
HAPPY READING...
***
Akira keluar dari kamar mandi, mengenakan baju santai dan langsung kembali turun menuju ke dapur tanpa melihat kondisi Arjun lagi.
Itulah yang membuat Arjun kesal. Padahal ia sudah bersandiwara di tempat tidur seolah-olah masih sakit sama seperti semalam.
Dia tidak melihatku lagi... batin Arjun bicara.
Di Dapur.
Akira melihat Ayah Adam sedang sarapan dengan menu yang sudah ia siapkan beberapa saat yang lalu. "Arjun belum bangun?" tanya pria itu sambil sibuk memisah daging dari duri ikan di piring.
"Belum yah... ini Akira mau mengambil bubur untuknya," jawab Akira.
"Iya, biar cepat sembuh..." tambah pria itu.
Setelahnya Akira mulai berjalan menuju ke kamarnya dengan membawa nampan berisi semangkuk bubur buatannya sendiri dan segelas susu hangat.
Tentu saja derap langkah kaki seseorang membuat Arjun kembali merebahkan dirinya dan pura-pura memejamkan mata.
Wajahnya juga dibuat sesakit mungkin untuk memperlancar sandiwaranya.
Walaupun pada kenyataannya tadi malam tubuhnya benar-benar merasa tidak enak dan juga sedikit demam, tapi pagi ini Arjun sudah merasa sehat.
"Arjun... bangun," panggil Akira ketika sampai di dekat ranjang Arjun.
Meletakkan nampan tadi dan duduk di tepi ranjang sambil menggoyangkan tubuh suaminya.
Demamnya sudah turun... batin Akira merasai suhu tubuh Arjun saat menyentuh tangan pria itu.
Arjun tentu saja berpura-pura mengerjabkan mata seolah terbangun karena di bangunkan istrinya. Merenggangkan otot tubuhnya sambil menciptakan suara-suara khas orang bangun tidur. "Dimana aku?" tanyanya sok lupa ingatan.
"Ini di kamar ku, rumah Ayah, lo tidak ingat?" tanya Akira. Apa demam membuat orang lupa ingatan? begitu hatinya bicara.
"Oh..." jawab Arjun mengiyakan. Pria itu berusaha untuk membenahi duduknya dan bersandar pada sandaran ranjang tentu saja di bantu oleh Akira. Jarak diantara mereka yang begitu dekat membuat Arjun mampu mencium bau parfum milik Akira.
Parfum Persik yang dulu pernah Arjun gunakan saat itu. Dan entah kenapa Arjun suka dengan bau parfum itu ketika telah menempel pada tubuh Akira.
Bukan sampai di situ saja Arjun bersandiwara. Kali ini dengan spontan Arjun menutupi tubuh bagian atasnya yang benar-benar telanjang.
"Heh, kenapa gue telanjang?" tanyanya pada diri sendiri.
Walaupun Arjun tau siapa yang membuka pakaiannya, tapi saat ini dirinya sedang berpura-pura di depan istrinya.
Arjun ingin sekali mengerjai gadis itu.
"Jangan-jangan..." ucapnya ngambang sambil menatap Akira dengan ekspresi aneh.
Tentu saja hal itu membuat Akira gugup, bingung serta gelagapan harus bilang apa nanti.
Bagaimana ini? batinnya.
"Lo tidak macam-macam kan?" tanya Arjun sambil menyilang kan tangan seolah dirinya sedang ternoda di depan Akira.
__ADS_1
"MANA ADA!" bantah Akira dengan suara bergetar.
Memang apa yang akan gue lakukan pada tubuhnya? si*l! kenapa gue yang jadi salah begini...
"Lalu?" goda Arjun lagi. Dalam hatinya pria itu tertawa melihat bagaimana ekspresi Akira saat ini. Tapi Arjun ingin menggoda gadis itu sedikit lebih lama.
"I-itu... Emm..." tentu saja Akira bingung untuk menjawab apa. Sekilas ia menatap Arjun yang masih menatap nya dengan penuh tanda tanya.
"Tubuh Lo panas dan berkeringat. Jadi gue lepasin kaos yang Lo kenakan tadi malam..." jawab Akira sambil menundukkan kepalanya. Karena ia tidak punya niat buruk sedikitpun. Semalam tubuh suaminya benar-benar panas dan kaos yang dikenakan Arjun sampai basah karena keringat, jadi Akira melepas kaos itu.
"Lalu?" tanya Arjun lagi.
Akira langsung menaikkan kepalanya, "Lalu apa lagi? jangan berpikir aneh-aneh..." teriaknya hingga membuat Arjun memejamkan mata karena terkejut.
"Ya, mungkin saja Lo melecehkan tubuhku di saat gue tak sadar..." jawab Arjun tanpa dosa sama sekali.
