
HAPPY READING...
***
Setelah perjalanan hampir 2 jam lamanya, sudah termasuk waktu yang dibutuhkan untuk menuju ke tempat Dion menggunakan mobil akhirnya rombongan Arjun sampai juga.
Semua itu juga karena Dion yang memang menyuruh anak buahnya untuk menjemput rombongan Arjun dengan beberapa mobil miliknya.
Dan sekarang disinilah mereka berada. Duduk di kursi ruang tamu Villa yang ditempati Dion selama ini.
"Agghh... lelahnya..." keluh Akira setelah menyerahkan Starla pada pengasuh. Kedua tangan Akira benar-benar pegal karena selama perjalanan, Starla merengek dan ingin terus di pangkuannya. terkadang juga bergantian dengan Arjun. Mungkin Starla belum terbiasa dengan suasana saat ini apalagi ini adalah perjalanan pertama bagi bayi berumur 3 bulan itu.
"Mau aku pijit?" tanya Arjun tanpa malu sedikitpun. bahkan tak memperdulikan tatapan Dion, Galih dan juga Tiara yang duduk tak jauh dari mereka berdua.
Ck, apa pedulinya gue dengan tatapan mereka... begitu Arjun bicara.
karena tidak ada salahnya bukan? mereka adalah pasangan sah.
"Tidak," jawab Akira. bahkan wajahnya malu ketika mengatakan hal itu.
"Aduh... kamar kita dimana?, aku benar-benar ingin istirahat..." makin menjadi lagi Presdir baru itu. karena Arjun ingin segera masuk ke dalam kamar dan beristirahat.
"Oh, iya..." Dion bersuara.
Tanpa terduga sama sekali, Arjun segera bangkit dan menarik Akira untuk ikut juga. "Eh,". protes Akira. padahal ia masih ingin duduk disini, menikmati suasana rumah yang tidak didapat di kota.
Suasana yang begitu sejuk walaupun sudah memasuki siang hari. bahkan angin yang berhembus juga terasa sejuk bukan angin yang ada di Ibukota dimana telah bersatu dengan polusi.
Setelah kepergian Dion Arjun dan Akira, tinggallah Galih bersama Tiara saja. mereka masih betah selonjoran di kursi tanpa berpindah tempat sedikitpun.
Sesekali Galih mengamati ponselnya. mengecek panggilan terakhir dan kebingungan sendiri. Seingat gue tadi tidak menerima telepon darinya... batin Galih. Sejenak pria itu menatap Tiara, tapi yang di tatap justru sengaja memutar kepalanya ke arah lain. membuat Galih tambah bingung dan juga curiga.
Apa jangan-jangan Tiara menjawab telepon yang masuk ke ponselku?
Hanya itu kecurigaannya. tapi melihat Tiara yang seperti tak bersalah dan melengos, Galih tak berani bertanya. hingga kecurigaannya pudar kembali bersamaan dengan Agus yang turun setelah membawa koper Arjun ke kamarnya.
"Mau dibawa kemana?" Galih bersuara karena tidak ada perintah dari Dion sejak tadi.
"Ke kamar Anda Tuan..." jawab Agus jujur apa adanya.
"Sekalian yang itu," perintah Galih.
Yang dimaksud adalah koper Tiara. karena Galih ingin sekamar dengan Tiara. membuat Agus terdiam dengan tampang kebingungan.
padahal sesuai perintah Dion tadi, kamar Galih dan Tiara bersebelahan di lantai dasar rumah ini.
"Kenapa bengong? bawa punya Tiara sekalian..." tambah Galih menjelaskan.
"Tapi Tuan," sela Agus. Ia tidak bisa membawa koper Galih dan Tiara bersamaan karena tangan satunya membawa seprei baru yang akan ia padang di kamar tersebut. toh nanti ia akan kembali lagi dengan membawa barang yang sama di kamar Tiara.
