
HAPPY READING...
***
Arjun dan Akira sama-sama menampakkan wajah syok setelah menatap balkon lain dari kamar yang berada di kanan kamar yang mereka tempati.
Bahkan mulut mereka sama-sama terbuka, jika ada lalat tentu saja akan mudah masuk begitu saja.
Selagi Arjun dan Akira terkejut, beda lagi dengan pria yang berada sendirian di balkon lain. Terlihat memperlihatkan deretan giginya sambil melambaikan tangan seperti seorang artis yang di kerumunan penggemar.
"Hai..." sapanya pada pasangan Arjun dan Akira.
Walaupun Dion tau kalau Arjun dan Akira tak akan suka dengan sapaannya barusan.
Mungkin saja Arjun malah akan melempar batu ke wajah Dion karena kesal.
"Hahaha... kenapa melongo begitu?" sindir Dion masih dengan ponsel yang menempel di telinganya. Tapi pandangannya terus mengamati Arjun secara langsung.
Dasar! temen gak punya akhlak! umpat Arjun.
Kesal sekali dia dengan sikap Dion yang kadang membuat darahnya mendidih.
Seperti inilah sifat Dion, selalu mengerjai Arjun ataupun Galih.
"Lo mau mati ya!" umpat Arjun. Sedangkan Akira masih menampakkan wajah bingungnya.
Dion kan? kenapa ada disana?
Tentu saja Akira bingung dengan keberadaan pria itu, apalagi di Hotel yang sama dengan tempatnya menginap.
"Hahaha..." Dion masih tertawa cekikikan dengan tanggapan Arjun.
Padahal ia sengaja kesini untuk melihat Arjun. Lebih tepatnya mengganggu acara bulan madu sahabatnya.
Bagaimana Dion tau? tentu saja pria itu tau. Ayahnya Dion adalah salah satu Kolega Papi Johan. Dan pada saat rapat kemarin lusa, Papi Johan tidak sengaja memberitahu dimana anak dan menantunya berada saat itu.
Tanpa pikiran panjang, Dion langsung terbang ke London sehari sebelum Arjun tiba.
Licik memang, tapi begitulah sifat Dion.
"Keluar Lo!" perintah Arjun.
"Oke," jawab Dion yakin.
Arjun mulai meninggalkan balkon, membuat Akira mencegah suaminya sambil memegang tangan Arjun.
"Sayang... mau kemana?" tanyanya penuh kebingungan.
"Aku akan menemuinya dulu..." ucap Arjun menjelaskan.
Aku ikut... begitu sorot mata yang ditunjukkan Akira pada Arjun.
"Tunggu disini, tidak akan lama kok... lagian hanya ada kita bertiga dengan Galih, jadi kamu di sini saja ya..." pinta Arjun. Mana sudi dia membawa istrinya menemui Dion.
Ya walaupun mereka bersahabat, tapi Arjun harus tetap waspada bukan? Secara Dion adalah pria genit bermulut manis.
Arjun tidak rela kalau Akira sampai di tatap Dion nantinya.
"Jangan lama!" perintah Akira. Akan sangat membosankan jika ia duduk di dalam kamar seorang diri tanpa Arjun.
"Siap..." jawab Arjun dan mengecup singkat bibir istrinya sebelum meninggalkan kamar mereka.
Tepat setelah menutup pintu kamarnya, sosok Dion juga bersamaan keluar dari kamar. Senyum jenaka jelas terlihat sepanjang langkah kakinya mendekati Arjun.
Membuat yang di tatap ingin sekali mencekik lehernya.
Walaupun belum melakukan apapun, Arjun yakin kalau besok ia akan mendapat gangguan dari Dion.
__ADS_1
"Surprise..." ucap Dion setelah dekat dengan Arjun. Menepuk bahu sahabatnya tanpa ragu sama sekali.
"Ck, b*ngke Lo..." umpat Arjun.
"Apa Galih tau?" tanya Arjun penasaran.
Kalau Galih memang tau, Arjun akan merasa lebih kesal lagi nanti.
"Tidak," jawab Dion yakin.
Ia tidak memberitahu siapapun tentang kedatangannya ke London.
Jangankan untuk memberitahu Galih, Dion saja tidak memberitahu orangtuanya. Lebih tepatnya kabur dari mereka.
"Pasti ada sesuatu kan?" tanya Arjun. Karena Dion memang kerap kali kabur ke luar negeri jika bermasalah dengan orangtuanya.
"Hahaha... rau aja Lo!" jawab Dion. Percuma saja ia berpura-pura di depan Arjun. Nyatanya Arjun terlalu peka melihat semuanya.
"Ayo samperin si monyet..." ajaknya.
Arjun dan Dion benar-benar menuju ke kamar Galih. Mengganggu pria yang hendak segera tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Bukan hanya Arjun saja yang terkejut dengan kedatangan Dion di sini, Galih pun sama.
Dan sekarang di kamar Galih inilah tiga sekawan itu berada. Mengobrol dan bercerita tentang banyak hal.
"Jadi lo disini berapa hari?" pertanyaan itu di lontarkan Galih untuk Dion.
Karena sesuai jadwal Perjalanan Arjun dan Akira, mereka hanya disini selama 4 hari dan akan kembali ke tanah air.
"Gue pulang kalau kalian juga pulang," jawab Dion dan kembali menghisap rokok yang terselip di jarinya.
"Ngapain ikut-ikut gue?" tanya Arjun nyolot. Akan sangat mengganggu kalau ada Dion di liburannya dengan Akira.
