Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
56. Membuat Perhitungan.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Akira baru saja selesai mandi bersamaan dengan Arjun yang masuk ke dalam kamar. Terlihat pria itu baru pulang dari bekerja. Eh, dia sudah pulang... batin Akira terkejut.


Arjun langsung duduk di tepi ranjang untuk membuka sepatu, sedangkan Akira langsung masuk ke dalam ruang ganti baju.


Tidak ada percakapan diantara keduanya. Mereka terlihat seperti 2 orang tak saling mengenal yang terpaksa harus tinggal di dalam satu kamar yang sama.


Beginilah sifat asli keduanya, egois dan meninggikan harga dirinya di atas segalanya.


Arjun membuka jas serta kemeja yang seharian melekat di tubuhnya. Sekarang, pria itu benar-benar bertelanj*ng dada bahkan tak peduli dengan Akira yang telah keluar dari ruang ganti pakaian.


Arjun langsung masuk ke dalam kamar mandi. Sekarang dia lah yang gantian menggunakan kamar mandi tersebut.


Sedangkan Akira, duduk di depan meja rias untuk mengeringkan rambut sebelum memakai peralatan make up nya.


Gemericik air seketika terdengar dari dalam kamar mandi menandakan ada aktifitas di dalam sana. Akira yang sibuk mengoleskan handbody di tangan tak sengaja melihat ponsel Arjun berkedip dari bayangan cermin di depannya.


Ada telepon masuk... gumam Akira.


Entah kenapa rasa penasaran tiba-tiba muncul di benak Akira. Gadis itu ingin sekali melihat siapa yang sedang menelepon Arjun.


Akira bangkit dari duduknya. Pandangannya langsung mengawasi pintu kamar mandi yang masih tertutup. Dia tidak akan keluar secepat ini bukan? Apalagi memang Arjun baru masuk ke dalam sana sekitar 5 menit yang lalu.


Dengan sangat yakin, Akira berjalan menuju ke arah ranjang dimana Ponsel suaminya tergeletak di sana.


Entah keberuntungan apa yang Akira dapat, ponsel Arjun memang dalam keadaan hening dimana tidak ada suara yang tercipta walaupun ada seseorang yang menelepon.


Tentu saja pemiliknya tidak akan mendengar hal itu.


Dion? batin Akira.


Tanpa ragu sama sekali, Akira menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau di layar ponsel milik Arjun,


"Halo Jun, gimana? jadi kan?"


Akira tidak berani bersuara sama sekali.


"Halo! Lo dengar suara gue kan? Gue akan ke lokasi sebentar lagi... lewat jalan belakang gedung saja biar tidak ada yang curiga..."


Akira menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna, Ada apa ini? kenapa aku memiliki firasat buruk... apa mereka merencanakan sesuatu?


"Halo Jun, jangan diam saja! Lo dengar gue ngomong kan? pengawal gue sudah ada di sana... dan-"


"AKIRA!"

__ADS_1


Akira tersentak kaget dengan suara seseorang yang memanggilnya barusan.


Arjun? Bahkan ia sampai menjatuhkan ponsel Arjun ke lantai saking terkejutnya.


Di depan sana Arjun dengan hanya mengenakan handuk yang melingkar menutupi tubuh bagian bawahnya berjalan mendekati Akira, "Apa yang Lo lakuin dengan ponsel milikku?" tanyanya dengan nada datar.


Bahkan pandangan pria itu hanya tertuju pada ponsel yang teronggok di lantai tepat di kaki Akira.


"A-ku... aku..." suara Akira bergetar. Bahkan detak jantungnya tiba-tiba berpacu dengan sangat kencang. Akira sama sekali tidak merasakan rasa sakit di kaki akibat kejatuhan ponsel tadi, sekarang yang ia takutkan adalah Arjun.


Ya... Akira bingung harus menjawab apa saat ini. Tidak mungkin kan dia bilang kalau sedang mencari tau, atau mencuri informasi dari ponsel milik Arjun?


"Aku..." wajah Akira berubah pias diiringi dengan dirinya yang melangkah mundur karena Arjun semakin mendekatinya.


Wajah pria itu tidak mampu Akira baca ekspresinya. Tapi tentu saja ada kemarahan di dalam sana bukan? Siapa sih yang tidak marah kalau melihat ponselnya di otak-atik oleh orang lain?


Akira semakin mundur hingga tak menyadari kalau di belakangnya ada sofa. Seketika tubuhnya terduduk di sana diikuti oleh Arjun yang semakin mendekat. "Arjun..." ucap Akira dengan pelan yang malah terdengar seperti sebuah des*han. Duh... bukan seperti itu nadanya bodoh! umpat Akira pada dirinya sendiri. Akira... memohon lah, memohon demi keselamatan dirimu...


"Aku cuma bertanya, kenapa Lo menyentuh ponselku... bukan malah menampakkan wajah menantang seperti ini..." ucap Arjun pelan dan mendayu. Tentu saja Akira merinding mendengar ucapan pria itu.


