
HAPPY READING...
***
Pagi harinya, kamar pasangan suami istri yang berada di lantai 2 rumah mewah Keluarga Pradipta masih terlihat sunyi sekaligus gelap.
Tirai kamar itu masih tertutup rapat sehingga sinar matahari pagi hanya bisa masuk melalui celah-celah jendela.
Arjun masih terlihat nyaman dengan mimpinya apalagi pria itu benar-benar pulang dan tidur saat dini hari, mungkin sekitar pukul 3.
Tangannya masih erat memeluk tubuh istrinya dari belakang sama seperti semalam.
Sedangkan Akira, gadis itu juga sama nyenyak nya. Tubuhnya benar-benar terasa hangat semalam. Biasanya di kamar ini, Akira selalu terbangun di tengah malam karena merasa kedinginan apalagi tidurnya juga di sebuah sofa panjang dengan selimut tipis yang membungkus tubuhnya.
Nyaman sekali tidurku... batin Akira dalam tidurnya. Mengerjabkan matanya, Akira memulai paginya.
Baru hendak merenggangkan ototnya, Akira merasa sesuatu melingkar di perutnya dengan sangat erat bahkan membuatnya terasa kesulitan bernafas. Eh, apa ini? Akira tidak mampu melihat dengan sempurna karena matanya belum terbuka sepenuhnya.
Segera tangan gadis itu yang bereaksi. Saat tangan Akira menyentuh benda yang memeluk perutnya adalah sebuah tangan, matanya langsung membulat sempurna.
Akira mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Arjun. Kenapa gue bisa tidur disini? batin Akira kebingungan karena tidur satu ranjang dengan Arjun.
Akira ingat betul kalau sekarang dirinya berada di rumah Pradipta, jadi tidak mungkin Akira lupa dimana tempat tidurnya.
Beda lagi saat di rumah Ayah kemarin. Akira memang terpaksa tidur satu ranjang dengan Arjun.
"Tunggu, tadi malam gue belajar bukan?" Akira masih mengingat-ingat kejadian kemarin setelah pulang kuliah.
Akira ingat kalau dirinya sedang belajar dan Arjun juga belum pulang saat itu. Lalu kenapa kami bisa seranjang?
Akira frustasi karena tidak mampu mengingat apapun.
"Arjun, lepas..." pinta Akira memohon. Sesak sekali rasanya di peluk seperti ini. Akira tidak bisa bergerak karena pelukan Arjun, apalagi kaki pria itu mengunci kaki Akira juga seperti sedang memeluk sebuah guling.
"Arjun, lepas..." Akira meronta kembali.
"Ini masih pagi... tidur lagi saja..." gumam Arjun pelan di belakang Akira.
Bukannya melepaskan Akira, Arjun malam memeluk gadis itu semakin erat. Bahkan menempelkan bibirnya di perpotongan leher Akira hingga membuat gadis itu merinding.
"Arjun, gue geli..." ucap Akira. Buku kuduknya benar-benar berdiri karena perlakuan Arjun.
"Diem kenapa sih..." protes Arjun kesal karena istrinya itu banyak sekali bicara.
"Lepaskan atau gue teriak!" ancam Akira.
Tanpa terduga Arjun tersenyum, "Teriak lah... tidak akan ada yang membantumu..." jawab Arjun.
Memang siapa yang akan membantu Akira melepaskan diri dari suaminya? mereka telah sah menikah, jadi mau berbuat apapun juga tidak ada yang melarang bukan? begitu pikir Arjun.
"Diam saja, dan temani aku tidur..." ucap Arjun masih dengan mata yang terpejam. Arjun benar-benar masih merasa ngantuk.
Mendengar Arjun berkata begitu, Akira berubah diam tak lagi meronta seperti tadi,
"Jun," panggil nya.
"Hm,"
"Kenapa gue bisa di sini?" tanya Akira. Maksudnya adalah kenapa dirinya bisa tidur di ranjang ini bersama dengan Arjun.
__ADS_1
"Lo ketiduran saat belajar..." jawab Arjun.
Ya...semalam saat dirinya pulang, Arjun menemukan Akira yang tertidur di meja belajar.
Karena merasa kasihan, Arjun memindahkannya di ranjang agar tidurnya nyaman.
"Lo yang gendong gue?" tanya Akira penasaran.
Dalam hatinya kenapa Arjun sampai repot-repot melakukan hal itu. Biarkan saja Akira tidur di meja belajar tanpa memperdulikannya.
Tapi Arjun memindahkan dirinya.
"Memang lo bisa jalan sendiri dalam keadaan tidur?" tanya Arjun sewot. Siapa lagi yang akan memindahkan gadis itu selain dirinya.
Apalagi Akira juga tidak berat, jadi sangat mudah untuk Arjun menggendong gadis itu.
"Tidak..." jawab Akira.
Mereka kembali tak bersuara. Arjun kembali berusaha untuk melanjutkan tidurnya, sedangkan Akira tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Bagaimana hidupku setelah ini? Dean adalah hidupku... tapi Arjun adalah suamiku...
