
HAPPY READING...
***
Dion dan Gadis masih berada di dalam kamar Mama. Sejenak mereka berpikir matang sebelum turun dari sana.
"Mama... ada pakaian yang bisa di pakai Gadis?" tanya Dion bersuara. Karena melihat gaun Gadis yang tadinya panjang sekarang tinggal sebatas lutut membuat Dion sedikit menimang untuk membawa Gadis turun.
Kenapa?
Tentu saja ada niat terselubung. Setidaknya semua orang harus melihat kehebatan wanita yang mereka ikat tadi. Wanita yang terlihat lemah hanya karena menghormati sang pemilik rumah.
Tapi karena diperlakukan tak adil, Dion ingin Gadis membalas orang yang menyakitinya.
Lebih tepatnya biar mereka merasakan pukulan dari calon istri Dion itu. Jadi kelak di masa mendatang, semua orang tak memandang Gadis sebelah mata.
"Pakaian bagaimana?" tanya Mama tak paham.
"Celana jeans dan kaos...".
Sedangkan Gadis menatap Dion penuh dengan tanda tanya. Untukku? kenapa? apa ada yang salah dengan gaunku? toh dia sendiri yang merobeknya tadi kan?
"Panggil menantu ku sekarang..." pinta Mama pada seorang pelayan.
"Baik Nyonya...".
Sambil menunggu pelayan memberitahu menantu keluarga itu sekaligus istrinya Rega, Dion mempersiapkan semuanya.
"Biar gue yang bawa ini..." ucap Dion sambil mengantongi perhiasan pemberian Mama dalam saku jas yang ia kenakan.
Gadis pun mengangguk mengerti.
"Ada apa Ma?" tanya menantu keluarga itu.
"Boleh Mama meminta sesuatu padamu nak?" tanya Mama.
Sejenak istrinya Rega menatap sosok Gadis dan Dion bersamaan. Ingin menyapa dahulu tapi ada keraguan dalam hatinya. apalagi perlakuan Suami dan mertuanya kepada Gadis sungguh tidak bisa di benarkan.
"Boleh Ma... Mama butuh apa?".
"Ada pakaian mu yang bisa digunakan untuk Gadis? dia tak bisa keluar dengan gaun seperti itu..." ucap Mama menjelaskan.
Kembali lagi tatapan mereka bertemu untuk kesekian kalinya. Hingga Gadis hanya bisa tersenyum sungkan.
"Biar saya ambilkan Ma..." ucap istrinya Rega dan segera berlalu pergi menuju ke kamarnya.
mencari pakaian yang bisa digunakan oleh Gadis apalagi tubuh mereka terlihat sama, jadi size pakaiannya juga tidak jauh beda.
"Dion... gue bisa kok pakai gaun ini..." rengek Gadis. ia hanya tak mau merepotkan siapapun.
termasuk dengan mengenakan pakaian dari kakak iparnya Dion tadi.
"Jangan banyak protes!" ucap Dion telak. Karena ia sudah memikirkannya secara matang. Dion yakin kalau dirinya dan Gadis tidak akan bisa keluar dari rumah ini dengan mudah. pasti akan ada sedikit pemberontakan nantinya.
"Tapi-,".
"Berjanjilah untuk selalu di dekatku... mengerti?" pinta Dion sambil menggenggam tangan Gadis dengan erat. Memastikan kalau mereka akan keluar dadi rumah ini bersama-sama dan dalam keadaan selamat.
Gadis pun mengangguk menyetujui permintaan Dion. walaupun tak paham apa yang akan terjadi nanti.
Istrinya telah kembali masuk dalam kamar Mama. Di tangannya terlihat membawa celana jeans dan kaos yang bahkan masih baru.
"Ini masih baru... jangan khawatir..." ucapnya ketika menyerahkan pakaian itu pada Gadis.
__ADS_1
"Terima kasih..." jawab Gadis sungkan.
