
HAPPY READING.
***
Seharian penuh Arjun menemani Akira di dalam rumah. Bahkan pria itu sama sekali tidak berpindah sedikitpun dari sisi istrinya. Alasannya tetap sama, takut Akira kenapa-kenapa karena luka yang di deritanya.
Tidak masuk akal memang pikiran pria itu. Tapi mau bagaimana lagi, bebas dong!.
"Arjun, bisa tidak sih jangan menempel-nempel terus... gue tidak bisa konsentrasi..." keluh Akira. Walaupun hari ini tidak dapat pergi kuliah, setidaknya Akira harus tetap belajar dan belajar. Ia sudah bertekad akan lulus tepat waktu. Tentu saja semua itu harus dibarengi dengan kerja keras, dan sekarang adalah salah satu kerja kerasnya.
"Jangan belajar terus... Aku merasa di abaikan jika begini..." ucap Arjun masih saja berusaha merebut buku dari tangan istrinya.
"Arjun..." ucap Akira dengan penuh penekanan. Terdengar kalau gadis itu menahan amarah.
"Bisa tidak sih memanggil selain namaku... aku ini suamimu... bahkan aku juga tidak lagi memakai kosa kata gue dan Lo..." ucap Arjun sewot.
Benar apa katanya, akhir-akhir ini Arjun memang selalu memanggil Akira dengan sopan, bahkan tidak lagi memanggil Lo dalam kalimatnya.
"Lalu mau di panggil apa?" Akira berkata seperti itu sambil menatap deretan kata dalam bukunya. Anggap saja sebagai basa-basi saja.
"Sayang,".
Akira mengalihkan pandangannya, menatap Arjun dengan mulut terbuka, Dia bilang apa tadi?
"Kenapa muka mu begitu?" tanya Arjun heran.
Ia tidak suka di tatap Akira aneh seperti sekarang.
"Lo tadi bilang apa?".
"La-Lo La-Lo... berhenti menggunakan kata itu!" perintah Arjun.
Setidaknya mereka akan memulai hubungan dengan mengubah kebiasaan terlebih dahulu.
"Aku tidak terbiasa..." kekeh Akira. Ia memang suka menggunakan kosakata tersebut jika bicara dengan teman ataupun orang yang akrab dengannya.
"Biasakan dari sekarang... lagian umurku jauh berbeda denganmu, aku juga suamimu..." perjelas Arjun. Arjun berharap Akira sedikit sadar diri bahwa dia adalah istrinya Arjun.
Tentu saja harus sedikit menghormati.
"Aku tidak terbiasa..." lagi, Akira masih tetap pada pendiriannya.
"Pokoknya harus panggil sayang! titik!".
Ck... maksa banget nih laki! batin Akira terheran-heran. Lagian apa sih yang membuat Arjun kekeh ingin di panggil sayang? sejak mereka menikah, mereka tidak pernah membicarakan hal ini. Walaupun Arjun pernah bilang sih kalau mereka akan menggunakan panggilan sayang di depan orang tua masing-masing.
"Kalau tidak... -"
"Memang mau apa kalau aku tidak mau?" tantang Akira. Ia sama sekali tidak takut dengan segala ancaman Arjun.
__ADS_1
"Aku akan mencium mu!" jawab Arjun tegas.
Tapi beda lagi untuk Akira. Gadis itu sama sekali tidak percaya dengan semuanya.
Hahaha... memang gue percaya dengan omongannya?
"Kalau tidak percaya, coba saja..." tantang Arjun. Pria itu mau melihat seberapa berani Akira menantang dirinya. Arjun bukanlah orang yang hanya pandai bicara. Semua yang terucap sama seperti yang terlihat.
"Arjun, Arjun Arjun... Arjun..." bahkan Akira memanggil nama suaminya dengan semangat dan berulang kali.
Tanpa terduga sama sekali, Arjun langsung merebahkan tubuh istrinya tepat di pangkuannya. "Arjun mau apa?" tanya Akira ketakutan.
Arjun benar-benar tidak memperdulikan Akira. Langsung saja pria itu mendekatkan wajahnya ke wajah Akira.
Dan apa yang dikatakan Arjun memang benar, Di lum*tnya bibir Akira dengan sangat lembut.
Karena posisi Akira yang memang terhimpit, gadis itu sama sekali tidak bisa melepaskan diri dari Arjun.
"Mmmm..." hanya itu kata yang terucap dari bibir Akira.
Bahkan ia sampai tak berani bersuara karena saat Akira bersuara, Arjun akan menggunakan kesempatan itu untuk meloloskan lid*hnya masuk ke dalam mulut Akira.
