
HAPPY READING...
***
Arjun duduk di ranjang sebuah kamar bersama istrinya, Akira. Yang mereka lakukan saat ini adalah mengamati foto demi foto dalam sebuah Album yang masih terawat.
"Ini saat pertama kali Jessi pergi liburan di Disneyland..."
Arjun menjelaskannya kepada Akira. Momen dimana keluarga Arjun liburan kembali terekam jelas di kepala.
Saat itu mungkin adalah kenangan paling membahagiakan bagi keluarga Pradipta.
Di sela-sela kesibukan Papi Johan, beliau masih menyempatkan diri untuk mengajak istri dan kedua anaknya perlu berlibur.
"Dia terlihat masih sangat kecil..."
Akira bahkan sampai mempertajam penglihatannya untuk melihat foto itu.
"Tentu saja, saat itu Jessi masih berumur 3 tahun..."
Itulah saat Jessi belum menderita karena penyakitnya... batin Arjun.
Akira sibuk membalikkan album halaman demi halaman. Mengamati setiap background yang berbeda tapi dengan ekspresi gadis yang selalu sama. Tersenyum manis menghadap kamera.
"Apa Jessi dekat dengan Mama Livia?", Pertanyaan Akira langsung membuat Arjun mengamatinya.
Mencerna maksud dari pertanyaan Akira barusan.
"Iya, Jessi dekat dengan Mami... tapi lebih dekat dengan ku..."
Karena apa yang di lakukan Jessi, Arjun selalu menjadi orang pertama yang tau.
Arjun selalu ada untuk adiknya. Arjun juga lah yang menemani Jessi bermain setiap harinya.
"Dia pasti bahagia punya seorang kakak..."
Aku ingin sekali merasakan bagaimana rasanya memiliki seorang kakak... menjadi anak tunggal benar-benar membuatku kesepian,...
"Dia sangat malang... tidak bisa menikmati dunia lebih lama..." ucap Arjun kasihan kepada adiknya. Seharusnya Jessi berhak untuk hidup lebih lama...
Arjun dan Akira kembali menatap foto lagi.
Bahkan mereka tak menyadari kalau jam makan malam telah tiba.
Tapi Arjun tadi sudah berpesan kepada pelayan kalau dirinya akan makan malam di kamar Jessi saja.
Benar saja, tak berapa lama seorang pelayan datang dengan membawa nampan berisi makan malam untuk pasangan suami istri tersebut.
"Taruh saja disana..." tunjuk Arjun pada sofa di dekat jendela.
Tanpa banyak bicara, pelayan itu segera meletakkan makan malam dan undur diri.
"Ayo makan dulu..." ajak Arjun pada istrinya.
Arjun menggandeng tangan Akira dan mengajaknya duduk di sofa kamar itu.
Sebenarnya Akira tidak merasa lapar. Apalagi ia sempat memakan beberapa jeruk tadi.
Arjun memakan potongan buah sebelum menikmati makan malamnya. Sesekali ia juga menyuapi Akira potongan buah naga karena ia tidak terlalu suka.
"Sudah Jun," tolak Akira karena Arjun asyik menyuapkan buah itu ke mulut Akira tanpa henti. Tentu saja kesulitan mengunyah.
"Makan lah... lihatlah tubuhmu itu, sangat kurus... nanti ayah akan mengira kalau disini kamu tidak di beri makan..."
Arjun merasa kalau tubuh Akira benar-benar kurus. Seharusnya gadis itu makan lebih banyak agar terlihat lebih baik. Kalau saat ini Akira terlihat seperti orang-orangan sawah.
"Ck... kurus? ini ideal..."
__ADS_1
Tentu saja Akira keberatan dikatakan kurus. Porsi makan Akira sangat besar tapi tidak mempengaruhi berat badannya.
Iya juga sih... sebenarnya akhir-akhir ini aku benar-benar stres karena pelajaran...
Akira sedikit kesulitan dengan kuliahnya yang menurutnya sangat sulit. Hal itu sangat mempengaruhi ***** makannya. Apalagi Akira juga seringkali begadang untuk menyelesaikan tugas-tugas nya.
Mungkin itulah yang membuat Akira kehilangan berat badan cukup banyak dan membuat dirinya terlihat lebih kurus.
"Aaa..." Tiba-tiba Arjun menyuapi Akira.
Benar-benar dalam 1 sendok yang sama.
Ck, itu sendok bekasnya...
"Buka mulutmu..." perintah Arjun dengan sedikit mengancam.
"Pakai ini..." tunjuk Akira pada sendok nya sendiri.
Kenapa dia selalu menolak bekas ku?
Arjun tetaplah Arjun. Pria itu masih dengan keegoisannya menyodorkan sendok miliknya tanpa memperhatikan Akira yang melotot tak suka.
"Ayo buka mulutmu!"
Akira masih tak bergeming. Ia merasa jijik berbagi sendok dengan orang asing.
Orang asing? tentu saja... Bagi Akira, Arjun tetap lah orang yang asing walaupun mereka sudah menikah.
"Akira, jangan mencoba mengetes kesabaran ku!" ancam Arjun dengan gigi bergerutu.
