Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
105. Tangis Akira.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Mobil yang Akira naiki benar-benar berjalan lambat. Entah kenapa cuaca hari ini sangat tidak menentu. Pagi tadi matahari bersinar sangat cerah bahkan sampai siang hari. Akira juga sempat makan siang dengan es teh yang begitu menyegarkan kerongkongannya.


Tapi setelah itu cuaca berubah dengan sangat cepat. Nyatanya sinar matahari lenyap begitu saja tertutup dengan awan hitam pembawa hujan.


Langit yang tadinya di penuhi oleh awan berwarna putih tipis kini berubah hitam, gelap dengan banyak sekali butiran air yang jatuh dari langit menambah situasi jalan menjadi tak terlihat.


"Nona, perjalanan pulang kali ini akan sedikit terlambat dari biasanya..." ucap sang supir memberitahu.


Karena jika di paksakan untuk melaju cepat, sangat beresiko. Apalagi ada beberapa lubang di jalan yang tertutup oleh genangan air. Menjadikannya samar dan tidak terlihat sama sekali.


Akira seolah tidak mendengar apa yang di katakan oleh supir pribadinya. Pandangannya hanya tertuju pada kaca mobil di samping yang basah oleh air hujan.


Nona melamun? atau suaraku yang terlalu pelan? supir itu menduga-duga kemungkinan yang telah terjadi barusan. Padahal ia sudah memberanikan diri untuk sekedar memberi tahu Nona muda yang duduk di bangku tengah kendaraan tersebut.


Apa yang harus aku lakukan? kenapa ini terasa rumit untukku... hatiku terasa sakit dan terluka... batin Akira. Tanpa ia sadari, matanya mulai menggenang dan jika berkedip sekali saja mungkin air mata itu akan benar-benar tumpah membasahi pipi putih Akira.


FLASHBACK ON...


JAM MAKAN SIANG.


"Sudah lama menunggu?" tanya Dean yang baru saja tiba dan langsung mendudukkan tubuhnya di bangku besi depan Akira.


Seperti yang mereka rencanakan sejak pagi tadi, disinilah mereka berada. Duduk berdua di kantin sambil menikmati makan siang mereka.


"Dari mana dasi itu?" tanya Akira. Ia sama sekali tak ingin berbasa-basi lagi.


Dean tersenyum, "Jangan buru-buru Akira... habiskan makan siang mu dulu..." tolak Dean seperti tengah mempermainkan Akira.


Sebenarnya Akira sudah sangat tak sabar dengan perlakukan Dean yang terlihat bertele-tele. Apa susahnya sih tinggal bilang? begitu hatinya bicara.


"Dean, cepat katakan... dari mana Lo dapat dasi Arjun?" tanya Akira lagi.


"Dari teman kencan nya..." jawab Dean tanpa ragu.


Sabar Akira... sabar... bukankah ini yang ingin Lo ketahui? batin Akira untuk membuat hatinya tenang, padahal jawaban Dean barusan sudah membuat hatinya seperti di remas kuat.


"Gue sudah bilang kan Ra... Arjun itu tidak benar-benar mencintaimu... dia hanya ingin mengikat mu saja..." ucap Dean.


"Lo gak tau apa-apa tentang Arjun, Yan..." tolak Akira. Karena hanya Akira lah yang tau bagaimana perasaan Arjun kepadanya.


"Gue memang tidak begitu tau, tapi dasi itu telah menjelaskan semuanya bukan? kalau Arjun pernah bertemu dengan seseorang di belakangmu...",


Wajah Akira berubah pias. Ucapan Dean mampu membuat hatinya sedikit kecewa.


"Wanita yang Arjun kencani adalah kenalan gue... Dia lah yang menitipkan dasi itu kepada ku..." ucap Dean sejenak.


Sedangkan Akira tak bersuara tapi tatapannya sangat jelas kalau Akira sangat penasaran dengan apa yang akan Dean katakan lagi.


"Memang siapa yang Lo sebut dengan kenalan Lo itu?" setidaknya Akira harus tau siapa nama yang Dean maksudkan.


"Alea... Gadis yang selalu datang ke Club malam yang sama dengan Arjun..." jawab Dean.


Maafkan Aku Akira... batin Dean dalam hati. Apalagi melihat paras Akira yang penuh dengan kekecewaan sedikit membuat Dean merasa bersalah.


Akira hanya diam, tapi wajahnya menyiratkan begitu banyak kesedihan.


"Alea juga pesan untuk menyampaikan rasa Terima kasihnya karena Arjun telah mentransfer uang dua kali lipat dari kesepakatan mereka di malam itu,"

__ADS_1


"Hiks," entah kenapa Akira langsung menangis.


Ucapan Dean benar-benar menusuk hatinya.


Kenapa dia tega kepadaku? Kenapa dia bermulut manis di depanku sedangkan di belakang ku masih bertemu dan menghabiskan malam dengan wanita lain..


"Maafkan gue Akira... sungguh gue tidak ada niat apapun kepadamu..." ucap Dean.


"Tidak ada niat apapun? Kenapa Lo memberitahuku soal ini? Ha?" teriak Akira.


Entah kenapa Dean sangat berubah dari yang dulu.


Dean yang Akira lihat saat ini jauh berbeda dengan Dena yang dulu. Yang selalu mengerti apapun keadaan Akira.


Tapi sekarang? pria itu seolah menusuk Akira dengan begitu banyak kesedihan.


"Seharusnya Lo diam Yang, seharusnya Lo diam agar tidak membuatku sedih seperti ini..." ucap Akira dengan kacau.


