
HAPPY READING...
***
Setelah berada di udara selama hampir 15 jam lamanya, Akhirnya rombongan Arjun tiba juga di salah satu negara yang ada di Benua Eropa.
Negara yang terdapat banyak sekali kincir angin, Ya... Belanda.
Disini lah Negara pertama yang mereka datangi.
Karena perjalanan yang sangat jauh juga melelahkan, saat tiba di kamar hotel Akira langsung ambruk di ranjang.
Membuat Arjun yang berjalan di belakangnya hanya tersenyum lucu.
Akira terlihat sangat lelah... batinnya.
"Kamar gue tepat di depan kamar kalian, semoga Lo tidak keluar kamar malam ini..." ucap Galih berada di ambang pintu memperingati Arjun.
"Ck," sedangkan Arjun hanya berdecak. Ia sangat tau bagaimana sifat sahabatnya tersebut.
Lagian siapa juga yang akan keluar malam-malam seperti sekarang.
Enak tidur sambil memeluk istriku kan? daripada kelayapan... batin Arjun.
"Selamat malam tuan muda," itulah kata terakhir dari pelayan dan anak buah sebelum akhirnya Arjun menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
Sebelum pergi tidur mengistirahatkan tubuhnya, Arjun lebih dulu ke kamar mandi. Membersihkan wajahnya agar tidak menimbulkan jerawat sedikitpun.
Inilah yang membedakan dirinya dengan pria lain. Arjun memang terbilang cowok yang amat menjaga kulitnya. Karena menurutnya wajah yang ia miliki adalah aset terpenting selama ini.
Jadi Arjun harus menjaga hal itu, menjaga ketampanannya sampai kapanpun.
"Aggh, nyamannya..." Arjun membanting tubuhnya di atas ranjang cukup keras. Hingga membuat tubuh Akira sedikit melayang ke udara dan kembali terhempas di kasur.
Tidak ada yang terjadi di antara mereka. Karena tubuh dan jiwa mereka benar-benar sangat lelah dan perlu segera di istirahatkan.
Mengingat besok pagi, akan jadi hari pertama bagi Akira menikmati suasana negara yang berbeda dari yang selama ini ia nikmati di negaranya.
***
Pagi hari.
Akira masih menggeliat di atas ranjang. Sesekali kakinya bergerak menendang sesuatu yang amat membuatnya tak nyaman. Tentu saja kaki Arjun yang sedang mengunci kakinya hingga membuta Akira kesulitan untuk merubah posisi tidurnya.
Jam berapa sekarang? batinnya antara sadar dan tidak sadar.
Apalagi suhu kamar yang di tempati nya ini terbilang cukup sejuk. Hingga tanpa sadar Akira semakin menaikkan selimutnya sampai sebatas leher.
"Sayang... bisa matikan pendingin ruangannya?" pinta Akira masih dengan mata yang terpejam.
"Sudah mati," jawab Arjun dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Masak sih? kenapa masih terasa dingin," gerutu Akira tak mempercayai ucapan dari Arjun. Karena biasanya pria itu selalu berbohong tentang semua hal.
Seperti halnya beberapa hari terakhir.
Saat Akira meminta untuk menghidupkan pendingin ruangan di kamar mereka, Arjun hanya berkata iya. Pada kenyataannya pria itu tetap asyik tidur tanpa mendengarkan perintah istrinya.
Bisa di katakan kalau Arjun dan Akira sangat berbeda dalam segala hal. Mereka seperti sebuah sisi koin yang berlawanan. Tapi entah kenapa Tuhan sampai bisa mempersatukan keduanya dalam sebuah pernikahan.
Walaupun Arjun dan Akira tetap saja sering kali berdebat untuk sesuatu yang bahkan terlihat tidak penting.
Tapi hubungan mereka benar-benar dalam, bertengkar hanya sebentar lalu akur kembali.
__ADS_1
"Sayang, kenapa masih dingin sih..." keluh Akira bahkan merengek seperti seorang anak kecil.
Sedangkan Arjun tak menjawab pertanyaan gadis itu sama sekali.
"Sayang..." rengek Akira lebih dari yang tadi.
"Sini-sini aku peluk, biar hangat..." Arjun kembali merengkuh tubuh istrinya dalam pelukannya. Seperti sedang memeluk sebuah guling.
"Agghh... aku tidak bisa bernafas..." bahkan di peluk oleh Arjun saja membuat Akira kembali melayangkan protes.
Nih orang maunya apa sih? membuat Arjun kebingungan.
Katanya dingin, saat di peluk malah protes.
Akira memutuskan untuk bangkit, memaksa matanya untuk terbuka. Toh percuma saja melanjutkan tidurnya.
Akira menampakkan kakinya di lantai kamar hotel.
Melangkah menuju ke tirai jendela yang masih tertutup rapat sejak semalam.
"Wooamm..." Akira masih menguap sambil tangannya terulur menyibak tirai untuk melihat pemandangan di depan sana.
Seketika matanya membulat sempurna. Hah? apa ini?
Akira masih melongo melihat semuanya. Pandangan yang sangat berbeda dengan yang selama ini ia lihat di negaranya. Lebih tepatnya pemandangan yang terlihat setiap hari ketika Akira bangun tidur.
"Sayang!" teriaknya spontan.
