
HAPPY READING...
***
Arjun dan Akira turun setelah di bukakan pintu oleh Galih tepat di depan teras Kediaman Pradipta.
"Mau mampir dulu?" tanya Arjun. Mungkin saja Galih membutuhkan minuman hangat sebelum kembali ke Apartemennya.
"Tidak, gue lelah..." balas Galih dan langsung masuk ke dalam mobil kembali.
"Baiklah, Hati-hati..." jawab Arjun melepas kepergian mobil Galih dari rumahnya.
Sedangkan Akira hanya tersenyum ramah seperti yang terlihat kepada semua orang.
Dengan bergandengan tangan, Arjun dan Akira menuju ke pintu utama. Tapi baru melangkah masuk, seorang pria menghadang Arjun hingga membuat Akira dan Arjun menghentikan langkahnya.
"Selamat malam Tuan muda," sapa pria ber Jas rapi dengan kacamata yang selalu bertengger di pangkal hidungnya.
Arjun tak bereaksi tapi tetap mengangguk dengan sapaan pria yang umurnya lebih tua darinya. Bisa dikatakan kalau pria di depan Arjun sepantaran dengan Papi Johan.
Sedangkan Akira juga tidak keheranan dengan pria itu.
Ia kerap kali melihatnya datang bersama dengan Papi Johan ketika pulang bekerja.
Benar... di depan sana adalah Sekertaris sekaligus Asisten pribadi Papi.
Pria yang dengan setia menemani Papi Johan kemanapun beliau pergi.
Jika pria itu sampai menemui Arjun, tentu saja ada hal penting yang perlu yang di bicarakan.
Hal itulah yang membuat Arjun sedikit khawatir dan menduga-duga apa yang sudah ia lakukan hingga membuat Papi ikut campur.
Arjun menggenggam erat tangan Akira hingga membuat gadis itu menengok ke arahnya. Mencari tau apa yang tengah terjadi saat ini.
"Tuan Besar meminta anda untuk menemuinya..." ucap Sekertaris itu dengan nada datar tapi juga sopan.
Ada apa ini? Akira gemetar.
"Mari,"
Arjun langsung mengikuti langkah kaki pria itu menuju ke ruang kerja Papi Johan yang berada di lantai dasar rumah Pradipta.
Langkah mereka menjadi satu-satunya suara yang tercipta. Entah bagaimana suasana rumah juga terlihat sunyi seperti tidak berpenghuni padahal saat ini adalah jam makan malam.
Biasanya banyak pelayan yang masih lalu lalang.
"Apa Akira juga d ikut masuk?" tanya Arjun ketika pria di depannya sudah menyentuh gagang pintu.
Sejenak terdiam dan menjawab pertanyaan Tuan mudanya, "Iya Tuan muda,".
Tidak ada alasan lagi bagi Arjun untuk meminta sang istri menunggunya di dalam kamar. Nyatanya memang mereka harus menghadap Papi saat ini juga.
Suara decit pintu terdengar menakutkan. Mengiris hati Arjun dan Akira hingga membuat buku kuduknya berdiri. Normalnya bulu kuduk akan berdiri karena melihat hantu, tapi tidak bagi mereka. Menghadap Papi saja sudah membuat nyali mereka menciut.
Arjun... aku takut... batin Akira sambil menggenggam erat jemari tangan suaminya.
Di ruangan, terlihat Papi Johan sedang duduk di kursinya. Pandangannya tak lepas mengamati pergerakan 3 orang yang baru saja tiba.
"Saya permisi Tuan,"
ternyata Sekertaris itu hanya mengantarkan Arjun dan Akira saja dan bersiap keluar.
Hening langsung mengambil alih suasana. Baik Arjun dengan Akira sama-sama tertunduk dengan posisi berdiri. Tangan yang tadinya saling menggenggam pun tak lagi terlihat.
__ADS_1
Sesekali Akira mengintip untuk melihat sosok mertuanya itu. Jelas sekali kalau Papi Johan masih sakit melihat wajahnya yang sedikit pucat dengan lingkaran panda di sekitar matanya.