Apa? memang lo mau apa?
Bukannya takut, Akira malah menantang.
Ia sama sekali tidak takut dengan ancaman Arjun.
Arjun bangkit dan mendekati Akira. Mau apa Lo? tanya Akira dengan sudut matanya.
Arjun menarik paksa tangan Akira,
"Auu..." hingga membuat gadis itu kesakitan.
Dengan kedua tangan, Arjun benar-benar menyudutkan Akira di dinding. Mengunci pergerakan gadis itu dengan jarak yang cukup dekat. Bukan! sangat dekat malahan. Karena Akira sampai mampu merasakan hembusan nafas Arjun yang menerpa wajahnya.
Aduuhh... dia marah? dia benar-benar marah... Akira ketakutan dengan perbuatan Arjun.
Ia menyesal telah membantah perintah Arjun tadi. Dan sekarang Akira tidak tau apa yang akan terjadi pada dirinya.
Apa aku akan di cekik sampai mati? atau di dorong dari sini sampai jatuh? Huuaa... aku takut...
Arjun menatap lekat wajah Akira. Mencari keistimewaan apa yang ada dalam diri gadis yang terpaksa menjadi istrinya itu. Gadis bermulut besar yang selalu membantah segala perintahnya.
Arjun hanya ingin mencari tau. Apalagi karena gadis ini juga, dirinya pulang tiba-tiba padahal saat itu Arjun telah bersiap untuk menikmati tubuh wanita lain.
"Sihir apa yang lo pakai?"
Akira membulatkan matanya. Apa maksudnya? dia gila ya? kenapa bicara hal-hal yang tidak masuk akal seperti itu?
"Arjun lepas," pinta Akira mengiba. Berdekatan dengan Arjun sungguh membuat dirinya merasa aneh.
Akira merasa gemetar dengan dekat jantung yang berpacu hebat.
Apalagi saat dirinya menatap bola mata Arjun tadi, rasanya benar-benar aneh.
"Jawab dulu!"
"Apanya yang di jawab?" protes Akira.
__ADS_1
Akira sama sekali tidak merasa pernah ditanyai oleh pria itu.
Tentang sihir yang lo katakan tadi? hei! kita hidup di zaman modern, mana ada yang begituan...
otaknya benar-benar tidak waras!
"Gue sama Dean," menjeda kalimatnya, Arjun kembali menatap mata Akira dengan lekat.
Kenapa ganti membahas Dean?
"Gantengan mana?"
Ingin sekali Akira tertawa kencang saat ini.
Pertanyaan Arjun sama sekali seperti sebuah lelucon.
Ck... apa dia bercanda? lagian kenapa sih akhir-akhir ini dia selalu menyebut nama Dean?
"Jawab!" teriak Arjun hingga membuat Akira menutup matanya.
Gue harus jawab apa? Dean adalah pria yang baik. Dia kekasih ku... sedangkan Lo, tampan sih...
"Keren," puji Akira tanpa sadar bahkan sampai menutup mulutnya tak menyangka kalau dirinya sampai mengatakan hal itu.
"Siapa?" tentu saja Arjun terpancing dengan ucapan Akira barusan.
Apa aku keren? begitu?
"Dean tampan..." jawab Akira. Berusaha untuk sadar dalam situasi saat ini.
"Jadi yang keren Gue?" tanya Arjun. Bahkan sampai pria itu tersenyum aneh.
Ck, apa-apaan dia itu? kenapa langsung menilai seenaknya sendiri. Tapi benar juga sih... dia keren... tapi kan?
"Jadi benar menurut lo, gue terlihat keren?" tanya Arjun lagi.
Kali ini Akira yang kebingungan harus menjawab apa. Jika jujur, tentu saja pria itu akan besar kepala dan mengira kalau Akira suka kepadanya. Akira tak mau hal itu terjadi.
Cuupp...
Saat Akira masih melamun, tiba-tiba Arjun mengecup bibir gadis itu. "Makasih..." meninggalkan Akira dan kembali duduk melanjutkan makan malamnya yang sempat tertunda.
Sedangkan Akira, gadis itu seperti berubah menjadi batu. Berdiri tanpa berkedip dengan satu tangan yang menyentuh bibirnya.
Apa tadi?
Otaknya bahkan seperti berhenti bekerja.
"Akira, ayo makan..." teriakan Arjun lah yang mampu membuat Akira kembali tersadar dari situasi aneh barusan.
Dia mencium ku? benar... Arjun mencium ku...
Akira bisa berfikir jernih lagi. Dan ia menyesal akan hal itu.
Huaa... dia mencuri ciuman pertamaku...
"Akira, kenapa lo bengong?" tanya Arjun kebingungan dengan perubahan Akira.
"Jangan bilang kalau tadi ciuman pertama buat Lo..." tuduh nya. Bahkan Arjun juga terkejut dengan ucapannya sendiri.
Apa? tadi ciuman pertamanya?
"ARJUN!!" teriak Akira dengan keras.
Bahkan mungkin sampai di dengar oleh penghuni lain rumah ini.
***
__ADS_1
???