
HAPPY READING...
***
Dengan mencintai, mungkin kamu akan tau bagaimana rasanya berkorban untuk kebahagiaan seseorang.
Tapi cobalah untuk menjadi orang yang Dicintai, kamu akan tau bagaimana rasanya menjadi orang spesial untuk seseorang.
---
Siang hari setelah bertemu dengan anak buah Arjun yang menyerahkan kunci Apartemen kepada Galih... keempat orang yang tak lain adalah Tiara, Galih, Dion dan juga Gadis pergi menuju ke Mall besar di Ibukota.
Mereka akan mengisi kegiatan siang harinya dengan berkeliling Mall dan mencuci mata.
Tiara duduk di depan bersebelahan dengan Galih yang mengemudikan mobil, sedangkan Dion dan Gadis duduk di bangku tengah.
Sibuk dengan dunianya sendiri yang kadang sedikit membuat polusi suara.
Beda dengan polusi suara yang diciptakan Arjun dan Akira masa itu, Dion dan Gadis justru menciptakan polusi suara dengan perdebatan aneh mereka.
Membuat Tiara sesekali tersenyum geli sekaligus heran.
Entah bagaimana Tuhan bisa mempertemukan mereka? dimana tidak ada persamaan yang ada dari Dion dan Gadis.
Tapi sungguh, perdebatan mereka justru membuat Tiara iri.
Perdebatan itu justru membuat hubungan pasangan kekasih itu tidak terlihat monoton seperti yang terjadi pada Tiara dan mantan kekasihnya dulu.
Ya... dulu selama berpacaran, Tiara dan kekasihnya tak pernah sekalipun bertengkar.
Mereka selalu mengalah sebelum terjadi perdebatan. Tapi nyatanya, hubungan yang tanpa pertengkaran justru berakhir menyakitkan.
Tiara di selingkuhi beberapa tahun tanpa terduga.
Justru kecewa, sakit hati yang Tiara rasakan melebihi apapun. Membuat dirinya sedikit trauma untuk kembali membuka hati pada pria lain.
Ya... takut di kecewakan.
"Dion, berhenti atau gue pukul!" ancam Gadis. Membuat Galih penasaran dan melirik kaca spion di depannya untuk melihat apa yang terjadi pada pasangan di belakangnya itu.
"Ck... apa lo juga galak seperti ini Tiara?" tanya Dion kepada wanita di depan sana.
Membandingkan wanitanya Galih dengan wanitanya sendiri yang sangat galak.
Sedangkan Tiara hanya tersenyum, jelas sekali karena Dion melihat bahu wanita itu bergetar karena tawa.
"Lo tau pepatah lama bukan?" tanya Galih ikut nimbrung dalam perbincangan itu.
"Tentang?" tanya Dion tak paham.
Selama sekolah, ada banyak pepatah yang ia pelajari. Jadi Dion tak begitu ingat dengan pepatah yang di katakan Galih barusan.
"Seekor buaya akan berubah menjadi cicak pada waktunya...".
Dion menyerngitkan dahinya. Pepatah macam apa itu?
__ADS_1
Tak terima dengan ucapan Galih yang malah terdengar menjengkelkan.
Tapi beda dengan Tiara, Gadis apalagi Galih. Mereka tertawa bahagia.
"Gak ya... mana ada gue begitu," bantah Dion.
Karena Dion merasa dirinya masih sama dengan yang dulu.
Bahkan setelah kenal Gadis, tak membuatnya berubah.
Tak terasa mobil itu mulai masuk parkiran Mall. Galih turun terakhir sebelum akhirnya ikut berjalan bersama lainnya.
"Gadis, kemarilah..." pinta Dion dan langsung menggandeng tangan wanitanya sepanjang jalan masuk Mall.
Romantis sekali mereka... batin Tiara terpukau. Karena Dion benar-benar memperlakukan Gadis dengan penuh kasih sayang.
Bahkan pria itu tak ragu ataupun sungkan dengan tatapan pengunjung lain. Di tambah lagi dengan penampilan Dion yang berkemeja putih di padukan dengan kacamata hitam sungguh menambah kesan keren.
Tapi pria itu juga tak jauh keren... batin Tiara saat mengamati pria yang berjalan di sampingnya, Galih.
Walaupun tidak seceria Dion dan tidak tersenyum manis kepada semua orang, Galih memiliki daya tarik tersendiri.
Justru diam, tenang dan terkesan cuek malah membuat semua orang merasa penasaran.
Ya... tidak semua wanita suka dengan pria jenaka.
Ada yang pula yang lebih tertarik pada pria yang pembawaannya begitu tenang dan terkesan dingin.
"Apa?" semprot Galih karena sejak tadi Tiara memandangi nya tanpa henti. Membuat Galih sedikit heran dengan tingkah bocah tengil itu.
"Tidak," jawab Tiara membuang wajah. Dan berjalan selangkah lebih cepat di bandingkan Galih.
Dasar pria kulkas! kenapa mulutnya selalu pedas sih... umpat Tiara dalam hati.
