Di Kejar Pernikahan.

Di Kejar Pernikahan.
178. Pesan Alya.


__ADS_3

HAPPY READING...


***


Jam 10 malam, Galih dan Tiara kembali ke rumah. Selama di perjalanan, mereka tidak saling bicara karena Tiara merasa sangat mengantuk. Gadis itu memilih untuk menyenderkan kepalanya dan terpejam untuk beberapa saat. Setidaknya sampai mereka sampai di Apartemen.


Hingga tak terasa mobil hitam itu mulai tiba di Apartemen. Galih melihat ke arah Tiara tertidur.


Entah kenapa hatinya tak enak membangunkannya. Apalagi wajah Tiara benar-benar terlihat lelap.


Kasian kalau gue membangunkannya... batin Galih.


Hingga pria itu memutuskan untuk keluar dari mobil untuk menyalakan sebatang rokok.


Sambil bersandar bodi belakang mobil, asap rokok seketika menguar ke udara.


Walaupun terlihat bahagia tapi nyatanya saat sendirian seperti ini, Galih masih memikirkan sesuatu yang mengganggu pikirannya.


Maaf... Aku benar-benar meminta maaf terhadap kesalahan ku di masa lalu.


Tapi Galih... apakah kamu benar-benar tidak ingin memaafkan ku? kenapa? Apa aku belum cukup menderita?


Bahkan saat ini aku juga terbaring di atas ranjang Rumah Sakit. Apa karma ini belum bisa menebus dosaku?


Sebuah pesan singkat yang ia baca tadi pagi kembali berputar dalam kepalanya.


Ya... pesan singkat dari Alya.


Entah darimana gadis itu memiliki nomor ponsel Galih hingga bisa menghubunginya seperti tadi.


Membuat hati Galih merasa terganggu.


Karena... sebanyak apapun mulutnya berkata tak lagi mencintai Alya, nyatanya wanita itu masih menjadi satu-satunya wanita yang berada dalam hatinya.


Tinggal disana dan seolah tak ingin pergi.


Bahkan sampai Galih mencoba untuk membuka pintu hatinya untuk orang lain, sama saja seperti membuka hati yang pernah terluka oleh wanita lain juga.


Galih memejamkan mata. Mencoba untuk berpikir apa yang akan dilakukannya setelah ini.


Menemui Alya atau membiarkan saja gadis itu.


Tapi nyatanya, Galih tidak bisa memutuskan apapun.


Tiara yang berada di dalam mobil sedikit menggeliat pelan. Merasai angin yang dingin menerpa wajahnya.


Di detik selanjutnya gadis itu mengerjabkan mata. Bagaimanapun ia ingat, kalau tadi dirinya tidur di dalam perjalanan.


Hingga saat mata Tiara sepenuhnya terbuka, gadis itu keheranan. Ia masih berada di dalam mobil, tapi tidak ada Galih di sisinya.


Kemana dia? batin Tiara bertanya-tanya.


Padahal ia yakin kalau saat ini ia telah sampai di Parkiran Apartemen.


Tiara melepaskan Seatbelt yang melingkar di tubuhnya. Memutar tubuh ke belakang mencari keberadaan Galih.


Oh... itu dia. Ternyata yang dicari Tiara berada di belakang mobil sambil merokok.


Cukup tenang memang, setidaknya Tiara tidak di tinggal di dalam mobil begitu saja.

__ADS_1


Tiara sudah memutuskan. Sambil merapikan rambutnya, gadis itu turun dari mobil dan mendekati Galih.


Nyatanya keberadaan Tiara yang tiba-tiba membuat Galih terkejut. Bahkan pria itu sampai terjingkat beberapa saat.


Apa dia memikirkan sesuatu? batin Tiara. Karena hanya orang melamun yang tidak bisa mendengar kedatangannya barusan.


Termasuk Galih.


"Apa ada yang mengganggu pikiranmu saat ini?" tanya Tiara. Setidaknya ia bisa menjadi tempat curhat untuk Galih.


Mendengar keluh kesah pria yang telah membantunya tersebut.


Dari Galih, Tiara mendapatkan uang. Ya... gaji pertamanya seminggu yang lalu.


"Ck... lo bercanda?" gurau Galih. Bagaimana bisa Tiara menyelesaikan masalah yang bahkan tidak bisa Galih selesaikan sama sekali.


"Ya kali aja mau... karena masalah tidak akan bisa selesai kalau lo hanya diam dan berpikir. Berbagi dengan orang yang lo percayai dan cari solusinya bersama..." jawab Tiara.


Membuat Galih yang mendengar ucapan gadis itu terdiam seketika. Tumben sekali gadis tengil di sampingnya bisa mengucapkan kata yang terdengar dewasa.


"Apa lo bisa di percaya?" tanya Galih.


Dengan wajah jenaka Tiara menepuk dadanya, "Tenang saja... gue tidak pandai bergosip...".


Membuat Galih tersenyum dengan perkataan Tiara yang terlihat lucu. Tapi mampu membuat dirinya sedikit lupa dengan masalah yang sedang di hadapi.


Galih berjalan meninggalkan mobil. Melangkah pelan menuju ke taman kecil di depan Apartemen. Sedangkan Tiara, tentu saja mengikuti langkah Galih dari belakang.


