Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
216. Gara-gara Es Boba.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Perdebatan masalah buket bunga masih berlanjut bahkan sampai Galih dan Tiara telah masuk ke dalam mobil.


"Buang atau gue buang sama Lo sekalian!" ucap Galih terdengar begitu menyebalkan.


bahkan Tiara yang mendengarnya saja ingin rasanya mencekik leher pria itu.


Ck... memang gue sampah?


Tangan Tiara meremas kuat. giginya bergerutu sambil mulutnya berkomat-kamit seperti tengah mengutuk pria itu.


"Buang!" kembali lagi keluar perkataan yang sama dari mulut Galih.


"Tapi Gal... ini sangat bagus... sayang dong kalau di buang... biar gue simpan sampai layu, setelah itu akan gue buang. Toh Lo tidak pernah memberiku bunga sekali pun kan?" protes Tiara. jangankan bunga, bersikap normal saja sudah cukup baik.


"Ya Ya Ya... ungkit terus..." sewot Galih.


Salah satu hal yang membuat Galih kesal adalah Tiara yang selalu membanding-bandingkan dengan siapapun.


"Makanya beliin bunga..." ucap Tiara tanpa dosa.


"Oke... nanti makan bunganya sekalian..." gerutu Galih. membuat Tiara kembali tertawa karena lucu juga jika Galih sedang kesal seperti itu.


Tak banyak bicara saat mobil itu melaju membelah jalanan Ibukota. karena sejak semalam Galih maupun Tiara sudah sepakat. mereka akan langsung menuju ke rumah orang tua Galih setelah acara selesai.


Bukan hanya Tiara saja Bella, adik perempuan Galih juga lulus bersamaan. bisa dikatakan hari ini adalah hari membahagiakan bagi mereka semua.


Perjalanan terasa begitu cepat. hingga tak terasa mobil Galih terhenti di depan parkiran di rumah orangtuanya. membunyikan klakson untuk memberitahu Ibu maupun Ayah.


"Kenapa masih sepi?" gerutu Galih. pria itu kembali mengamati jam yang melingkar di pergelangan tangannya. sudah waktunya sesuai janji yang dibuat semalam. tapi kelihatannya Orang tua Galih belum kembali.


"Turun!" perintah Galih ketus. meminta Tiara untuk membuka gerbang agar mobil itu bisa masuk.


"Ck...", Tiara berdecak walaupun tetap mengikuti perintah Galih. Sedikit kesulitan memang karena saat ini ia memakai kebaya dan kesulitan melangkah dengan besar.


Tiara mendorong gerbang itu, hingga Mobil Galih telah terparkir sepenuhnya.


Di teras, Tiara memilih duduk sedangkan Galih langsung meraih ponsel untuk menghubungi Bella.


"Hallo... kalian belum pulang?", tanya Galih ketika panggilannya telah tersambung kepada Bella.


"Kakak sudah sampai di rumah?".


"Hm,".


"Mama... kakak telah sampai di rumah,". terdengar Bella berbicara dengan Ibunya.


Sedangkan Galih tidak begitu mendengar pembicaraan mereka.


"Kakak... kami masih di luar... tunggu ya... kunci rumah ada di bawah pot bunga kaktus di samping pintu..." pinta Bella pada Galih.


"Kakak bersama Tiara kan?".


"Seharusnya lo bilang tadi, biar sekalian gue jemput... ya, gue datang dengannya," protes Galih sambil melirik Tiara sejenak. kalau begini terlihat semakin menjengkelkan bukan?


Dimana mereka datang ke rumah yang tidak ada penghuninya.

__ADS_1


"Ah, tidak perlu... nikmati waktu kalian berdua... hehehe..." gurau Bella.


"Dasar bocah tengil!" umpat Galih.


"Sudah-sudah... tidak akan ada habisnya kalau kakak marah... ingat, kunci rumah ada di bawah pot kaktus..." perjelas Bella.


Setelah itu, Bella langsung mematukna panggilan dari Galih.


"Gimana? mereka belum pulang?" Tiara bersuara. bertanya apa yang tengah terjadi saat ini.


"Hm,". jawab Galih dan langsung menuju ke pot yang Bella maksudkan tadi.


mengangkat pot kecil itu dan mengambil kunci rumah itu.


Oh, sama... Ibu juga sering melakukan hal itu... batin Tiara. menaruh kunci di bawah pot.


Setelah membuka pintu, Galih dan Tiara melangkah masuk ke dalam rumah.


"Aduhh... Gal bisa tolong nyalakan kipasnya?" pinta Tiara tanpa dosa sama sekali. Duduk di sofa dan membuat Galih yang masih berdiri menaikkan satu alisnya penuh keheranan.


"Aduuhh... gerah sekali..." keluh Tiara sambil mengibaskan buku yang ia temukan di sofa barusan.


"Ya! sejak kapan lo berani memerintahku?" protes Galih.


Tiara benar-benar semakin berani setiap harinya.


"Tidak, gue tidak memerintah... gue hanya meminta tolong, tolong hidupkan kipasnya Gal... gue gerah..." ralat Tiara.


Apa bedanya memerintah dan meminta tolong? sama saja bukan? gerutu Galih dalam hati.


Tapi tetap saja mengikuti keinginan Tiara. menghidupkan kipas untuk sedikit menyejukkan ruang tamu itu.


"Mau minum?" Galih kembali bersuara.


"Tidak," tolak Tiara.


