Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
61. Membiasakan Diri.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Sudah 2 bulan sejak Dean memutuskan hubungannya dengan Akira. Sejak saat itu pula hubungan mereka benar-benar merenggang. Terkadang saat tak sengaja bertemu di kantin Kampus, Dean seperti sengaja menghindar dan bahkan tidak menyapa Akira sama sekali.


Sakit hati memang di perlakukan seperti itu, apalagi oleh orang yang pernah mengisi hari-hari kita di masa dulu, tapi mau bagaimana lagi. Semua ini sudah takdir Akira dan Dean.


Walaupun tak jarang, Akira juga menangis sendirian di dalam toilet perempuan. Menangisi nasib buruk di hidupnya.


Tapi untung saja, ada sahabat yang selalu ada untuk Akira. Ya... ada Tiara yang selalu bersedia untuk mendengarkan semua keluh kesah sahabatnya.


Tiara juga beberapa kali mampir ke rumah Pradipta untuk menemani Akira saat-saat sendiri.


"Aku berangkat ya..." pamit Akira pada pria di dalam mobil yang menjulurkan kepalanya keluar.


"Oke, jam berapa kamu pulang?" tanya Arjun. Walaupun setiap hari ia selalu menyempatkan diri untuk menjemput Akira, tapi tetap saja Arjun selalu bertanya kapan istrinya itu pulang kuliah.


"Aku sudah janjian mau ke toko buku dengan Tiara,"


"Baiklah, hati-hati..." jawab Arjun pasrah.


Ngomong-ngomong hubungan mereka jauh lebih baik daripada dulu. Walaupun tidak saling mengutarakan perasaannya, tapi sedikit ada kemajuan dalam hubungan mereka.


Tapi bukan berarti Arjun dan Akira berhenti berdebat, perdebatan itu selalu muncul diantara mereka. Bahkan tadi malam mereka juga sempat berdebat karena Arjun tidak mau membantu menyelesaikan tugas Akira. Padahal Akira tau kalau pria itu bisa menjawab soal-soal yang diberikan dosen kepadanya.


Tapi perdebatan itu tidak berlarut-larut. Nyatanya mereka tidur di ranjang Yang sama semalam. Entah terkena sihir apa yang membuat Akira berubah. Sekarang ia sulit sekali tidur tanpa Arjun di sisinya. Tidurnya bahkan tidak nyenyak sama sekali. Hal itu terjadi saat Arjun terpaksa pergi ke luar kota selama 2 hari.


Selama itu pula, Akira tidak mampu tidur dengan nyaman. Ia terbangun di tengah malam hanya untuk memastikan sisi ranjang yang kosong.


Jika sisi ranjang itu terasa dingin, Akira merasa kecewa. Hal itu berarti Arjun memang belum pulang.


 


Jam kuliah telah usai. Akira sudah menunggu Tiara di tempat biasa mereka janjian. Bukan di taman lagi, karena taman kampus memiliki banyak kenangan yang sulit untuk Akira lupakan. Di taman itu Dean memutuskannya dan itulah yang membuat Akira tak lagi kesana. Lagian ada banyak tempat di Universitas ini yang bahkan lebih indah dari taman.


Seperti sekarang, Akira duduk di bawah pohon yang begitu rindang. Dahan pohon itu bahkan hanya memiliki jarak sekitar 1-2 meter dari tanah.


"Lama menunggu?" tanya Tiara yang baru saja tiba dan sedikit mengejutkan Akira.


"Lumayan,"


"Ayo kita pergi sekarang," ajak Tiara.

__ADS_1


Mereka akan pergi ke toko buku untuk bahan pembelajaran.


"Ayo," Akira juga bangkit dari sana.


Tiara menggunakan kendaraan roda dua untuk berangkat kuliah. Jadi saat ini mereka berjalan menuju ke tempat parkir.


Tidak di sangka sesuatu terjadi di sana. Akira benar-benar bertemu dengan Dean di tempat parkir. Keduanya langsung terdiam mematung.


"Hai Yan," sapa Tiara sedikit menghapus kecanggungan di antara mereka.


"Mau pulang?" tanya Dean basa-basi. Pertanyaan itu tentu saja di tujukan kepada Tiara. Bahkan Dean seolah tak melihat keberadaan Akira di sana.


Entah apa yang membuat Dean begitu acuh kepada Akira.


Mereka benar-benar seperti seseorang yang tidak pernah saling mengenal.


"I-ya" jawab Tiara sambil melihat bagaimana reaksi Akira. Tentu saja yang dilihat dari wajah sahabatnya adalah sebuah kesedihan saja.


Tiara mempercepat mengambil motornya agar tidak membuat Akira semakin sedih.


