
HAPPY READING...
***
Hari ini adalah hari pertama dalam jadwal bulan madu Arjun dan Akira.
Jadwal? tentu saja. Karena sesuatu memang perlu di jadwalkan agar terlaksana dengan baik nantinya.
Apalagi bukan hanya sehari atau 2 hari saja Arjun dan Akira pergi berbulan madu.
2 minggu, ya mereka mendapat waktu dari Papi Johan selama 2 minggu.
Dan selama 2 minggu itu, Arjun dan Akira akan mengunjungi beberapa negara di Benua Eropa ini.
Mereka mengawalinya dengan Negara Belanda.
Setelah sarapan pagi yang sangat tertunda, Arjun Akira Galih dan di temani oleh 4 penjaga mulai meninggalkan Hotel tempat mereka menginap ke sebuah destinasi yang amat terkenal disana.
Apalagi kalau bukan taman dimana banyak sekali bunga Tulip yang tumbuh.
Arjun dan Akira duduk di bangku tengah mobil, sedangkan Galih duduk di depan bersebelahan dengan penjaga yang mengemudikan mobil. 3 penjaga lainnya tentu saja menggunakan mobil lain dan sedang membuntuti mobil Arjun.
"Gunakan Syal mu dengan benar..." ucap Arjun sambil memperbaiki syal berwarna merah di leher istrinya.
Musim salju telah berakhir di negara ini, tapi bukan berarti cuaca berubah dengan cepat. Masih terasa dingin bagi orang-orang apalagi untuk orang yang tinggal di wilayah Asia Tenggara. Termasuk Akira, yang memiliki postur tubuh kecil. Pasti gadis itu sangat sensitif dengan suhu udara dingin.
Bisa-bisa gadis itu akan mudah terkena flu. Arjun tak mau hal itu terjadi.
"Padahal bukan musim salju ya, kenapa masih dingin?" tanya Akira dengan polosnya.
Biasanya di Negara tropis, cuaca akan dingin ketika musim penghujan. Tapi saat matahari sudah muncul, keadaan juga berubah sedikit lebih hangat.
"Karena Musim Semi adalah musim peralihan..." jawab Arjun singkat.
Sebenarnya ia juga tidak mau menjawab pertanyaan istrinya yang entah kenapa terdengar seperti lelucon saja. Tapi karena Arjun cinta, jadi perlu lah untuk menjawab pertanyaan dari Akira.
"Ha?"
Benar kan apa kata Arjun, Akira sama sekali tidak paham dengan penjelasannya tadi.
"Maksudnya gimana?"
Arjun memejamkan mata sejenak. Berpikir bagaimana cara menjelaskan sesuatu agar tidak menguras tenaga sekaligus Akira paham.
Karena kalau Arjun bicara semaunya, Akira akan bertambah bingung nanti.
"Sayang, kamu tau kan kalau di Eropa ada 4 musim yang terjadi setiap tahunnya...?" tanya Arjun memulai penjelasannya.
"Hm," Akira menganggukkan kepalanya. Karena sejak SD sampai SMA memang ada pelajaran mengenai perbedaan musim di berbagai belahan dunia.
Walaupun Akira tidak cukup pintar, tapi mampu mengingat akan hal sesederhana itu.
"Jadi musim semi memang musim peralihan dari musim salju ke musim panas. Itulah sebabnya cuaca tidak terlalu terik tapi udaranya masih begitu sejuk...",
"Oh begitu ya.." jawab Akira paham.
Pintar sekali dia... aa, kenapa suamiku sangat pintar sih...
Beda lagi dengan ekspresi pria yang duduk di samping kemudi, ck... begitu saja gue juga paham kale... batin Galih.
Tak terasa perjalanan yang mereka lalui telah sampai di sebuah taman bunga yang amat terkenal bagi turis mancanegara.
Di taman ini, banyak sekali bunga Tulip dengan berbagai warna jan jenisnya masing-masing.
Membuat mata Akira langsung bersinar penuh ketakjuban.
