
HAPPY READING...
***
Lagi dan lagi, saat aktifitas kembali berputar sama setiap harinya. bekerja pulang tidur dan kembali bekerja pada esok harinya. semua itu terlihat membosankan hanya karena pekerjaan yang monoton, tapi yakinlah... ada bahu seorang kepala keluarga yang berbahagia untuk itu. sehat dan bisa bekerja untuk membuat perut anggota keluarga tak kelaparan.
Sama halnya dengan karyawan di sebuah gedung pencakar langit bernama Pradipta Group. Perusahan yang sangat mengapresiasi kinerja setiap karyawannya. setiap keringat dan juga lelah yang mereka rasakan akan terbayar dengan banyaknya upah dan juga bonus-bonus lainnya.
Mungkin inilah yang membuat Pradipta Group semakin melebarkan sayapnya. di tangan sebuah Presdir muda, Perusahaan raksasa itu semakin memperlihatkan pesonanya.
Galih melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sedikit gusar karena rapat pagi ini yang ia kira hanya berjalan singkat ternyata molor dan sedikit mengganggu jadwal Arjun berikutnya.
Di depan sana, seorang wanita tengah mempresentasikan desain untuk produk minuman baru yang akan di luncurkan Perusahaan itu. tentu saja Arjun mendengarkan dengan saksama.
"Ini desain kedua kita, dirancang oleh Joenatan sendiri... menurut saya, banyak keunggulan dalam desain kemasan ini..." ucap wanita tadi sambil fokus pada layar monitor di depan sana.
membuat Arjun sedikit menajamkan mata untuk mengamati nilai jual dari desain kemasan yang dibuat oleh karyawannya. mengangguk setuju karena pembuat desain itu sangat bisa diandalkan.
Beda lagi dengan tanggapan Galih, pria itu terlihat tak suka. bukan karena desainnya tapi karena si pembuatnya adalah pria yang telah mendekati wanitanya.
Ya... Galih ingat akan hal itu. mengamati Joenatan yang saat ini tengah duduk di seberang tempat duduknya.
Menyebalkan bukan, Galih harus melihat rivalnya dalam waktu yang cukup lama. bernafas dengan oksigen yang sama pula.
"Baiklah, sepertinya desain kedua lebih cocok untuk produk baru Perusahaan... dan untuk kelanjutannya kita bahas di rapat berikutnya..." ucap Arjun dan bangkit dari duduknya.
membuat semua orang juga ikut bangkit tanda rapat telah selesai.
"Terima kasih waktunya dan selamat pagi," pamit Arjun diikuti oleh Galih keluar dari ruang rapat.
"Apa jadwal ku selanjutnya?" tanya Arjun kepada Galih dan langsung berhenti tepat di samping pintu ruangan tadi. sehingga membuat pria di belakangnya itu ikut berhenti dan kembali memeriksa jadwal Arjun dari ponsel.
"Bertemu dengan Tuan Wijaya," jawab Galih.
"Baiklah...". Arjun kembali berjalan pergi.
Karena lantai ini juga tempat bekerja Tiara saat Arjun dan Galih berjalan, Galih sengaja melirik tempat duduk Tiara. melihat wanitanya yang tengah bekerja dengan tekun.
Sekilas Tiara dan rekan-rekannya bangkit menunjukkan kepala memberi hormat pada Arjun. Tentu saja Galih menikmati pemandangan itu.
Hingga tepat di depan menunggu Lift terbuka, sebuah suara mengalihkan perhatian mereka.
"Tiara..." panggil Joenatan yang terdengar jelas dalam pendengaran Arjun dan Galih.
"Nanti makan siang aku traktir ya...",
"Ke-kenapa?" tanya Tiara gugup karena ada dua makhluk yang tengah mengawasinya dari jarak yang tak begitu jauh.
"Anggap saja hadiah dariku... bye Tiara..." sorak Joe meninggalkan tempat itu juga tapi masuk ke Lift karyawan dan kembali ke lantai dimana tempat kerjanya berada.
