Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
127. Berangkat.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Langit Ibukota masih gelap saat Akira terlihat beranjak dari ranjang dan menuju ke kamar mandi.


Entah karena ini adalah perjalan pertama yang akan ia lakukan atau karena alasan lain, Akira tidak bisa tidur nyenyak semalaman. Dan saat ini, saat fajar tiba gadis itu telah bersiap untuk mandi.


Aaa... aku tidak sabar... bagaimana rasanya naik pesawat, bagaimana suasana Eropa, Aku ingin mengelilingi setiap kota disana...


Andai bukan Keluarga Pradipta, mungkin semua itu tidak akan terwujud bagi Akira. Boro-boro ke Eropa, ke Luar pulau saja mungkin Akira harus menabung sampai beberapa tahun.


Tapi bersama dengan Arjun, semua yang terlihat seperti mimpi belakang benar-benar terwujud menjadi sebuah kenyataan.


Karena pria itu juga Akira mampu menikmati sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Akira keluar sambil membalut tubuhnya dengan jubah mandi berwarna putih dan berjalan menuju ke ruang ganti pakaian. Akira tersenyum melihat pakaian yang sudah ia siapkan sejak kemarin.


Celana jeans dipadukan dengan Crop top serta jaket tebal yang panjangnya mungkin sekitaran mata kaki.


Merapikan rambut panjangnya, Akira sesekali melihat ke arah ranjang dimana Arjun masih meringkuk dalam balutan selimut tebal.


Kapan dia bangun? batin Akira.


Berkaca pada saat piknik saat masa-masa sekolahnya dulu, Akira di haruskan bangun pagi dan berangkat ke sekolah saat fajar datang. Menunggu teman-temannya di samping Bus wisata yang berjejer rapi dengan nomor urut masing-masing.


Dan sekarang seperti inilah Akira, bahkan ia tidak bisa tidur nyenyak semalaman.


"Sayang... bangun," teriak Akira.


Entah mau sampai kapan Arjun akan tidur dan tidak bersiap.


Bisa-bisa mereka akan ketinggalan pesawat nanti.


"Sayang..." panggil Akira lagi. Bahkan kali ini sampai mendekati ranjang dan membangunkan suaminya.


Menggoyangkan lengan Arjun dengan sekuat tenaga, "Sayang... bangun,"


"Hmmm..."


Sedangkan pria itu masih memejamkan matanya. Walaupun mampu menjawab panggilan Akira.


Arjun merenggangkan ototnya, mengerjabkan mata untuk menyesuaikan cahaya kamar.


"Mau kemana serapi itu?" goda Arjun pada istrinya.


Sedangkan Akira, Gadis itu langsung mengerucutkan bibirnya sebal.


"Kamu tidak ingat? kita kan akan pergi pagi ini..."Akira mengingatkan mungkin saja suaminya terkena amnesia semalam.

__ADS_1


"Sepagi ini?" Arjun meraih tangan istrinya, membuat gadis itu terpaksa kembali berbaring.


"Tidur lah lagi,"


"Tidak! aaa... lepas..." ucap Akira. Mana bisa ia tidur lagi sedangkan Akira telah bersiap bahkan sudah memakai make up.


"Sayang, pesawat kita akan segera berangkat..." bujuk Akira.


"Mereka akan menunggu kita," jawab Arjun.


"Ha?" tentu saja Akira langsung melongo tak paham. Menunggu? memang kita siapa sampai di tunggu pesawat? apa keluarga ini memiliki pesawat pribadi? Ha?


"Memang iya, kenapa terkejut seperti itu?" goda Arjun. Melihat istrinya yang kebingungan benar-benar terlihat lucu dan Arjun ingin sekali memakan gadis itu saat ini juga.


"Serius?" tanya Akira penuh penekanan.


Gila... tajir benar keluarga suami gue... hehehe dan tersenyum dengan pemikirannya sendiri.


***


Tepat pukul 8 pagi, Arjun dan Akira turun dari kamar. Di lantai utama telah ada 2 orang pelayan dan 4 orang pria berseragam hitam sama dengan yang selalu terlihat ketika Papi Johan pergi keluar rumah dan juga Galih.


Apa-apaan ini? mereka ikut semua?


Akira hendak bertanya pada suaminya, tapi terlihat sekali kalau Arjun sudah menjawab pertanyaannya lewat sorot mata.


Liburan orang kaya memang begini ya? kenapa tidak mengajak semua orang sekalian? hehehe biar pesawat nya penuh...


Hingga Akira langsung menghentikan tawanya.


"Sudah siap sayang?" tanya Mami Livia bersuara.


Wanita anggun itu mengamati penampilan menantu satu-satunya sambil sesekali memperbaiki rambut Akira.


