
HAPPY READING...
***
Tidak semua yang kita punya harus di umumkan. Tidak semua tawa harus pula di perlihatkan...
Karena kebahagiaan itu bukan tentang barang ataupun kemewahan, dan ... bahagia tak butuh sebuah penilaian...
---
"Lo berani juga ya masuk ke sini sendirian?" tanya Dion yang berjalan mendekati Gadis.
Membuat Gadis juga otomatis mundur beberapa langkah. Setidaknya biar tidak terlalu dekat.
"Lo tau, akan sangat bahaya jika perempuan dan pria berada di dalam ruangan seperti ini..." Dion semakin mendesak Gadis berjalan mundur.
"Gue hanya ingin bertanya kepada Lo!" bentak Gadis sok berani.
Gadis berdiri berkacak pinggang di depan Dion yang hanya mengenakan handuk membalut tubuh bagian bawahnya saja.
Rambutnya sesekali meneteskan air sisa mandi beberapa saat yang lalu. Menambah kesan cool bagi siapa saja yang memandang, termasuk Gadis.
Bahkan pahatan di perut pria itu seringkali membuat mata Gadis seperti ingin melihatnya sedikit lebih lama. Tapi harga dirinya akan jatuh jika ia melakukan hal itu. Itulah sebabnya Gadis tak berani menurunkan pandangannya.
Ck... gue udah pernah lihat dulu... begitu hatinya bicara.
Di Air terjun, Gadis memang tak sengaja melihat Dion mandi. Dan itulah pertama kalinya Gadis melihat pria yang bukan dari desanya sendiri.
Sejak saat itu Gadis merasa aneh, ada sebuah rasa dalam hatinya yang membuatnya tertarik dengan sosok Dion.
"Bertanya apa? gue bukan dukun ya..." jawab Dion melucu. Tapi tetap tak membuat Gadis menyunggingkan senyum dengan ucapannya.
Ck... gak lucu!
"Gak ketawa? padahal lucu... hahaha..." Dion menertawai lelucon garingnya sendiri. Membuat tatapan Gadis berubah aneh.
Ya tatapan Gadis seperti menatap orang gila yang tertawa karena hal yang tidak lucu sama sekali.
"Gue serius Yon!" ucap Gadis.
"Baiklah, Ayo..." jawab Dion.
"Ha? mau kemana?" tanya Gadis kebingungan karena Dion berkata Ayo.
"Katanya serius... ya udah ayo... ayo kita buat dedek bayi emesh..." ucap Dion dengan ekspresi yang di buat-buat lucu.
"Siapa yang bilang begitu? jangan aneh-aneh..." ucap Gadis sebal. Akhirnya membuat Dion juga terdiam sambil terus mengamati Gadis.
Tatapan Dion benar-benar sulit untuk diartikan. Tidak ada yang tau apa yang membuat tatapan mata pria itu terpaku cukup pada sebuah objek. Terkadang membuat Gadis salah tingkah sendiri dibuatnya.
"Lo sengaja menghindar kan?" tuduh Gadis pada akhirnya. Toh jelas sekali kalau Dion menghindarinya beberapa hari terakhir.
Karena pria itu sama sekali tidak keluar rumah. Padahal biasanya Dion selalu lari pagi setiap harinya. Walaupun cuaca sedang mendung sekalipun.
Tapi setelah kejadian dimana Bapak bicara dengan pria itu, menanyakan bagaimana tindakan Dion atas semuanya, meminta orang tua pria itu datang menemui keluarga Gadis, Dion terlihat berbeda.
Pria itu tak lagi berani keluar rumah ataupun menemui Gadis.
__ADS_1
Itulah sebabnya Gadis merasa kesal sekaligus kecewa. Ternyata Dion tidak seberani yang ia harapkan.
Pria itu seperti pria pengecut yang hanya ingin mengencani wanita tanpa mau berkomitmen dengannya.
Karena Dion tak menanggapi perkataannya, membuat Gadis melanjutkan pertanyaannya.
"Kenapa lo se pengecut itu? ha?".
Dengan menghindari Gadis adalah kesalahan besar.
Karena apapun yang Dion lakukan, setidaknya jangan membuat Gadis berharap terlalu tinggi.
"Tinggal bilang pada Bapak kalau Lo tidak sesuka itu terhadap gue... Lo tidak berniat punya hubungan dengan Gue, Lo tidak tertarik dengan Gue... jangan menghindar seperti ini..." ucap Gadis dengan nada naik turun menahan kemarahan.
Dengan begitu, Bapak tak lagi menanyakan tentang Dion dan keluarganya.
"Dengan Lo menghindar kayak gini, Bapak berpikir kalau Lo akan membawa keluarga Lo menemui beliau suatu hari nanti..." ucap Gadis. Sedangkan Dion mencerna semua perkataan Gadis tanpa berkata apapun.
"Bersikaplah tegas sedikit... jangan selalu menghindar kala masalah datang dalam hidup Lo. Apa Lo akan selalu sembunyi seperti ini? sampai kapan? masalah Lo tidak akan pernah selesai kalau Lo selalu menghindar..." ucap Gadis menggebu-gebu.
"Cukup bilang pada bapak kalau Lo tidak bisa," ucap Gadis terakhir kalinya dan berjalan hendak meninggalkan kamar itu.
Karena tidak ada yang perlu Gadis harapkan dari Dion.
Hingga saat di ambang pintu, tangan Gadis di tarik oleh Dion hingga membuatnya terhuyung dan kembali berada di sana. "Jangan pergi..." pinta Dion sambil memeluk tubuh Gadis dari belakang.
Suasana benar-benar berubah hening. Tidak ada angin ataupun suara yang tercipta sama sekali di ruangan itu.