Hati Akira sangat kecewa mendengar kalau Arjun pernah bertemu dengan wanita lain.


Apa salahku? setelah aku memberikan semua nya tak juga membuat Arjun bersamaku saja... nyatanya, pria itu juga bertemu dengan wanita lain...


"Dia tidak mencintai mu Akira... Arjun tidak pernah mencintaimu..." ucap Dean yakin.


Sekarang lah saatnya Dean memberi tahu semua sesuai dengan apa kata hatinya.


Cara Arjun menikahi Akira, cara pria itu membohongi Tuhan dengan pernikahan sudah sangat menjelaskan kalau Arjun hanya bermain-main dengan Akira saja.


Karena tidak ada satupun orang yang berani bermain-main dengan sebuah pernikahan.


Pernikahan adalah sakral dan tidak pantas di permainkan sama seperti yang Arjun lakukan.


"Hik,..",


Akira menggelengkan kepalanya. Tidak, Aku tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini... aku butuh ketenangan...


Akira tidak ingin membawa kesedihannya pulang di kediaman Pradipta.


Apalagi kesehatan Papi Johan beberapa terakhir sedikit memburuk dan akan menjadi masalah lagi kalau Akira dan Arjun sampai bertengkar nantinya.


"Pak, antar saya ke rumah Ayah..." pinta Akira pada supir di depannya.


"Rumah Tuan Adam?" entah kenapa sang supir malah bertanya demikian. Toh pada kenyataannya siapa lagi yang Nona mudanya panggil Ayah selain Ayah kandungnya.


"Hm,"


"Baik Nona..."


Duh... aku jadi merasa tidak enak... batin supir mengutuk dirinya sendiri.


Hingga setelah beradu di jalanan yang penuh dengan genangan air hujan, mobil berwarna hitam itu mulai memasuki sebuah perumahan.


Melaju pelan dan berhenti di depan sebuah rumah.


Supir itu segera turun, membawa payung untuk dirinya dan juga Nona mudanya.


"Hati-hati Nona..." ucap supir ketika membuka pintu untuk Akira.


Dengan sangat hati-hati, Akira turun. Melangkah menuju ke rumah yang di tempati nya sejak masih kecil.


"Terima kasih," ucap Akira pada sang supir yang mengantarkannya sampai di teras rumah.

__ADS_1


"Sudah kewajiban saya Nona..." jawab supir itu dan menundukkan kepalanya sesaat sebelum pergi.


"Eh tunggu..." cegah Akira.


"Ya Nona,..."


"Saya kaan menginap disini..." ucap Akira memberi tahu supir itu agar saat di tanya Papi maupun Mami, supir itu bisa memberitahu mereka.


"Baik, akan saya sampaikan pada Nyonya Besar...", Setelah itu supir itu pun benar-benar kembali menuju ke mobil dan pergi meninggalkan Akira du rumah Ayah.


Akira berjalan masuk ke dalam rumah itu," Ayah..." berteriak mencari Ayah Adam.


Ruang tamu terlihat sunyi sekali hingga membuat Akira keheranan.


Dimana Ayah?


"Ibu..." teriak Akira lagi. Mungkin saja ibunya mendengar suara teriakannya.


Dengan langkah yakin, Akira menuju ke kamar ibunya. Membuka pintu itu dengan perlahan.


Dan benar saja, Ibunya ada di dalam kamar.


"Ibu..." ucap Akira dan langsung berlari menghampiri Ibu Arjun yang tengah duduk.


Kondisi Ibu Arum sudah lebih baik. Wanita itu sudah bisa berjalan walaupun masih tertatih-tatih sedangkan untuk bicara, Ibu masih kesulitan.


"Akira kangen..." ucap Akira ketika sudah berada dalam pelukan sang ibu.


Bahkan air mata gadis itu tiba-tiba lolos begitu saja.


Ibu... Akira sedang sedih...


Dengan sangat perlahan, Ibu Arum mencoba untuk membeli rambut putrinya yang sudah memanjang. Memberikan kasih sayang yang selalu diberikan pada putri semata wayangnya.


Sedangkan saat pertemuan anak dan Ibu itu telah berlangsung, tiba-tiba Ayah Adam datang sambil membawa bungkusan plastik berwarna hitam.


"Akira..." panggil pria berperut buncit di ambang pintu kamar.


Ayah Adam baru saja tiba.


"Ayah..." Akira melepaskan pelukan ibunya demi untuk melihat wajah cinta pertamanya yang semakin hari semakin gemuk saja.


"Kamu kesini naik apa?" tanya Ayah Adam dan ikut masuk ke dalam kamar tersebut.


Cuaca sedang hujan deras dan tiba-tiba putrinya ada disini tanpa pemberitahuan apapun sebelumnya.


Karena biasanya saat Akira dan Arjun akan datang, mereka lebih dulu menelepon Ayah Adam.


"Akira pulang kuliah dan langsung ke sini di antar supir..." jawab Akira.


Jawaban dari putrinya tentu saja membuat Ayah Adam sedikit kebingungan.


"Ayah dari mana?" tanya Akira mencoba untuk mengalihkan perhatian sang ayah.


"Wow... bakso..." ucap Akira semangat.


Cuaca hujan seperti ini benar-benar sangat cocok untuk memakan semangkok bakso yang panas.


"Ayo kita makan selagi panas..." ajak Ayah Adam. Tentu saja Akira senang dan bersemangat.


***

__ADS_1


Dukung terus cerita ini dengan Like dan Komentar... hadiahnya juga ya...


Lov kalian banyak-banyak...


__ADS_2