Waw... indahnya...
Arjun menggandeng tangan istrinya dan masuk ke dalam sana. Diikuti Galih dan para penjaga yang berjalan dengan pandangan terus mengamati pasangan tersebut.
__ADS_1
"Indah sekali..." puji Akira.
"Indah, jadi teringat kenangan dulu tidak sih... saat kejar-kejaran di taman bunga kayak sinetron," sela Galih dan langsung berjalan lebih dulu di depan Arjun.
Membuat nafas pasangan itu seperti tercekat di tenggorokan.
Apa? apa dia bilang? batin Arjun.
Ck... ternyata mulutnya pedas juga... batin Akira.
Padahal Galih sama sekali tidak pernah berkata tidak sopan sedikitpun kepada Akira selama ini.
Apa yang di katakan Galih barusan adalah bentuk protesnya karena sudah di buat kesal oleh Arjun dan Akira sejak pagi.
Gara-gara pasangan itu, Galih harus menahan rasa laparnya.
"Menyebalkan sekali mengingatnya," tambah Galih lagi.
Ingatan Galih kembali pada sekitar 10 bulan yang lalu. Dimana ia harus mengejar gadis yang tak di kenalnya sampai di depan toilet umum.
Sedangkan Arjun juga mengejar gadis lain yang sekarang ini malah menjadi istri pria itu.
Takdir? entahlah. Apa bisa kejadian itu di anggap sebagai sebuah takdir.
Tapi bagi Galih yang tidak lagi mempercayai cinta, Takdir hanyalah bualan saja.
"Kamu ingat itu kan sayang?" tanya Arjun sedikit terpengaruh dengan ucapan Galih yang mengingatkan masa lalu mereka.
Akira hanya mengangguk canggung. Karena masa lalu itu juga menyangkut dirinya juga.
Sedikit memalukan memang karena saat itu Akira benar-benar lagi dari kejaran Arjun, yang saat itu belum di kenalnya.
Saat itu yang ada di pikiran Akira hanya menghindar dari Arjun.
"Dulu rambutmu masih sepanjang ini kan?" ucap Arjun memastikan sambil tangannya menyentuh pundak istrinya.
Dulu Akira memang memiliki rambut sebahu tapi sekarang sudah banyak berubah.
"Kamu mengingatnya?" tanya Akira. Karena hal itu tidak terlalu penting tapi Arjun masih ingat betul.
"Tentu saja, gadis kecil pertama yang berani menertawai ku..." sindir Arjun.
Mengingatnya membuat Arjun sedikit kesal karena Akira dengan beraninya menertawainya masa itu.
"Hahaha..." Akira tak mampu menahan tawanya mengingat saat Arjun di tampar oleh 3 orang wanita.
"Kamu menertawai ku lagi?" tanya Arjun tak suka.
"Maaf sayang," sesal Akira walaupun masih tersisa senyum di bibirnya.
"Dasar..." umpat Arjun.
"Sayang, ambil fotoku..." pinta Akira dan langsung berpose di tengah-tengah hamparan bunga Tulip.
"Oke,"
Arjun segera mengabadikan potret istrinya dengan berbagai pose.
"Nyet! fotoin kita..." perintah Arjun pada Galih.
Memang inilah keuntungan Galih ikut dalam liburan Arjun, ia bisa memerintah sahabatnya dengan sesuka hati.
Walaupun terlihat sebal, Galih menuruti keinginan Arjun. "Siap? senyum..." perintah Galih seolah menjadi fotografer terkenal yang sedang mengarahkan modelnya.
Banyak sekali foto yang Galih ambil, sesekali ia mengecek di kamera sambil tersenyum.
Hal itu membuat Arjun curiga, Ada dia melakukan sesuatu? batinnya curiga. Karena jika Galih tersenyum seperti itu, pasti ada hal yang di perbuatnya.
Dan mungkin memang Galih melakukan sesuatu dengan foto Arjun.
__ADS_1
"Sini!" minta Arjun pada kamera yang tadi di bawa Galih.