Berbeda dengan Joe, Arjun dan Galih juga masuk ke Lift khusus petinggi Perusahaan. di dalam sana hanya ada mereka berdua, "Gue rasa lo benar-benar kalah... menyerah lah nyet... pesonamu telah hilang..." goda Arjun.
dan hal itu benar-benar menyebalkan bagi Galih.
Karena ucapan Joe tadi mampu membuatnya risau. Galih takut Tiara berpaling darinya dan mendekati Joe. tapi di sisi lain Galih ingin membuat pengajuan kalau ia menginginkan Tiara ada dalam hidupnya, tanya menatap Galih saja.
__ADS_1
***
Jam makan siang tiba.
Seperti ucapan Joe tadi pagi, pria itu benar-benar menemui Tiara.
"Sudah selesai?" tanyanya dengan suara lembut.
Tiara mengangguk setuju, menutup kembali berkas pekerjaannya dan mematikan komputer sebelum akhirnya bangkit dari kursi kerjanya.
"Seniornya, apa anda tidak mengajakku juga?" tanya rekan kerja di samping Tiara. walaupun sebenarnya hanya gurauan saja sih.
"Heheh... nanti aku bawakan makanan..." jawab Joe canggung. karena ia ingin makan siang dengan Tiara seorang.
"Hahaha... tidak perlu, aku hanya bercanda..." ralat wanita muda itu. "Sana pergilah... bawa Tiara makan enak..." usirnya. membuat Tiara malu sekaligus ikut tertawa dengan ocehan temannya itu.
"Ayo..." ajak Tiara.
Joenatan dan Tiara keluar dari Perusahaan.
"Mau makan dimana?" tanya Tiara karena biasanya mereka makna di Kantin Perusahaan.
"Aku ingin mentraktir mu... kamu mau makan apa?" tanya Joe, berjalan menuju ke parkiran karena kendaraannya ada disana.
"Apa saja..." jawab Tiara. karena ia juga tidak pilih-pilih makanan. apapun dimakan asal mengenyangkan.
"Bagaimana kalau makanan Jepang?" saran Joe.
"Eee..." sejenak Tiara ragu. Karena makanan Jepang tergolong makanan mahal di Ibukota. Apa tidak apa-apa?
Tiara hanya tidak mau Joenatan salah sangka dengan dirinya. apalagi hubungan mereka hanya sebatas teman kantor.
Joe juga ikut masuk dan mobil itu mulai melaju meninggalkan Perusahaan.
Restoran makanan Jepang tak begitu jauh dari Perusahaan, hingga sekitar 10 menit akhirnya mobil yang dikendarai Joe telah sampai di parkiran. sama seperti saat berangkat tadi, Joe lebih dulu turun dan membukakan pintu untuk Tiara. "Silahkan...", benar-benar perlakuan manis yang dilakukan seorang pria untuk wanitanya.
"Terima kasih..." ucap Tiara membalas perlakuan Joe dengan sebuah senyuman.
Mereka pun berjalan bersama masuk ke dalam restoran khas Negara Sakura itu. Duduk di tempat yang telah disediakan dan memesan makanan.
Jika dilihat, Tiara dan Joenatan memang seperti seorang pasangan kekasih. mereka terlihat serasi. apalagi dengan duduk berdua seperti sekarang, banyak padang mata yang iri melihatnya.
"Aku bisa sendiri Joe..." tolak Tiara ketika Joe hendak menyuapi wanita itu.
"Ayo buka mulutmu..." perintah Joe tak mau di bantah.
"Tidak... memalukan..." ucap Tiara masih dengan pemikirannya.
Bahkan, Galih tak pernah memperlakukan ku seperti ini... batinnya.
Bersama dengan Joenatan, justru membuat Tiara mengenang kenangannya dengan Galih. mereka juga pernah seperti ini, duduk bersebelahan ketika makan.
Tapi bedanya, Galih tak pernah berniat untuk menyuapi Tiara.
