
HAPPY READING...
***
Malam telah tiba. sinar matahari telah digantikan oleh rembulan dan taburan bintang di atas sana.
Sebuah jendela yang ada di salah satu kamar di lantai dua di biarkan terbuka. membuat tirai berwarna putih itu bergoyang-goyang bagaikan tarian indah.
"Aduh..." keluh seorang wanita yang tengah duduk di tepian ranjang sambil sesekali memijit kakinya.
dia adalah Gadis, wanita yang dipersunting Dion tadi siang.
Berdiri sepanjang acara dengan Heels yang tak biasa ia gunakan memanglah menyiksa. dan sekarang mulai terlihat bagaimana siksaan itu dimulai. Kaki Gadis benar-benar pegal dan sakit. ingin sekali ia menangis tapi malu. karena terlihat memalukan kalau dia menang ia hanya karena heels.
Sedangkan pria yang telah mengucap janji bersamanya sedang berada di dalam kamar mandi. entah apa yang Dion lakukan, karena sudah 1 jam berlalu tapi tak ada suara gemericik air yang menandakan ada aktifitas di dalam sana.
Apa dia pingsan? batin Gadis. Beberapa jam menikah, ia sudah mendapati kebiasaan aneh suaminya. salah satunya ya ini, berada di dalam kamar mandi dengan waktu yang lama.
Hingga setelah menit telah berganti, terdengar gemericik air bersamaan dengan Dion yang bersenandung. entah apa lagu yang Dion nyanyikan, Gadis tak begitu mendengarnya.
Ia hanya terfokus untuk memijit kakinya agar tak lagi kesakitan.
Ngomong-ngomong bukan hanya Dion dan Gadis saja yang tinggal di Vila ini. Di salah satu kamar di lantai yang sama, ada Arjun Akira adanya bayi mereka. suasana akamar terdengar sunyi yang menandakan mereka sudah tertidur.
Dan juga Mama, ibu dari Dion itu juga tidur di kamar yang ada di lantai 2. sedangkan di bawah sana, tak ada yang tau sedang terjadi apa. karena dua penghuni kamar di lantai dasar Vila itu masih malu-malu untuk mendeklarasikan diri sebagai sepasang kekasih.
Ya... siapa lagi kalua bukan Tiara dan Galih.
Cekrreeekk...
suara pintu terdengar. Dion terlihat keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di tubuh bagian bawahnya.
Bibir tipis pria itu masih terlihat sedang menyanyikan sebuah lagu bahkan sampai langkah kakinya sampai di depan Gadis. memgamati pergerakan tangan istrinya yang sibuk memijit, sesekali mengurut dengan arah acak.
"Ngapain?" tanya Dion sekedar basa-basi.
Membuat Gadis seketika menatapnya dengan horor.
Ya bagaimana lagi, tanpa bertanya pun seharusnya Dion tau apanyang sedang dikerjakan Gadis.
Buta!
"Apa lo tidak melihat kalau gue tengah memijit kaki?" ucap Gadis sewot.
Peka dikit napa sih...
"Sakit ya? padahal gue belum ngapa-ngapain loh..." jawab Dion melucu.
Belum di sentuh saja sudah membuat kaki Gadis sakit, bagaimana kalau mereka menjalani ritual pengantin baru? begitu pikirnya.
"Ck... kaki gue pegal gara-gara memakai heels seharian... pijitin napa sih daripada bikin emosi?".
"Oh..." Dion hanya ber oh ria. penjelasan Gadis.
Tanpa terduga Dion ikut duduk di tepi ranjang, "Apa bayarannya kalau gue selesai memijit?" godanya.
Apa? jangan bilang mau aneh-aneh ya... kita sudah membicarakan ini tadi! sorot mata Gadis bicara.
Ya ...tentang malam pertama, Gadis telah merengek sejak tadi. lebih tepatnya bernegosiasi dengan Dion untuk tidak melakukannya malam ini. dengan alasan mereka terlalu capek karena pesta dan akan mengganggu tenaganya.
"Ya udah kalau gak mau..." jawab Dion lemas dan bangkit dari duduknya menuju ke ruang ganti pakaian sedangkan Gadis mengamatinya sambil tersenyum geli.
Gadis kembali menerawang jauh. terbesit dalam ingatannya tentang ucapan sang mertua sore tadi.