"Kita duluan Yan," pamit Tiara.


"Oke,"


Maafkan Aku Akira... Walaupun Akira tak mampu mendengar isi hati Dean, tapi Dean tetap meminta maaf.


Sebenarnya Dean juga tidak mau mengacuhkan gadis itu seperti ini. Tapi apa yang bisa ia perbuat?


Dean hanya bahagia melihat ayahnya yang gembira kembali bekerja seperti sedia kala. Dean juga senang mendengar bahwa adiknya tak lagi diikuti oleh pria misterius ketika pulang sekolah.


Terlihat egois memang, tapi hanya itu yang bisa Dean lakukan untuk keluarganya. Bagaimanapun keluarga adalah tempat pertama baginya untuk pulang.


"Akira, kenapa diam saja?" tanya Tiara sambil fokus melihat jalanan di depan sana.


"Hiks..." bukannya menjawab, malah terdengar tangis dari belakang Tiara.


"Sudah lah... kenapa lo masih menangis sih," omel Tiara. Sudah sering sekali ia melihat Akira seperti sekarang. Menangisi orang yang sama yang bahkan tidak akan pernah bisa kembali kepadanya.


"Lo nggak tau gimana sakitnya hati gue..." adu Akira. Rasanya benar-benar sakit melihat Dean yang mengacuhkannya seperti tadi.


Akira belum bisa menerima hal itu. Andai saja Dean memperlakukannya sedikit lebih baik, mungkin Akira akan lapang dada menerima semuanya.


"Gue memang tidak tau bagaimana perasaan Lo, tapi setidaknya jangan sakiti diri lo sendiri... jangan terlalu menangisi orang yang bahkan tidak peduli terhadapmu lagi. Sadar Ra, Dean tidak cocok untuk Lo!"

__ADS_1


hanya itu saran yang bisa Tiara berikan untuk Akira.


"Lalu siapa yang cocok untukku?" tanya Akira tanpa dosa sama sekali.


"Arjun,".


Toh pada kenyataannya, Arjun tidak seburuk yang terlihat. Pria itu juga sangat baik kepada Akira bahkan selalu membantu mengerjakan tugas-tugas Akira yang begitu rumit.


Kalau gue jadi Akira, mungin gue sudah jatuh cinta pada Arjun... kenapa tidak? Dia tampan, keren, kaya dan juga pintar... kurang apa lagi coba?


"Jangan bilang kalau lo mendukungnya karena dia bersikap baik kepada Lo!" tuduh Akira.


Akira ingat dengan Arjun kemarin lusa yang mengijinkan Akira pergi ke salon dengan Tiara. Bukan hanya menemani, Tiara juga ikut perawatan sama seperti yang Akira lakukan. Dan tentu saja di bayar dengan kartu milik Akira yang di berikan Arjun sebagai bentuk nafkah.


"Hahaha..." Tiara hanya menanggapi sahabatnya dengan tawa.


"Ck... licik sekali Lo!" umpat Akira walaupun dalam hati ia hanya bergurau saja.


Apapun itu, Akira senang karena dia dan sahabat nya bisa menghabiskan waktu bersama. Jangankan untuk memanjakan diri di salon, berbelanja juga Akira senang.


Anggap saja sebagai bentuk usahanya untuk sedikit mengurangi kekayaan suaminya.


Tak terasa Akira dan Tiara telah bisa di toko buku langganan mereka.


Mereka segera masuk ke dalam sana dan tak lupa memesan minuman juga makanan ringan untuk menemani mereka.


"Akira, kenapa lo memesan makanan yang manis?" tanya Tiara keheranan. Bersahabat dengan Akira sejak lama, Tiara sudah hafal dengan segala sesuatu tentang gadis itu. Termasuk dengan masakan kesukaan Akira dan beberapa yang tidak di sukainya.


Ya... Akira tidak suka dengan makanan yang sedikit lebih manis seperti cake ataupun cokelat.


"Karena kata Arjun, tubuh gue kayak anak SMP... terlalu kecil," jawab Akira fan langsung melahap cake rasa vanila di depannya.


"Terus?"


"Ya... gue ingin sedikit menggemukkan badan, Arjun suka dengan cewek yang sedikit berisi...".


"Jadi untuk menyenangkan Arjun?" tuduh Tiara.


Eh, kapan aku mengatakan hal itu? Kenapa untuk menyenangkan pria itu? tentu saja Akira kebingungan dengan ucapannya sendiri.


"Lo suka ya?" ejek Tiara.


"Apaan sih, mana ada gue suka sama dia..." sanggah Akira.

__ADS_1


***


__ADS_2