
HAPPY READING...
***
"Cukup kak... kali ini Bella tidak akan diam," tolak Bella. untuk pertama kalinya Bella akan mengatakan apa yang ada dalam hatinya. Tak lagi mematuhi batasan antara mereka sebagai kakak dan seorang adik.
Bella telah cukup dewasa, ia bisa menilai apa yang dianggap benar dan apa yang salah.
Dan untuk masalah ini, Bella yakin hanya kakaknya lah yang salah. memberi harapan pada dua gadis secara bersamaan. mengikat salah satunya karena perasaan sedangkan tangan lainnya masih menggenggam masa lalu yang bahkan pernah menghancurkannya.
Bodoh memang, karena seharusnya Galih tak berbuat sepengecut itu. seharusnya pria itu bisa sedikit tegas memilih seperti apa masa depannya nanti.
"Apa yang membuat kakak seperti ini? apa kakak tidak ingat apa yang telah dilakukan wanita itu pada diri kakak?" tanya Bella. Bahkan Bella sampai tak sudi menyebut nama wanita yang telah menghancurkan kehidupan kakaknya. wanita yang telah menarik ulur perasaan Galih seenaknya sendiri.
wanita yang ... sungguh Bella tak lagi bisa menilai seperti apa sosok wanita masa lalu Galih itu.
"Bella...".
"Cukup Kak... jangan menyela perkataan ku lagi. Biarkan Bella bicara. biarkan Bella mengatakan apa yang ingin Bella katakan..." tolak Bella.
"Sedalam apa rasa cinta kakak kepadanya? hanya karena dia kakak rela bermusuhan dengan Ayah, menghancurkan diri kakak sendiri, dan menjadi pecandu n*rkoba!" teriak Bella.
bahkan ucapan terakhirnya mampu menyayat hati Bella. untuk pertama kalinya Bella berani mengatakan hal itu, hal yang ia tutupi selama ini. membuat Galih hanya bisa berdiri mematung, karena mengira Bella tidak tau akan hal itu.
Ya... ironis memang. Sejak lama, semenjak Bella dewasa ia mulai sadar tentang apa yang telah terjadi pada kakaknya du masa lalu.
Kakak yang Bella sayangi adalah pecandu obat-obatan terlarang.
Bella sudah menyembunyikan apa yang ia tau. Ia berusaha terlihat bodoh, berpura-pura di depan Galih hanya karena tak ingin kakaknya itu merasa bersalah.
Bagaimanapun, Galih adalah panutan Bella.
"Bel...".
"Bella sudah tau semuanya kak.. Bella tau tentang itu... selama ini Bella hanya berpura-pura tidak tau, karena..." isak Bella mulai terdengar, "Bella tak mau kakak sedih, bersalah, dan merasa tidak pantas menjadi kakak Bella...".
Sesayang itu Bella terhadap Galih. apapun yang Galih lakukan, Bella tetap menyayanginya.
Seburuk apapun perbuatan Galih, di mata Bella Galih tetap seorang kakak yang peduli dan bertanggung jawab.
"Maafin kakak Bel," ucap Galih. maaf karena ia bukanlah kakak yang baik seperti kakak lain di luaran sana.
Kakak yang tidak bisa di andalkan dan mungkin memalukan jika semua orang tau tentang masa lalunya. dan lebih parahnya, mungkin Bella tidak ada yang mendekati karena mempunyai seorang kakak mantan pecandu n*rkoba.
"Apa yang dia lakukan kepada kakak? apakah dia menyesal pernah berbuat jahat pada kakak? apa dia menyesal telah meninggalkan kakak? atau justru bangga dan merasa menang karena kakak masih menginginkannya?" tanya Bella.
"Kenapa kakak begitu bodoh? kenapa kakak membiarkan Tiara pergi hanya karena wanita itu ha? apa Mas Dion dan Mas Arjun tau? apa mereka tau akan hal ini?" desak Bella.
Karena ia yakin kalau kedua sahabat kakaknya itu tak tau apapun tentang hal ini.
Bella yakin jika Dion dan Arjun tau, mungkin mereka sudah memperingati Galih. mungkin saja sudah bertindak selangkah lebih maju dari sekarang.
"Tidak kan? mereka pasti tak tau...".
Bella kembali menyeka air matanya. "Jika kakak memang lebih memilihnya, Bella yakin... Ayah, Ibu, Mas Dion, Mas Arjun dan juga Bella sendiri akan benar-benar meninggalkan kakak... kakak akan sendirian di dunia ini..." ucap Bella seperti sebuah sumpah.
__ADS_1
"Bella...".
"Bella kecewa pada mu kak... Bella kecewa...". ucapan yang terlontar dari mulut Bella sebelum gadis itu pergi meninggalkan Galih sendirian di jalanan yang sepi.
Ucapan Bella masih terngiang di dalam kepala Galih. Bahkan laju kendaraannya yang begitu kencang tak mampu mengusir suara-suara itu.
Galih sengaja memilih jalanan yang dulu pernah ia gunakan sebagai arena balap liar. Ya... saat malam seperti ini, jalanan itu sangat sepi oleh kendaraan.
Galih semakin dalam menarik gas motornya, mungkin ini pertama kalinya setelah Galih tak lagi bermain dengan jalanan seperti masa mudanya.
Hanya untuk bertaruh uang yang bahkan nominalnya tak seimbang dengan gajinya saat ini.
Hingga, Srreeetttt...
suara decit rem beradu dengan aspal jalanan. Menciptakan sepercik api di bawah sana.
"Hah hah hahh..." Galih menstabilkan detak jantungnya. nafasnya naik turun karena hampir saja ia menjadi korban jalanan.
