
HAPPY READING ...
***
Menghabiskan waktu berdua seperti ini, aku merasa senang... Akira.
---
Akira telah selesai mandi begitu juga dengan Arjun. Sekarang mereka duduk bersebelahan di bangku kayu yang berada di tepi kolam renang.
Cuaca benar-benar sangat mendukung karena matahari sejak pagi telah tertutup oleh awan berwarna gelap. Ya... mungkin sepanjang hati ini cuaca mendung.
Sesuai dengan permintaan Akira, Arjun menemani gadis itu belajar. Anggap saja sebagai bentuk ganti rugi karen Akira tidak bisa berangkat kuliah pagi ini gara-gara Arjun.
Gara-gara Arjun yang semalam sakit demam, Akira juga ikut bergadang dan akhirnya bangun kesiangan.
"Coba lihat materinya..." perintah Arjun sambil menggantungkan tangan meminta setumpuk kertas berisi materi kuliah istrinya.
"Nih," sodor Akira. Menyerahkan kertas ke tangan suaminya.
Akira terlihat sibuk mengamati wajah suaminya yang sedang serius membaca. Kenapa kalau sedang serius begitu, terlihat tambah tampan sih? Bahkan Akira senyum-senyum sendiri melihat suaminya.
Kagum? tentu saja. Entah dari mana turunan wajah tampan pria di depannya. Arjun memiliki mata yang sedikit sipit dengan bibir tipis. Garis wajahnya benar-benar terukir jelas dengan hidung yang tinggi.
Kalau aku punya anak, aku ingin hidung yang mirip dengannya... eh, kenapa aku sampai memikirkan hal itu? Akira menggelengkan kepalanya. Entah kenapa ada imajinasi nakal bersarang di kepalanya.
Tapi, apa aku akan menjadi ibu dari anak-anak nya? tapi sampai sekarang dia tidak mengungkapkan perasaannya terhadap ku...
Benar juga, Arjun sama sekali tidak pernah mengungkapkan perasaanya terhadap Akira. Entah apa yang pria itu rasakan dengan keberadaan Akira,
apa Arjun juga memiliki perasaan terhadap istrinya sama seperti yang di rasakan Akira saat ini?
Atau hanya Akira saja yang mulai tertarik dengan suaminya?
Apa dia hanya menganggap ku sebagai istrinya, tapi hatinya tidak untukku?
Pusing sendiri Akira memikirkan hal itu. Mau bertanya tentu saja Akira gengsi. Dia tidak mau menanyakan hal memalukan seperti itu duluan.
"Kenapa melamun?" tanya Arjun hingga membuat Akira terperanjat kaget. Karena a sejak tadi yang dipikirkannya hanya Arjun seorang.
"Tidak," elak Akira.
Gadis itu kembali berpura-pura membaca buku d tangannya. Bukan membaca sebenarnya, karena Akira hanya menatap deretan kata di dalam buku pelajarannya tanpa tersangkut di kepala sama sekali.
"Aghh... gara-gara sakit semalam, kejeniusan ku sepertinya berkurang..." keluh Arjun dan langsung menyenderkan kepalanya di bahu Akira.
Jangan percaya! semua itu hanyalah kelicikan Arjun untuk menggoda sang istri.
Tentu saja Akira langsung mengecek kening suaminya, kali aja memang kembali demam.
"Suhu tubuhmu normal kok..." celetuk Akira sesuai dengan fakta yang ada.
"Benarkah? sepertinya aku kembali sakit..." rengek Arjun dengan nada di buat-buat menderita.
Pintar sekali pria itu bersandiwara. Kenapa tidak jadi pemain sinetron saja? umpat Akira dengan sorot matanya.
"Sayang, bobok saja yuk..." ajak Arjun dengan tampang menggelikan. Hal itu tentu saja membuat Akira bergidik ngeri.
__ADS_1
Apalagi pria itu mengatakannya dengan mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
"Jangan macam-macam!" ancam Akira. Karena Akira tau apa yang ada di dalam kepala suaminya itu.
Apalagi kalau bukan hal-hal berbau vulg*r.
Akira sudah paham akan hal itu, karena setiap kali setiap saat Arjun selalu menggodanya dengan hal-hal seperti itu.
"Aku kan sudah bilang, ajari aku dulu nanti aku akan berbalas budi dengan kebaikanmu," kapan lagi Akira bisa membuat kesepakatan kalau bukan sekarang?.
"Aku kan baru sakit," rengek Arjun masih sama seperti tadi.
Tentu saja Arjun masih berpikir dua kali untuk membantu Akira. Praktek menyuntik? memang siapa orang yang dengan suka rela mau menjadi bahan percobaan? Arjun ingin melihatnya.
Dalam pemikirannya memang tidak akan ada yang sudi untuk di pakai sebagai bahan percobaan oleh calon perawat tersebut.
"Kapan kamu akan praktek menyuntik?" tanya Arjun. Setidaknya Akira harus memperhatikan dengan serius pelajaran tersebut.
"Besok..." jawab gadis itu dengan yakin.
Besok semua siswa di kelasnya akan benar-benar mencoba mempraktekkan bagaimana caranya menyuntik.
Semua siswi di bagi berpasangan sesuai dengan nomor acak dan bergantian untuk melakukan praktek di tangan satu sama lain.
