
HAPPY READING...
***
Terkadang, lebih baik diam daripada menjelaskan apa yang kita rasakan. karena lebih menyakitkan ketika mereka bisa mendengar tapi tidak bisa mengerti...
---
Masih dengan berjalan bersamaan masuk ke dalam gedung Apartemen, baik Tiara maupun Galih tidak ada yang bicara sama sekali. mereka berjalan dengan pikiran masing-masing.
Tiara yang memikirkan apa yang ia lakukan setelah ini sedangkan Galih, tenggelam dalam pemikiran antara kasihan, iba dan menyesal telah meninggalkan Alya begitu saja di depan sana.
Walaupun sudah memutuskan untuk memilih Tiara, tapi di dalam hatinya Galih masih memikirkan Alya. bukan tanpa alasan, Galih takut hal buruk akan terjadi pada wanita itu. terlebih kesehatan Alya yang beberapa bulan terakhir sedikit menurun.
Galih sejenak menatap ke belakang, sebelum akhirnya langkah kakinya benar-benar membawanya masuk. Ya, Alya masih berdiri disana sambil menundukkan kepalanya. Galih tau kalau wanita itu tengah menangis.
"Ra," panggil Galih pada akhirnya. sesaat setelah mereka masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke Unit Apartemen yang berada.
"Jangan bicara apapun Gal..." tolak Tiara.
Dadanya masih naik turun dengan kejadian tadi. bagaimana dengan beraninya Tiara mampu membuat mulut Alya terbungkam.
Walaupun sedikit pedas ucapannya, Tiara sedikit bersalah. Bagaimanapun baik Tiara dan Alya sama-sama perempuan. tentu saja mereka paham dan berpikiran yang sama.
Tapi inilah yang harus Tiara lakukan, ia tak mau kehilangan Galih.
Jadi sedikit egois memang, tapi hanya cara itu yang bisa Tiara lakukan untuk membuat Galih sadar. tak lagi tenggelam dalam hubungan masa lalunya.
"Dia-,".
Tiara mengangkat tangannya, berharap Galih tak melanjutkan apa yang ingin dikatakan.
Karena apapun yang Galih katakan, pasti menyangkut Alya. Tiara sudah menduga hal itu.
"Gue mohon, jangan bicara apapun...".
Hingga suara Lift berdentang, menandakan kalau mereka telah tiba di lantai Apartemen yang diinginkannya. Galih dan Tiara melangkah bersama, menekan digit angka dan masuk ke dalam Apartemen.
Beda dengan Tiara yang menjatuhkan dirinya di sofa ruang keluarga, langkah kaki Galih membawanya ke arah balkon. Mengamati suasana di bawah sana apakah masih ada Alya atau telah pergi.
Nyatanya, tak ada mobil Alya di bawah sana.
Dia telah pergi... batin Galih bicara.
Galih memutar tubuhnya kembali mendekati Tiara. mengamati gadis yang tengah memijit pangkal hidungnya tanpa berkedip.
"Bagaimanapun lo tidak boleh membentaknya seperti tadi..." protes Galih.
Seharusnya Tiara tak seberani itu. karena biasanya gadis itu hanya diam dan melihat semuanya. bukannya bicara bahkan mengatai Alya seperti tadi.
"Gue sudah bilang kan kalau Alya sedang sakit.. bagaimana kalau kesehatannya kembali buruk?" perjelas Galih.
Sedangkan Tiara langsung menatap pria itu. heran dengan cara berpikir Galih yang terlihat tak masuk akal. bukankah apa yang dikatakan sama saja menyalahkan Tiara? padahal Tiara hanya ingin Alya sadar tentang apa yang telah ia lakukan di masa lalu.
"Lo nyalahin gue gitu?" tanya Tiara.
"Tidak Ra... tapi-," Galih ikut duduk di sifa yang sama. tapi Tiara justru menghindar tak mau Galih mendekatinya.
__ADS_1
"Tapi apa? apa yang gue katakan salah? bukankah itu kenyataannya? kenapa gue yang salah Gal?" tanya Tiara sewot. Ia sudah mengira kalau Galih masih mencintai Alya, tapi nyatanya apa yang Tiara lihat kali ini sungguh menyadarkan dirinya kalau Tiara tak pantas bersaing dengan Alya.
Karena Alya jauh punya punya tempat di hati Galih.
"Gue tidak peduli tentang hubungan kalian di masa lalu. Tapi... apa lo tidak sadar? Alya adalah wanita penuh ambisi yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Bahkan dia pernah bersekongkol dengan Dean untuk menghancurkan pernikahan Arjun dan Akira... apa gue tak boleh menyalahkan nya? dan lihatlah dirimu, gara-gara Alya juga lo seperti ini... bodoh, plin-plan tak tak punya pendirian..." umpat Tiara kesal.
"Apa?" Galih benar-benar terkejut dengan ucapan Tiara yang mengatai dirinya Bodoh.
"Ya, Lo benar-benar pria bodoh yang pernah gue kenal... gue kecewa sama lo Gal!".
"TIARA!" bentak Galih. Sungguh ucapan yang terlontar dari mulut gadis itu mampu melukai harga dirinya.
pertama kalinya, ada seorang gadis yang berani mengatai Galih seperti ini.
"Lihatlah..." air kata Tiara jatuh tanpa aba-aba.
"Lihatlah bagaimana perlakuan mu kepadaku dan kepada Alya... bahkan ketika marah sekalipun, lo tak pernah meninggikan suara di depan Alya... tapi denganku, -" Tiara menunjuk dirinya sendiri.
"Lo bahkan berteriak tepat di depanku Gal... lo benar-benar brengs*k!" teriak Tiara dan menangis tersendu-sendu.