Tapi jangan salahkan pria yang telah banyak menikmati hidup bersama dengan wanita-wanita di luaran sana. Ada banyak cara untuk Arjun mempermudah keinginannya.
Dengan satu tangan yang memegang wajah Akira, tangan satunya lagi digunakan untuk sedikit merem*s sesuatu yang berada di d*da Akira hingga terpaksa membuat gadis itu merintih dan membuka mulutnya,
Akira... kamu salah bermain-main denganku...
Bahkan di ciuman kali ini, Akira tidak tegang seperti dulu. Akira tidak lagi lupa untuk bernafas walaupun masih kerepotan mengatur nafasnya.
"Aku tidak bercanda kan sayang?" tanya Arjun setelah puas dengan kegiatannya. Menyentuh bibir Akira dengan ibu jarinya.
Tentu saja hal itu membuat Akira mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan tindakan Arjun yang seenaknya sendiri.
"Makanya jangan membantahku..." tambah Arjun lagi sambil memperhatikan luka di bibirnya wanitanya.
"Sudah sana pergi... jangan menggangguku," usir Akira.
"Tidak mau," tentu saja Arjun tidak suka di perintah oleh siapapun, termasuk Akira.
Ni orang maunya apa sih? sudah menciumiku seenaknya sendiri, menyebalkan lagi!
"Panggil aku sayang dulu... nanti aku tidak akan mengganggumu..." perintah Arjun.
Sejak tadi pagi ia sama sekali belum merokok, dan tentu saja Arjun akan merokok setelah ini.
"Tidak!" tolak Akira jelas. Memang apa gunanya ia memanggil Arjun dengan sebutan sayang.
"Mau aku cium lagi?" ancam Arjun.
__ADS_1
Tentu saja hal itu membuat Akira berpikir dua kali untuk menolak permintaan Arjun. Bisa habis dia di tangan pria mesum tersebut.
"Ayo, panggil Aku sayang..." perintah Arjun lebih memaksa.
Ck... maksa sekali sih...
"Baiklah... sayang," ucap Akira terpaksa.
"Ck, terdengar sekali kalau tidak ikhlas..." cerca Arjun.
Apa sih!
"Bilang yang ikhlas, atau mau aku cium lagi?" bahkan Arjun sampai menekan pipi Akira dengan serius. Tentu saja Akira ketakutan dengan tindakan pria itu. Arjun bisa menciumnya lagi nanti.
"Iya-iya.. sayangku... sayangku... sayangku..." bahkan Akira mengulang panggilannya sampai tiga kali.
Arjun tersenyum puas, "Kamu menggodaku ya?"
Lah, kapan aku menggodanya? katanya ingin di panggil sayang?
"Baiklah kalau begitu, teruskan belajarmu..."
Cupp...
Arjun mengecup singkat bibir istrinya dan segera bangkit dari sofa. Meninggalkan Akira yang bergerutu kesal. Jelas kesal karena Arjun benar-benar seenaknya sendiri terhadap diri Akira.
Tapi setelah kepergian Arjun ke balkon kamar, Akira menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk. Membayangkan apa yang telah terjadi padanya hingga tak terasa menciptakan sebuah senyuman di sudut bibirnya.
Kenapa rasanya terasa hangat? batinnya bertanya.
"Aku benar-benar sudah gila..." gumam Akira pada dirinya sendiri.
Sedangkan di balkon, Arjun menyesap rokok sambil menikmati pemandangan dari atas.
Tanpa henti, bibirnya menyunggingkan senyum mengingat apa yang telah terjadi padanya dan Akira barusan.
Arjun masih mengingat bagaimana rasanya saat tangannya menyentuh sesuatu yang ada di tubuh istrinya. Sial! rasanya benar-benar beda dengan yang lain...
Arjun memang sering menyentuh tubuh wanita lain, tapi itu dulu. Sejak menikah, Arjun tidak lagi punya kesempatan untuk sekedar menghabiskan waktu dengan wanita lain.
Arjun menatap telapak tangannya, Aku akan membuatnya sedikit lebih besar... batinnya yakin. Setidaknya Arjun ingin sedikit mengubah bentuk tubuh Akira agar lebih enak di pandang.
Tentu saja dengan sedikit mengembangkan d*da Akira agar besarnya sebesar genggaman telapak tangan milik Arjun.
Karena tanpa Akira tau saat tidur bersama, Arjun selalu menyentuh bagian tubuh tersebut.
Membuat mahakarya dengan keahliannya...
***
__ADS_1
Hahaha... Ada yang tau maksud Arjun?