Sudah 2 malam Akira dan Arjun tidak berada di rumah. Kemarin yang rencananya merek akan kembali saat sore hari, gagal lagi karena Arjun tiba-tiba merasa tidak enak badan. Jadi Akira adanya Arjun kembali menginap di Rumah Ayah hingga tadi pagi.
Itulah sebabnya Arjun meminta Galih untuk menggunakan Taxi dan menemuinya di rumah orang tua Akira sebelum akhirnya berangkat bekerja.
Baik Akira maupun Arjun sama sekali tidak meminta ijin pada Papi maupun Mami, mungkin itulah sebabnya mereka marah dan meminta Arjun menemuinya di ruang kerja.
"Darimana saja kalian?" tanya Papi Johan tiba-tiba.
Membuat jantung Akira dan Arjun bertambah kecepatannya. Arjun memang tau bagaimana tegasnya sang Papi, tapi beda dengan Akira.
"Papi... papi, kami dari rumah Ayah Adam..." Arjun yang bersuara. Karena dia lah yang bertanggung jawab atas semua yang telah terjadi.
"Ada apa?"
Jawab apa ini? batin Arjun tidak langsung menjawab.
Sedangkan Akira semakin gugup dan takut.
Bahkan ruangan yang tadinya sejuk karena ada pendingin ruangan, berubah panas dan pengap
Membuat keringat dingin bercucuran di kening dan punggung Akira.
"Jawab!" bentak Papi.
"Karena rindu Ibu," jawab Akira.
"Karena Akira ingin menginap..." jawab Arjun.
Dan di detik selanjutnya baik Akira dan Arjun saling tatap karena jawaban mereka tak sama.
Aduhh... kenapa menjawab seperti itu sih? batin Akira.
Mana aku tau... kita belum membicarakan ini bukan? batin Arjun.
Glekk... Arjun dan Akira menelan saliva nya dengan susah payah.
Mereka seperti seorang pencuri yang tertangkap basah ketika beraksi.
"Jadi apa alasan kalian?" ulang Papi Johan.
Betapa beliau sangat kesal sekaligus marah mengetahui kalau Anak dan menantu sedang bertengkar.
Jangan tanya dari siapa! karena semua hal yang terjadi pada keluarganya, Papi Johan akan jadi orang pertama yang mengetahuinya.
Dan tidak di pungkiri kalau masalah Arjun dan Akira sampai terdengar di telinganya.
"Maaf Pi..." jawab Arjun. Meminta maaflah lebih dulu sebelum mengatakan apapun.
"Akira..." panggil Papi. Mungkin jika Arjun, bisa saja pria itu anak sedikit berbohong kepada ayahnya. Tapi bagaimana kalau Akira?
Mungkin Papi akan tau semuanya dari mulut menantunya itu. Karena Akira tidak akan berani berbohong.
"Maafkan Akira Pi," tapi nyatanya sama seperti Arjun, Akira juga hanya mengatakan maaf.
Bahkan keduanya semakin menundukkan pandangan lebih dalam.
Membuat Papi mau tak mau harus mendekati keduanya. Berdiri tepat di depan putra semata wayangnya dengan tatapan naik turun berulang kali.
Arjun perlahan mengangkat pandangannya, melihat apa yang sedang di lakukan Papi Johan saat ini. Tapi baru melihat sampai dada Papi nya,
Plaakk... suara keras dari tangan seseorang membuat Arjun dan Akira sama-sama memejamkan mata terkejut.
__ADS_1
"Arjun..." panggil Akira yang menyadari bahwa suara itu adalah suara tamparan dari Papi Johan kepada suaminya.
Itu adalah hukuman atas kelakuanmu yang dengan bodohnya ingin menghabiskan malam dengan wanita murahan setelah menikah! batin Papi Johan dalam hatinya.
"Arjun..." rengek Akira dengan mata yang mulai menganak sungai.
Sedih melihat apa yang telah terjadi pada suaminya.
