Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
112. Bau gosong.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Arjun duduk sambil mengamati punggung istrinya yang sedang sibuk dengan bahan masakan pagi ini. Mencuci sayur dan memotongnya untuk di buat menu sarapan pagi ini.


Tidak terlalu ribet karena Akira hanya ingin menumis brokoli dan wortel serta menggoreng ayam kesukaannya.


"Sayang, kamu tidak ingin menawariku minuman?" tanya Arjun. Setidaknya kopi ataupun minuman hangat lainnya mampu membuat tubuhnya bekerja lebih baik.


Menghangatkan tubuh yang semalam benar-benar tidak tidur sama sekali. Bahkan saat ini rasa kantuknya benar-benar berada di pelupuk mata.


"Mau minum apa?"


Akira barulah bersuara karena Arjun berinisiatif untuk membuka pembicaraan.


Mungkin kalau Arjun tidak melakukannya, sampai masakan selesai pun, Akira seolah tak melihatnya sama sekali.


Anggap dana Arjun sebagai debu yang berada di udara.


"Cokelat panas..." jawab Arjun penuh semangat.


Akira langsung memutar tubuhnya demi melihat wajah pria yang tak tau diri tersebut. Berkacak pinggang seolah menantang seseorang.


Apa dia lupa kalau sekarang berada di rumah Ayah? karena tidak semuanya yang Arjun inginkan tersedia di rumah ini. Beda lagi kalau di Rumah Pradipta hanya minuman dari Surga saja yang tidak ada di sana.


"Kenapa? aku ingin cokelat panas..." ulang Arjun karena Akira hanya menatap dirinya tanpa bersuara sedikitpun.


"Tidak ada cokelat disini...".


Aghh... padahal aku ingin cokelat.


"Kopi?"


"Pahit atau manis?" tanya Akira.


Karena selera orang itu beda-beda, begitu pula dengan Arjun.


"Pahit..." jawab pria itu yakin.


Akira kembali sibuk dengan pekerjaannya sedangkan Arjun kembali menunggu istrinya sambil menjatuhkan kepalanya di meja ruang makan. Kepalanya benar-benar berat hingga untuk duduk tegap saja Arjun tak mampu.


"Kalau mau tidur, di kamar..." perintah Akira sambil mendekati Arjun dan membawa secangkir kopi pahit sesuai dengan permintaan suaminya.


"Awas panas..." Akira memperingati mungkin saja suaminya asal minum tanpa menunggu secangkir kopi tersebut berubah hangat.


"Ahhh... Aku hanya lelah, duduk di depan rumah ayah semalaman..." jawabnya sambil merasai kopi buatan istrinya.


Apapun minuman yang buat terasa enak sih...


"Ha?" Siapa yang percaya dengan perkataan Arjun barusan. Akira bahkan terkejut mendengar pernyataan pria itu.


"Nomormu tidak aktif, jadi aku terpaksa berada di luar semalaman... dan sepertinya, aku demam sayang..." ucap Arjun dengan nada yang di buat-buat lemah seperti orang yang benar-benar sakit.


Akira mengecek kening Arjun dengan punggung tangannya. "Tidak demam kok...".


Suhu tubuh mana yang katanya demam, nyata nya tangan Akira biasa saja saat menyentuh kening tersebut.


Alasan saja.


"Sungguh sayang...",


Emang ada orang yang tidak sakit tapi masih ngeyel merasa sakit. Arjun lah orangnya.

__ADS_1


Dan Akira hanya mengalah saja, karena percuma berdebat dengan orang gila macam suaminya.


"Ini semua salah kamu... tidak mengaktifkan ponsel dan membuka pintu untukku..." ucap Arjun menyalahkan Akira.


Malam tadi udara bahkan sangat dingin dan menembus sampai ke tulang.


Arjun hanya mengenakan kaos tang di lengkapi dengan jaket, tapi tak juga mengurangi rasa dingin.


Apalagi di tambah nyamuk yang sesekali menggigit tanpa meminta ijin dulu.


Agh, menyebalkan!


"Salah sendiri kamu kesini. Memang aku memintamu datang? tidak kan... tidur di rumah kan bisa,"


Apa urusannya pria itu mengikuti dirinya.


Bahkan mengingat dasi itu lagi membuat Akira kesal. Entah siapa pemilik parfum yang melekat pada dasi itu, Akira ingin mencari tahu nanti. Tentu saja setelah sarapan, karena memarahi Arjun juga perlu tenaga bukan?


Setidaknya tenaga Akira harus terkumpul setelah sarapan sepiring nasi dengan tumis brokoli wortel serta ayam goreng.


Saat Akira sedang membayangkan sarapannya, Arjun malah mengendus-endus untuk mempertajam penciumannya.


"Sayang... kamu mencium sesuatu tidak?"


Kembali mengendus bahkan lebih serius.


"Apa?"


Baunya sangat familiar bagi Arjun. Seperti ada aroma gurih bercampur dengan rempah dan sedikit gosong.


What? gosong?


"Sayang ayam goreng mu!" teriak Arjun sambil menunjuk penggorengan dengan asap yang mengepul ke udara.


Seketika Akira memutar tubuhnya refleks. Melihat keadaan kompor yang menyala dengan mata membulat sempurna.


Tapi berteriak saja tak dapat menyelesaikan masalah.


4 potong ayam yang terendam minyak panas di penggorengan telah berubah warna. Gelap dan menakutkan.


"Aghh... bagaimana ini? kamu sih bicara tanpa henti..." omel gadis itu entah pada siapa tapi karena di belakangnya hanya ada Arjun, tentu saja pria itulah sasaran Akira.


