan nya sendiri.
Arjun berjalan keluar rumah, di depan sana sudah ada Galih yang berdiri tepat di samping mobil sibuk memperhatikan ponselnya.
Setelah Arjun mendekat, Galih langsung mengantongi ponsel dan membuka pintu untuk Bosnya masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke Perusahaan.
tak ada yang berbicara hingga mobil itu perlahan meninggalkan Rumah Pradipta dan beradu dengan kendaraan lain di jalanan Ibukota.
Perjalanan kali ini terlihat sangat lambat. Karena Galih tak bersuara, sedangkan Arjun tenggelam dalam pemikirannya sendiri. merangkai kata apa yang akan ia katakan untuk memulai percakapan dengan Galih.
Tidak mungkin bukan kalau Arjun langsung bertanya alasan apa yang membuat Galih dan Tiara bertengkar?
Yang ada Galih akan merasa aneh nanti. Toh, Arjun bukan orang seperti itu, yang selalu mencampuri urusan orang lain tanpa diminta.
"Ehemm..." Arjun berdehem. menghilangkan suasana yang terasa tak enak.
"Bagaimana rencana mengunjungi si monyet?" tanya Arjun akhirnya bersuara. Si monyet yang Arjun maksudkan adalah Dion.
Ya... semua orang sudah tau tentang kabar kelahiran buah hati Dion dan Gadis.
Pasangan itu telah melahirkan seorang bayi laki-laki beberapa minggu yang lalu. dan rencananya, Arjun dan Galih akan ke kota itu untuk mengunjungi Dion.
__ADS_1
Belum disekapati hari maupun tanggal berapa mereka akan pergi, karena pekerjaan Arjun tidak ada habisnya. bahkan memiliki waktu untuk Akira dan Starla saja Arjun tak bisa.
Itulah sebabnya Arjun dengan dibantu Galih, mempersiapkan hari yang akan mereka gunakan untuk pergi, mengosongkan jadwal di hari itu untuk mengunjungi Dion sekaligus liburan untuk keluarga kecil mereka sendiri.
"Minggu depan, gue sudah mengosongkan jadwal lo..." jawab Galih.
Pria yang selalu berdiri di samping Arjun itu memang bisa diandalkan.
"Lo ikut kan?" tanya Arjun. sedikit memancing pembicaraan.
"Hm,".
"Dia?" tanya Arjun lagi. melihat ke spion di depan sana untuk melihat bagaimana ekspresi yang Galih tunjukkan saat ini.
"Sepertinya tidak... entah gue juga tidak tau..." jawab Galih pada akhirnya. berharap Arjun tak lagi membahas hal-hal yang menyangkut Tiara.
"Kenapa? kalian serasi... Tiara tidak cerewet seperti Akira, dan dia juga sering mengalah..." sindir Arjun lagi.
Sedangkan Galih tak bersuara. walaupun dalam hatinya ia membenarkan apa yang Arjun katakan.
Mungkin jika bukan Tiara, tak ada gadis yang mampu bertahan hampir 2 tahun lamanya di sisi Galih tanpa kepastian sedikitpun.
Ya... dia memang selalu mengalah...
"Seharusnya lo bersyukur bukan? sangat jarang ada wanita seperti Tiara... bahkan tidak matre seperti yang dulu... heheh...".
Galih membulatkan mata dengan ucapan Arjun barusan. jelas ia tau kalau Arjun memang tengah membedakan antara Tiara dan Alya. bahkan dari caranya bicara, Arjun lebih mendukung Galih menjalin hubungan dengan Tiara daripada Alya.
"Bahkan kalian bisa pacaran di Perusahaan...".
Entah kenapa sekali bicara, Arjun justru tidak punya niat untuk berhenti dan diam saja.
Tak ada suara yang tercipta lagi, Galih kembali tenggelam dalam pikirannya.
Hingga tiba di parkiran Perusahaan sebelum Galih keluar untuk membukakan pintu, Arjun kembali bersuara "Tiara pantas buat Lo Gal...".
Sudah sangat lama, Arjun tak lagi memanggil nama Galih. karena biasanya hanya ada kata Lo dan Nyet dalam pembicaraan mereka. tapi kali ini, Arjun memanggil namanya membuat Galih sadar kalau Arjun sedang dalam mode serius.
"Dia bisa melengkapi Lo... melengkapi kekurangan lo dan menjadi pendukung setia selain gue...".
Agghh...
Terdengar Galih menghela nafas. berat dan seperti penuh beban.
"Dia pergi..." jawab Galih pada akhirnya. kembali menyandarkan tubuhnya di bangku kemudi dan tak berniat untuk keluar mobil.
"Karena tidak ada yang melindunginya... karena lo tidak bisa menjadi tempatnya untuk pulang..." jawab Arjun.
Tidak langsung menyalahkan Galih karena Arjun sudah hafal watak pria itu. Galih tidak suka ada orang yang mengkritiknya.