Sedikit jahat memang, menggunakan Joenatan sebagai pelarian. dekat dengan pria itu untuk membuat Galih cemburu. Ya... Tiara juga tak bisa membenarkan kelakuannya. karena yang dilakukannya memang salah. dan mungkin jika Joenatan tau akan hal itu, mungkin Tiara tak termaafkan.
__ADS_1
"Halo... kenapa melamun?" ucap Joe, melambaikan tangan tepat di depan wajah Tiara.
"Eh, tidak..." membuat Tiara salah tingkah.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Joe.
"Tidak..." elak Tiara. tapi sungguh dalam kepalanya hanya memikirkan Galih saja. "Aku ke toilet bentar ya Joe..." pamit Tiara.
"Mau aku temanin?" tanya pria itu.
"Tidak usah..." tolak Tiara dan langsung bangkit meninggalkan mejanya. wanita itu berjalan mencari toilet.
Bersamaan dengan Tiara yang masuk ke dalam toilet wanita, seorang pria berjas hitam juga keluar dari toilet yang bersebelahan. Ck... dia makan siang disini juga? batinnya kegirangan.
Kenapa tidak, tadi Galih tengah menemani Arjun bertemu seseorang sambil makan siang di restoran ini. dan siapa sangka kalau di tempat ini juga ia bertemu dengan Tiara. bisa dikatakan takdir bukan?
Dengan seringai liciknya, Galih menerobos masuk ke dalam toilet wanita itu. menutup pintunya agar tak ada orang yang masuk.
Terdengar gemericik air menandakan kalau Tiara tengah mencuci tangan. dengan langkah yakin, Galih menghampiri Tiara dan memeluk tubuh wanita itu dari belakang.
"Ini sebuah takdir bukan?" bisik Galih terdengar berat.
Perlakuan pria itu yang tiba-tiba membuat Tiara sedikit terlonjak karena kaget. hampir saja Tiara berteriak kalau saja tak mencium bau parfum yang sudah familiar baginya.
tapi Taira tetap bersikap normal, ia tak mau di peluk sembarang oleh pria itu.
"Lepas Galih..." protesnya sambil mencoba untuk melepaskan tangan Galih yang melingkar di perutnya.
"Tidak..." tolak pria itu bahkan semakin memperdalam wajahnya di leher Tiara, membuatnya merinding.
"Ini toilet wanita Gal, pergilah... lo bisa kena masalah nanti..." usir Tiara. bagaimana kalau sampai di lihat orang lain? akan memalukan bukan?
"Memang gue sedang cari masalah..." jawaban Galih malah terdengar seenaknya, membuat tiara melongo tak percaya.
Apa dia benar-benar sinting? umpat Tiara.
"Ya... gue tergila-gila sama lo..." jawab Galih seperti paham kalau Tiara baru saja mengatainya.
"Ha?".
"Kenapa lo selalu bisa membuatku kesal?ha?" tanya Galih. memutar tubuh Tiara tapi tetap memeluk pinggang wanita itu.
Dengan jarak yang begitu dekat seperti ini, sungguh Tiara merasa tak nyaman. mungkin saja detak jantungnya yang menggila bisa sampai terdengar oleh telinga Galih.
"Berani sekali lo jalan dengan pria lain," ucap Galih. menatap lekat manik mata Tiara.
Galih kesal kalau Tiara dekat dengan pria lain. bahkan sampai tertawa bersama seperti yang pernah Tiara lakukan sebelum-sebelumnya.
Karena lo hanya milik gue Tiara.. hanya milik gue! batinnya.
"Apa sih maksud lo? bukankah terserah gue mau dekat dengan siapa saja? apa urusannya sama lo?" tantang Tiara.
Ucapan Tiara benar-benar menyadarkan Galih kalau wanita di depannya itu memang tak punya ikatan apapun dengannya. jadi Tiara bebas untuk memilih dekat dengan siapapun termasuk Joenatan. dan Galih tak berhak mencampuri urusan Tiara bukan?
"Berhenti untuk menghayal kalau gue akan tetap menyukai lo, Gal!" tambah Tiara.
__ADS_1
"Apa?-".
***