Dan Gadis mampu merasakan detak jantung Dion dari balik punggungnya.
Jantungku... batin Gadis.
Cukup lama Dion memeluk Gadis dari belakang.
Hingga sebuah kata terlontar dari mulut pria itu, "Mau berjuang untuk meminta restu denganku?".
Pertanyaan dari Dion tentu saja membuat Gadis tersentak.
Dalam pemikirannya, Gadis paham kalau Dion butuh dirinya untuk meminta restu kepada orang tua pria itu.
Dan otomatis Gadis harus ikut Dion ke Ibukota menemui orang tua Dion.
Gadis masih tak menjawab, hingga Dion terpaksa harus memutar tubuh wanitanya demi untuk melihat wajah Gadis dari jarak dekat.
Pandangan mereka bertemu di satu garis lurus. Membuat jantung keduanya berdetak tak karuan. Inilah pertama kalinya Dion merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya.
Perasaan ingin memiliki Gadis seutuhnya.
"Gue memang tidak pernah mengatakan bagaimana perasaan Gue terhadap Lo... Gue tak pandai melakukan itu. Tapi dari cara gue bersikap kepada Lo, seharusnya Lo sudah bisa menilainya..." ucap Dion menjelaskan apa yang ia rasakan bersama Gadis. Bagaimana perasaan dia kepada wanita itu.
"Dan untuk membawa orang tua gue datang menemui Bapak,... sepertinya gue belum bisa mengabulkannya. Gue butuh waktu untuk bisa berdiri di depan mereka..." tambah Dion.
Setelah apa yang di laluinya selama ini, Dion rasa Papanya masih tetap bersikap sama seperti dulu.
Dion hanya tak mau Papanya sampai melibatkan keluarga Gadis pada masalahnya. Menggunakan keluarga Gadis untuk menekan Dion dan membuatnya tak berdaya dengan segala aturan yang Papa buat.
Dion tidak ada hal buruk yang terjadi pada Gadis nantinya.
__ADS_1
Tapi dengan mengatakan hal itu pada Bapak, mungkin akan jadi masalah besar bagi Dion. Mungkin saja dia dan Gadis tidak akan bisa bersama walaupun hanya angan-angan saja.
Orang tua mana coba yang rela anaknya dalam bahaya?
Mungkin lebih baik menghindar daripada harus membahayakan nyawa Gadis bersama Dion.
Itulah sebabnya Dion tidak bertindak gegabah. Memikirkan cara yang tepat sebelum benar-benar melangkah.
Tapi siapa sangka kalau Gadis akan sengaja mendatangi nya seperti ini.
Sangat jauh dari perkiraan Dion.
"Bawa gue bersama Lo... ayo kita yakinkan mereka sama-sama," pinta Gadis dengan binar mata penuh harap.
Setidaknya Gadis juga ingin meyakinkan orang tua Dion kalau dirinya pantas berjalan bersama putra mereka.
Dion tersenyum. Ucapan Gadis yang terdengar hanya lelucon saja tapi tanpa sadar memberi dampak positif. Dion merasa lebih berani dan yakin untuk membawa Gadis pergi menemui orang tuanya.
"Lo berani menemui mereka? bokap gue galak... gue bahkan sampai di usir olehnya..." goda Dion. Setidaknya ia tau bagaimana reaksi Gadis mendengar cerita bagaimana sosok Papa selama ini.
"Gue berani... asal bersama Lo..." jawab Gadis.
Tidak ada yang tidak mungkin dalam hidup ini.
Selagi jalan kita benar, pasti ada Tuhan yang selalu menemani dalam setiap langkah kaki yang kita ambil.
"Tunggu 2-3 bulan lagi... kita akan pergi ke Ibukota menemui mereka..." ucap Dion berjanji. Karena saat ini ia sibuk membangun bisnis dan kemungkinan akan bisa di pamerkan setelah 2-3 bulan lamanya.
"Gue akan bicara dengan Bapak besok pagi..." ucap Dion lagi. Kali ini sambil tersenyum dan menyentuh pipi Gadis.
"Jadi kita resmi pacaran?" tanya Gadis antusias sedangkan Dion hanya membalas dengan sebuah senyuman.
Hati Gadis benar-benar senang walaupun Dion tak menjawab pertanyaannya.
Ia kira cintanya akan bertepuk sebelah tangan. Tapi ternyata Dion juga memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Hingga tanpa terduga, Gadis mendekati Dion. Cuuppp.... mencium singkat bibir pria itu. Dan membuat Dion langsung membulatkan mata.
Apa-apaan ini? Ciuman pertamaku... batinnya syok.
Karena tanpa Dion duga, Gadis berani mengecup singkat bibirnya terlebih dahulu.
Sedangkan Gadis langsung berlari keluar kamar sambil menyentuh dadanya yang bergemuruh.
Gila! gue benar-benar gila! umpatnya dalam hati. Entah kenapa Gadis sampai seberani itu mencium Dion lebih dulu.
"GADISS!" teriak Dion menjadi satu-satunya suara yang tercipta ketika Gadis telah berlari menuju ke pintu keluar yang ada di lantai dasar Villa.
***
Hahaha...
Sebenarnya cerita cinta Dion tidak se sweet Galih sih... yang ini lebih ke perjuangan restu orang tua...
Yang tanya kapan Galih Tiara halal,... sabar yes... Bukan mengundur" ending juga. Karena memang kerangka cerita awal seperti ini. Seperti pada Part ini, aku nulis ini pada awal Desember. Tapi sengaja udah di atur Update tanggal sekian. Jadi ya memang seperti ini alurnya.
Mon maap sekali kalau buat kalian tidak sabar...
__ADS_1