Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
241. Permintaan Kecil Tiara.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


2 Tahun Kemudian.


Waktu berjalan begitu cepat. musim telah berganti untuk kesekian kalinya. tapi kenangan seseorang tak sirna sedikitpun. justru semakin melekat dalam relung hati seseorang yang ditinggalkan.


Senyumnya, tingkahnya masih teringat jelas ketika namanya disebut.


dan di tanggal yang sama seperti terakhir kali, Galih berdiri di depan sebuah pusara yang amat terawat kebersihannya. disinilah Alya beristirahat untuk terakhir kalinya.


"Gue datang kembali Ya..." ucap Galih sambil menggenggam erat tangan Tiara.


Inilah tahun kedua mereka selalu mengunjungi Alya di tanggal yang sama. menepati janji yang pernah Galih buat di nafas terakhir mantan kekasihnya.


Tiara meletakkan buket bunga krisan tepat di atas gundukan tanah. menambah kecantikan pusara tersebut. karena Galih bilang, Alya sangat menyukai bunga krisan ketika masih hidup.


Sejenak mereka hanya terdiam. tenggelam dalam pikirannya masing-masing. hingga tanpa sadar, Tiara meneteskan air mata. meny salah karena tak punya banyak waktu untuk lebih dekat dengan Alya semasa hidup. menyematkan pengganggu di belakang nama Alya, tanpa tau bagaimana sulitnya hidup beliau.


Seandainya Tiara dekat dan mengetahui alasan yang membuat Alya terlihat penuh ambisi dan egois, mungkin Alya akan sedikit lebih bahagia sebelum meninggal.


Tapi semuanya telah menjadi bubur. semuanya terlihat amat berharga ketika seseorang telah tiada.


"Maafkan gue Al..." ucap Tiara lirih. berharap Alya mendengar apa yang ia katakan.


"Kami akan menikah sebentar lagi. bukankah lo juga bahagia mendengarnya?" tambah Tiara.


Ya, pada akhirnya Tiara dan Galih sudah berkomitmen untuk menjalani sebuah hubungan yang lebih serius. mereka akan menikah sebentar lagi di tanggal yang sudah disepakati oleh semua orang.


Itulah sebabnya Tiara dan Galih mengunjungi orang-orang yang telah berpulang lebih dulu dari mereka. mengunjungi makam Ibunya Tiara dan juga Alya...


Galih memeluk pinggang Tiara sebagai bentuk dukungan. karena ini adalah kedua kalinya Tiara menangis hari ini. bahkan tadi di makam Ibu, Tiara tak henti-hentinya meneteskan air mata. mengingat di hari bahagianya nanti, Tiara tidak di temani oleh sang Ibu.


"Semoga lo bahagia disana Alya... gue dan Tiara akan sering mengunjungimu..." ucap Galih. Tiara pun mengangguk setuju.


"Ayo..." ajak Galih. menggandeng tangan kekasihnya meninggalkan pemakaman.


Sepanjang perjalanan, Galih tak henti-hentinya memeluk kekasihnya. memperlihatkan kepada dunia bahwa Galih sangat mencintai Tiara.


"Kita ke Supermarket dulu ya... ada sesuatu yang ingin gue beli..." ucap Tiara.


"Oke...".


mobil yang dikendarai Galih segera melaju meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


ngomong-ngomong, setahun belakangan Tiara memang kembali tinggal dengan Galih. mekerka sudah meyakinkan diri dan juga percaya satu sama lain. apalagi Galih sudah jauh berbeda dari yang dulu membuat Tiara yakin dan menjatuhkan hatinya kepada pria itu sepenuhnya.


Waktu telah berlalu begitu cepat, Galih dan Tiara sama-sama dewasa. tak ada alasan lain untuk mereka menunda pernikahan. orangtua Galih juga setuju dengan Tiara. bahkan kedekatan mereka seperti kedekatan orang tua dan anak kandungnya.


"Apa kemarin lo sudah bilang Ayah?" tanya Galih penasaran.


"Tidak," jawab Tiara.


"Kenapa?".


"Gue tak berani..." ucap Tiara hingga membuat Galih sesekali mencuri pandang karena penasaran tentang ucapan gadis di sampingnya itu.


"Tapi gue sudah bilang pada Ibu... meminta beliau untuk bicara pada Ayah... hehehe..." tambah Tiara.


"Bagaimanapun lo harusnya bocata langsung dngan Ayah... bagaimana Ibu tidak bisa merayu Ayah?" tanya Galih. memikirkan memungkinan Ayah menolak permintaan kecilnya.


"Apa Ayah tidak merasa kasihan padaku?", Ekspresi Tiara berubah sedih. kalau memang Ayahnya Galih tak mengabulkan permintaannya, Tiara benar-benar merasa sendirian di hari pemberkatan pernikahan mereka nantinya.


"Telepon saja nanti..." jawab Galih memberi ide.


"Iya..." jawab Tiara yakin.


***


Di Rumah orang tua Galih.


Seperti inilah suasana di rumah sederhana ini. terlihat hangat sama seperti rumah orang tua pada umumnya.


"Apa Galih tidak datang hari ini?" tanya Ayah membuka pembicaraan.


