Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
164. Mencari Restu.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mobil Dion melaju membelah jalanan desa saat sore hari.


Dengan Agus yang menjadi supir, Dion dan Gadis duduk di bangku tengah sambil sibuk dengan urusannya masing-masing.


Dion terlihat asyik dengan ponselnya sedangkan Gadis terlihat beberapa kali mengamati beberapa Paperbag yang dibawa.


Seharian Gadis ikut dengan Dion menuju ke kota. Melihat bagaimana Dion mengurus usaha Rental Mobil yang sekarang sudah lebih besar dari sebelumnya.


Setelah mendapat tambahan dana dari sahabat yang, Dion mulai menambah unit Mobil di usahanya.


Karena semakin banyak mobil yang tersedia, tentu akan menarik pelanggan juga.


Itulah kehebatan Dion.


Setidaknya ia tidak akan menjadi pengangguran setelah keluar dari rumah.


Dan inilah Dion yang sebenarnya. Bangkit dengan keringatnya sendiri.


Dion sengaja mengajak Gadis ke kota untuk menjadi rekan bicara. Karena jika hanya berbicara dengan Agus, Dion merasa jenuh.


Anak buahnya itu sama sekali tidak seru di ajak bicara.


Hingga mobil mereka telah tiba di pelajaran rumah keluarga Gadis. Sebenarnya Dion akan langsung pulang setelah menurunkan Gadis, tapi ternyata di teras rumah itu sudah berdiri Bapaknya Gadis seperti sengaja menunggu kepulangan mereka.


Membuat Dion sedikit menelan ludah, Gleekk... apa Bapaknya Gadis marah? batinnya menerka-nerka.


"Lo ikut turun kan?" tanya Gadis kepada Dion.


Membuat Dion terpaksa mengangguk mengiyakan.


Karena akan lebih tidak sopan lagi kalau Dion berkata tidak.


Dion turun bersamaan dengan Gadis, sedangkan Agus sengaja menunggu di dalam mobil saja. Sial! kenapa hanya gue yang turun... sesal Dion sedikit takut.


"Bapak..." ucap Gadis ketika mendekati Bapaknya. Sedangkan Dion langsung menjabat tangan pria penuh wibawa di depan sana.


"Nak Dion, saya ingin bicara sebentar. Bisa?" tanya Bapaknya Gadis tanpa basa-basi.


Tanya apa? memang salah gue apa?" batin Dion bertanya-tanya.


Sedangkan kepalanya langsung mengangguk setuju dengan keringat dingin yang seperti jatuh di punggungnya karena gugup.


"Bapak..." rengek Gadis keberatan dengan rencana bapaknya yang entah ingin bicara apa dengan Dion.


Gadis takut kalau bapaknya bicara macam-macam.


Tapi Kepala Desa itu tak bergeming dengan rengekan putrinya.


Sekarang Dion duduk bersama dengan Kepala Desa tersebut. Sedangkan Gadis masih berdiri mengamati keduanya. Hingga, "Gadis... ambilkan minum untuk nak Dion..." perintah Bapak kepada putrinya.


Tidak baik membiarkan tamunya tidak minum atau menikmati suguhan apapun.


"Gadis... dengar bapak kan?" tanya Bapak karena Gadis tidak bergeming sama sekali.


"Iya Pak..." jawab Gadis mengalah dan langsung masuk ke dalam rumah untuk membuat minuman.

__ADS_1


Sedangkan Dion mengamati kepergian Gadis hingga punggung wanita itu menghilang.


"Bagaimana usahamu nak?" tanya kepala desa itu basa-basi.


Sebenarnya canggung untuk ngobrol bersama Bapak, tapi Dion bisa apa. Kabur? ck... sepertinya tidak mungkin pria itu melakukannya.


"Sudah lumayan baik Pak," jawabnya.


"Ya... setiap usaha tidak akan mengkhianati hasil..." ucap Kepala Desa itu sangat bijak.


Karena sekeras usaha kita, itulah yang akan kita tuai pada akhirnya.


Membuat Dion mengangguk setuju. Hidup jauh dadi orang tua benar-benar membuat dirinya percaya dan bekerja keras untuk mencapai impiannya.


"Apa kamu menyukai putri Bapak?" tanya Bapak kepada Dion. Membuat yang ditanya langsung menampakkan wajah syok sekaligus terkejut.


Memang siapa yang tidak terkejut jika ditanya seperti itu? mungkin hanya orang mati saja yang tidak terkejut.


Sejak pertama kali melihat Gadis... dia manh tipe wanita yang gue sukai... batin Dion.


Gadis adalah wanita mandiri dan apa adanya. Walaupun terlahir dari keluarga cukup berada, sama sekali tidak membuat Gadis bersikap manja.


Ia seringkali membantu sangat ibu mengantarkan makanan untuk buruh di sawah.


Juga membantu menanam padi bersama Dion waktu itu.


Gadis, tidak pernah terlihat glamor seperti wanita lain pada umumnya. Tak pernah menunjukkan kemewahan ataupun harta orang tuanya. Itulah yang membuat Dion amat kagum.


"Bapak tau apa yang ada di pikiranmu saat ini..." ucap Bapak. Membuat lamunan Dion buyar sudah.


Hah? apa Bapak juga tau pikiranku menilai tubuh Gadis? batin Dion tersentak. Karena tadi ia juga seperti mendeskripsikan bagaimana lekuk tubuh Gadis.


"Maksudnya bagaimana Pak?" tanya Dion tak paham.


Apa yang membuat beda Desa dengan kota? penduduknya? atau kebiasaannya?