"Lagian mau sampai kapan Lo kabur seperti ini?" omel Arjun.
Membuat Dion dan Galih hanya bisa menggelengkan kepala.
Dion merasa kesal sendiri karena sudah setahun belakangan Papanya selalu menjodohkannya dengan putri teman beliau.
Dan setiap kali mengadakan kencan buta, Dion sengaja kabur tanpa menemui sangat wanita terlebih dahulu.
Seperti sekarang, besok ada acara pertemuan dengan teman Papanya Dion. Karena itulah Dion melarikan diri ke London lebih dulu.
"Kalian tau bukan, gadis-gadis yang terlahir dari keluarga konglomerat itu bersikap manja dan terlalu bergantung pada harta orangtuanya..." ucap Dion.
Ia tidak mau memiliki calon istri yang seperti itu.
Tidak bisa bersikap dewasa dan pada akhirnya akan selalu melibatkan orang tua dalam setiap masalah.
Dion tak mau hal seperti itu. Melibatkan orang tua dalam setiap masalah terlihat kekanakan.
"Betul tuh," tambah Arjun membenarkan.
Ia juga pernah menjalin hubungan dengan anak konglomerat, dan hubungan itu tidak berjalan lancar karena Arjun merasa selalu diatur. Apalagi gadisnya juga selalu menghamburkan uang setiap kesempatan.
"Gue hanya ingin gadis yang mandiri, dewasa dan tidak manja... pintar bela diri," jawab Dion menjelaskan bagaimana kriteria wanita idamannya.
Pintar bela diri? batin Galih sedikit terkejut dengan kriteria aneh dari sahabatnya.
"Tukang pukul maksud Lo?" tanya Arjun. Dan langsung membuat semuanya tertawa keras. Bahkan Galih sampai memukul-mukul paha Dion saking gelinya.
"Hahaha... ya gak gitu juga nyet... maksudnya yang bisa melindungi dirinya lah..." ralat Dion.
Karena Dion lebih terobsesi dengan wanita yang terlihat tegas, berani di depan umum.
Bukan seperti gadis dari keluarga kaya yang manja dan terlihat lemah.
__ADS_1
"Jangan terlalu ketinggian deh kalau cari kriteria..." omel Galih.
Mana ada gadis yang bisa bela diri. Karena menurut Galih, semua gadis di dunia memang terlahir dengan sifat lemah lembut.
Sudah sepantasnya seorang pria yang melindungi gadisnya.
"Lo mana tau," cerca Dion.
Ck... mana paham dia tentang semua gadis... dia aja belum bisa move on dari Alya...
"Jadi besok mau pergi kemana kalian?" tanya Dion mengalihkan topik pembicaraan.
Tentu saja ucapannya itu membuat Arjun menaikkan satu alisnya. Ia mencium bau-bau mencurigakan dari Dion.
"Mau apa? lo tidak berniat mengikutiku kan?" tuduh Arjun. Karena cuma itu alasan yang mendasar.
"Hehehe..." Dion hanya tertawa kaku.
Ck... sudah gue duga! batin Galih.
"Gue mau kok jadi bodyguard kalian..." pinta Dion mengiba.
"sudah ada 4 orang ditambah Galih, jadi ada 5 orang... dan -," belum sempat Arjun menyelesaikan ucapannya, Dion lebih dulu menyela.
"Oke, gue yang ke-6,"
Membuat Galih hanya tersenyum sedangkan Arjun melongo tak percaya.
Tangannya mengepal erat karena kesal.
Apalagi saat hendak memarahi Dion, pintu kamar itu di ketuk dari luar. kata yang sempat terangkai dalam kepala Arjun kembali pudar.
"Siapa sih?" gumam Galih dan langsung berjalan menuju ke pintu untuk melihat siapa yang baru saja mengetuk pintu.
"Akira?" ucap Galih terkejut. Ternyata yang datang adalah istri Arjun.
"Apa Arjun di dalam?" tanya Akira tapi memaksa kepalanya masuk untuk melihat ke dalam kamar itu.
"Jun, dicari istri Lo..." teriak Galih memberitahu.
Arjun mengepalkan tangan dan memukul udara di sekitarnya. Aggh... kenapa waktunya tidak tepat sih...
Padahal masih ada urusan yang harus Arjun selesaikan saat ini.
Tapi nyatanya sudah ada panggilan dari Ibu Negara untuk segera kembali ke kamar.
"Have fun Nyet..." ucap Dion dengan senyum penuh ejekan.
br*ngsek! umpat Arjun dalam hati dan langsung berjalan menuju ke arah pintu.
"Iya sayang..." ucap Arjun ketika sampai di pintu dan melihat istrinya.
"Cepetan kembali," ucap Galih sambil cekikikan.
Membuat Arjun ngedumel kesal.
Dengan sangat perhatian, Arjun merangkul pinggang istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar mereka.
"Lama sekali sih..." omel Akira.
"Kamu tidak sabar ya..." goda Arjun.
Dan tentu saja membuat Akira malu. Padahal ia hanya tidak bisa tidur tanpa adanya Arjun di sampingnya.
Karena tidur sambil di peluk suami benar-benar membuat Akira merasa nyaman.
***
__ADS_1
**Hahaha... benar kan kalau Dion akan ngrecokin liburan Arjun dan Akira...
Dukung terus cerita ini ya... dan bagikan ke teman" kalian biar makin banyak yang baca... luv kalian**...