Tiara bangkit dari duduknya. berlari menuju ke kamar dan membanting pintu itu dengan sangat keras. sedangkan Galih masih terdiam setelah kepergian Tiara.
Bingung dengan apa yang telah ia lakukan pada gadis itu. Sungguh Galih menyesal, ia tak sengaja membentak Tiara.
***
Pagi hari, Apartemen yang biasanya terdengar berisik, kini terasa sunyi. karena biasanya, Tiara lah yang menciptakan kegaduhan di sana. tapi sejak pagi, gadis itu tak keluar dari kamarnya sama sekali.
Mungkin sengaja, apalagi ini adalah hari minggu. Mereka sama-sama libur bekerja.
Galih yang memang tidak bisa tidur semalaman hanya berdiri di samping pintu kamar Tiara. mengamati pintu yang masih rapat itu sambil menajamkan telinga mencari suara-suara yang mungkin tercipta di dalam sana. tapi nihil... tak ada suara apapun.
tapi tak berani untuk mengetuk apalagi masuk ke dalam kamar itu.
Hingga Galih memutuskan untuk membiarkan Tiara beberapa saat.
Galih berjalan meninggalkan kamar Tiara. Menuju ke mesin pembuat kopi yang ada di dapur dan membuat secangkir kopi untuk dirinya sendiri.
"Gue kecewa sama Lo Gal...".
Ucapan Tiara malam tadi kembali terngiang di dalam kepala.
Di saat wanita yang Galih inginkan begitu kecewa, ia tak bisa berbuat apapun.
Gue juga tak ingin mengecewakan lo Tiara...
tapi...
Entah kenapa semalam Galih malah terlihat membela Alya daripada Tiara. mungkin itulah yang membuat Tiara kecewa. dan Galih menyesali akan hal itu.
Karena ia sudah memilih, seharusnya Galih bisa bersikap lebih tegas. Seharusnya Galih tak menyalahkan Tiara untuk semua yang tidak Tiara lakukan. toh kebenarannya memang Tiara hanya mengatakan apa memang terjadi.
Galih menikmati secangkir kopi sambil duduk di kursi makan. Sesekali ia menggeser layar ponselnya untuk membuka pesan yang belum ia baca sejak semalam.
Tak sengaja, Galih kembali membaca pesan yang ia kirim kepada Tiara. Aneh memang sudah 1 tahun lebih sejak pertama kali kenal, Galih tak pernah menghapus pesan Tiara sama sekali. semuanya masih tersimpan jelas dalam ponselnya.
Lo pasti tidak akan menyangka kalau gue bahkan tidak berniat menghapus semua pesan Lo dari awal... bukan tanpa alasan,Tiara.. karena gue ingin mengingat semua kenangan lo... batinnya bicara.
__ADS_1
Galih menghela nafasnya berat.
Sedangkan di kamar, Tiara sudah bangun sejak pagi. tapi sengaja tak mau beranjak sedikitpun dari ranjang dan selimut yang membungkus tubuhnya.
Dengan posisi miring, Tiara memeluk erat guling berwarna putih. matanya menerawang jendela kamar yang masih tertutup rapat, tapi terlihat kalau matahari sudah merangkak naik menandakan hari tak lagi pagi.
Tiara tak berniat untuk keluar kamar. kerena hari ini hari libur, pasti di luar sana ada Galih. Tiara tak mau bertemu pria menjengkelkan itu.
hingga ia memutuskan untuk tetap berada di kamar, menahan lapar dan juga hausnya.
"Ahhh..." gerutunya. Tiara mengubah posisi rebahannya.
Tangannya terulur mengambil ponsel yang berada di nakas. Dilihatnya ada beberapa pesan yang belum Tiara baca. salah satunya adalah dari Galih.
Apa gue perlu membaca pesannya? Tiara bimbang. karena ada 4 pesan yang Galih kirim kepadanya.
Baca... tidak... baca... tidak... Tiara masih menimang pilihan yang tepat.
Hingga ia memutuskan untuk membaca saja pesan itu, dan memejamkan mata sejenak.
Galih :
[Kenapa tidak keluar kamar?]
[Masih tidur?]
[Gue sudah menyiapkan sarapan... keluarlah...]
[Hei, balas!]
"Lihatlah, dia bahkan tak meminta maaf..." gumam Tiara pelan.
Hingga Tiara kembali meletakkan ponselnya, tapi benda pipih berwarna putih itu kembali bergetar.
[Sorry... ]
Tiara beranjak, terkejut dengan pesan yang baru saja ia baca.
Baru membicarakannya, Tiba-tiba keluar kata maaf dari mulut Galih. Bukan! kata maaf yang di ketik menggunakan jarinya lebih tepatnya.
[Maafkan ucapan gue tadi malam... keluarlah Tiara...]
pesan Galih lagi.
Dan entah kenapa ada rencana licik yang terlintas dalam kepala Tiara.
"Ck... gue tak akan keluar..." ucapnya yakin. Biarkan Galih memohon untuk Tiara.
Karena Tiara masih kesal dengan tindakan Galih semalam. dan setidaknya ia harus balas dendam.
Hingga tak ada pesan lagi yang masuk ke dalam ponsel Tiara. Gadis itu bangkit dan menuju ke kamar mandi, tak memperdulikan kalaupun ada pesan dari Galih nantinya.
Di ruang keluarga, Galih tersenyum dengan rencananya juga.
Tangannya sibuk mengetik pesan untuk dikirim kepada Tiara. dan kembali tersenyum ketika pesan itu telah masuk ke dalam ponsel wanitanya.
Untuk menjalankan rencananya, Galih bergegas pergi. berlari menuju ke kamarnya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
__ADS_1
***
Rencana Apa Gal... heran gue... hehehe...