
HAPPY READING...
***
Galih berjalan menuju ke bangunan yang belum selesai di bangun. terlihat gelap karena penerangan hanya ada di sudut-sudut bangunan yang cukup jauh satu sama lain.
Galih menyisir dan masuk ke dalam salah satu ruangan dimana di jaga banyak anak buah Arjun.
Yakin kalau di ruangan itulah yang Arjun maksudkan tadi. hingga benar saja. saat langkah kaki Galih sampai di ambang pintu, ia telah disuguhi dengan pria yang duduk dengan terikat tali mengikat tubuhnya.
"Inilah yang ingin gue perlihatkan..." ucap Arjun sambil tak lepas mengamati mangsa yang tak berkutik di depan sana.
Galih memicingkan mata, mengingat wajah familiar pria itu. Mantan pacar Tiara... satu kalimat yang sudah bisa menjelaskan semuanya.
"Lalu?" tanya Galih lemah. sungguh ia tidak berkeinginan untuk meladeni pria itu. karena hati Galih begitu kalut karena sampai malam hari, ia tak tau dimana keberadaan Tiara.
wanita itu benar-benar menghilang tanpa jejak.
"Dia mantan pacar Tiara..." Dion ikut bersuara.
"Gue sudah tau nyet..." jawab Galih. tapi untuk apa mereka membawa pria itu kesini? begitu hati Galih bicara. tidak ada gunanya sama sekali. karena hal terpenting saat ini adalah keberadaan Tiara. sungguh hanya itu yang Galih inginkan saat ini. bertemu dan bicara dengan Tiara untuk mendapatkan jawaban alasan apa yang membuat wanita itu pergi dan membatalkan pernikahan mereka.
"Dia ada di Gereja tadi pagi..." ucap Arjun.
"Sepertinya dia sedang memata-matai lo dan Tiara," tambah Dion menjelaskan.
Sekarang, tatapan mata Galih teralihkan. menatap ke arah Andre dengan begitu banyak pertanyaan.
"Dia tak mau bicara dengan kami, mungkin dengan Lo dia akan membuka mulutnya..." tuduh Dion.
"Kenapa lo berada di Gereja tempat kami mengadakan pemberkatan?" tanya Galih terdengar masih normal seperti orang yang tengah bertanya pada umumnya.
Terlihat Andre tersenyum, bukan bahagia tapi lebih cenderung menertawai pertanyaan Galih barusan. "Kenapa? apa gue tidak boleh datang ke Gereja?" balasnya.
"Bahkan gue tidak tau kalau lo akan mengadakan pernikahan tadi pagi..." elaknya.
"Gue gak percaya dengan ucapan lo..." sela Arjun. karena sangat mustahil jika hanya ketidaksengajaan saja.
"Bagaimana? pernikahan kalian berjalan lancar?" tanya Andre. sejenak menatap wajah Galih dengan lekat. "Oh... sorry... sepertinya tidak berjalan lancar ya..." ejeknya. bahkan menampakkan senyum menjengkelkan hingga membuat darah Galih seperti mendidih.
Beda dengan Arjun, pria itu hendak maju melayangkan pukulannya tapi segera di cegah Dion. "Sabar Jun...".
"Dimana Tiara?" tanya Galih sambil mencengkeram kerah kemeja Andre dengan erat.
"Lo calon suaminya bukan? kenapa tanya ke gue?" ejek Andre. "Seharusnya lo jaga baik-baik calon mempelai wanita lo...".
Galih mengepalkan tangannya erat. Buuukkk...
"********!" umpat Galih melampiaskan kekesalannya. Andre benar-benar bisa membuat darahnya naik.
"Dimana Tiara? JAWAB!" teriak Galih lagi. bahkan kembali melayangkan pukulannya untuk kedua kali. tak memperdulikan kalau sudut bibir Andre telah mengeluarkan darah segar.
__ADS_1
"Seharusnya lo berterima kasih pada gue... karena Tiara tidak jadi menjadi istri lo..." ucap Andre dengan nada berantakan karena kesulitan untuk berucap.
"Apa?" protes Galih tak begitu paham apa yang Andre katakan.
