
HAPPY READING...
***
Seminggu setelah kembali lagi di desa, Dion dibantu dengan anak buah setianya juga Gadis mempersiapkan segala sesuatu untuk acara resmi yang akan dilakukannya di rumah Pak Kepala Desa nanti.
Sesuatu adat dan tradisi di daerah itu, Dion akan datang untuk melamar putri dari Kepala Desa secara resmi.
Sebenarnya acara seperti ini dilakukan sebagai pertemuan dua keluarga. tapi karena suatu hal yang tidak memungkinkan, Dion akan datang ke rumah calon mertuanya hanya ditemani oleh Agus saja.
Dion juga merasa sedih mengingat orang tuanya yang tak bisa datang, tapi mau bagaimana lagi. Inilah yang terjadi pada dirinya, kesepian dan terlihat sebatang kara.
Matahari sudah tenggelam beberapa saat yang lalu. dengan setelan jas lengkap dan rapi, Dion berdiri mematung di depan cermin. mengamati dirinya yang terlihat gugup. aneh bukan? karena acara yang akan dilakukannya hanyalah lamaran biasa. tapi Dion sudah seperti hendak menikah.
Tenang Dion... lo hanya ketemu Orang tuanya Gadis bukan? jangan terlalu gugup, karena kalian sudah akrab...
Ya... Dion dan Bapaknya Gadis memang cukup akrab. mereka kerap kali ngobrol di pendopo depan rumah sambil bermain catur. apalagi beberapa hari terakhir Dion memang seringkali datang menemui Gadis, untuk menyelesaikan keperluan untuk acara malam ini.
"Sudah semuanya?" tanya Dion yang melihat Agus sudah berdiri di ambang pintu kamarnya.
"Sudah bos... sudah saya masukkan dalam mobil..." jawab Agus.
Tak banyak yang akan mereka bawa malam ini, sesuai dengan permintaan Gadis.
"Huftt..." Dion membuang nafasnya kasar. mempersiapkan diri dan juga hatinya. setelah itu segera bergegas meninggalkan kamarnya dan turun menuju ke lantai dasar.
Di ambang pintu, Dion kembali terdiam. memejamkan matanya dan mengucapkan sesuatu dalam hati, Mama... apa Mama benar-benar tidak akan datang menemani Dion?
Dion membuka matanya kembali kembali, berharap Mama ada di depan mata untuk menemaninya malam ini. tapi tatapannya redup saat tak ada siapapun yang Dion temukan di depan sana. hanya ada Agus yang telah bersiap di bangku kemudi dan menghidupkan mesin mobil.
Sedikit kecewa memang, karena Dion sempat berharap ada keberadaan Mama disini.
Dion menyentuh dadanya. ngilu sekali melihat kenyataan itu. dia benar-benar merasa sendirian.
"Kenapa Bos?" tanya Agus khawatir tapi tetap di dalam mobil tanpa keluar sama sekali.
"Tidak," elak Dion dan bergegas menuju mobil.
Kendaraan itu perlahan bergerak meninggalkan tempat tinggal mereka.
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah orang tua Gadis, mungkin sekitar 10 menit saja.
Rumah dengan adat Jawa itu seketika terpampang jelas di depan mata. pendopo yang biasanya terlihat remang kini berubah terang dengan banyak lampu yang menyala.
__ADS_1
Terlihat sanak keluarga Gadis berkumpul di sana. Anak-anak kecil berlarian di pelataran rumah, bermain walaupun langit telah gelap.
Mobil yang dikendarai Agus mulai terhenti. Dion kembali menghela nafasnya kasar. menyiapkan mental untuk kesekian kalinya. "Siap?" tanyanya pada Agus. padahal justru pertanyaan itu lebih cocok di tujukan kepadanya bukan orang lain.
Dion telah turun dari mobil. sedangkan Agus membuka bagasi dan juga bangku tengah mobil. Orang-orang membantu Agus menurunkan segala sesuatu untuk Gadis dan orang tuanya.
Dion melangkah mendekati rumah itu. tanpa memperdulikan tatapan anggota keluarga Gadis karena malu. sungguh ini pertama kalinya Dion merasa aneh ditatap orang lain. padahal dulu, pria bermata sipit itu sangat percaya diri. lebih tepatnya saat belum kepikiran untuk berkomitmen dengan wanita pilihannya.
Tapi sekarang, saat Dion telah yakin menambatkan hatinya pada seorang wanita, Dion malah malu dengan tatapan orang lain.
Terdengar beberapa orang saling berbisik, jelas yang terdengar oleh telinga Dion adalah mereka memuji ketampanan pria itu.
Aaa... malunya... apa gue setampan itu? batinnya terkejut sekaligus berbunga.
Dion kira ketampanannya mulai pudar, ternyata salah. Ia masih jadi pria dengan sejuta pesona yang mampu membuat orang-orang terpukau oleh visualnya.
Dion duduk di kursi, sesekali mengangguk dan tersenyum ramah pada orang-orang di depannya. Ada paman-pamannya Gadis, juga dengan Bapaknya Gadis.
Hingga beberapa saat kemudian, Gadis keluar bersama dengan Ibunya.