"Kamu tau apa kesalahan mu Arjun?" tanya Papi Johan.
Arjun pun mengangguk yakin. Sekelebat kesalahan yang pernah ia lakukan menjadi satu-satunya alasan kenapa Papi sampai memukulnya.
Papi memang tidak pernah melarangnya untuk hal apapun di masa lalu, tapi sekarang beda. Arjun telah menikah dan tidak seharusnya melakukan hal bodoh seperti itu.
"Maafkan kami Pi... Arjun tidak salah... Arjun tidak salah... Akira lah yang salah Pi... Akira yang salah karena cemburu..." ucap Akira tiba-tiba. Ia mengira kalau Arjun mendapat tamparan dari Papi Johan gara-gara mereka bertengkar dan akhirnya menginap di rumah Ayah.
"Kamu tau kesalahan mu Akira?" tanya Papi Johan.
Akira tentu saja mengangguk. Jika harus di hukum setidaknya bukan hanya Arjun saja. Akira rela di hukum apapun.
"Maaf Pi... Akira tidak mempercayai Arjun kemarin... Karena Akira lah Arjun sampai datang ke rumah Ayah... maafkan Akira..." ucap Gadis itu dengan lirih.
Untung saja Adam bilang kalau mereka hanya salah paham...
Setidaknya Arjun dan Akira tidak bertengkar hebat... batin Papi.
"Jangan ulangi lagi!" entah kepada siapa Papi Johan berkata demikian tapi yang jelas adalah salah satu dari kedua orang di depannya. Bisa jadi kepada Akira karena gadis itu juga telah melakukan kesalahan di masa lalu.
Apa Papi tau semuanya? batin Akira ketakutan.
"Akira... kembali ke kamar dulu," pinta Papi Johan dengan nada terdengar halus tapi tidak meninggalkan kesan menakutkan bagi siapa saja yang mendengar.
Kenapa? kenapa aku kembali sendirian? bagaimana dengan Arjun? tentu saja Akira tidak bisa meninggalkan suaminya sendirian di sini.
Apalagi melihat Papi yang menampar Arjun barusan, sudah mengikuti jadi ketakutan tersendiri baginya.
Setidaknya biarkan Akira menunggu di sana, untuk memastikan kalau Arjun baik-baik saja.
"Akira..." ulang Papi Johan.
"Tidak Papi... Akira disini saja, menunggu Arjun..." tolak Akira. Inilah pertama kalinya Akira berkata tidak di depan mertuanya.
Tak apa jika Akira di anggap pembangkang, tapi setidaknya bersama dengan suaminya membuat Akira tenang.
Arjun yang mendengar ucapan Akira langsung memperlihatkan tatapan yang sulit di artikan. Antara percaya, senang dan juga haru.
Sedangkan Papi Johan terlihat menaikkan satu alisnya keheranan.
"Papi... biarkan Akira di sini menemani Arjun..." pinta gadis itu lagi dan langsung membuat Papi paham.
"Kamu mengkhawatirkan Arjun, Ra?" tanya Papi.
Ditanya seperti itu membuat Akira tetap diam walaupun dalam hatinya ia membenarkan. Bisa saja kan saat Akira keluar, Arjun akan mendapat tamparan lebih keras dari sebelumnya.
Mengingat bagaimana sikap tegas mertuanya Akira.
"Jangan khawatir kan apapun, Arjun akan baik-baik saja... kembali lah ke kamar mu..." ucap Papi meyakinkan Akira.
Bagaimana? tanya Akira dari sorot matanya kepada Arjun. Apakah tak apa jika dia keluar dari ruangan itu?
Keluar lah... begitu sorot mata Arjun memutuskan.
Akira tetap keluar dari ruangan kerja Papi Johan walaupun beberapa kali menengok memastikan kalau Arjun benar-benar menyuruhnya keluar dari sana.
__ADS_1
Semoga tidak ada hal buruk terjadi pada Arjun... batin Akira dan pergi dari sana.
***