"*Mama ingin disini melihat cucu Mama lahir...".
ucapan Mama seketika membuat Gadis dan Dion saling pandang.
bukan tak mau Mama tinggal bersama mereka, hanya saja Dion dan Gadis sedikit cugira tentang keputusan Mama yang terlihat tiba-tiba.
padahal terakhir kali mereka bertemu, Gadis jelas ingat bagaimana Mama menolak untuk tinggal di desa bersama Dion.
__ADS_1
"Mama tidak baik-baik saja*?" desak Dion.
"Apa salah jika Mama ingin tinggal dengan kalian?" goda Mama.
"Tidak Ma... Gadis justru senang..." jawab Gadis.
"Agghh..." Gadis menghela nafasnya. ia memikirkan pasti ada sesuatu hal yang terjadi pada Mama.
Atau mungkin Mama di usir? Gadis membulatkan mata, terkejut dengan praduga nya sendiri.
Hingga tak menyadari keberadaan Dion yang entah sejak kapan berdiri di depan meja rias sambil menatapnya heran.
"Ada lo sedang membayangkan hal jorok, istriku?" godanya.
Membuat Gadis sedikit tersentak dan melihat ke arah Dion.
"Iya kan? pasti lo sedang membayangkan ehem-ehem kan?" desak Dion sambil menampakkan wajah jenakanya.
sungguh hal itu membuat Gadis kesal. karena pada kenyataannya memang ia tak memikirkan hal yang Dion tuduhkan barusan.
Tanpa terduga sama sekali, Dion langsung ambruk. memaksa Gadis juga ikut rebahan di atas kasur.
"Lepas Yon..." ucap Gadis sambil berusaha lepas dari pelukan Dion.
"Yan Yon Yan Yon... memang gue siapanya lo?" protes Dion. mereka telah menikah tapi panggilan Gadis kepadanya masih tak berubah.
lebih tepatnya Dion juga iri dengan panggilan Akira dan Arjun yang terdengar romantis.
"Lah, lo juga kan... mana pernah manggil gue dengan sopan?" sentak Gadis pada akhirnya.
Dion kembali memeluk perut Gadis lagi, "Jadi mau di panggil apa? sayang? cintaku? instriku? bebebku...? atau -,"
"Stop! gue malah geli membayangkannya..." tolak Gadis. membuat Dion melongo. heran dengan sikap wanita yang telah menjadi istrinya itu.
"Siapa suruh membayangkannya... kenapa tidak merasakannya saja,?".
"Berhenti berbicara jorok!" tolak Gadis. entah kenapa. mulut Dion itu benar-benar tidak punya filter. mengatakan apapun tanpa memikirkan tanggapan orang lain.
Bahkan tawa Dion menambah kegelian Gadis.
Ya Tuhan... kenapa suami gue beda!
Setelah beberapa saat berlalu, Dion melainkan memejamkan mata. tubuhnya juga amat lelah karena seharian menyambut tamu yang datang.
wajahnya juga kaku karena harus tersenyum sepanjang hari. yang mana akan membuat kerutan di wajahnya.
"Yon..." panggil Gadis. membuat Dion kembali membuka mata walaupun berat. karena hampir saja ia telah memasuki alam mimpi tadi.
"Hm,".
"Lo kepikiran sama Mama tidak?" tanya Gadis dan mengubah posisi rebahannya berganti menghadap Dion. melihat wajah suaminya dengan dekat.
"Tentang?".
"Em... terakhir kali, Mama bilang tidak akan meninggalkan rumah bukan? terus kenapa berubah secepat ini? lo tidak punya pikiran buruk gitu?" pancing Gadis. karena ia memikirkan kalau memang terjadi sesuatu pada Mama.
Mungkin di usir atau bahkan Mama sengaja kabur?
Ekspresi wajah Dion seketika berubah. ucapan Gadis mampu mempengaruhi dirinya.
"Apa mereka melakukan kejahatan?" gumam Dion tapi masih mampu di dengar oleh Gadis.
membuat Gadis ikut menganggukkan keplaa setuju dengan ucapan Dion barusan.
"Ya gimana ya... lo kamu tau sendiri dengan sikap Papa... bagaimana kalau memang Mama di usir?" tambah Gadis.