Karena malam ini hanya acara lamaran biasa, Gadis hanya memakai pakaian yang cukup sopan namun indah. Riasan wajahnya juga tidak berlebihan.
Acara dimulai. Di pimpin oleh Paman tertua dari keluarga Gadis yang menyambut kedatangan dari pihak Dion.
Dalam hati, Dion amat bersyukur memiliki wanita sehebat dan sekuat Gadis. yang mampu menemaninya bahkan saat paling membahayakan dalam hidup mereka.
Terima kasih Gadis... batin Dion bersuara.
Rasanya seperti mimpi. Saat Dion terpuruk dan sendirian, ia menemukan Gadis. Wanita yang bahkan tidak masuk dalam kriteria wanita pilihannya. Tapi sosok Gadis, dengan mudahnya masuk ke dalam hati Dion. menempati tempat yang amat dalam dan tinggal disana.
Acara puncak adalah lamaran. Dion telah menyiapkan sepasang cincin sebagai bentuk pengikat hubungan mereka.
Senyum Gadis melengkung sempurna saat jari manis tangan kirinya mulai terselip cincin pilihan Dion. hatinya terenyuh mengingat bagaimana perjuangan mereka untuk meminta restu. Dari yang Bapak belum yakin dengan kesungguhan Dion, keluarga Dion yang terlihat kejam, bahkan kejadian-kejadian beberapa waktu yang lalu. benar-benar membuat Gadis merasa aneh. Terima kasih Tuhan... sebentar lagi Dion akan benar-benar menjadi pendampingku...
Dion juga merasakan hal yang sama saat Gadis menyelipkan cincin di jari manisnya. ketakutan dan kecemasan yang selama ini mengganggu hati Dion, seperti sirna sudah.
cincin yang mereka pakai ini akan menjaga hubungan mereka sampai hari pernikahan yang tinggal 2 bulan lagi.
Semua orang bertepuk tangan dan tersenyum penuh kebahagiaan. senyum tulus dari orang-orang yang bahkan tidak Dion kenal sama sekali karena seluruh orang disana adalah keluarga besar Gadis. sedangkan dari pihak Dion hanya ada Agus, pria yang tidak punya hubungan darah dengannya tapi dengan ikhlas dan tulus menemaninya malam ini.
Mama... kembali lagi sebuah nama terngiang dalam kepala Dion. membuatnya sedih ketika mengingat tak ada Mama ataupun keluarganya yang datang di acara ini.
"Jangan sedih..." ucap Gadis yang ternyata tau apa yang sedang mengganggu pikiran Dion saat ini.
__ADS_1
"Tidak," elak Dion. "Lo sangat cantik malam ini..." ucap Dion mengalihkan pembicaraan.
membuat pipi Gadis seketika merona. Ya... walaupun bukan pertama kalinya Dion memuji dirinya, tapi tetap saja mampu membuat Gadis malu. sedikit egois memang, tapi Gadis ingin mendengar pujian Dion itu bukan hanya saat ini tapi sampai kapanpun. ingin mendengar bahwa dirinya cantik bahkan sampai rambutnya memutih dan Gadis tak lagi bisa berjalan lincah seperti sekarang.
Malam itu juga, Dion mulai mengakrabkan diri dengan keluarga besar Gadis. Bahkan membantu keponakan Gadis merangkai mainannya.
Hingga seorang kakek dengan tongkat kayu berjalan mendekati Dion dan Gadis. membuat mereka seketika bangkit dan Gadis langsung membantu beliau duduk di kursi.
"Dion, ini adalah Kakek... Ayah dari Ibuku..." ucap Gadis memperkenalkan. ini adalah pertama kali bagi Dion dan Kakek bertemu. Karena Kakek tidak tinggal di desa ini, beliau ikut bersama anak bungsunya di kota.
"Saya Dion Kek..." ucap Dion sambil mencium punggung tangan Kakek. membuat kakek hanya mengangguk sedangkan Gadis tersenyum penuh arti.
"Nak Sion kapan datang?" tanya Kakek.
Apa? Si-on? Dion membelalakkan matanya. ia terkejut karena panggilan Kakek nya Gadis.
Sedangkan Gadis langsung tertawa girang.
"Dion kek..." ralat Dion.
"Ha?".
Yaelah... ternyata pendengaran Kakek bermasalah... batinnya menduga.
Gadis masih tertawa melihat ekspresi Kakek dan Dion bergantian.
"Saya Dion kek..." ulang Dion dengan sedikit meninggikan suaranya agar kakek mampu mendengar. "Di-on...".
Sejenak ekspresi kakek berubah aneh,
"Hei! kenapa berteriak? memang kakek tuli..." sewot kakek.
Membuat Dion kembali tercengang. Tuhan... kapan aku berteriak?
Dion segera menyenggol Gadis, "Bantu jelaskan...". karena sejak tadi Gadis hanya menikmati pemandangan yang bahkan tak ada lucu-lucunya sama sekali.
"Hahaha...". Gadis tertawa lebih kencang juga dengan anggota keluarga yang lain.
mereka paham dengan kondisi Kakek, sedangkan Dion tak tau sama sekali.
***
Hahaha... ada yang sama? ini nih kayak kakek Authornya...
__ADS_1
Bicara pelan gak denger, bicara keras dikira ngegas...