Masih terus menatap pemandangan di depan sana, "Sayang... kemarilah..." teriak Akira.
Hingga membuat Arjun yang sedang asyik di ranjang terperanjat kaget.
Berjalan mendekati istrinya karena khawatir.
"Lihatlah!" tunjuk Akira.
Aaa... cantik sekali... kenapa ada pemandangan indah di dunia ini yang belum pernah aku lihat sebelumnya?
Aku menyukainya...
Arjun langsung mengucek matanya bersamaan dan melihat kemana arah jari telunjuk istrinya mengarah.
"Indah kan?"
"Oh itu... kirain apa," sesal Arjun. Karena kehebohan Akira hanya karena melihat bunga yang tumbuh di sekitaran taman Hotel tempatnya menginap.
"Cantik sekali ya..." puji Akira.
Seperti nya aku akan betah berada di sini walaupun suhu udaranya sedikit lebih dingin dari tanah airku... batinnya.
"Tujuan kita ke sini lebih dulu memang karena itu," ucap Arjun.
Bukan tanpa sebab ia memasukkan Belanda sebagai negara pertama yang ia kunjungi dengan istrinya.
Aku ingin kamu melihat bagaimana bunga Tulip kembang, sebelum akhirnya mekar sepenuhnya...
Aku ingin membuatmu melihat dunia yang bahkan belum pernah kamu lihat sebelumnya...
Akira... Aku mencintaimu... sangat mencintaimu... batin Arjun.
Saat ini Belanda sedang memasuki musim semi. Dan pada musim ini, bunga Tulip mulai berbunga dan belum sepenuhnya mekar.
Selain sebagai Negara dengan banyak kincir angin, Belanda juga terkenal dengan hamparan bunga Tulip yang amat indah di pandang siapa saja.
__ADS_1
"Melihat bunga Tulip," tambah Arjun dan kembali menuju ke tempat tidur.
"Benarkah? ayo kita lihat," ucap Akira mengikuti langkah Arjun sambil bergelayut manja di lengan suaminya.
"Ayo kita lihat sekarang," pinta Akira lebih manja dari biasanya.
"Lihatlah dirimu, kamu mau pergi dengan muka bantal seperti ini?" tunjuk Arjun pada wajah istrinya.
Mereka juga belum membersihkan diri sejak tiba semalam.
Dan hal itu sama sekali membuat Arjun tak nyaman.
"Baiklah, aku mandi dulu..." ucap Akira dan hendak meninggalkan Arjun. Tapi segera di cegah pria itu.
"Eits, mau kemana?" tanya Arjun dengan seringai yang menggoda.
"Mandi,"
"Kamu tidak ingin mengajak suamimu?" tanya Arjun.
"Sayang... aku-" Akira mencoba untuk melayangkan protes tapi di sela oleh Arjun.
"Kamu sudah memaksaku untuk bangun, setidaknya bantu aku mandi sebagai ganti rugi nya..." ucap Arjun masih menampakkan wajah yang membuat Akira bergidik ngeri.
"Apa? sayang... kenapa begitu?" protes Akira.
Ia tau kalau ini adalah alasan yang di buat Arjun saja.
"Tidak mau ya sudah, aku akan kembali tidur..." ucap Arjun.
"Baiklah-baiklah..." ucap Akira mengalah.
Karena jika suaminya kembali tidur, kesempatan bagi Akira untuk menikmati indahnya Negara ini akan sia-sia saja. Dan mungkin saja ia akan berada di dalam kamar ini seharian atau mungkin sampai besok.
"Ayo... sabuni sampai bersih," pinta Arjun tidak tau diri.
Sedangkan Akira hanya mengangguk walaupun mulutnya terlihat mengerucut sebal.
Karena Akira tau kalau suaminya sedang merencanakan sesuatu di dalam kamar mandi. itu. Perasaan ku tak enak... batin Akira.
Dan ternyata memang benar, di dalam sana Arjun benar-benar membuat Akira lebih lama berada di dalam kamar mandi.
Menciptakan suara decak riak air yang menggema memenuhi seluruh sudut ruangan itu.
Mandi yang biasanya hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit berubah sampai hampir 1 jam lamanya.
Tanpa mereka sadari, di depan pintu kamar Arjun dan Akira ada banyak sepasang kaki berdiri menunggu pemilik kamar itu membuka kan pintu.
Di tambah dengan Galih yang beberapa kali mengumpat karena udah 1 jam lebih ia menunggu Arjun dan Akira, perutnya juga sudah keroncongan tapi nyatanya yang di tunggu tak juga keluar.
Agghh, gue bisa amati kelaparan disini...
"Lagian apa sih yang mereka lakukan?" gerutu Galih tanpa sadar membuat anak buah di sampingnya menengok sambil menyunggingkan senyum aneh.
Dan Galih langsung melempar pandangannya ke arah lain, Sial! kenapa gue harus penasaran seperti itu sih... tentu saja ada sesuatu yang mereka lakukan, T*i!
***
Hahaha... Kenapa dirinya bodoh sekali sih Galih! sampai tanya apa yang Arjun dan Akira lakukan...
Emangnya dirimu, yang notabene seorang Jomblo?? xixixi....
TINGGALKAN JEJAK LIKE, DAN KOMENTAR YA GAIS...
__ADS_1