
HAPPY READING...
***
masih di dalam toilet wanita, dua orang wanita seusia berdiri terpaku saling menatap dengan pemikirannya masing-masing. Bahkan jelas terlihat dari pelupuk mata salah satu dari mereka, menandakan ada kesedihan dan kekhawatiran yang amat besar.
Bayangan kejadian masa lalu kembali menghantui Bella. Takut, cemas, itulah yang ia rasakan saat ini.
Karena masa lalu yang terjadi di keluarga nya seperti sebuah boomerang. menghancurkan semua orang termasuk orang tuanya.
Kembali mengenang, saat Galih masih begitu muda. pulang diantarkan oleh kedua sahabat yang dipanggil kakak oleh Bella. Ya... Arjun dan Dion.
Ketiga pria itu duduk di kursi ruang tamu, tapi dengan suasana ruangan interogasi dimana ada Ayah dan Ibu yang menatap mereka tanpa berkedip sekalipun.
Bella tak tau apa yang terjadi saat itu. Yang ia lihat hanya kakak laki-laki nya yang duduk dengan lemah. Bahkan menegakkan kepalanya saja, Galih tak mampu.
Ingin bertanya, tapi Ibu segera memerintah Bella untuk pergi ke warung yang sedikit jauh dari rumah mereka.
Karena masih terlalu polos, Bella menuruti perintah ibunya. Hingga cukup lama ketika Bella telah kembali, terlihat Ibu menangis sambil memeluk putranya. Sedangkan Ayah berteriak sambil memukul dadanya sendiri.
Yang Bella tangkap saat itu, orang tuanya seperti kecewa pada Galih tapi Bella tak tau seperti apa jelasnya.
Hingga puncaknya, Galih pergi dari rumah. memilih untuk tinggal terpisah dengan orangtuanya.
Hingga berjalannya waktu, semakin Bella dewasa ia mulai sadar, alasan semua itu adalah karena sang kakak terjerat obat-obatan terlarang.
Ya... terlambat bagi Bella untuk mengetahui hal itu.
Hingga dari Arjun lah, Bella tau kalau penyebab kehancuran hubungan Galih dan Ayah gara-gara wanita bernama Alya.
Tapi Bella tak bisa berbuat apapun, ia sudah terikat janji dengan Arjun untuk tidak membahas hal itu lagi.
Tahun demi tahun Bella berusaha mendekatkan hubungan Ayah dan juga kakaknya, dengan meminta Galih mengunjunginya.
Tapi semua tak berjalan lancar hingga Tuhan memberikan jalan dengan mendekatkan Tiara pada keluarga itu.
Itulah sebabnya Bella suka, dan mendukung hubungan sang kakak dengan Tiara. berharap karena wanita itu, keluarga Bella kembali utuh. Galih kembali menemukan kebahagiannya, Ayah kembali menerima anaknya dan Tiara menemukan keluarga yang pernah ia idamkan sebelumnya.
"Jangan tinggalkan kakak..." pinta Bella bahkan terdengar memohon. ia yakin hanya Tiara lah yang bisa mengerti sifat Galih.
"Aku yakin, kakak akan kembali hancur ketika kehilanganmu Tiara..."tambahnya.
Terdengar egois memang, karena Bella menginginkan kebahagiaan Galih tanpa memikirkan bagaimana Tiara.
"Maaf untuk perkataan ku Ra, mungkin aku yang bodoh dengan meminta sesuatu darimu..." Bella sadar dan langsung meminta maaf. dihapusnya air mata yang tadi menetes membasahi pipinya. tersenyum sungkan kepada Tiara.
"Bel... gue tau lo sangat menyayangi Galih... bahkan gue yakin kalau lo bisa mengorbankan diri lo sendiri demi kebahagiaan kakak lo..." ucap Tiara. berjalan mendekati Bella dan menyentuh bahu gadis itu, "Biarkan Galih yang memutuskan kebahagiannya... dia berhak bahagia, entah bersama ku atau bersama wanita lain... kita tak bisa memaksanya hanya kerena lo, Paman, Bibi menyayangiku bukan?" tanya Tiara.
__ADS_1
Gue tak bisa bersaing dengan cinta pertamanya... batin Tiara. ia tak berani mengatakan hal itu di depan Bella secara langsung. Tiara tak bisa mengatakan kalau Galih masih mencintai mantan kekasihnya.
"Serahkan semuanya pada takdir..." tambah Tiara.
"Tapi Ra," protes Bella. benar semuanya memang sudah takdir, tapi bukankah tidak ada salahnya kalau Tiara sedikit bertahan atas hubungannya dengan Galih? agar mereka tidak benar-benar jauh.
"Jangan khawatir... jika Galih ingin kembali, gue akan menerimanya dengan senang hati..." ucap Tiara fan kembali memasang senyum palsunya untuk membuat Bella tenang.
walaupun dalam hatinya, Tiara juga tidak tau apakah Galih akan menyadari perasaannya atau malah memilih Alya.
Tapi selama itu, Tiara tidak akan membuka hatinya lagi pada orang lain. ia akan kembali membuka hati setelah Galih mengambil keputusan. jika Galih memilih Alya, saat itu Tiara akan merelakan Galih untuk selamanya.
