
HAPPY READING...
***
Galih terlihat risau. Beberapa kali melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Melihat sudah dimana jarum itu berhenti.
Membuat Arjun yang memang duduk di sampingnya menjadi keheranan. Apa yang membuat Galih terlihat aneh seperti itu.
Saat ini mereka sedang berada di ruangan rapat yang berada di Lantai 10 Gedung Pradipta Group. Membuat Galih, mau tak mau harus terpaku di tempat itu juga.
Hingga saat memasuki jam 5 sore, barulah mereka keluar dari ruangan rapat. Di awali dengan Papi Johan dengan sekertaris pribadinya, dan di belakang mereka ada Arjun sedangkan Galih terkahir kali melangkah pergi bersamaan dengan staf lainnya.
Gue harus cepat... batin Galih.
Dan dengan langkah sedikit tergesa-gesa pria itu memilih Lift karyawan untuk membawanya turun ke lantai dasar Gedung itu. Karena akan mengulur waktu jika ia harus menunggu Lift dimana ada Presdir dan juga Arjun di dalam sana.
Tapi nyatanya, Arjun juga tiba di lantai dasar bersamaan dengan Galih. Membuat keduanya terdiam menunggu kepergian Papi Johan lebih dulu di Lobby perusahaan.
"Mau kemana sih lo?" sindir Arjun kepada Galih.
Tidak harus peka memang, karena tingkah laku Galuh jelas terlihat kalau tengah risau dan tergesa-gesa.
"Mau tau aja sih Lo..." jawab Galih asal.
Karena tidak semuanya harus lapor pada Arjun bukan?
Membuat Arjun melengos kesal dengan ucapan Galih.
Dan setelah mengantar kepergian Papi Johan, barulah Galih bisa menuju ke mobilnya. Mengendarai kendaraan roda empatnya dengan sedikit cepat meninggalkan pelataran Gedung Pradipta Group.
Hingga setengah jam berlalu, Mobil hitam itu tiba di parkiran rumah sakit. Galih berlari dengan sekuat tenaga. Menuju ke sebuah ruangan dimana di depan sana banyak sekali bangku besi berjejer rapi.
Tak banyak yang duduk, tapi ada satu orang yang jelas menunggu kedatangan Galih.
"Sorry..." ucap Galih merasa bersalah.
"Tidak apa..." jawab seseorang di samping Galih yang tak lain adalah Alya.
Sesuai dengan jadwal, hari ini adalah jadwal wanita itu untuk kontrol kesehatannya.
Wanita berambut panjang yang di cat pirang itu terlihat senang. Karena pada akhirnya, Galih bisa menemaninya di tempat ini.
Padahal ia kira, Galih tidak akan datang.
"Masih menunggu antrian?" tanya Galih melihat sekeliling Alya. Dimana ada 4 orang yang duduk dan sibuk dengan sendirinya.
"Iya... tinggal 2 nomor lagi..." jawab Alya.
Wanita itu sengaja duduk lebih dekat dengan Galih. Membuat semua mata tertuju pada keduanya.
Jelas sekali dari tatapan mereka kalau tengah menduga kalau Galih dan Alya adalah pasangan kekasih.
Bahkan ada seorang ibu-ibu yang duduk tak jauh dari mereka, berbisik pada suaminya "Mereka terlihat serasi...". Semakin membuat Alya senang dan tersenyum pada ibu-ibu tersebut.
Hingga salah satu perawat menyebutkan nomor antrian Alya, membuat Alya seketika menatap Galih dan bersuara "Temani aku masuk..." pintanya dengan mata penuh permohonan.
__ADS_1
Sebenarnya Galih tidak mau ikut masuk, tapi karena Alya memohon akhirnya runtuh juga pertahanannya. Galih bangkit sambil menggenggam jemari tangan Alya yang terasa dingin.
"Lo takut?" tanya Galih pada akhirnya.
Padahal mereka hanya ingin memastikan kalau kondisi Alya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Hm," jawab Alya sambil mengangguk. Bahkan jemari tangannya semakin erat menggenggam tangan Galih saat langkah kaki keduanya telah masuk ke dalam ruangan.
---
Galih dan Alya keluar dari Rumah Sakit. Ada perasaan lega dalam diri Alya ketika dokter mengatakan tidak ada hal buruk yang terjadi. Bahkan kesehatan Alya berkembang jauh lebih baik dari sebelumnya.
Tapi ada beberapa makanan yang belum bisa Alya konsumsi sampai sekarang, terutama makanan pedas dan asam.
"Kita cari makan dulu..." ajak Galih.
Dan pada akhirnya, mereka tiba di sebuah rumah makan. Disini Alya hanya diam karena Galih yang memilihkan menu makan malam mereka.
Dia masih perhatian seperti dulu... kenang Alya pada sosok pria di depannya.
Ya... Galih memang tidak berubah. Pria berhati hangat yang mampu di andalkan siapa saja.
Sedikit menyesal memang karena Alya pernah menyakiti perasaan pria itu.
Tapi semua itu hanyalah masa lalu yang tidak perlu di kenang kembali.