Ck... aku benar-benar ngeri walaupun hanya mendengarnya... batin Arjun.
"Ayo belajar materinya di kamar," ajak Arjun.
Setidaknya di dalam kamar hanya akan ada mereka berdua saja.
"Kapan aku berbohong?" tanya Arjun tak terima.
"Ya mungkin saja..." jawab Akira tanpa dosa sama sekali.
Arjun bangkit dari duduknya, hingga membuat Akira bertanya "Mau kemana?".
"Ke kamar," jawab Arjun dan langsung melangkahkan kakinya meninggalkan Akira.
Dengan tergesa-gesa, Akira juga ikut bangkit. Membawa semua bukunya dan berlari mengejar Arjun. "Sayang tunggu..." teriak Akira. Bahkan sampai membuat pelayan menengok ke arah gadis itu.
Ahh... biarin mereka melihatku... Akira terlihat cuek.
Arjun berjalan melewati kamarnya, hingga membuat Akira yang berjalan di belakang terheran-heran. Katanya mau ke kamar... kenapa melewati kamarnya? apa Arjun sudah pikun hingga melupakan letak kamarnya? batin Akira.
"Sayang...-" panggil Akira.
"Aku sudah tau, bukan kamar kira yang aku maksud..." jawab Arjun.
Lalu kamar yang mana? tentu saja Akira kembali bingung. Ia kira tadi Arjun hendak kembali ke kamar mereka.
Akira terus mengikuti kemana perginya sang suami. Meniti anak tangga kecil yang terletak di sudut lantai 2 rumah itu.
Hingga tak terasa langkah kaki keduanya sampai di depan pintu berwarna cokelat. Arjun menekan beberapa digit angka di pintu tersebut hingga menciptakan suara diikuti pintunya yang terbuka.
Arjun menggandeng tangan istrinya dan masuk ke dalam. Akira kembali tercengang dengan apa yang di lihatnya saat ini. "Waw..." bahkan hanya itu yang terucap dari mulutnya.
Ada tempat indah di dalam rumah ini yang tidak aku tau? Aggghh... sepertinya banyak sekali pintu rahasia di dalam rumah ini... hebat sekali.
__ADS_1
Ruangan yang baru Akira lihat saat ini adalah sebuah perpustakaan kecil dimana banyak sekali rak buku. Akira belum selesai takjub dengan apa yang di lihatnya, matanya kembali menemukan sesuatu yang indah tergantung di atas sana.
Sebuah kaca berwarna-warni yang membentuk kupu-kupu.
Cahaya matahari yang memantul di kaca tersebut menciptakan cahaya berwarna-warni.
"Indah sekali... siapa yang membuatnya?" tanya Akira penasaran.
"Tentu saja Aku..." jawab Arjun dengan sombongnya.
Itu adalah mahakarya Arjun yang pertama dan terakhir kalinya.
Mereka sama-sama memandang ke atas melihat kupu-kupu dari kaca tersebut. "Itulah kupu-kupu yang aku buat untuk Jessi..." ucap Arjun memberitahu Akira.
"Kapan?" tanya Akira penasaran.
"Waktu aku SMP,"
"SMP?" tanya Akira terkejut. Bocah SMP sudah bisa membuat kupu-kupu seindah itu? heran sendiri Akira mendengarnya.
Padahal saat dia SMP, Akira bahkan belum bisa mengendarai motor seorang diri.
Sungguh ia merasa tertinggal jauh dari Arjun jika soal kepintaran.
"Inilah Basecamp Aku dan Jessi," Arjun mengingat kenangan masa lalunya bersama dengan Jessi, adik perempuannya.
"Di tempat ini kami sering belajar bersama dan membaca buku kesukaan..." tambah Arjun.
Akira paham akan hal itu. Karena di setiap sudut ruangan ini, ada saja tempelan lukisan seseorang dengan nama di tepi bawahnya.
Semuanya adalah goresan tangan yang di hasilkan oleh Jessi.
Bukan hanya Arjun yang terlalu pintar, Jessi juga mempunyai bakat di bidang seni.
Lukisannya tidak terlihat seperti lukisan bocah kecil pada umumnya.
Apa sih yang di makan Mami saat mengandung mereka? kenapa bisa genius sih? hebat sekali...batin Akira.
Kalau nanti aku punya anak, aku ingin anakku lahir dengan otak seperti Arjun... ehh?
Akira malu sendiri dengan ucapannya.
Entah kenapa ia sampai mengkhayal seperti itu.
"Ayo kita belajar disini..." pinta Akira dengan penuh semangat. Di tempat ini, mungkin saja mood Arjun akan kembali.
"Belajar? memang tadi aku bilang begitu?" goda Arjun.
Kali ini langsung menarik pinggang istrinya agar duduk di pangkuannya.
"Mau apa?" tanya Akira panik.
Tanpa banyak bicara, Arjun langsung mencium istrinya. Menekan tengkuk gadis itu untuk memperdalam ciumannya. Sedangkan Akira menikmati hal itu sambil memejamkan mata. Merasai lidah Arjun yang menelusuri setiap rongga mulutnya.
Aku mencintaimu Akira... sangat mencintaimu... batin Arjun.
***
__ADS_1