"Iya Mi,"


"Mami, Papi... kami berangkat..." pamit Arjun. Begitu juga dengan Akira yang mencium punggung tangan Mami dan Papi bergantian. Meminta doa agar perjalanan mereka semua di lancarkan dan selamat sampai pulang nanti.


"Hati-hati... Arjun, ini adalah perjalanan pertama bagi Akira... walaupun musim salju sudah selesai, tapi cuaca disana masih terasa dingin. Jaga istrimu..." perintah Mami Livia.


Mami dan Papi memang sengaja memberikan waktu yang tepat bagi Arjun dan Akira liburan. Di Eropa, saat ini sedang memasuki musim semi. Dimana cuacanya cukup baik bagi orang asia yang tidak terbiasa dengan cuaca sama dingin.


Beda lagi dengan Arjun, pria itu sudah sering berpergian ke berbagai negara khususnya negara yang memiliki 4 musim. Tubuh Arjun mampu beradaptasi dengan berbagai musim di lain negara.


"Iya Mi... Arjun tau kok..." jawab Arjun.


"Bawa kabar baik nanti..." tambah Papi Johan dengan senyum yang di mengerti oleh semua orang, termasuk Akira. Hingga gadis itu merasakan panas di sekitar wajahnya.


Aaa... malunya...

__ADS_1


Mami Livia juga senang akan hal itu. Bagaimana nanti setelah anak dan menantunya pulang, Akira membawa kabar kehamilannya.


Pasti Mami tambah menyayangi menantunya melebihi apapun.


Semoga Tuhan selalu menyertai jalan mereka... batin Mami Livia.


"Tenang aja Pi, Arjun akan mewujudkan keinginan kalian... Mami suka Baby Boy atau Girl?" tanya Arjun penuh semangat.


Sedangkan Akira tambah menundukkan pandangannya.


Entah kenapa ia harus memiliki suami seperti Arjun yang mulutnya selalu rame.


Bahkan dengan ucapan-ucapan yang terlalu blak-blakan.


"Apa saja, Mami suka..." jawab Mami Livia.


Mungkin Arjun benar-benar menurun dadi sifat ibunya. Karena Papi Johan selalu terlihat tenang, sedangkan Istri dan anaknya memang selalu heboh akan semua hal.


"Cepat sana berangkat..." usir Mami pada akhirnya.


Arjun dan Akira pamit kepada orang tua mereka. Mencium punggung tangan Papi dan Mami bergantian sebelum masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka ke Bandara.


 


Tiba di Bandara dan telah masuk ke dalam pesawat, Akira hanya bisa melongo tak percaya. Ternyata mereka pergi dengan pesawat milik Papi Johan sendiri.


"Duduklah sayang..." pinta Arjun kepada istrinya yang tidak mau diam sambil sesekali menjulurkan kepalanya ke arah belakang. Entah apa yang di cari gadis itu, membuat Arjun benar-benar ingin menarik kepala istrinya.


"Aku penasaran dengan tempat duduk mereka," yang di maksud Akira adalah Pelayan yang mereka bawa sekaligus anak buah Papi Johan yang akan menjaga Arjun dan Akira di Eropa nanti.


"Jangan penasaran! mereka masih duduk di kursi yang sama... bukan di karpet terbang kayak Aladin," gerutu Arjun bahkan hingga membuat pria yang duduk di bangku belakangnya tertawa cekikikan.


Galih sudah menduga akan kehebohan yang terjadi pada pasangan di depan sana. Inilah salah satunya.


Meributkan soal tempat duduk yang bahkan bukan sesuatu yang amat penting.


"Duduk atau aku benar-benar memakan mu disini!" ancam Arjun.


Dan ternyata itu sangat efektif untuk membuat istrinya berhenti berpenasaran akan semua hal.


Galih menselonjorkan tubuhnya. Dari balik kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya, pria itu memejamkan mata. Mempersiapkan diri agar kebugaran tubuhnya tetap terjaga.


Setidaknya menabung tidur lebih dulu... batin Galih.


Karena jika tiba di Eropa, mungkin Galih tidak akan punya waktu untuk sekedar bernafas dengan baik. Jangan tanya mengapa, tentu saja karena tingkah pasangan tidak tau diri di depannya yang mungkin akan membuat Galih selalu kerepotan.


Burung besi yang membawa rombongan Keluarga Pradipta mulai mengudara. Membelah awan tipis di langit Nusantara.


Inilah pertama kalinya Akira merasakan bagaimana rasanya terbang dengan alat transportasi udara tersebut.

__ADS_1


Jantungnya seperti berhenti berdetak. untung saja ada Arjun yang selalu mengerti akan kecemasan hatinya. Kedua tangan pasangan muda itu terpaut untuk beberapa saat. Saling menguatkan dan membuat ketenangan jiwanya.


***


__ADS_2