Apa menantang? apa maksudnya? Oh iya... dudukku... Akira sadar akan cara duduknya. Segera ia merubah posisi duduknya dan merapatkan kedua kakinya agar tidak terbuka.


Jangan sampai Arjun berpikiran kalau dirinya sedang menggoda pria itu, bisa gawat nanti!


"Sekarang ponselku mungkin saja rusak,-"


"Maafkan aku Jun, Aku tak sengaja..." sela Akira padahal Arjun belum menyelesaikan ucapannya tadi.


Tentu saja Akira langsung menggelengkan kepalanya karena bukan itu yang ia cari. Apa gunanya ia mencari tau tentang rahasia-rahasia Pradipta Group yang mungkin saja ada di dalam ponsel Arjun.


"Lalu?"


Akira tidak bisa mengatakan yang sebenarnya, sungguh ia hanya ingin tau kalau mungkin saja Arjun benar-benar punya niat jahat kepada Dean. Akira hanya ingin mencari bukti dan jika menemukan bukti, tentu saja ia akan memberitahu Dean agar lebih hati-hati.


"Maafkan Aku Jun,"


Memohon lah Akira... memohon lah... kalau bisa gunakan air matamu agar Arjun iba...


Apalagi Akira tadi sempat mendengar apa yang di katakan Dion dalam teleponnya tadi.


Akira benar-benar curiga Arjun dan sahabat-sahabatnya akan menyakiti Dean malam ini.


"Berani sekali kamu merusak ponselku!" Arjun semakin membungkukkan tubuhnya mendekati Akira.


Hal itu semakin membuat Akira takut. Dengan tubuh bergetar, Akira memejamkan mata saat tangan Arjun yang terasa dingin menyentuh wajahnya.


Apa ini akhir hidupku? apa aku tidak akan di ampuni?

__ADS_1


"Maafkan aku..." hanya kata itu yang terlontar dari bibir Akira. Bahkan ia juga tak menyadari kalau sudut matanya mulai berair saking takutnya.


"Usap air matamu itu," perintah Arjun dan segera pria itu mulai berjalan menjauh dari Akira.


Sepeninggal Arjun dari sana, Akira berusaha membenahi pakaiannya dan juga menghapus air mata di wajahnya.


Sekarang yang ia lakukan hanya duduk di tepi ranjang dan menunggu Arjun yang sedang berganti pakaian.


Cukup lama, hingga Arjun keluar. Pria itu mengenakan celana jeans hitam dipadukan dengan kaos yang di lapisi dengan jaket kulit.


Berdiri di depan meja rias untuk merapikan rambutnya yang sedikit basah.


Semua itu tentu saja diamati oleh Akira mungkin tanpa berkedip sekalipun. Dia mau kemana? batin Akira bertanya-tanya.


Dengan mengumpulkan keberaniannya, Akira mulai bertanya kepada pria di depan sana, "Mau kemana?"


Tentu saja yang ditanya hanya menampakkan wajah tak percaya. Arjun tak percaya kalau Akira akan bertanya seperti itu setelah pertengkarannya kemarin. Padahal sudah lebih dari 24 jam mereka tidak saling bicara tapi tiba-tiba gadis itu bertanya kemana Arjun pergi malam ini.


"Kenapa, lo penasaran?"


Tentu saja Akira penasaran kemana Arjun akan pergi malam ini. Mungkin juga bersama Dion karena pria itu menelponnya tadi.


"Kalau gue bilang akan membunuh seseorang, lo percaya?" pancing Arjun.


Wajah Akira kembali pias. Di kepalanya hanya ada satu nama yang ia khawatirkan. Dean...


Saat Arjun telah bersiap dan akan melangkah pergi tepat di ambang pintu, Akira tiba-tiba bersuara, "Jangan pergi!" teriaknya.


Tentu saja Arjun langsung berhenti melangkah.


Dengan membelakangi Akira, Arjun mulai bertanya "Kenapa? lo khawatir?"


"Aku mohon jangan pergi, jangan sakiti siapapun..." pinta Akira.


Arjun tersenyum getir. Se berharga itu dia bagi mu?


"Aku tau kamu dan Dion berencana menyakiti Dean bukan? Aku tau... Dia tidak salah, aku yang salah karena telah meminta cerai kepadamu..." Akira mengakui kesalahannya.


"Jangan sakiti Dean... aku mohon...".


"Gue hanya ingin memberi perhitungan kepada sampah yang berusaha merebut sesuatu yang telah menjadi milikku!"


Setelah mengatakan hal itu, Arjun berlalu pergi meninggalkan Akira yang menangis sejadi-jadinya.


Setelah kepergian Arjun dari kamar itu, Akira segera mengambil ponselnya. Ia berusaha untuk menghubungi Dean dan memperingatkan kalau pria itu dalam bahaya.


Tapi semuanya sia-sia karena Dean tidak menjawab telepon darinya.

__ADS_1


"Dean... angkat telepon ku..." gumam Akira pada dirinya sendiri.


***


__ADS_2