"Makanlah..." perintah Galih setelah menu makanan mereka telah di antar dan di tata rapi di meja.
"Terima kasih..." jawab Alya menikmati makan malamnya.
Sambil menikmati makan malamnya, sesekali Alya menatap Galih yang juga menikmati makanannya dengan sangat tenang. Tak berniat untuk memulai percakapan sama sekali.
Dan hal itu di manfaatkan Alya untuk sedikit mendapat perhatian dari pria itu. Alya meraih sambal berwarna hijau yang terhidang di meja.
Tapi tanpa terduga, tangan Galih langsung merampasnya dengan paksa.
"Lo lupa kata dokter tadi?" sentaknya.
Bahkan ucapan Dokter masih sangat jelas di telinga Galih.
Alya sama sekali tidak boleh memakan makanan pedas.
"Jangan makan pedas..." tambah Galih dan mengambil wadah kecil berisi sambal dan meletakkannya di samping piring miliknya.
Mendengar ucapan Galih, tak membuat Alya kecewa. Justru ada sebuah kebahagiaan dalam dirinya.
Walaupun tak mengajak Alya bicara, tapi Galih masih memperhatikan semuanya.
Hal itu membuat kedua mata Alya menganak sungai.
Wanita itu seketika menaruh sendok dan garpu dan mengamati sosok Galih dengan saksama.
Membuat yang di tatap otomatis bereaksi, "Maaf..." sesal Galih. Sungguh ia tak sengaja membentak Alya barusan hingga membuat wanita itu terlihat sedih.
Bangkit dari duduknya dan mengambil sapu tangan guna menghapus air mata itu agar tidak jadi menetes jatuh membasahi wajah Alya.
__ADS_1
"Gue tidak berniat memarahi mu tadi..." jelasnya.
Galih hanya tidak mau Alya memakan sambal yang jelas di larang Dokter. Semua itu juga demi kesehatan wanita itu juga.
Galih menyerahkan sapu tangan yang belum di gunakan sama sekali. Di terima Alya dengan hati yang berdesir.
Menyeka genangan air mata di kedua pelupuk matanya tanpa ragu dan mengembalikan beda itu kepada Galih lagi.
Keduanya kembali menyelesaikan makan malam yang sempat tertunda. Dan setelah itu, Galih mengantar Alya untuk kembali ke tempat Kost nya.
Di dalam perjalanan, Alya terlihat memperhatikan Galih tampa henti. Membuat yang di tatap salah tingkah. Bagaimana tidak? mereka pernah menjalin hubungan di masa lalu. Banyak sekali hari yang mereka lalui bersama. Bahkan lebih dari sebuah hubungan layaknya kekasih.
Ya... Galih dan Alya pernah melakukan hal yang seharusnya hanya dilakukan pasangan suami istri. Bisa dikatakan kalau Galih lah pria pertama yang menyentuh tubuh Alya. Merenggut mahkota wanita itu atas dasar cinta.
Walaupun sudah lama putus, tapi keduanya masih menyimpan kenangan-kenangan indah di lubuk hati paling dalam.
"Galih..." panggil Alya.
"Hm,".
"Kapan kamu menghapus tato di tangan mu?" tanya Alya penasaran.
Bahkan dirinya saja, sampai sekarang tato mawar masih terukir jelas di tengkuk leher bagian belakangnya.
Alya memang tidak berniat menghapus tato itu.
"Sebelum masuk dan bekerja untuk Pradipta Group..." jawab Galih.
Ya... seminggu sebelum dirinya bekerja, Galih telah memutuskan untuk menghapus tatonya.
"Kenapa?" tanya Alya penasaran.
Kenapa sampai Galih melakukan hal itu? padahal mereka pernah berjanji untuk tidak menghapusnya sampai kapanpun.
Tapi nyatanya Galih telah menghapus tatonya yang berarti tak menepati janji yang mereka buat.
Galih tak bersuara. Menjawab ataupun menjelaskan apapun.
"Lalu, kupu-kupu milikmu?" tanya Alya lagi.
Ada tato lain yang memang terpahat dalam tubuh Galih sejak dulu.
Satunya adalah tato Bunga mawar yang sama persis dengan milik Alya. Tapi bedanya ada di punggung tangan dekat dengan ibu jari milik pria itu. Tapi tato itu telah di hapus.
Sedangkan tato lain, yang berbetuk kupu-kupu berwarna biru ada di bagian tubuh Galih yang tidak semua orang bisa melihatnya.
Mungkin hanya Alya dan wanita-wanita yang pernah di kencani Galih yang tau akan hal itu.
Wajah Galih berubah. Ada sebuah kemarahan yang tersirat dari tatapan matanya. Karena yang ditanyakan Alya adalah privasi bagi Galih. Tidak semua orang harus tau dengan privasinya.
"Tidak semuanya Lo perlu tau kan?" ucap Galih ketus.
Walaupun Alya pernah jadi wanita kesayangan Galih, tapi Alya tak berhak menanyakan hal itu lagi.
***
__ADS_1
Ini kupu-kupu Galih ada di mana ya??? hahaha... ada yang kepo???