
HAPPY READING...
***
Ini adalah pertama kalinya gue jatuh cinta... dan pertama kalinya hatinya di patahkan begitu saja... AKIRA.
---
Akira masih menangis sambil menatap lantai kamar. Sungguh inilah pertama kalinya Akira merasakan rasanya patah hati yang sebenarnya. Di putuskan oleh Dean, cinta pertamanya.
Padahal telah banyak sekali mimpi-mimpi yang Akira rajut dalam benaknya. Hidup bahagia bersama Dean sebagai pasangan Dokter dan Perawat.
Tapi nyatanya, mimpi itu tak berlangsung lama karena Dean telah memutuskannya.
"Kenapa Lo lakuin semua ini?" tanya Akira pada Arjun yang saat ini sedang berdiri di tepi ranjang.
"Lo mau tau alasan gue ngelakuin semua ini?" tanya Arjun.
Arjun tau kalau Akira akan menanyakan semua ini. Ia juga telah menyiapkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan istrinya.
Tentu saja Akira ingin tau hal itu. Apa alasan yang membuat Arjun bersikeras untuk mengikat Akira dalam sebuah pernikahan bohongan yang mereka ciptakan sendiri.
Padahal alangkah baiknya Arjun menerima perceraian diantara mereka. Hidup mereka tidak akan lagi terikat pada sebuah hubungan yang tidak mereka inginkan.
Hubungan dimana tidak ada cinta di dalamnya.
"Karena gue tidak ingin menyakiti orang tua kita," jawab Arjun.
Akira terus saja menangis. Ia tidak mengerti dengan ucapan Arjun barusan. Dia tidak ingin menyakiti orang tuanya dan orangtuaku, tapi dia tidak tau kalau apa yang dilakukannya ini sangat menyakiti dirinya dan juga Aku...
"Orang tua kita sangat berharap pada hubungan ini. Lihatlah Ibu Arum, apa tidak mempengaruhi kesehatannya kalau beliau mendengar kabar anaknya bercerai? lo bisa menjamin itu?".
Akira menangis lagi. Sedangkan Arjun, tenggelam pada pemikirannya sendiri. Maaf karena menggunakan kesehatan ibu sebagai alasan... tapi hanya itu yang bisa ku lakukan.
"Kenapa lo juga memikirkan ibu?" tanya Akira tak paham.
Setidaknya Arjun tidak perlu memikirkan orang lain dalam hidupnya. Jadilah Arjun yang seenaknya sendiri tanpa melihat keadaan di sekitarnya seperti yang selama ini Akira lihat.
Jadilah Arjun yang tidak peduli dengan kesedihan Akira di hari setelah resepsi pernikahan dulu.
Arjun ikut duduk di lantai bersebelahan dengan istrinya, pandangannya menatap dinding kamar di depan sana. "Aku juga ingin seperti itu. Hidup tanpa memperdulikan orang lain. Melakukan apapun sesuai dengan keinginanku sendiri tanpa mau orang lain ikut campur...",
Sekarang Arjun menatap istrinya, "Tapi setelah menikah dan menjalani hubungan ini, aku rasa hidup tidak hanya tentang diriku saja... ada banyak hati yang mau tak mau harus aku jaga. Aku tidak bisa bertindak semauku sendiri dan tidak memperhatikan apakah hal itu mengecewakan orang tuaku atau tidak. Apalagi dengan orang tuamu...".
Akira sedikit tersentuh dengan ucapan Arjun. Jauh sekali dari sifat yang Akira lihat beberapa waktu terakhir dari Arjun.
"Tapi kenapa lo mengancam Dean agar meninggalkanku? asal Lo tau, Dean adalah cinta pertama bagiku... Dean adalah alasan kenapa aku bisa bahagia selama ini... kenapa Lo begitu kejam kepadanya? bahkan memukul wajahnya sampai begitu menyedihkan seperti itu?" tanya Akira ingin penjelasan.
Betapa ia ingat wajah Dean tadi pagi saat mereka bertemu. Hanya ada bekas memar di wajahnya dan bibirnya juga robek.