Hubungan ayah dengan anak laki-lakinya itu semakin membaik juga berkat Tiara. bahkan Galih seringkali mengobrol dengan Ayah akhir-akhir ini.


"Tidak Yah... mereka mengunjungi makam Ibunya Tiara..." jawab Ibu. karena biasanya setiap hari minggu, Galih dan Tiara memang datang ke rumah ini.


"Oh..." Ayah mengangguk paham.


"Ayah, Tiara kemarin bilang sama Ibu..." adu Ibu kepada suaminya.


"Tentang?".


"Tiara kan tidak punya orang tua, Ayah mau kan jadi pendamping mempelai wanita nantinya?" tanya Ibu.


Ya... kemarin saat Tiara dan Galih mampir, Tiara meminta hal itu. tapi tak berani meminta langsung kepada Ayah karena merasa sungkan.


"Tiara sungkan untuk bilang kepada Ayah secara langsung... Ayah mau kan? kasihan gadis itu..." tambah Ibu.

__ADS_1


Sejenak Ayah terdiam. memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah tau apa yang calon menantunya itu inginkan.


"Dia tidak akan merasa sendirian nanti..." jawab Ayah yakin. karena Ayah akan selalu mendukung pilihan anak-anaknya. apalagi Tiara juga gadis yang baik dan juga sopan. tak ada alasan bagi Ayah untuk menolak permintaan kecil Tiara. termasuk menemaninya menuju ke Altar nanti.


"Siapa Yah?" tanya Bella yang baru saja masuk ke dalam rumah setelah beberapa saat yang lalu pergi ke toko yang ada di depan Perumahan. menimbrung pembicaraan kedua orang tua nya karena penasaran.


"Siapa yang tidak akan sendirian?".


"Itu loh... Tiara... dia kamu sudah tidak punya Ayah dan Ibu lagi..." jelas Ibu. "Dan kemarin saat datang bersama Galih, Tiara meminta sebuah permintaan kecil kepada Ayah... untuk mendampinginya menuju ke Altar pernikahan...".


"Tiara meminta seperti itu? kenapa Bella tidak tau?" tanya Bella. padahal kemarin saat Galih dan Tiara datang, Bella juga berada di rumah. tapi tak mengetahui kalau Tiara meminta hal itu pada Ibu.


"Dia sungkan bilang pada Ayah langsung... itulah sebabnya dia bilang dan meminta pada Ibu..." jelas Ibu.


"Oh... begitu ya...".


"Apa Ayah mau?" tanya Bella beralih pada Ayah.


berharap Ayah tak menolak permintaan kecil Tiara di hari bahagianya nanti.


"Tentu saja... Tiara juga putri Ayah bukan?" jawab Ayah dengan senyum yang terlihat indah. membuat Bella ikut tersenyum senang.


"Ayah tidak akan membiarkan Tiara sedih ataupun sendirian..." tambah Ayah. kembali menikmati teh panas buatan Bella.


"Walaupun hanya dihadiri keluarga dan teman dekat, Tiara harus terlihat bahagia..." ucap Bella.


Ngomong-ngomong, Galih dan Tiara hanya akan melakukan pemberkatan Pernikahan di sebuah gereja yang hanya di hadiri oleh keluarga Galih dan juga teman dekat mereka.


Ya... Galih dan Tiara sepakat untuk tidak mengadakan pesta karena mereka tidak mau terlalu lelah. tau bagaimana pesta apernikahan bukan? berdiri dengan waktu yang cukup lama akan membuat keduanya lelah.


Apalagi Galih memang tak suka dengan pesta seperti itu, dilihat banyak orang adalah hal yang memalukan. karena dia bukan sebuah boneka pajangan yang bisa di nikmati banyak tamu undangan.


Tapi lebih dari itu, ada alasan yang membuat mereka sepakat menikah. Ya... tanggal pernikahan mereka sama dengan tanggal pertama kali Galih dan Tiara sepakat untuk jadian beberapa tahun yang lalu.


kalau pun nanti ada pesta, setidaknya Tiara sudah menjadi istri sah Galih.


"Oh iya Bel, apa nak Dion juga datang?" tanya Ibu. sudah sangat lama Dion tak ada kabar sama sekali. padahal dulu, ketika masih lajang, pria itu kerap kali datang hanya untuk bertemu dengan Galih dan tak lupa menggoda Bella.


"Sepertinya datang Bu... mana mungkin soulmatenya kakak tidak datang di pernikahan kakak?" ucap Bella dan terdengar seperti fakta.


"Seharusnya memang datang kan, Ibu juga ingin melihat putranya secara langsung..." jawab Ibu.


"Ayah pernah melihat foto putranya Dion dari ponsel Bella waktu itu..." sela Ayah.


"Benarkah? kenapa Ibu tidak melihatnya?" tanya Ibu iri.

__ADS_1


"Iya kah? Ibu belum pernah melihatnya?" tanya Bella spontan. karena Bella selalu membagi informasi apapun kepada Ayah dan juga Ibunya. termasuk dengan foto Cello yang dikirim Gadis keadaan Bella waktu itu.


"Hehehe... mungkin Bella lupa," tambah Bella tak merasa bersalah sedikitpun.


__ADS_2