Dion benar-benar marah jika memang itu yang terjadi. Ia tak akan memaafkan semua orang yang terlibat, termasuk Rega. padahal Dion sudah kembali berdamai dengan masa lalunya dengan Rega, tapi melihat kemungkinan ini rasanya dendam Dion kembali berkobar.
Apalagi hal ini menyangkut malaikatnya, Mama.
Jangankan untuk membela Mama, Dion bahkan rela mati untuk Mama. karena ia akan berdiri paling depan membelanya.
__ADS_1
"Lo sudah mengantuk Gadis?" tanya Dion qpda akhirnya.
"Belum..." jawab Gadis.
Matanya masih terjaga dan belum mengantuk sama sekali.
"Mau ke kamar Mama bersamaku?".
"Tentu saja..." jawab Gadis penuh semangat.
karena menyenangkan juga bisa ngobrol dengan Mama malam ini. setidaknya mengalihkan perhatian Dion tentang malam pertama.
Licik sekali memang...
Dengan piyama dengan warna senada, Gadis dan Dion keluar dari kamar dan menuju ke kamar Mama. mengetuk pintu itu dengan sangat pelan tanpa mengganggu siapapun.
"Mama..." panggil Dion.
"Ya... masuklah..." teriak Mama dari dalam.
Benar saja, kamar Mama masih terang karena lampu. Wanita itu tengah berjalan dadi balkon ketika Gadis dan Dion telah masuk.
"Ada apa? sudah malam dan kalian belum tidur?" tangannya penasaran.
"Kami ingin bicara dengan Mama..." jawab Dion.
"Bicaralah..." pinta Mama dan menduduki sofa yang berada di dalam sana.
Gadis ikut duduk sedangkan Dion memilih duduk di tepi ranjang tepat menghadap Mama.
"Mama... apa yang terjadi?" tanya Dion to the point. ia hanya ingin tau apa yang membuat Mama berubah pikiran begitu cepat.
"Yang terjadi? apanya?" ucap Mama berpura-pura tak paham.
"Dulu Mama bilang tidak akan meninggalkan rumah bukan? lalu?" tanya Dion.
"Apa Mama tidak boleh tinggal bersama kalian?" goda Mama. padahal ia jelas mengerti apa yang tengah Dion tanyakan. tapi Mama tak berniat untuk membeberkan alasannya tinggal di sini bukan? karena suaminya juga masih orang yang sama. orang yang perlu di hormati Dion bagaimanapun keadaannya.
"Bukan begitu Ma..." ucap Gadis. .
"Mama di usir kan?" tuduh Dion. membuat Gadis menengok ke arahnya begitu juga dengan Mama.
Jelas sekali! batin Dion melihat kenyataan yang ada dalam mata ibunya.
"Tidak Dion... tidak... bagaimana mungkin Mama diusir dari rumah?" tolak Mama dengan nada berantakan.
"Mama hanya ingin tinggal bersama kalian... melihat Gadis segera hamil dan melahirkan anak..." Mama meyakinkan Dion sambil menyentuh tangan Gadis.
Karena impian Mama adalah kebahagiaan anak-anaknya.
Kedua anaknya telah berumah tangga, jadi Mama ingin melihat anak-anak dari Rega dan Dion.
"Bohong!" cerca Dion. apa yang Mama ucapkan baginya adalah sebuah kebohongan saja.
karena ia tau bagaimana sifat orang-orang di keluarga nya, termasuk sifat Mama. jadi apa yang dikatakan Mama semuanya hanyalah kebohongan untuk membuat Dion baik-baik saja.
"Dion..." panggil Mama. "Papa hidup dengan baik bersama Rega... sedangkan Mama, Mama lebih tenang jika bersama mu... bukankah itu adil?" ucap Mama. terdengar menyayat bagi hati siapa saja.
Dan malam itu, menjadi malam panjang bagi Dion Gadis dan juga Mama.
mereka mengobrol hingga larit malam bahkan Dion dan Gadis sampai lupa kalau malam itu adalah malam pertama bagi mereka setelah menikah.
***
Kisah Dion sudah beres kan??
Sapa yang nunggu Galih-Tiara? Yok... kita mulai besok yes...
Semoga Syuka... lov kalian banyak-banyak...
Sorry juga updatenya telat...
__ADS_1