"Ck..." decak Tiara dan menghentakkan kakinya kesal dan berjalan semakin cepat meninggalkan Galih.
Bahkan menyalip langkah kaki Gadis dan Dion hingga membuat mereka kebingungan.
Kenapa dia? batin Gadis yang melihat Tiara seperti kesal.
Sedangkan Dion langsung menengok ke belakang dimana Galih berjalan sambil menautkan kedua tangannya di belakang punggung.
Entahlah... begitu isyarat Galih menaikkan kedua bahunya.
Hingga saat di ujung Eskalator yang akan membawa mereka ke lantai atas, Galih mempercepat langkahnya.
Berjalan di depan Dion dan Gadis, Galih menggenggam tangan Tiara tanpa ragu sedikitpun.
"Lo harus membayarnya nanti!" bisik Galih di telinga Tiara.
Apa? kenapa? begitu sorot mata Tiara bicara. Bahkan berusaha melepaskan jemari tangan Galih yang terpaut pada jemarinya. Tapi tetap saja, semakin Tiara berontak, pria itu semakin erat menggenggam tangan Tiara. Bahkan terasa seperti di remas kuat hentak di patahkan.
Dan pada akhirnya, mereka bergandengan tangan sepanjang Eskalator.
Sungguh andai semua orang tau apa yang di rasakan Tiara saat ini. Jantungnya, seperti tidak berada dalam tempatnya. Ingin pingsan karena semua mata seperti tertuju padanya.
__ADS_1
Ck... bisa romantis juga dia... batin Dion.
Walaupun masih tak tau hubungan apa yang Galih dan Tiara jalin saat ini, Dion tak berniat untuk mencari tau. Toh bukan masalah bukan kalau Galih dan Tiara memang menjalin hubungan? karena seorang pria memang di ciptakan untuk mengencani wanita. Itulah normal.
Tapi mungkin jika Arjun, beda lagi.
Ya... jiwa kekepoan pria itu amat tinggi.
Apapun topik yang menurutnya keren, Arjun akan tertarik dan ingin mengetahuinya.
Tapi sayangnya, Galih tak pernah mengatakan apapun pada pria itu.
Sebaiknya diam daripada Arjun mencerna apapun itu dengan sendirinya.
Karena diam akan membuat Galih aman.
Galih terdiam di depan toko baju wanita. Membuat Dion dan Gadis yang berjalan di belakangnya juga ikut menghentikan langkah.
"Nyet..." panggil Dion masih tak paham hingga di detik selanjutnya, ia jadi mengerti apa yang membuat Galih seperti itu.
"Ayo kita masuk..." ucap Dion pada akhirnya. Menarik tangan Gadis untuk masuk ke dalam toko itu.
"Awww..." teriak Gadis tapi tak di hiraukan.
Keempatnya langsung masuk ke dalam toko. Dan hanya Dion lah yang terlihat aktif mulai memilih gaun yang terpajang dengan sebuah patung perempuan.
"Mau yang mana?" tanya Dion pada Gadis.
Menunjuk beberapa gaun malam yang sangat cantik dengan berbagai warna dan model.
Sedangkan Tiara langsung menuju ke deretan pakaian lainnya. Melihat-lihat walaupun ia tak tau apakah harus membelinya atau tidak.
Bahkan saat ia sengaja melihat harga yang tertempel di bagian belakang gaun itu, matanya membulat sempurna.
Gila! kenapa mahal sekali...
Sungguh bukan kelas Tiara untuk membeli sepotong gaun di toko itu.
Karena harganya bahkan tiga kali lipat dari gaji yang ia terima dari menjadi pembantu Galih.
Mereka menggunakan kain darimana sih? apa langsung turun dari surga hingga membuatnya mahal sekali? batin Tiara dan langsung menghindari deretan gaun itu.
"Kenapa?" tanya Galih yang tengah duduk di bangku tunggu. Padahal ia sudah menduga kalau Tiara akan terkejut dengan harga pakaian disana.
"Tidak... gue cuma tidak minat..." jawab Tiara berbohong. Dompet gue akan menjerit nanti...
Hingga Tiara memutuskan untuk duduk di bangku tepat di sebelah Galih.
"Gue akan cari gaun di tempat lain... gue biasa beli disana..." ucap Tiara sambil tersenyum aneh. Karena senyum itu di tunjukkan kepada Galih agar pria itu tidak bertanya lebih.
Pada akhirnya Dion lah yang asyik mencari gaun untuk kekasihnya. Galih terlihat sibuk dengan ponselnya, sedangkan Tiara bengong melihat keadaan sekitar. Terkadang melihat ke arah pasangan di depan sana yang sangat romantis walaupun juga sering berdebat.
"Tunggu disini..." ucap Galih segera bangkit dan meninggalkan Tiara.
"Oke," jawab Tiara walaupun ia juga penasaran kemana Galih pergi saat ini.
__ADS_1
Dari kejauhan, Galih terlihat berbicara dengan pelayan toko tersebut. Tentu saja Tiara tidak mendengar pembicaraan mereka karena jarak mereka juga sangat jauh.
Apa Galih kenal dengannya? batin Tiara menduga-duga.