Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
158. Lamaran Mendadak.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Setelah memasak dan menyiapkan makan malam untuk Galih, Tiara bergegas mandi.


Tadi siang ia juga telah kembali ke rumah untuk mengambil beberapa pakaian. Bukan tampa sebab, Tiara takut untuk tinggal sendirian di rumah. Dan itulah sebabnya ia demam juga karena terpukul karena kehilangan Ibunya.


Dan Tiara sudah bertekad untuk tinggal beberapa hari dengan pria kulkas atau mungkin meminta kepada pria itu untuk mengijinkan Tiara tinggal bersama dengan Bella.


Ya.. Tiara sudah memikirkan hal itu sejak pagi.


Walaupun rasa sedihnya tak bisa di hitung dengan apapun, tapi Tiara harus bangkit. Ia harus berjuang untuk menyelesaikan kuliahnya yang sudah setengah jalan.


Tiara tidak bisa putus sekolah. Gadis itu berniat untuk bangkit dari keterpurukan lalu mencari pekerjaan untuk bisa membiayai Kuliahnya.


Dengan mengenakan celana jeans dan Crop top berwarna biru, Tiara merapikan meja makan. Menata piring berisi ikan goreng dan juga tumis sayur sebagai pelengkapnya.


Tinggal menunggu si pemilik Apartemen itu pulang.


Jam telah berputar begitu cepat, Tiara yang sejak tadi duduk menunggu kedatangan Galih nyatanya mulai risau karena pria itu rak juga muncul dari balik pintu.


Padahal sekarang sudah jam 9 malam.


Seharusnya dia sudah pulang bukan? batinnya bicara.


Tiara juga melihat ponsel miliknya. Tapi tak ada satupun pesan yang masuk. Membuat gadis itu mondar-mandir penuh gelisah.


Hingga Tiara berniat keluar dari Apartemen itu. Gue akan tunggu di taman bawah saja...


Dan gadis itu benar-benar keluar gedung Apartemen dimana Galih tinggal.


Angin malam seketika menusuk tulang. Tiara terus berjalan keluar sambil menggosok lengannya yang terbuka.


Hingga tiba di depan sana, matanya menangkap pemandangan yang cukup membuat dirinya bertanya-tanya.


"Dia? dengan siapa Galih bicara?" gumam Tiara terus mengamati pergerakan Galih yang terlihat mundur beberapa langkah saat gadis di depannya mendekat.


Apa dia kekasih Galih? batin Tiara.


Gadis yang di lihatnya saat ini cukup dewasa dengan tinggi badan yang proposional. Jauh lebih tinggi jika di bandingkan dengan tinggi Tiara.


Tiara mengira kalau gadis yang bersama dengan Galih sekitar berumur 26 tahun.


Tanpa sadar langkah kaki Tiara telah membawanya sampai di samping Galih. Terdiam dan terus mengamati gadis yang tidak di kenal olehnya.

__ADS_1


"Seperti yang lo lihat, kami tinggal bersama..." ucap Galih.


"Kami akan segera menikah...".


Tiba-tiba Galih menyentuh kedua pipi Tiara dan langsung mencium gadis itu tanpa meminta ijin. Membuat diri Tiara langsung membatu dan syok. Benda kenyal nanti hangat itu benar-benar menempel di kedua bibirnya. Rasanya benar-benar aneh bagi Tiara, karena perlakukan Galih benar-benar terlihat seperti sebuah amarah saja.


Gadis di depan sana juga terkejut. Bedanya dia langsung menitikkan air mata tanpa diminta. Hingga beberapa saat berlalu, Galih melepaskan ciumannya.


Tiara hendak menjelaskan kalau bukan seperti itu yang terjadi dengan Galih, tapi gadis di depannya lebih dulu berlari dan pergi. Membuat Tiara hanya membuka mulut tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


Juga dengan Galih, Tiara ingin bertanya pada pria itu. Tapi Galih juga lebih dulu melangkah masuk ke dalam gedung Apartemen.


Tiara yang mulai sadar mulai berlari mengejar Galih.


Hingga saat telah masuk kembali di Apartemen, Tiara melihat Galih duduk di ruang makan sambil menenggak sesuatu dari botol kaca. Dari aroma menyengat itu, Tiara bisa tau kalau minuman itu adalah minuman keras.


"Galih! kenapa lo sengaja menyeret ku ke dalam masalah Lo?" tanya Tiara dengan nada meninggi.


"Siapa wanita tadi? kekasih mu? ha?".