"Akira, apa yang lo ciptakan dengan Dean adalah salah. Hubungan dengan wanita bersuami sama sekali tidak bisa di benarkan. Dan kamu perlu ingat... Aku tidak menyesal telah melakukan hal itu kepada Dean," ucap Arjun.
__ADS_1
Sekarang Arjun menatap istrinya dengan lekat, "Hal itu tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang akan Papi lakukan terhadap kekasihmu... jika Papi mampu mengendus hubunganmu dengan pria lain, aku pastikan Dean dan keluarganya tidak akan hidup aman. Juga dengan dirimu, aku tidak bisa melakukan apapun untuk hidupmu dan keluargamu... hanya karena kamu adalah anak sahabatnya, tidak membuat Papi berubah pikiran atas kekecewaan yang dia dapat dari menantunya..."
Akira paham dengan ucapan Arjun yang tersirat bahwa Papi Johan adalah pria yang tegas dan akan melakukan apapun untuk membuat yang bersalah menjadi jera atas apa yang mereka lakukan.
"Aku tidak bisa bertindak semauku sendiri. Lihatlah bagaimana orangtuamu sangat berharap padaku. Bagaimana Ayah selalu tanya keadaan anak perempuannya kepadaku, selalu bertanya apakah anak perempuannya makan dengan baik? apakah anak perempuannya melakukan kesalahan? Ayah selalu menanyakan hal itu kepadaku... tapi aku tak pernah sekalipun memberitahu mu," ucap Arjun dan tersenyum bodoh di akhir kalimatnya.
Dulu Arjun hanya menganggap kalau pertanyaan-pertanyaan Ayah Adam sebagai bentuk cara untuk mendekatkan diri dengan menantunya, tapi lambat laun Arjun menyadari bahwa semua orang tua selalu mencemaskan anak-anak mereka di setiap waktu dalam hidup mereka.
"Ayah sampai menanyakan hal itu?" tanya Akira tak percaya kalau ayahnya selalu mencemaskan dirinya.
Padahal Akira selalu bilang kalau ia baik-baik saja hidup di rumah Pradipta.
Akira selalu bilang bahwa dirinya bahagia menjadi menantu keluarga ini. Demi untuk membuat ayahnya tidak cemas. Apalagi Ayah Adam sudah tua dan mencemaskan sesuatu akan mempengaruhi kesehatannya.
"Tentu saja... Ayah selalu bertanya seperti itu, lihatlah..."
Arjun segera membuka ponselnya untuk memperlihatkan pesan dari Ayah Adam yang memang tidak di hapus sama sekali.
Akira mengambil ponsel Arjun, membaca pesan Ayah dan tak melewatkan satu pun. Air matanya kembali menggenang di pelupuk mata hingga membuat pandangannya seperti kabur.
Sedih, bahagia seperti tercampur dalam hatinya.
Ayah...
"Aku tidak mengikatmu karena keinginanku saja. Aku lebih memikirkan keluarga kita...".
"Apa kamu dan Aku bisa menjalani pernikahan bohongan ini sampai waktu yang bahkan kita tidak tau akhirnya?" tanya Akira. Ia tak tau sampai kapan harus hidup seperti ini dengan Arjun.
Arjun kembali menatap Akira, "Kita jalani semua ini seperti halnya air yang mengalir...".
"Apa nanti saat dimana aku ataupun kamu benar- benar dalam keadaan menyerah, apa diantara kita boleh memilih perceraian?" tanya Akira. Ia sama sekali tidak mencintai Arjun walaupun jantungnya kerap kali berdetak tak karuan saat bersama dengan pria itu, tapi hal itu tidak bisa di definisikan sebagai bentuk cinta.
Mungkin seperti itulah rasanya saat lawan jenis berdekatan.
"Aku akan mengabulkannya dengan suka rela..." jawab Arjun.
Aku juga tidak tau apakah ini karena orang tua ataupun kemauan ku sendiri untuk mengikat mu seperti ini, yang jelas aku ingin kamu selalu di dekatku...