"Gantilah di kamar mandi Nak..." perintah Mama dan Gadis langsung beranjak bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam sana.
Sedangkan Dion, beralih pada laci. Mengeluarkan pistol milik Papa dan mengisinya dengan butiran peluru.
"Dion..." ucap Mama pias.
"Jangan khawatir Ma... Dion tidak akan menyakiti siapapun... ini untuk berjaga-jaga saja," jawabnya yakin.
Setelah itu merogoh saku jasnya untuk mengambil ponsel.
"Lo dimana?" tanya Dion ketika panggilannya telah tersambung.
"Hei, justru gue yang harusnya bertanya? kemana lo? bukannya nunggu di tempat parkir malah ngilang...".
Dia adalah Galih. andai Dion tau, pria itu kebingungan mencari keberadaan Dion dan Gadis yang menghilang dari tempat pesta.
"Sorry untuk itu, tapi sekarang gue butuh bantuan Lo..." jawab Dion dan kembali mengamati Mama dan kakak iparnya.
"Apa?"
"Jemput gue sekarang... gue di rumah bersama Gadis..." pinta Dion.
"Rumah? rumah keluarga Lo maksudnya?" Galih sangat kebingungan dengan ucapan Dion barusan.
"Hm,".
Dan Dion langsung memutuskan panggilannya. Tapi terlihat mengetik sesuatu di layar ponsel. Dan bersamaan dengan itu, Gadis telah selesai. Kelurahan dari kamar mandi dengan pakaian yang diberikan oleh istrinya Rega.
"Sudah?" tanya Dion memastikan.
"Hm," Gadis mengangguk.
"Gadis, Dion... Hati-hati..." ucap Istrinya Rega.
Membuat Gadis tersenyum di ambang pintu dan mengangguk. Setidaknya ada orang baik di dalam rumah ini...
Dion mengamati sekitar saat kakinya melangkah turun menuju ke lantai dasar rumah itu. Mempersiapkan diri dengan apa yang akan terjadi nanti.
"Gadis... apapun yang terjadi, jangan menahan diri..." bisik Dion.
Apa? kenapa? begitu hati Gadis bicara. Ia tak bisa mencerna apa maksud dari perkataan Dion. tapi masih tersirat kalau Dion meminta Gadis untuk waspada dan hati-hati.
Benar saja, baru melangkah beberapa langkah dari anak tangga, anak buah Papa kembali mendekati mereka. Gadis sadar, inilah yang dimaksud Dion tadi.
"Lo masih bisa berkelahi kan?" bisik Dion lagi tanpa mengalihkan kewaspadaannya pada anak buah yang tengah mengelilingi mereka.
"Tapi Yon..." Gadis takut. Bukan takut pada orang-orang disana, tapi takut dengan reaksi mereka nanti. Gadis takut citra Dion akan hancur di depan keluarga itu.
"Percaya sama gue... kita akan bisa keluar dari sini..." ucap Dion yakin.
"Tapi apa tak apa melawan mereka?" bisik Gadis lagi.
"Perlihatkan pada mereka kalau kita pasangan keren..." jawab Dion tanpa duga sama sekali. Di saat-saat genting seperti ini, masih saja bisa bergurau. tapi membuat Gadis juga merasa lebih tenang dengan gurauannya itu.
"Hajar mereka..." teriak Papa bakal komando di medan perang.
Tanpa perlu bertanya lagi, keenam anak buahnya langsung menghambur ke arah Dion dan Gadis.
Dion melawan 4 anak buah Papa, sedangkan dua lagi mendekati Gadis. mereka tak pernah tau kalau ternyata wanita di depannya punya kemampuan bela diri yang cukup mumpuni.
Rega dan Papa tercengang melihat Gadis menghajar dua anak buahnya.
__ADS_1
Gila... batin Rega.