"Aku kan tidak melakukan apapun," bela Arjun. Karena sejak tadi ia memang tidak melakukan apapun selain menjawab perkataan Akira sebagai bentuk respon ketika di ajak bicara.


Tidak bisa di salahkan bukan?


"Kamu mengajak ku bicara terus... lihatlah, ayamnya tidak bisa di makan kan... Aaa..." kesal sekali Akira. Padahal perutnya sudah keroncongan saat ini.


Kalau begini, ia terpaksa menggoreng lagi sisa daging ayam lain.


Tanpa mereka sadari, ternyata dari belakang mereka sudah berdiri Ayah Adam. Mengamati anak dan menantu yang katanya sedang bertengkar.


Apa ini yang di katakan pertengkaran? menggelengkan kepala, bingung sendiri dengan pemandangan di depannya.


Jika bertengkar, seharusnya ada barang ataupun panci yang terlempar bukan? sama seperti pertengkaran Ayah Adam dan Ibu Arum ketika awal menikah. Entah sudah berapa banyak perabotan yang rusak saat itu.


Dan ketika kembali akur, mereka bersama-sama membeli perabotan baru. Lucu memang,.


Pertengkaran Arjun dan Akira malah seperti anak kecil yang berebut permen. Salih tuduh dan juga mengejek.


"Ayah?" ucap Arjun terkejut melihat mertuanya ada di sana, berdiri memandangi dirinya dan tentu saja Akira.


"Ayah datang karena mencium bau gosong," elak Ayah karena tidak mungkin beliau bilang sedang mengamati anak dan menantunya. Akan salah paham nanti.

__ADS_1


"Iya Yah, Akira meninggalkan ayam yang sedang di goreng..." jawab Arjun menjelaskan.


Sedangkan Akira melotot tak suka karena semua itu juga salah Arjun yang mengajaknya bicara. Setidaknya salah mereka berdua dong... jangan hanya menyalahkan Akira seorang.


"Semua ini juga gara-gara kamu..." tunjuk Akira.


"Sudah-sudah jangan bertengkar..." Ayah Adam ikut duduk di kursi, berseberangan dengan Arjun.


"Kapan kamu kesini Nak?" karena saat Ayah bangun tadi, Arjun sudah ada di rumah ini.


"Tadi malam Yah... Arjun menunggu di depan semalaman," lapornya seperti anak kecil yang sedang mengadu pada orangtuanya ketika di jahili anak lain.


"Benarkah?" Ayah menatap putrinya, meminta penjelasan.


Kejam bukan mengingat Arjun adalah suami Akira dan harus berada di luar semalaman saat cuaca terasa dingin.


"Ponsel Akira mati Yah..." sesal Akira.


Padahal ia sengaja mematikan ponselnya ya agar Arjun tidak dapat menghubunginya.


"Jangan begitu pada Arjun... Arjun adalah suami mu Akira... hormati dia seperti cara Ibumu menghormati Ayah...",


Ayah Adam menghela nafasnya. Karena sebagai orang tua, beliau juga berkewajiban menuntun anak-anaknya ke jalan yang benar.


"Baik Ayah..." jawab Akira dengan nada lirih.


Dan pagi itu mereka sarapan bersama. Sebuah pemandangan yang sangat langka karena tidak setiap hari Akira memasak untuk orang tua dan juga suaminya.


Senyum indah juga terlihat dari bibir Ayah, yang dia takutkan ternyata hanyalah ketakutan yang saja. Nyatanya hubungan Akira dan Arjun baik-baik saja. Mungkin hanya kesalahpahaman kecil yang bisa mereka atasi sendiri.


"Ayah akan mengajak Ibu jalan-jalan nanti..." ucap Ayah ketika Akira sedang mencuci piring dan peralatan makan yang baru saja di gunakan.


"Akira ikut..." berjalan mengelilingi kompleks sepertinya seru.


"Temani suamimu..." tolak Ayah saat melihat Arjun yang tengah selonjoran di sofa ruang keluarga bahkan sesekali terlihat memejamkan mata karena mengantuk.


"Tapi Yah,"


Bukan ini yang Akira mau. Padahal alasan ia datang ke rumah orangtuanya juga karena ingin menghindari pria itu. Tapi bukannya menghindari, Ayah malah sengaja membuat Akira bersama dengan Arjun di rumah.


"Selesaikan kesalahpahaman kalian... Ayah akan kembali nanti," Ayah Adam langsung berjalan meninggalkan putrinya tanpa menyadari kalau Akira sedang mengerucutkan bibirnya sebal.


Salah paham apa? sudah jelas ia selingkuh...


Terdengar suara roda kursi bantu Ibu berdecit meninggalkan rumah. Ayah Adam dengan sepenuh hatinya membawa sang pujaan hati berjalan berkeliling kompleks untuk sedikit mencari udara segar pagi hari.


"Hati-hati Yah..." ucap Arjun di ambang pintu melepas kepergian mertuanya.


"Aku mau ngomong!" ucap Akira bersidekap tepat di belakang Arjun.


"Apa sayang? kamu mau tidur bersama?" goda Arjun bahkan dengan tampang jenakanya.


"Ikuti Aku!" pinta Akira dan berjalan meniti anak tangga menuju ke kamarnya.


"Dengan senang hati," tentu saja Arjun senang. Yang di pikirannya adalah olahraga di pagi hari tanpa ada orang lain di rumah ini.


Membayangkan istrinya m*ndes*h di bawah Kungkungan tangannya benar-benar terdengar merdu.


Aahhh... ayo kita mulai...


***


Hahaha...

__ADS_1


Kalau aku kelupaan goreng ayam karena pegang Hape...


ada yang sama???? Komen banyak-banyak...


__ADS_2