Setidaknya Arjun ingin tau bagaimana keahlian Galih dalam mengambil foto.
Mata Arjun membulat sempurna melihat gambar yang di ambil Galih tadi, B*ngke! umpatnya dalam hati.
Bagaimana Arjun tidak kesal coba, foto yang di ambil Galih benar-benar keterlaluan.
Pria itu sengaja mengambil gambar Akira bersama dengan tubuh Arjun dari leher hingga ke bawah.
Sedangkan kepalanya, sengaja di potong.
"Lo cari mati ya?" umpat Arjun. Sedangkan Galih hanya tertawa penuh kemenangan. Kapan lagi ia bisa mengerjai sahabatnya kalau bukan sekarang.
"Lihat sayang," Akira juga ikut melihat seperti apa foto yang membuat suaminya kesal tersebut.
"Whahahaha..." sama seperti Galih, Akira ikut tertawa lepas melihat hasil jepretan Galih.
Bagaimana bisa ia sengaja memotong kepala Arjun? batin Akira sedikit geli.
Ia seperti tengah berfoto dengan seorang hantu tanpa kepala.
"Lo cari mati ya!" cerca Arjun lagi.
"Hahaha... mau bagaimana lagi, nanti ketampanan Lo akan luntur kalau banyak di potret..." jawab Galih berpura-pura.
Sedangkan Arjun masih mengerucutkan bibir sambil bergumam penuh cacian.
"Baiklah, sini gue ulangi..." ucap Galih mengalah.
Arjun langsung melempar kamera ke arah Galih tanpa aba-aba.
Dan Galih segera mengambil kembali potret pasangan itu dengan berbagai pose.
---
Arjun Akira dan Galih duduk di sebuah Kafetaria yang ada di taman bunga Tulip tersebut sambil menikmati minuman yang di pesan. Sesekali angin bertiup menggoyangkan hamparan bunga, seolah menari dengan gemulainya.
"Melihat bunga itu aku jadi ingat Tiara..." ucap Akira tanpa sadar.
Akira merasa menyesal karena tidak sempat memberi tahu Tiara kalau dirinya sedang liburan. Tiara juga tidak mengabari Akira selama dua hari terakhir.
Entah apa yang membuat gadis itu lupa dengan Akira. Karena biasanya setiap hari Akira dan Taira menyempatkan diri untuk bertukar kabar.
"Kenapa tidak memberitahunya kalau kamu sedang disini?" ucap Arjun memberi saran.
"Ah iya ya..." Akira langsung mengambil ponselnya hendak mengabari Tiara.
"Percuma, ponselnya mati..." sela Galuh tiba-tiba. Membuat Arjun dan Akira bersamaan menatap pria itu untuk mencari penjelasan.
"Maksudnya?" tanya Akira.
Padahal hubungan Galih dan Tiara memang tidak sedekat yang terlihat.
"Ha? apa? tadi aku bilang apa?" Galih berubah gugup. Entah kenapa ia keceplosan untuk ikut membahas Tiara.
"Tadi Lo bilang kalau ponsel Tiara mati. Darimana Lo tau?" selidik Arjun.
Gawat! mereka akan salah paham nanti!... batin Galih berubah pias. Bahkan keningnya mulai di basahi oleh butiran keringat.
Di tambah dengan tatapan Akira yang penuh intimidasi.
"Aaa... itu, em... gue tak sengaja melihatnya jalan di trotoar saat hujan. Ya... itu maksud gue..." jawab Galih terbata-bata.
Menyeruput minuman di gelasnya untuk sedikit mengusir kegugupannya dan berkata, "Pasti ponselnya mati karena terkena hujan bukan?" sambil melihat ke arah Akira.
Tiara berjalan saat hujan? kapan? batin Akira bertanya-tanya.
Sebagai sahabatnya, Akira malah tidak mengetahui hal itu.
__ADS_1
***
Hahaha... gimana gak marah coba si Arjun... Galih usil banget sih...