"Ya sudah siapkan kamar Galih dulu..." sela Tiara. Gadis itu amat paham dengan ekspresi bingung yang ditunjukkan pria itu.
Dan memukul lengan Galih agar pria itu tak lagi berbicara panjang lebar yang malah membuat mereka dalam masalah.
Diam! begitu sorot mata Tiara bicara. hingga Agus pun meninggalkan mereka, menuju ke kamar yang akan di tempati Galih untuk beberapa hari kedepan.
"Lo mau Akira curiga?" tanya Tiara dengan mata melotot. padahal mereka sudah membicarakan ini sebelumnya. Galih dan Tiara masih merahasiakan kalau ternyata mereka tinggal dalam satu atap.
__ADS_1
"Lalu?" ucap Galih masih tak paham.
"Lo sadar tidak sih kalau kita sedang di luar kota? Jangan-jangan lo sengaja ingin tidur sekamar dengan gue!" tuduh Tiara tiba-tiba hingga membuat Galih tercekat.
Benar! dugaan Tiara memang benar adanya. Tadinya Galih memang ingin sekamar dengan Tiara, tapi sepertinya semesta tak mendukung karena saat ini bukan hanya mereka saja yang pergi ke luar kota, melainkan ada Akira juga.
Agghh... sial! umpat Galih dalam hati.
Padahal ia ingin mengulangi masa-masa dulu, saat Dion terpaksa menginap di Apartemen nya. Saat itu Galih tidur seranjang dengan Tiara dan bisa memeluk gadis itu sepanjang malam.
sungguh Galih ingin melakukannya lagi.
"Jangan kunci pintu kamar Lo!" perintah Galih dan mampu mengejutkan Tiara.
Tiara seketika menggeser duduknya demi menatap Galih dengan jelas, "Maksud Lo?".
Padahal sejak dulu Galih selalu mengingatkan Tiara agar mengunci pintu ketika sedang tidur.
Apa itu sudah tidak berlaku lagi?
"Ya... biar gue bisa menyelinap masuk..." jawab Galih tanpa dosa. bahkan wajahnya sungguh menjengkelkan setelah mengatakannya.
Tiara mengerutkan kening nya. Apa-apa dia itu?
"Kenapa? lo tidak terima?" tanya Galih sewot karena tatapan Tiara yang terlihat aneh. padahal ia hanya meminta jangan mengunci pintu tapi tatapan Tiara seperti tak suka akan hal itu.
"Lagian lo belum membayar gaun yang gue belikan bukan?" tambah Galih.
Entah kenapa sekarang Galih selalu mengungkit-ungkit pemberiannya. membuat Tiara selalu kesal karena merasa di jebak dalam modus gaun yang Galih belikan.
Andai kalian semua tau, bayaran apa yang Tiara lakukan untuk gaun pemberian Galih?
benar... gadis itu seperti pembantunya saja.
Galih memaksa untuk tidur dengan Tiara. sebatas tidur! bukan yang lain.
terkadang Tiara benar-benar merasa rendah dihadapan pria itu. Karena setiap hari, Galih terlihat menghalalkan segala cara untuk mengikat Tiara.
Tanpa melakukan hal itupun, Sungguh... Tiara sudah merasa tertarik pada pria keturunan Jawa asli itu. Melihat senyum manisnya, Tiara sudah terpesona.
"Iya-iya gue ingat..." jawab Tiara ketus.
Sedangkan Galih tersenyum penuh kemenangan. dalam hatinya, ia sudah berniat untuk mengungkapkan perasaannya pada Tiara secepatnya.
Lo akan jadi milik gue Tiara...
---
Di salah satu kamar yang berada di lantai atas, sepasang suami istri itu dengan tak tau waktu dan tempat benar-benar sibuk dengan aktifitasnya.
"Sayang... Starla akan menangis nanti..." keluh Akira yang tengah berada dalam kungkungan Arjun.