"Saat hari itu tiba, tanpa kamu minta sekalipun aku akan melepaskan mu... membiarkan dirimu hidup seperti yang kamu minta," ucap Arjun.
Tapi dalam hatinya, Aku berharap hari itu tidak akan pernah terjadi Akira... Aku ingin menjalani pernikahan sekali seumur hidupku...
---
Malam hari, Arjun melihat Akira yang telah tertidur di sofa kamar. Tubuh kecil gadis itu meringkuk dengan selimut tipis yang membungkus tubuhnya. Tentu saja Arjun tidak tega melihat Akira tertidur seperti itu. Dengan sangat yakin, Arjun mendekati Akira. Dengan sangat lembut, di gendongnya tubuh istrinya menuju ke ranjang.
Sepertinya dia banyak kehilangan berat badan... atau mungkin perasaanku saja kalau tubuh Akira lebih ringan dari sebelumnya?
Arjun merebahkan tubuh istrinya di ranjang. Menyelimuti gadis itu dan segera ikut merebahkan diri di samping.
"Nyenyak sekali dia tidur..." gumam Arjun pelan. Bahkan terdengar seperti sebuah bisikan saja.
__ADS_1
Tapi siapa sangka kalau semua perkataan Arjun barusan mampu di dengar oleh Akira. Ternyata Akira terbangun saat Arjun menggendongnya tadi.
"Aku mampu mendengarnya ya..." protes Akira dengan mata yang masih terpejam.
"Jadi, lo belum tidur?" tanya Arjun yang malah terkejut melihat semuanya.
"Gue sudah tidur tadi, tapi terbangun karena terganggu dengan tindakan Lo yang tiba-tiba memindahkan ku disini..."
"Gue tidak tega melihat Lo tidur di sofa," jujur Arjun.
"Ck... jangan berpura-pura, gue sudah sering tidur di sofa sejak malam pertama tinggal disini..." protes Akira. Memang selama ini Lo buta! umpatnya pada Arjun.
"Pasti alasan lo aja," tambah gadis itu.
Arjun tersenyum seketika, hatinya juga membenarkan kalau semua itu adalah alasannya saja. "Gue lebih nyenyak tidur kalau berdekatan dengan Lo," aku Arjun.
Entah kenapa mencium bau parfum yang melekat pada tubuh Akira sedikit membantunya untuk tidur lebih nyenyak.
Mungkin saja Akira tidak tau kalau selama pertengkaran kemarin, Arjun sama sekali tidak dapat tidur karena Akira tidur di sofa kamar itu. Mau memindahkannya, tapi Arjun ragu, gengsi lebih tepatnya.
"Nah, ngaku juga kan..." ejek Akira.
"Baiklah... karena aku sudah ngaku, jadi boleh meluk kan?" tanpa meminta persetujuan Akira, Arjun langsung memeluk tubuh istrinya dari belakang.
Bahkan menggunakan kakinya untuk mengunci kaki Akira hingga menciptakan keributan lagi.
"Aaa... lepas, aku tidak bisa bergerak," protes Akira. Sungguh ia bahkan tidak mampu untuk bernafas secara lega kerena pelukan Arjun kepadanya.
"Ssttt... diam," tolak Arjun.
"Kenapa seenaknya sendiri sih, gue kan tidak bilang mau di peluk?" masih protes sama seperti tadi.
"Jangan bicara, ayo cepat tidur... atau-"
"Atau apa?" tanya Akira.
"Atau gue akan membuat Lo tidak tidur semalaman," ancam Arjun hingga mampu membuat Akira langsung terdiam.
Gawat! baiklah-baiklah... mengalah saja...
Akira tidak lagi protes. Ia langsung memejamkan mata dan berusaha untuk tidur kembali. Anggap saja tidur sambil di peluk Gorilla.
***
Kenapa di Part ini, Arjun manis sekali sih...
Hahaha....
Semoga syuka dengan dengan Part ini...
jangan lupa Like dan Tinggalkan Komentar... hadiah/ vote juga boleh banget... hehehe...
__ADS_1
Lo kalian banyak-banyak...