Dasar Sint*ng! mana ada begituan? otak perempuan tidak se picik otak laki-laki, apalagi otak Lo! umpat Akira dalam hati.
Nyesel sekali dia telah menolong Arjun tadi malam jika tau tanggapan pria itu sangat menyebalkan.
"Gue tidak segila itu!" jawab Akira.
"Benarkah?" tanya Arjun masih tidak percaya dengan ucapan Akira.
"Gue masih Per*w*n ya... gue juga tidak punya niat seperti yang ada di dalam otak Lo!" ucap Akira spontan.
"Oke... gue percaya," jawab Arjun dengan senyum aneh di bibirnya.
Hahaha... lucu juga dia kalau salah tingkah seperti itu...
"Tapi-" cegah Arjun.
Arjun tetaplah Arjun. Pria dengan segala akal busuk di dalam kepalanya tidak akan berhenti begitu saja membuat Akira kerepotan.
Apa lagi sih? begitu sorot mata Akira yang di tunjukkan kepada Arjun.
"Aku sakit... suapin..." pinta Arjun dengan nada manja.
Tapi bukannya Akira tertawa karena hal itu, gadis itu malah merasa geli.
Ck... pintar sekali dia...
"Tanganku masih lemah, tubuhku juga... keningku juga masih demam..." rengek Arjun dibuat-buat.
"Sudah-sudah, jangan banyak bicara..." sela Akira. Merinding sekali dia mendengar rengekan Arjun yang aneh itu.
Akira terpaksa mengambil semangkuk bubur di atas nakas. Meletakkan di pangkuannya dan bersiap untuk menyuapi Arjun.
"Aaa..." perintah Akira untuk Arjun segera membuka mulut.
Tentu saja Arjun membuka mulutnya dengan semangat dan menerima suapan pertama sang istri, tapi ia tak menyadari kalau bubur itu masih panas. "Panas... panas," teriak Arjun mengibaskan tangan dengan mulut penuh dengan bubur.
"Eh, maaf..." ucap Akira tanpa dosa. Ia juga tidak menyangka kalau bubur itu masih panas.
"Kamu ingin suamimu mati ya?" tentu saja Arjun marah. Sekarang lidahnya terasa mati rasa karena memakan bubur yang masih panas barusan.
__ADS_1
Suami? Ck... gue geli mendengarnya... batin Akira.
"Maaf-maaf... gue lupa,"
"Pastikan dulu dengan meniupnya..." pinta Arjun.
Akira tidak menjawab sama sekali. Suapan kedua, gadis itu dengan telaten meniup bubur untuk Arjun juga suapan-suapan berikutnya hingga tak terasa semangkuk bubur itu telah berpindah ke perut Arjun.
Sekarang Arjun sedang meminum susu hangat yang diberikan Akira.
"Siapa yang membuatnya?" tanya Arjun penasaran.
"Gue lah, siapa lagi?" jawab Akira ketus.
"Enak... mulai saat ini gue mau susu buatan Lo..." ucap Arjun seolah sebuah perintah di telinga Akira.
"Kenapa?" protes Akira. Kenapa harus dia yang membuat susu untuk pria itu?
"Ya, karena gue suka susu Lo..." jawab Arjun.
Eh,
"Susu buatan Lo maksudnya..." ralat Arjun dengan seringai aneh di bibirnya bahkan mampu membuat bulu kuduk Akira berdiri.
Akira mulai membersihkan tempat bekas sarapan Arjun tadi dan hendak membawanya keluar dari kamar.
"Mau kemana?" tanya Arjun.
Apa lagi sih? batin Akira kesal dengan tingkah Arjun.
"Jangan pergi..." pinta Arjun dengan nada lembut.
Hal itu membuat Akira merasa aneh. Entah kenapa ucapan Arjun barusan membuatnya merasa kalau dia benar-benar di butuhkan oleh pria itu.
"Gue mau membawa ini ke dapur dan kembali lagi kesini," jawab Akira dengan gugup.
Arjun pun mengangguk dengan senyum aneh.
Gue malah nyaman kalau dia melotot daripada tersenyum aneh seperti itu... batin Akira.
Setelah kepergian Akira dari kamar, Arjun tak sengaja melihat ponsel Akira bergetar dengan lampu yang menyala.
Eh ada yang telepon... batin Arjun.
Di kepalanya timbul lagi rencana untuk menjahili Akira.
"Halo..." ucap Arjun menerima panggilan itu.
"Ha-lo... eh, ini nomornya Akira kan?" tanya perempuan di seberang sana.
"Iya, Akira lagi di bawah membuat sarapan," jawab Arjun.
"Lalu lo siapa?"
"Suaminya,"
__ADS_1
***