Ia kira Gadis seperti wanita lain pada umumnya. karena penampilan wanita itu sangat anggun. Inilah positif nya berdandan. Gadis yang terlihat tomboy bisa berubah anggun malam ini. mampu memperdaya siapa saja ayang menatapnya.
Bagaimana mungkin? batin Papa. Wanita yang dianggap nya lemah, nyatanya tidak seperti yang terlihat.
"Rasakan ini!" umpat Gadis dan menumbangkan satu lawannya hanya dengan tendangan.
Membuat Dion tersenyum bangga dengan wanita pilihannya.
Tinggal satu lagi lawan Dion, juga dengan Gadis. mereka sama-sama meraup banyak oksigen di udara. Saling memunggungi dan fokus pada lawan mereka.
"Tendang sekuat tenaga dan berlari keluar... mengerti?" pinta Dion.
"Hm," jawab Gadis paham dengan apa yang dikatakan Dion.
Bersamaan, mereka kembali menghajar sisa lawan mereka. Gadis menendang lawannya dengan sekuat tenaga, sedangkan Dion memukul keras wajah lawannya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Gadis Ayo!" teriak Dion memberi aba-aba. Seketika Gadis dan Dion berlari meninggalkan rumah orangtuanya.
bahkan Gadis tak memperdulikan dirinya yang tidak mengenakan alas kaki sama sekali.
"Kejar dia!" teriak Papa. tapi semua anak buahnya seperti kehilangan tenaga, bahkan beberapa tergolek sakit di lantai. "Dasar tidak berguna!" teriak Papa lagi.
Pria tua itu tak memperdulikan anak buahnya dan langsung keluar, hendak mengejar Dion dan Gadis tapi kembali di cegah oleh Rega.
"Papa... sudah," pinta Rega.
Nyatanya dalam hati Rega masih ada jiwa kemanusiaan. lebih tepatnya membiarkan Dion pergi karena sudah keputusan adiknya sendiri. apalagi Dion yang bisa berdiri sendiri, merintis usahanya tanpa bantuan Papa sudah cukup membuat Rega lega.
"Apa kamu bilang? dasar Bodoh!" umpat Papa. Menyentak kasar tangan Rega dan melanjutkan langkahnya.
Setelah berlari cukup kencang, Dion dan Gadis hampir tiba di depan gerbang utama. "Gadis... lo masih bisa kan?" tanya Dion memastikan. Karena sebelum keluar dari rumah itu, masih ada dua penjaga gerbang yang harus mereka kalahkan.
"Hm," jawab Gadis dengan nada berantakan karena berlari.
"Jangan biarkan dia keluar!" teriak Papa dari teras membuat 2 penjaga gerbang langsung berdiri menghalangi jalan.
"Br*ngsek!" umpat Dion dan langsung meninju lawannya tanpa ampun. Sedangkan Gadis juga melakukan hal yang sama.
"Buka gerbangnya..." teriak Dion ketika dua penjaga itu bersama-sama menghadapi nya.
Sambil Dion mengalihkan perhatian 2 penjaga itu, Gadis berusaha untuk membuka gerbang.
mungkin karena saking gugupnya, gerbang itu serasa sulit untuk terbuka. bahkan Gadis telah mengerahkan tenaganya untuk mendorong pagar besi tinggi itu.
"Dion... tidak bisa..." keluhan Gadis frustasi.
"Coba lagi, dorong!" teriak Dion semakin khawatir. tinggal satu langkah lagi mereka bisa keluar dari sana.
Dion mempercepat tugasnya. tak butuh waktu lama pria itu mampu menumbangkan 2 pria yang menghalanginya.
"Ayo..." ajak Gadis setelah bisa membuka pintu untuk dirinya dan Dion.
Baru melangkah, Doorrr!
Suara tembakan memekakan telinga. wajah Gadis pias dan berteriak...
***
Cut....
Heheh... jahat banget yang nulis...
__ADS_1
Mon maap ya, kalau bab-bab terakhir bikin senam jantung...