"Apa maksud ucapan lo?" bentak Dion. si serangga ini benar-benar ingin mati kali ya?
"Tiara pergi karena mungkin cukup tau diri untuk tidak menikah dengan lo... tangan kanan orang berpengaruh dalam negara ini..." ucap Andre.
"Bisa tidak sih bicara tanpa berbelit-belit?" ucap Arjun.
"Lo menghasut Tiara agar tidak jadi menikah?" tanya Dion. Dion benar-benar kepikiran dengan ucapan Gadis tadi. yang mengatakan kalau mungkin saja Tiara mendapatkan hasutan dari orang lain agar tidak jadi menikah.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Andre malah tersenyum.
"Tidak..." elaknya. karena Andre benar-benar tidak menghasut. hanya saja ia mengatakan kepada Tiara tentang kemungkinan apa yang terjadi jika Tiara menikah dengan Galih.
"Dimana dia?" tanya Galih. sungguh batas kesabarannya telah habis.
"Gue tidak tau...".
"Dimana Dia!" bentak Galih sambil menendang bangku yang Andre duduki hingga jatuh dan Andre tersungkur ke lantai masih dengan ikatan yang membelit tubuhnya.
"Gue benar-benar tidak tau kemana Tiara pergi..." ucap Andre dengan susah payah.
karena terjatuh, otomatis ponsel yang sejak tadi berada di sakunya juga ikut jatuh. membuat Dion seketika meraih ponsel itu tanpa meminta persetujuan dari pemiliknya.
Ponsel Andre tidak bisa terbuka karena harus mengonfirmasikan sidik jari pemiliknya lebih dulu, hingga Dion mendekati Andre meraih tangan pria itu untuk membuka ponsel.
Menajamkan mata untuk mengetahui apakah ada pesan Tiara atau tidak. hingga sebuah nama kontak Tiara dengan sebuah gambar hati berwarna merah mengalihkan perhatian Dion.
Seketika pria itu membuka isi chat mereka. matanya menyipit dengan sedikit terkejut membaca pesan itu. "Gal..." panggil Dion dan menyodorkan ponsel itu kepada Galih.
Galih membaca pesan itu dengan penuh perasaan. hingga pesan yang terakhir yang Andre kirim kepada Tiara mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang melingkupi hatinya sejak tadi.
"Apa itu benar?" tanya Galih. menjatuhkan ponsel milih Andre dan langsung mendekati mangsanya. mencekik leher Andre tanpa rasa takut sekalipun.
"Lepas, gue - bisa mati - lepas!" teriak Andre dengan susah payah. bahkan rasanya untuk bernafas saja ia sangat kesulitan.
"Jawab gue!" bentak Galih. bahkan jemarinya semakin erat mencekik leher Andre. kukunya seperti menancap di kulit leher Andre dan mungkin menyisakan luka nantinya.
"JAWAB GUE!".
"Ya... Tiara... Tiara memang sudah kehilangan mahkotanya... dia sudah kehilangan kesuciannya..." jawab Andre.
membuat Galih melepaskan leher Andre dengan lemah. apa yang Andre katakan bagaikan petir yang menggelegar di telinganya.
Arjun dan Dion sama-sama membulatkan marah. terkejut memang mendengar sebuah kenyataan dari mulut Andre secara langsung.
"Asal lo tau, gue lah yang menjadi orang pertama yang berhasil melakukan itu..." jawab Andre dengan bangganya.
" ... ", Galih benar-benar marah. mendekati Andre dan kembali melayangkan pukulannya bertubi-tubi sebagai tanda pelampiasan atas kekecewaan hatinya. "Gue benar-benar akan membunuhmu!" umpatnya.
__ADS_1
Andre yang tidak bisa melawan hanya mampu menerima dan merasakan setiap pukulan Galih yang amat menyakitkan.
"Sudah Gal... sudah..." Arjun bersuara. Dengan di bantu Dion, kedua pria itu mencoba untuk menghalau Galih. mencoba untuk membuat Galih tenang dan tak lagi memukul lawannya dengan beringas. kalau tidak dihentikan, mungkin saja Andre benar-benar bisa mati di tangan Galih.