Hingga pada akhirnya Galih memutuskan untuk masuk ke dalam dapur mengambil minum untuk dirinya sendiri. tanpa memperdulikan Tiara sedikitpun. Dan kembali membawa segelas minuman berwarna cokelat dengan bongkahan es di dalamnya dan butiran-butiran berwarna cokelat tua di dasar gelas.


Ya... minuman yang baru di gemari anak-anak muda.


Galih sengaja menyeruput minumannya di depan Tiara. jakun di tenggorokannya naik turun seirama dengan tegukan minuman yang mulai turun di dalam perut.


Tiara mengamati hal itu dengan saksama. entah kenapa Visual Galih selalu saja membuat dirinya lupa daratan.


Hingga, Glekk...


Tiara menelan ludahnya sendiri. Melihat cara minum Galih benar-benar menggiurkan.


"Kenapa?" tanya Galih. walaupun ia sudah tau kalau Tiara menginginkan minumannya itu.


"Tidak," elak Tiara. memalukan bukan kalau dia sampai jujur dan mengatakan tergiur dengan minuman Galih? akan jatuh harga dirinya nanti.


Tiara memutuskan untuk mengedarkan pandangannya ke arah lain, asal tidak menatap Galih.


Tapi tidak berhenti sampai disitu saja, Galih bahkan bersuara ketika menikmati minuman berwarna cokelat itu.


"Aagghh... kenapa segar sekali sih..." ucapnya masih dengan melihat punggung Tiara. bahkan tanpa disadari, bibir pria itu tersungging senyum penuh ejekan.


"Ra, yakin lo tak mau?" goda Galih lagi.

__ADS_1


andai Ia tau, ucapannya itu benar-benar membuat pikiran Tiara jungkir balik. bahkan sampai mengubah posisi duduknya beberapa kali. ingin sekali rasanya Tiara merampas minuman Galih dan menikmatinya sendiri.


Galih ingat, terakhir kali ia mengamati Tiara yang selalu membawa minuman itu ketika pulang kuliah. dan Galih yakin kalau minuman seperti yang ia nikmati saat ini adalah minuman kesukaan Tiara.


Hingga tak butuh waktu lama, pertahanan Tiara runtuh juga. Ia tak bisa menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa menikmati segelas Es boba kesukaannya.


"Mau..." ucap Tiara dengan tampang lucunya. hingga membuat Galih membatu dengan bola mata yang membulat sempurna.


Tatapan tak lepas mengamati sosok Tiara yang justru terlihat cantik dan menggemaskan.


Masih terkejut, Galih bahkan tak menyadari kalau gelas boba itu telah berpindah tangan. Tiara tanpa ragu menyeruput minuman itu dari sedotan sama dengan yang Galih gunakan tadi. Ya... berbagi sedotan.


Toh kenapa heran? bukankah mereka seringkali berciuman bukan?.


"Hmmm... manisnya..." ucap Tiara kegirangan. Minuman Boba adalah minuman terenak yang pernah Tiara nikmati dan akan jadi minuman yang ia sukai sampai kapanpun. bahkan sampai tak Viral lagi.


"Manis?" tanya Galih.


Tiara mengangguk,"Iya... manis...".


"Masak sih...". ucapan Galih malah membuat Tiara penasaran. Mereka minum di gelas yang sama, minuman yang sama tapi Galih berbeda pendapat dengan Tiara.


Bukan karena selera, tapi karena akal-akalan Galih yang berbohong untuk maksud tersendiri.


"Iya manis... nih coba lagi," Tiara menyodorkan gelas ke arah Galih. berharap pria itu kembali merasai minuman yang memang terasa manis tersebut.


Tanpa menolak, Galih kembali menyeruput minuman itu. dan masih tetap sama, berbohong tentang rasanya.


"Tidak... hanya menyegarkan saja... tidak manis..." elakknya.


Hah? Apa dia mati rasa? minuman semanis ini di bilang tidak manis? batin Tiara.


Bahkan kembali merasai minuman itu. mungkin saja lidahnya yang salah. tapi beberapa kali mengecap rasa minuman itu, masih sama. Manis dan menyegarkan.


"Lidah lo kali yang bermasalah..." protes Tiara.


"Masak sih? gue baik-baik saja...".


"Tapi ini sangat manis Gal... mana bisa berubah?" tanya Tiara nyolot.


Galih kembali merampas gelas Tiara. dan dikiranya hendak meminum lagi, toai perkiraan Tiara salah.


Karena setelah meletakkan gelas itu, Galih mendekatinya.


"Biar gue coba," ucap pria itu tanpa duga dan merengkuh tubuh Tiara dan menciumnya. membuat Tiara membulatkna mata karena tindakan Galih yang di luar perkiraannya sama sekali.


Bibir keduanya bertaut cukup lama. Bahkan Galih dengan beraninya memposisikan tubuh Tiara terbaring di sofa dan menindihnya.


"Iya, kenapa di mulut lo jadi manis ya..." guraunya di sela-sela kegiatan mereka.


"Alah... alasan lo!" umpat Tiara. benar kan dugaannya kalau itu hanya akal-akalan Galih saja yang ingin sesuatu darinya.


"Baiklah kalau yang ini bukan alasan lagi," ucap Galih dan kembali menikmati apa yang ia inginkan. Apalagi rumah orang tuanya sangat mendukung karena tidak ada siapapun di dalam sana. Jadi Galih akan leluasa mencium Tiara selama yang ia mau.


Andai gue bisa berani untuk bilang, gue suka sama Lo Tiara...


***


Cut!

__ADS_1


hahaha... mon maap pemirsah...


__ADS_2