Tanpa Bella dan Tiara sadari, di depan toilet wanita seorang sedang menajamkan telinga untuk mendengar pembicaraan kedua wanita itu.
Tiara... hanya itu kata yang bisa ia ucapkan. dan langsung berjalan pergi takut keberadaannya akan diketahui oleh Bella maupun Tiara.
***
Jam istirahat telah usai beberapa jam yang lalu.
Matanya berangsur-angsur menuju ke arah barat dan rak lagi sepanas siang tadi.
Bella berjalan menuju ke ruangan Presdir dengan tumpukan berkas di dadanya.
mengetuk pintu hingga di persilahkan untuk masuk.
Bersamaan dengan langkah kakinya masuk ke dalam ruangan Presdir, mata Bella tak sengaja melihat sosok yang amat menjengkelkan baginya. berdiri di samping Arjun sambil mengamati layar Laptop. siapa lagi kalau bukan Galih, kakak laki-laki Bella.
Tanpa berkata-kata, Bella menuju ke meja yang Arjun maksudkan. meletakkan tumpukan berkas yang dibawa sambil menata nya agar tidak berantakan.
"Aku kembali," ucap Bella hendak meninggalkan ruangan Arjun.
"Bel,". Tapi, langkahnya terhenti ketika Arjun memanggilnya.
"Ya..." kembali memutar tubuhnya demi melihat Arjun di belakang sana.
"Lo tidak menyapa kakak Lo dulu?" tanya Arjun. membuat Bella sedikit menaikkan alisnya keheranan. Apa memanggil ku hanya karena itu? protesnya dalam hati.
Padahal Bella memang tengah memperlihatkan rasa kecewanya terhadap sang kakak.
Bella tak mau menyapa Galih untuk beberapa waktu ke depan.
"Tidak," jawab Bella yakin bahwa saat terjadi kontak mata dengan Galih, Bella sengaja menatap ke arah lain. lebih tepatnya mengacuhkan pria itu.
Jawaban Bella langsung membuat Arjun tersenyum. bahkan mengalihkan perhatiannya dari Laptop karena merasa lucu, mendengar bagaimana tingkah Bella yang masih terlihat seperti anak kecil.
"Dia akan marah nanti... apa lo tidak takut?" goda Arjun.
__ADS_1
"Tidak... bukankah memang harus seperti ini, membiasakan diri lebih awal untuk tidak mengenal..." sindir Bella.
Ya... ucapan Bella pada Galih malam itu terngiang kembali.
Galih akan benar-benar sendirian jika memilih Alya. Bella, Ayah dan Ibu akan meninggalkan pria itu selamanya.
"Nah lo nyet... Lo gak takut dengan ucapan Bella?" ganti Arjun yang bertanya pada pria di sebelahnya yang mungkin sudah terkejut sejak tadi.
Tapi beda lagi, Galih tak menjawab apapun.
"Baiklah... kembali lah..." ucap Arjun pada Bella.
Membuat gadis muda itu mengangguk dan melengos dari Galih. lalu pergi meninggalkan ruangan itu.
Tinggal Arjun dan Galih, dimana mereka sama-sama melihat pintu ruangan yang kembali tertutup.
"Lihatlah, keras kepalanya sama kayak lo..." cerca Arjun.
Bagaimana sikap Bella ketika kecewa, marah benar-benar mirip dengan Galih.
"Bukankah lo yang selalu memanjakan nya?" protes Galih. karena Bella bisa seberani itu juga karena Arjun.
Ya... Arjun lah yang selalu memanjakan Bella. menuruti semua keinginan gadis itu melebihi kakak kandungnya.
"Ck... jadi gue yang salah?". Arjun tertawa. tak marah ataupun menyanggah perkataan Galih.
"Sudah saatnya lo berubah... jangan selalu menggunakan hati, cobalah pakai logika..." ucap Arjun. bangkit dari duduknya. merenggangkan otot dan berdiri mengamati pemandangan sore hari dari jendela kaca di belakang kursi duduknya.
"Terkadang, jatuh itu memang perlu... agar kita dapat mengenal siapa saja yang mengulurkan tangan dan siapa yang bertepuk tangan...", sebuah pepatah bijak keluar dari mulut Arjun.
Membuat Galih sedikit terkejut, entah sejak kapan sahabatnya itu berubah dewasa.
Pemikirannya yang semakin matang dan tak kekanakan. Padahal Galih dan Arjun dewasa bersama-sama, tapi melihat Arjun yang sekarang Galih seperti jauh di bawahnya.
"Bella mengancam akan meninggalkan gue kalau kembali dengan Alya..." adu Galih.
"Gue yakin, itu bukan hanya sebuah ancaman..." gurau Arjun. Membuat Galih juga ikut tertawa karena paham bagaimana sifat Bella.
"Minta maaflah, dan yakinkan Tiara..." perintah Arjun.
"Caranya?" tanya Galih dengan polosnya.
Arjun beralih menatap Galih, "Bukankah lo lebih licik daripada gue? kenapa malah meminta saran dari gue?".
"T*i lo!" umpat Galih.
"Hahaha..." tawa renyah Arjun memecahkan suasana sore ini. bahkan mungkin terdengar sampai di luar ruangan.
__ADS_1
***
Betul tuh kata Arjun, Galih lebih licik darinya... hahaha....