Keduanya duduk di taman yang sepi. Pandangannya sama-sama ke atas melihat taburan bintang menghiasi langit.


"Lo pernah jatuh cinta kan?" tanya Galih tiba-tiba.


Ya... dia pernah jatuh cinta. Bahkan pernah bermimpi untuk melangkah lebih jauh dari sebuah hubungan percintaan.


"Lo tau rasanya?" tanya Galih lagi.


Pertanyaan Galih kali ini malah membuat Tiara keheranan. Rasa? rasa yang bagaimana maksudnya?


"Apa lo sedang jatuh cinta?" tanya Tiara membalas pertanyaan Galih dengan sebuah pertanyaan.


"Tidak..." jawab Galih. Mungkin hanya dengar mendengar jawabannya, sudah membuktikan bahwa Galih tidak sedang jatuh cinta pada seseorang.


"Tidak? lalu kenapa tanya seperti itu?" heran sendiri Tiara dengan perkataan Galih. Tidak ada yang jatuh cinta tapi Galih bertanya tentang semua itu, terlihat aneh bukan?


"Tiara..." panggil Galih.


"Ya?". Ini adalah pertama bagi Tiara di panggil pria itu. Karena biasanya Galih hanya bilang, Lo, hei dan yang sering adalah bodoh.


Sama sekali tak pernah mengucapkan nama Tiara.


"Lo ingat dengan wanita waktu itu?" tanya Galih.


"Siapa?" malah Tiara yang kebingungan dengan pertanyaan Galih. Siapa wanita yang di maksud Galih barusan.


"Tidak jadi..." jawab Galih.


Ia ragu untuk menceritakan apapun kepada gadis itu.


Dan pada akhirnya, Galih menginjak puntung rokoknya. "Ayo masuk..." ajaknya kepada Tiara tanpa menoleh sedikitpun.

__ADS_1


Tiara yang kebingungan hanya menaikkan bahunya dan berjalan mengikuti Galih.


***


Di tempat lain, Alya terbangun dari tidurnya. Tangan kirinya terpasang selang infus membuat wanita itu berhati-hati untuk sekedar mengubah posisi tidurnya.


Di tengah malam dan suasana kamar yang sunyi, Alya berusaha untuk bangun. Duduk bersandar pada ranjang pasien karena lelah tidur seharian penuh.


Dan seperti inilah dunia memperlakukan Alya. Ia sendirian, kesepian tanpa ada orang yang memperdulikannya.


"Hiks..." hingga air mata yang di tahan sejak tadi lolos begitu saja.


Alya benar-benar merasa sendirian. Bahkan pria yang sangat ia rindukan kedatangannya bahkan tak membalas pesan yang Alya kirimkan.


Terlihat benar-benar di abaikan.


Karena terpuruk seperti sekarang, Alya benar-benar sakit. Tubuhnya sangat lemas dan mengharuskannya di rawat di Rumah Sakit ini.


Galih... hanya satu nama yang terucap dari bibir Alya.


Nama itu selalu mengingatkan Alya tentang dosa-dosanya di masa lalu.


Mungkin jika bisa memutar waktu, Alya ingin kembali ke masa itu. Masa dimana Alya masih menjalin hubungan dengan Galih. Pria yang selalu berkorban untuknya.


Bahkan hingga di akhir pertemuan mereka, tatapan mata pria itu masih terlihat sama. Tatapan mata yang begitu mencintai Alya. Tapi saat itu Alya seperti berubah menjadi orang lain yang tidak memperdulikan Galih. Bahkan mencampakkan pria itu dengan pria lain yang lebih mapan.


Maafkan aku... Maafkan aku... hanya itu kata yang Alya siapkan saat nanti ia bertemu dengan Galih kembali.


Maaf karena telah mengecewakan Galih. Maaf karena begitu egois dan maaf untuk segala hal yang pernah Alya lakukan di masa lalu.


 


Galih berjalan menyusuri koridor Rumah sakit seorang diri. Dan pada akhirnya ia datang untuk melihat Alya yang berada di salah satu ruangan di tempat itu.


Galih hanya melihat Alya yang duduk berpangku tangan tanpa berani untuk masuk.


Ya... Galih hanya melihat keadaan Alya sekilas lalu kembali meninggalkan Rumah Sakit.


Setidaknya hal itu sudah membuat dirinya lebih tenang. Melihat Alya yang tidak terlalu buruk.


Sejujurnya gue ingin menemui mu... tapi hatiku belum siap Alya...


Galih kembali mengendarai mobil hitamnya di tengah malam.


***


Kesel deh sama sikap Galih...


**Oh ya... beberapa hari kedepan 1 bab tiap hari dulu ya gais... Kepalaku agak pusing dan mual kalau lama-lama lihat HP...


Cerita dikit ya, Awal mula karena diriku sedang Piket malam...


Tau kan bagaimana keadaan RS saat malam? ngeri kan? sama... entah iya atau cuma perasaanku saja, setelah dari kamar kecil Aku merasa aneh dengan brankar yang tiba-tiba melintang di dekat kamar kecil. Padahal seingatku saat masuk, tidak ada.


Aneh kan?? mungkin cuma perasaanku saja kali ya...


Jadi moon maap ya... kita kebut lagi kalau diriku sudah lumayan sehat... okey???


See U, love kalian banyak-banyak**...

__ADS_1


__ADS_2