Andai tak segera mungkin Galih menarik rem, ia akan menabrak trotoar di depannya.
Inilah salah satu faktor yang sangat penting dalam berkemudi. fokus dan dalam keadaan sadar. karena bukan hanya mengantuk saja,melamun juga mampu mengakibatkan kecelakaan dan membahayakan pengguna jalan yang lain.
Galih membuka helmnya. keringat dingin mulai mengucur deras di balik punggung. dadanya masih naik turun membayangkan apa yang bisa terjadi padanya jika Galih tidak bisa mengontrol semuanya.
Mungkin antara terbaring di Rumah Sakit atau terbaring di peristirahatan terakhirnya.
Terima kasih Tuhan... ucap Galih tak henti-hentinya.
Merenungi semuanya, semua ucapan Tiara, semua ucapan Bella tadi.
***
Bella menangis di dalam kamar. setelah puas mengatai sang kakak, Bella masuk dan mengunci diri di dalam kamar. bahkan tak memperdulikan Ayah dan juga Ibunya.
"Ada apa Bel?" tanya seseorang di balik sambungan telepon.
"Mas Arjun tau tentang kakak?" masih terdengar isak tangis dalam suara Bella.
Setelah berpikir cukup lama, Bella memutuskan untuk memberitahu Arjun tentang semua hal yang ia ketahui. setidaknya hanya dengan Arjun, Galih bisa berubah pikiran.
"Maksudnya? kenapa dengannya? tadi siang gue masih bekerja dengan kakak Lo...".
tentu saja Arjun keheranan karena ia masih membahas proyek dengan Galih siang tadi bahkan sampai sore hari.
Bella menceritakan semuanya, bahkan tak sungkan menangis di depan Arjun. Karena Arjun sudah seperti kakak kedua baginya.
Dan sekarang, Bella mempunyai tempat di Pradipta Group sambil kuliah untuk mencapai gelas S2 nya.
"Jangan khawatir... besok gue akan bicara dengannya... Oh iya Bel, apa paman dan Bibi tau akan hal ini?" tanya Arjun setelah paham tentang apa yang diceritakan Bella.
"Tidak... Ibu dan Ayah bahkan tak tau kalau kakak pernah tinggal serumah dengan Tiara..." jawab Bella.
"Oke... rahasiakan ini... dan jangan khawatir, tidak akan terjadi apapun pada kakak lo..." hibur Arjun.
__ADS_1
"Benar ya Mas... bantu bicara dengan kakak..." pinta Bella.
"Hm... tidurlah, ini sudah malam...".
Dan sambungan telepon itu pun berakhir.
Bella menyeka air matanya. mengamati langit-langit kamar sambil berpikir untuk esok hari.
Sedangkan Di Rumah Pradipta.
Arjun naik ke ranjang setelah menerima telepon dari Bella.
"Ada apa?" tanya Akira.
"Tidak..." elak Arjun. karena apa yang terjadi saat ini tidak ada sangkut pautnya dengan Akira.
"Ck... jadi berani sembunyi-sembunyi sekarang?" sewot Akira. tau dengan sifat kekepoan Akira bukan? padahal Akira ingin tau apa yang tengah terjadi sampai Bella menelepon Arjun malam-malam
bahkan sempat menajamkan telinganya, Akira yakin ada sesuatu yang terjadi.
"Galih bertengkar dengan Tiara... dan Tiara pergi dari Apartemen Galih..." jawab Arjun mengalah. lebih baik berbagi cerita dengan istrinya daripada kena semprot Ibu Negara.
"Apa?" ucap Akira terkejut.
"Sudahlah jangan di pikirkan... ayo tidur..." desak Arjun dan langsung memposisikan dirinya di samping Akira.
Ngomong-ngomong, Starla bayi perempuan mereka telah memiliki kamar tersendiri.
Ya... Starla tidur di kamar sebelah kamar orangtuanya, tapi terhubung pintu. Jadi Akira bisa langsung menemui putrinya saat Starla menangis.
"Tapi, bagaimana dengan Tiara? kenapa soulmate mu sangat jahat sih...". Yang dimaksud Akira adalah Galih. Ya... Galih dan Arjun sudah seperti kekasih saja karena kemana-mana selalu bersama. bahkan seringkali membuat Akira iri karena Arjun tak seperti dulu, tak punya waktu untuknya dan Starla.
Seperti itulah seorang Presdir. hidupnya hanya untuk bekerja dan bekerja.
Untung saja ada Mami yang selalu bisa membuat Akira tenang. karena kedua wanita beda usia itu seringkali pergi sekedar untuk berkeliling Mall dan menikmati harta suaminya.
"Soulmate? apa kamu cemburu?" goda Arjun. merapatkan tubuhnya dengan tubuh sangat istri. apalagi tak ada Starla, mereka masih seperti pengantin baru setiap harinya.
"Tidak..." elak Akira sambil terus menyingkirkan tangan suaminya yang bahkan sudah bergerilya sejak tadi. masuk ke dalam selimut untuk mencari bagian kesukaannya. hingga Akira seringkali mencubitnya karena kesal.
"Diam!" perintah Arjun tak mau di bantah.
"Tapi sayang -, aku...".
"Apa?".
"Aku sedang halangan..." jawab Akira dengan senyum puasnya.
"Apa?" tanya Arjun dengan wajah frustasi. "Kenapa tidak bilang tadi tadi?". sungguh Arjun benar-benar kesal.
"Hehehe..." sedangkan Akira hanya nyengir tanpa dosa sama sekali.
***
Hahaha...Arjun dan Akira nyelip dikit sebagai iklan...
__ADS_1