Sejak ada Starla, Akira benar-benar berubah. dan inilah salah satunya, mendesak Arjun agar segera menyelesaikan tugasnya dengan dalih Starla akan menangis.
Tapi hal itu tak lagi membuat Arjun percaya. selagi tidak terdengar suara tangis putrinya, Arjun tak akan menggubris rengekan Akira.
"Aauu..." keluh Akira karena merasai lehernya di gigit. memukul lengan Arjun tanpa ragu.
__ADS_1
"Makanya jangan banyak bicara..." ucap Arjun memperingati.
Siang hari saat dimana semua orang memilih untuk beristirahat, Arjun dan Akira malah melakukan aktifitas penuh keringat.
"Aku mencintaimu..." ucap Arjun dan menghujani wajah Akira dengan banyak kecupan.
"Aku juga..." jawab Akira.
Siapa sih yang tak menyukai Arjun?
pria itu benar-benar memiliki kharisma yang mampu membuat Akira terpaku dan mencintai Arjun melebihi apapun.
"Jangan berpaling dariku Jun..." pinta Akira.
Nanti saat aku tak lagi cantik seperti saat ini, tak lagi mengasyikkan, kakiku tak lagi selincah ini, tetaplah melihatku saja... jangan pernah berpaling dariku...
"Tak akan..." jawab Arjun dengan yakin.
Arjun rasa ia tak akan pernah merasakan rasa yang ia dapatkan ketika menjalin hubungan dengan Akira. perasaan yang begitu dalam bahkan tak mampu bisa di nalar oleh akalnya.
Yakinlah bahwa Cinta Pertama tak selalu di dapat dari Pacar Pertama...
Karena itu berlaku pada Arjun. Ia banyak memacari gadis di luaran sana pada masa mudanya, tapi hanya kepada Akira saja Arjun merasakan yang dinamakan dengan cinta.
***
Dion setelah makan siang bersama dengan Galih dan Tiara, pria itu memilih untuk pergi sejenak ke halaman belakang. Duduk menikmati udara sambil menyalakan sebatang rokok hingga asapnya menguar ke udara.
"Lo tidak kangen gue?" tanya Dion yang ternyata menghubungi seseorang yang tak lain adalah Gadis. wanita yang akan dipersunting nya esok hari.
"Hahah... kenapa? tumben sekali...". terdengar Gadis tertawa mendengar perkataan Dion barusan. bukan terdengar romantis malah menggelikan karena Dion tak pernah berkata manis lewat telepon. biasanya pria itu langsung mendatangi Gadis dan mengatakannya.
"Ayo hubungi Pendeta untuk melakukan Pemberkatan sekarang juga..." ucap Dion lebih lucu lagi.
sedangkan Gadis hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Gue rasa otak lo geser deh...".
Membuat Dion langsung menyerngitkan alisnya tak percaya kalau tanggapan Gadis malah terdengar aneh.
"Sungguh sayang... gue tak tahan lagi..." rengek Dion dibuat-buat menderita. melihat Arjun yang langsung menarik paksa istrinya masuk ke kamar membuat Dion juga ingin seperti itu.
mungkin akan terlihat jauh romantis bukan?
"Mendengar lo bilang seperti itu malah membuat ku takut... apa gue kabur saja ya besok?" goda Gadis.
"YA! kenapa malah mau kabur? lo mau ngetes kesabaran gue?" teriak Dion kesal. entah serius atau bercanda saja, ucapan Gadis benar-benar menyebalkan.
"Hahaha... bercanda sayangku..." tanpa Dion sadari, Gadis sampai memukul-mukul bantal saking malunya dengan ucapannya barusan.
Dion juga merona mendengar Gadis memanggil dirinya dengan sebutan sayang. membuat pipinya seketika berubah merah.
"Gue ingin memakan mu sekarang juga...".
***
Hahaha.... Nih tiga orang kenapa rambah bucin yak... heran gue...
__ADS_1