"Bukankah sudah terlihat kalau dia mengharapkan lo? semua orang juga tau akan hal itu...". Arjun mendekat ke arah Galih, "Andai dia tidak suka sama lo, dia sudah sejak dulu pergi... lo nya aja yang tidak tegas...".
Gue harus gimana? begitu sorot mata Galih bicara.
"Bukannya gue melarang lo untuk dekat dengan siapa saja... gue tidak berhak memaksa lo... tapi gue lebih mendukung hubungan lo dengan Tiara daripada wanita lain... apalagi, dengan wanita di masa lalu Lo..." Arjun menekankan perkataannya saat mengatakan wanita masa lalu Galih yang tak lain adalah Alya.
"Gue tau Gal... gue tau kalau sebuah perasaan cinta tidak akan hilang begitu saja... tapi bukan berarti memberi kesempatan untuk di sakiti lagi...".
__ADS_1
Bodoh jika Galih kembali bersama Alya, karena apa yang telah wanita itu lalukan kepadanya sangat tak seimbang dengan kenangan mereka.
"Gue hanya kasihan...". Perasaan Galih kepada Alya memang sudah berubah. Tapi dalam hatinya, Galih masih kasihan dengan wanita itu. apalagi Alya seringkali sakit. bukan cinta, tapi hanya sebuah rasa peduli antar manusia.
"Tapi cara lo peduli pada Alya justru menyakiti Tiara nyet... lo bisa saja peduli dengannya, tapi apakah juga memikirkan bagaimana perasaannya Tiara? hanya dia yang merasa sakit karena sikap lo...".
Ucapan Arjun mampu membuat Galih langsung terdiam. tak bisa bersuara sama sekali.
"Peduli boleh tapi jangan terlalu memprioritaskan Alya di atas segalanya... karena bukan dia yang akan selalu ada buat lo, tapi Tiara... hanya Tiara yang sanggup melakukan itu,".
Arjun membuka pintu mobilnya sendiri. Bangkit dan segera keluar dari sana.
"Karena hanya Tiara yang bisa membuat lo terlepas dari trauma...".
Galih tersadar dengan ucapan Arjun. benar, karena Tiara lah Galih kembali menemukan senyumnya. Karena gadis itu juga Galih berani untuk menggunakan perasaannya lagi.
karena Tiara, Galih kembali mengerti apa itu cinta.
"Ayo..." ajak Arjun.
Kedua pria itu berjalan menuju ke Lobi Perusahaan.
Sedangkan di tempat lain, Tiara naik ke motor seorang ojek online yang telah tiba di depan tempat kostnya.
Mulai hari ini, Tiara akan menggunakan jasa ojek itu untuk pergi dan pulang bekerja.
Wajah yang biasanya terlihat sumringah kini tak lagi bercahaya. murung, adalah ekspresi yang terlihat pagi ini.
Bahkan sepanjang perjalanan, Tiara memilih untuk melihat pemandangan di sampingnya. Hingga tak terasa, ia telah tiba di depan Perusahaan raksasa bernama Pradipta Group.
Dengan lari kecil, Tiara masuk ke dalam gedung itu. mengisi daftar hadir sebelum pergi ke ruangannya.
"Jodoh kan?" bisik Arjun kepada Galih. karena di tempat yang sama, juga ada Tiara yang baru saja tiba.
mungkin ini terlihat kebetulan saja bagi Galih, tapi tidak bagi Arjun.
Karena ia sengaja turun dari mobil bersamaan dengan seorang ojek online yang baru saja menurunkan Tiara.
Di Lobi itu, Galih dan Tiara saling pandang. tak ada yang bersuara karena rasanya canggung karena hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja.
Hingga Tiara memutuskan kontak mata dengan Galih lebih dulu, menganggukkan kepala sesaat kepada Presdir dan berlalu pergi.
Sedangkan Arjun dan Galih, masuk ke dalam Lift khusus petinggi Perusahaan untuk menuju ke ruangan mereka.
"Ck... pengecut..." cerca Arjun.
membuat Galih menaikkan alisnya tak suka dengan ucapan Arjun barusan.
Di Lift karyawan, Tiara menyandarkan tubuhnya saat ruangan itu mulai bergerak naik. memejamkan mata mengusir rasa panas yang membuat matanya mungkin saja memerah menahan tangis.
Bertemu dengan Galih dengan dekat, membuat hati Tiara terasa teriris. Ia kecewa karena Galih tak seperti yang Tiara harapkan.
Tenang Tiara.. lo bisa... Lo pasti bisa melupakannya... batin Tiara. menyemangati dirinya sendiri agar tidak lagi terpaku pada sosok pria yang dia cintai.
Tiara menghapus air matanya. membuang nafasnya kasar bersamaan dengan pintu Lift yang terbuka di lantai tempat Tiara bekerja.
Tiara memasang senyum palsunya. menyambut rekan kerja yang ia temui dan duduk di ruangan bersama mereka. Kesedihan yang Tiara hadapi sengaja di bungkus dengan senyum, agar semua orang percaya kalau Tiara memang baik-baik saja.
__ADS_1
***