Dan lihatlah wajah Andre saat ini. babak belur dengan darah segar yang mengucur membasahi wajahnya. pria itu benar-benar terkapar tanpa tanpa bisa melawan sedikitpun.
Apa dia mati? batin Dion, menatap lekat Andre hingga menyadari kalau pria di bawah sana masih bernafas.
"Lo bisa kena masalah kalau menghabisinya nyet..." ucap Arjun. bagaimanapun ia tak mau kalau sampai Galih berurusan dengan kepolisian nantinya.
Tanpa memperdulikan ucapan Arjun maupun Dion, Galih terduduk di lantai ruangan itu. matanya memerah dengan banyak sekali masalah yang seperti berputar dalam kepalanya. apa yang
harus ia lakukan setelah ini? apa keputusan Galih? semuanya seperti menambah kebingungannya.
Galih benar-benar tak menyangka kalau Tiara tidak seperti gadis yang ia harapkan. ia kira, Tiara sama polosnya dengan gadis lain. selalu saja malu dan canggung ketika di goda. tapi siapa sangka kalau Tiara pernah melakukan hal itu dengan Andre di masa lalu? membuat Galih semakin kecewa adalah Tiara menyembunyikan hal itu dari dirinya.
Kenapa lo sembunyiin ini Tiara? bukankah kita sudah saling membagi rahasia satu sama lain?
Padahal Galih sudah mengatakan apapun yang menjadi rahasianya kepada Tiara. bahkan sampai berusaha menahan diri agar tidak menyentuh Tiara sampai benar-benar menikah. karena apa? karena Galih tak ingin merusak wanita yang ia cintai seperti yang pernah ia lakukan di masa lalu.
"Bereskan semua ini..." perintah Arjun pada anak buahnya. mendekati Galih dan berusaha menghibur sahabatnya itu.
"Ayo nyet... kita pergi...".
Galih bangkit di bantu oleh dua sahabatnya. berjalan meninggalkan gedung kosong dengan mobil mereka.
Kali ini Dion yang mengalah, menyetir mobil sedangkan Arjun dan Galih duduk di bangku tengah hingga kendaraan itu melaju membelah jalanan Ibukota yang masih saja ramai oleh kendaraan lain.
"Gal..." panggil Arjun. karena sejak tadi Galih berubah pendiam. bahkan pria itu terlihat murung seperti tengah memikirkan sesuatu.
"Apa yang harus gue lakukan?" tanya Galih terdengar frustasi. mencari pertimbangan dari sahabatnya karena seperti inilah gunanya sahabat. mencari jalan keluar ketika ada masalah yang datang.
"Maunya lo gimana?" tanya Dion. mengamati kedua sahabatnya dari kaca spion di depannya.
"Tapi Gal... terlihat kekanakan jika lo meninggalkan Tiara hanya karena dia tak lagi V..." ucap Dion terdengar bijak.
"Betul... gue setuju dengan ucapan Dion..." tambah Arjun membenarkan.
Terlihat egois memang jika Galih menginginkan wanita yang akan menjadi istrinya adalah wanita yang masih tersegel. walaupun memang ada pria yang seperti itu, karena pada dasarnya semua pria pasti menginginkan wanita yang baik, untuk menjadi ibu dari anak-anak nya.
Lalu apakah yang tak tersegel bukan wanita yang baik? padahal ada banyak alasan seorang perempuan kehilangan mahkotanya. kecelakaan, korban p*m*rk*s*an, apakah mereka juga bukan wanita yang baik?
bagaimana jika perempuan itu adalah adik, saudara ataupun kakak kalian? apa kalian juga menganggap mereka wanita yang tidak baik?
"Tiara mungkin pernah melakukan kesalahan, tapi apakah etis jika menyematkan kata itu disepanjang hidupnya?" tanya Dion.
Semua pasti mampu berubah. dan tentu saja Tiara juga. dia pernah melakukan kesalahan tapi sudah sepatutnya ia mendapatkan kesempatan untuk dimaafkan bukan?
"Bersikap bijaklah Gal... lo sudah dewasa dan pasti tau mana yang baik dan mana yang buruk..." saran Arjun.
***
__ADS_1