Aku tidak bisa meninggalkan Dean, tapi juga tak mungkin menyakiti orangtuaku, Mami Livia, juga Papi Johan dengan bercerai dengan Arjun...
Seandainya aku bercerai dengan Arjun, apa hidupku akan bahagia bersama Dean?
Entah kenapa pertanyaan itu muncul di kepala Akira.
"Apa yang sedang lo pikirkan?" Tiba-tiba Arjun bicara hingga membuyarkan lamunan Akira.
"Eh, tidak..." elak Akira.
"Uuhhh... nyaman sekali tidur seperti ini," Arjun masih sibuk memeluk Akira dan menggeliat di balik punggung gadis itu.
Apalagi kemarin dirinya di beri susu buatan Akira dan rasanya enak.
"Kenapa?" tanya Akira sama sekali tidak mengingat hal itu. Apalagi sekarang di rumah Pradipta semuanya sudah di atur oleh pelayan bukan? jadi Akira tidak perlu repot-repot.
"Lo tidak ingat apa kata gue kemarin?" pancing Arjun. "Gue suka susu buatan lo..." tambahnya.
Ahh... iya... kemarin dia memang mengatakan hal itu, batin Akira membenarkan.
Segera Akira bangkit dari tidurnya, merapikan rambutnya yang berantakan dan segera keluar dari sana.
Sedangkan Arjun masih bermalas-malasan di atas ranjang karena hari ini adalah hari libur.
Di dapur,
Akira sedang menghangatkan susu untuk suaminya. "Nona, biar saya saja yang membuatnya..." ucap pelayan yang bertugas untuk memasak.
Mereka tidak bisa membiarkan Nona muda keluarga ini berkutat di dapur seorang diri.
Hanya dengan meminta saja, pelayan dengan suka rela akan melakukannya tanpa perlu Akira bertindak sendiri.
"Tidak apa, suamiku yang memintanya..." jawab Akira menjelaskan.
Jika pelayan yang membuat susu itu, tentu saja Arjun akan protes lagi.
Akira dengan telaten menuang susu hangat ke dalam gelas dan segera membawanya ke atas. Tapi di ujung anak tangga, Akira berpapasan dengan Mami Livia.
__ADS_1
"Sayang, untuk siapa itu?" tanya Mami penasaran dengan apa yang Akira bawa itu.
"Arjun Mi..." jawab Akira.
"Arjun?" terlihat Mami Livia keheranan. Tidak biasanya putranya itu meminta susu hangat saat bangun tidur seperti ini. Biasanya Arjun meminta susu saat berada di meja makan ketika sarapan.
"Iya,"
"Ya udah sana..." jawab Mami Livia.
Akira melanjutkan langkahnya menuju ke kamar. Saat pintu terbuka, terlihat Arjun yang masih selonjoran di atas ranjang.
"Ini susu mu..." ucap Akira mendekati ranjang.
Arjun seketika terbangun, duduk setelah menerima segelas susu pemberian Akira.
Perlahan Arjun menyesap gelas susunya. Merasai minuman itu yang langsung mampu menghangatkan tubuhnya.
"Enak," nilainya pada minuman buatan Akira.
Enak? dia itu normal tidak sih? gue hanya menghangatkannya saja tanpa memberi apapun, kenapa rasanya bisa berubah...? seharusnya dia harus ke dokter memeriksakan jiwanya... ucap Akira dalam hati.
"Lo mau?" tanya Arjun kepada istrinya.
"Tidak," tolak Akira. Tentu saja ia menolak pemberian Arjun karena Akira tidak terbiasa berbagi makanan ataupun minuman dengan orang lain.
"Minumlah!" ucap Arjun terdengar seperti perintah untuk Akira.
Akira pasrah dan mendekati pria itu, duduk di samping Arjun dan mengambil gelas pemberian Arjun dengan cemberut.
Akira memutar sisi gelas bekas bibir Arjun,
Ck... lihatlah, dia memutar sisi gelas kerena tidak mau meminum dari bekas bibirku kan?
"Putar lagi!" perintah Arjun.
Tentu saja Akira tidak mau, mana bisa dia meminum susu dari bekas bibir Arjun?
"Ayo putar!" ucap Arjun sedikit kesal.
"Tidak... ini bekas bibirmu..." protes Akira.
"Kenapa? kita sudah menikah... jadi tidak berpengaruh," jawab Arjun seenaknya sendiri.
"Tapi tetap saja... gue tidak bisa," jawab Akira.
"Kalau itu bekas Dean, Lo mau?" tanya Arjun.
Akira seketika mengalihkan pandangannya menatap Arjun yang baru saja menyebut sebuah nama pria lain.
"Ck... gue bahkan sebal menyebut namanya," ucap Arjun lagi.
Akira masih menatap Arjun dengan muka aneh.
Bagaimana Arjun ingat dengan nama Dean?
Akira masih bertanya-tanya.
Arjun merampas gelasnya kembali dan segera menenggak isinya sampai tandas. Sedangkan Akira masih tak bersuara.
__ADS_1
***
Tinggalkan Like dan Komentar...