"Begini... mungkin warga kota tidak akan pernah mencampuri urusan orang lain. Mereka hidup dan hanya peduli tentang dirinya sendiri. Beda dengan masyarakat desa... semua tingkah laku kita, sifat, bahkan kebiasaan kita tak bisa lepas dari pandangan semua orang..." ucap Bapak menjelaskan. Tapi malah semakin membuat Dion tidak paham dan terlihat berbelit-belit.


"Contohnya seperti tadi, Nak Dion pergi bersama dengan Gadis. Di kota mungkin tidak akan ada yang peduli... mereka membiarkan hal itu karena dirasa lumrah. Tapi... beda dengan warga desa... Mereka tentu saja membicarakan kalian. Apalagi Gadis adalah anak orang yang dituakan di Desa ini... mereka akan mempertanyakan sikap Gadis yang pergi berduaan bersama dengan pria lain..." tambah Bapak.


"Bapak... kenapa Bapak bicara seperti itu, lagian Gadis tidak ngapa-ngapain kok..." sela Gadis yang tiba-tiba datang sambil membawa 2 gelas berisi teh hangat untuk Bapak dan Dion.


"Biarkan mereka membicarakan Gadis sesukanya... yang penting Gadis tidak berbuat salah...".


Inilah yang membuat Gadis selalu kesal tinggal di desa dimana orang-orang yang terlalu memiliki pemikiran aneh.


"Gadis... kamu tidak bisa seenaknya seperti itu... justru malah bagus mereka mengingatkan mu, karena tidak baik terlihat pergi dengan pria yang bahkan belum terikat hubungan denganmu..." bantah Bapak. Sedangkan Dion hanya diam sambil memikirkan sesuatu.


Beda tempat beda juga kebiasaan. Dan tempat Dion tinggal sekarang memang desa yang berbeda dengan kota.


"Maafkan Dion Pak..." ucap Dion pada akhirnya. Benar juga, membawa Gadis seenaknya sendiri memang membuat citra Bapaknya yang seorang Kepala Desa mulai di pertanyakan.


Bagaimana beliau bisa mengatur warganya jika putrinya saja berperilaku seperti itu?


"Bapak cuma ingin bertanya pada kalian..." ucap Bapak membuat Dion dan Gadis serius menatap Beliau.


"Kalian saling tertarik?".


Dion seketika memandang Gadis. Sejenak tatapan mereka bertemu di satu garis lurus membuat rasa aneh di dada mereka.

__ADS_1


"Dion? Gadis?" panggil Bapak hingga membuat keduanya kembali terjingkat.


"Jika kalian saling suka, ini pesan untuk Nak Dion... segera bawa orang tua Nak Dion menemui kami... ucap Bapak telak.


Membuat Gadis membulatkan mata sedangkan Dion berubah pias.


"Bapak..." rengel Gadis. Bukankah ini terlalu terburu-buru.


Mereka bahkan baru mengenal beberapa bulan terakhir. Lalu untuk apa orang tua Dion datang kesini? melamar? sungguh terlalu cepat.


"Gadis... kamu itu sudah cukup umur... sudah saatnya kamu menikah..." ucap Bapak.


Karena usia Gadis akan menginjak angka 26 tahun. Dan usia seperti itu di desa sudah pantas menikah dan mempunyai anak.


Kalau tidak, Orang-orang akan membicarakan Gadis. Mengatasinya tidak laku berumah tangga. Dan siapa lagi yang malu akan hal itu selain keluarga Gadis.


"Tapi Pak..." rengek Gadis.


Ia belum siap menikah.


"Kamu keberatan nak Dion?" tanya Bapak meyakinkan. Karena Dion terlihat sedih mendengar ucapannya tadi.


"Begini Pak... Dion memang suka dengan Gadis... tapi, -"


Dion tak bisa mengatakan kalau dirinya tengah bermasalah dengan orang tuanya.


Lalu bagaimana bisa Dion membawa orang tuanya datang kesini untuk melamar Gadis sedangkan Dion sudah tak di anggap anak oleh orang tuanya.


Ia seperti hidup sebatang kara walaupun memiliki orang tua yang masih lengkap.


"Pikirkan lah dulu... Bapak tidak memaksa...",


Dan pada akhirnya Dion pamit pulang. Tanpa mencicipi minuman buatan Gadis tadi.


Setelah kepergian Dion, Bapak dan Gadis masih duduk berdua di teras.


"Bapak... kenapa bapak melakukan itu?" tanya Gadis kesal.


Terlalu terburu-buru tindakan Bapak dengan meminta kedatangan orang tua Dion.


"Kenapa? orang tuanya juga harus tau tentang hal ini... Bapak tidak bisa membiarkan putri Bapak menjadi bahan omongan orang-orang desa...".


"Tapi Pak..." rengek Gadis.


"Alasan Dion datang kesini karena kabur... dia tak mau di jodohkan orang tuanya... dan sekarang Hubungannya dengan orangtuanya renggang..." adu Gadis. Itulah yang di katakan Dion beberapa hari yang lalu.


Dion bercerita kepada Gadis alasannya pergi ke desa ini dan membangun bisnis seorang diri.


Gadis juga sedikit sedih mendengar bagaimana Dion di usir dari rumahnya. Meninggalkan Ibu yang amat di hormati nya.


"Bapak... Dion itu kasihan Pak..." rengek Gadis.


"Sudah waktunya baginya untuk kembali menemui orang tuanya bukan?" ucap Bapak masih dengan pemikirannya sendiri.


Karena tidak ada anak yang bisa hidup sendirian tanpa orang tua di sampingnya.


"Kalau kamu suka dengan Dion, bantu dia mendapatkan restu dari orang tuanya..."tambah Bapak.


***

__ADS_1


__ADS_2