Tiara menduga kalau Galih dan gadis yang ditemuinya tadi terlibat percekcokan.


"Dan Lo! Lo tidak bisa seenaknya mencium gue seperti itu! lo tidak berhak Galih! gue-"


"Karena Lo bukan siapa-siapa gue?" tanya Galih menyela perkataan Tiara. Membuat gadis itu terdiam.


"Ayo kita menikah saja..." ucap Galih semakin membuat Tiara membulatkan mata.


Terkejut? tentu saja. Karena bukan ini yang Tiara inginkan dengan dinikahi setelah Galih menciumnya dengan paksa tadi.


"Ayo kita menikah biar gue tanggung jawab atas ciuman tadi!" ucap Galih tanpa menatap Tiara. Karena satu-satunya pusat tatapan Galih adalah pada sebotol Wine di depannya yang tanpa terasa sudah setengahnya masuk ke dalam perut Galih.


"Percuma saja bicara dengan Lo! lo mabuk!" jawab Tiara kesal.


Karena ucapan orang mabuk memang ngelantur.


"Diam disana!" perintah Galih dan membuat Tiara menghentikan langkahnya. Padahal tadi ia sudah berniat untuk masuk ke kamar.


"Diam!" pinta Galih.


Dengan langkah yang tidak seimbang, Galih bangkit dari duduknya. Berjalan mendekati Tiara dan berdiri menghalangi gadis itu.


"Ayo kita menikah saja..." ajak Galih lagi.


Dengan begitu Alya tidak akan berani datang kepadanya.

__ADS_1


Dengan menikah, Alya tidak akan muncul lagi di kepala Galih.


"Galih, lo mabuk..." ucap Tiara. Karena disini hanya dia yang masih sadar.


Apalagi tatapan mata Galih benar-benar terlihat memerah. Tiara sedikit takut akan hal itu.


Bagaimanapun Galih adalah laki-laki normal.


Tiara kembali melangkah pergi, tapi tangan Galih kembali menggenggam pergelangan gadis itu dan sedikit menekannya. Membuat Tiara kesakitan.


"Gue tidak mabuk Tiara... gue bahkan bisa melihat dengan jelas wajah lo...bibir Lo... hidung Lo... gue bisa melihat semuanya..." ucap Galih sambil menjelajahi setiap inci wajah Tiara dengan jari telunjuk. Membuat Tiara sedikit menahan nafas karena gugup.


Apalagi bau minuman keras di mulut Galih benar-benar tercium di hidungnya. Inilah pertama kalinya Tiara merasa gugup dengan pria di depannya.


Karena biasanya, pria itu selalu membuat moodnya menjadi jelek. Ucapan Galih yang memang sedikit pedas dan membuat Tiara muak.


"Ayo menikah, sebagai gantinya gue akan membiayai kuliah Lo sampai lulus..." tambah Galih.


Ucapan Galih benar-benar membuat Tiara sedikit kaget. Gadis itu memang membutuhkan biaya kuliah mulai hari ini dan dengan tiba-tiba Galih memberi tawaran yang tidak merugikan baginya.


"Ayo menikah..." ucap Galih lagi.


Kali ini Tiara hendak menjawab perkataan Galih, tapi pria itu lebih dulu menyenderkan kepalanya di bahu Tiara hingga tanpa sadar Tiara langsung menopangnya karena berat badan Galih tidak seimbang dengan tubuhnya.


"Galih..." ucap Tiara hampir saja jatuh.


Tapi bukannya berontak, Tiara kembali terdiam.


Tiara jelas mendengar suara tarikan nafas Galih yang terdengar teratur.


Dia tidur?


Dengan sekuat tenaga, Tiara membantu Galih untuk menuju ke kamar. Merebahkan tubuh Galih hingga membuat nafas Tiara ngos-ngosan.


"Hah... kenapa berat sekali sih..." gerutunya.


Dengan telaten, Tiara membuka sepasang sepatu yang masih melekat pada kaki Galih. Menyelimuti tubuh pria itu dan pergi.


Di kamar, Tiara masih melamun. Memeluk kedua lututnya sambil mengamati pemandangan malam dari balik kaca jendela.


Ucapan Galih tadi masih terngiang di kepala. Apa yang harus gue lalukan?


Entah sadar atau tidak Galih mengucapkan hal itu tadi.


Membuat Tiara sedikit berharap perkataan itu adalah benar. Karena ia juga butuh biaya untuk melanjutkan kuliah.

__ADS_1


***


Yaelah, penyakit Arjun napa nurun di Galih sih... Heran gue...


__ADS_2