
HAPPY READING...
***
Pesta telah berlangsung sejak 1 jam yang lalu. Semua orang terlihat senang bisa menyapa dan memberikan ucapan secara tulus kepada pasangan Arjun dan Akira.
Semua tamu mendoakan Starla, bayi perempuan sekaligus cucu pertama dadi Keluarga Pradipta.
Karena kelak, Starla lah yang akan meneruskan posisi tertinggi dari kakek dan juga Ayahnya.
Ya... malam ini juga, Papi Johan telah mengumumkan kepada semua orang kalau kepemimpinannya akan di serahkan kepada Arjun, putra semata wayangnya.
Sorak dan tepuk tangan meriah terdengar memenuhi Ballroom itu saat Papi Johan mengumumkan nya.
Walaupun tak tau apa yang ada di hati orang-orang yang tidak menyukai Arjun, tapi jelas tidak di perlihatkan pada malam ini.
Mungkin hanya hatinya yang terbesit rasa tak suka.
Galih yang tadinya ikut mengawasi jalannya acara, kembali duduk di samping Tiara.
"Siapa tadi?" tanya pria itu tiba-tiba.
Inilah pertama kalinya jiwa keingintahuan Galih muncul.
Melihat Tiara asyik mengobrol dengan seseorang membuat dirinya risau. Ingin sekali Galih menghampirinya, tapi Ia tak bisa.
Karena bersamaan dengan itu Arjun dan Akira sebagai pemilik acara mulai naik ke panggung. Dan Galih berdiri tak jauh dari mereka sesuai instruksi yang di berikan Papi Johan.
Matanya memerah melihat Tiara tak segan tersenyum bahkan sampai memukul bahu pria yang ditemuinya tanpa ragu.
Ck... mengingatnya saja membuatku kesal...
Padahal bersama dengannya, Tiara tak pernah tertawa selebar itu. Membuat hati Galih iri.
"Tadi? siapa?" tanya Tiara. Bahkan seperti membalik pertanyaan Galih tadi.
Dasar bodoh! umpat Galih.
"Yang tertawa bersama mu tadi..." ucap Galih. Ia tak akan bertanya pada Tiara kalau Galih mengetahui siapa pria itu.
"Oh itu... hehehe...". Tiara mengingatnya bahkan kembali tertawa mengingat apa yang dibicarakan beberapa saat yang lalu. Karena pria tadi membuat lelucon yang membuat Tiara ataupun orang yang mendengarnya ikut tertawa.
Ck... lihatlah senyum bodohnya itu.. batin Galih.
Kembali mengejek apa yang dilakukan Tiara karena terlalu kesal.
Belum selesai dengan pembicaraan itu, Dion bersuara.
"Ayo kita sapa mereka..." ucapnya dengan yakin.
"Oke..." jawab Galih pasrah.
Pada akhirnya, Dion berjalan sambil menggandeng tangan Gadis. Menautkan jari mereka dengan sangat erat seperti memperlihatkan pada semua tamu kalau dialah gadis pilihan Dion.
Bahkan Dion tak memperdulikan sosok yang berada di meja nomor 9. Siapa lagi kalau bukan Rega dan juga istrinya.
Pasangan itu menatap Dion seperti tatapan terkejut dan tak percaya.
Tapi bagi Dion, ia tak peduli.
"Lihatlah ke meja nomor 9," pinta Dion pada Gadis.
__ADS_1
Seketika Gadis mencari meja yang Dion maksudkan. Mana? begitu hatinya bicara.
"Arah jam 9," ucap Dion lagi. Dan Gadis langsung melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Setelah mengerti ia langsung melihat lagi ke meja yang Dion maksudkan.
Apa maksudnya?
"Mereka adalah Kakak laki-laki ku dan istrinya..." ucap Dion menjelaskan.
Oh, itu kakaknya? pantas saja sedikit mirip dengan Dion... batin Gadis tercengang.
"Jangan melihatnya!" perintah Dion. Seketika Gadis memutar kepalanya lagi. Padahal tadi ia sudah berniat untuk menyunggingkan senyum ke arah mereka, tapi nyatanya Dion tak menginginkan Gadis melakukannya.
Hingga tak terasa langkah Dion dan Gadis telah sampai di depan panggung. Senyum pasangan di atas sana seketika terlihat menyambut kedatangan Dion.
"Selamat nyet...",
"Selamat Akira...", ucap Dion.
"Makasih..." jawab Akira ramah seperti biasanya.
"Jadi ini yang membuat Lo tak mau pulang?" tanya Arjun mengejek. Diikuti oleh senyum Galih juga.
Karena alasan Dion memang ada satu, karena terpikat oleh wanita bergaun hitam yang ada di depan sana.
"Hai... kenalkan aku Akira..." Akira lah yang berinisiatif untuk memperkenalkan namanya kepada Gadis.
"Gadis... panggil aku mbak, sama seperti Tiara...". Karena Gadis sudah banyak mendengar dari Tiara bagaimana sosok Akira.
Kedua wanita itu saling berjabat tangan. Memperkenalkan nama mereka masing-masing.
"Arjun...".
Ck... Arjun malah berdecak. Tak menyangka kalau Dion juga bisa seperti itu.
Padahal Arjun ingat bagaimana tingkah Dion saat bertemu dengan Akira waktu itu.
Pria itu bahkan dengan terang-terangan memuji Akira di depan Arjun.
Membuat Arjun kebakaran jenggot karena tingkah sahabat gilanya.
Tapi saat Dion yang berada di posisi Arjun, Dion terlihat begitu posesif terhadap wanitanya.
Bahkan tak diberi kesempatan untuk sekedar berjabat tangan.
"Lucu sekali..." ucap Gadis memuji bayi Starla dalam gendongan Akira. Menyentuh pipi merah bayi itu tanpa ragu.
"Cepat nyusul mbak.." goda Akira dan membuat Gadis tersenyum malu.
Dalam hati Gadis, ia juga tak akan menunda untuk mempunyai anak setelah menikah dengan Dion nantinya.
Tapi sebelum itu terjadi, Gadis dan Dion harus berjuang untuk meminta restu pada keluarga Dion lebih dulu.
"Tak apa sayang... kita akan buat yang lebih lucu dari milik Arjun... oke?" sindir Dion. Masih sempat-sempatnya ia menggoda sahabatnya itu.
Lalu merangkul pinggang Gadis tanpa ragu.
"Sekali lagi selamat ya Akira..." ucap Gadis lagi. Ia tak bisa berlama-lama bicara dengan si pemilik acara karena ada banyak antrian di belakang mereka.
"Terima kasih ya... Terima kasih telah datang, maaf karena aku tidak bisa menyapamu secara pribadi..." sesal Akira.
"Tak apa Akira, lain kali kita akan datang ke rumah kalian..." tambah Dion.
__ADS_1
Membuat Akira mengangguk setuju. Ya... dengan seperti itu, Akira dan Gadis akan bisa lebih akrab.
"Pintuku tidak selalu terbuka buat tamu seperti lo!" tolak Arjun walaupun hanya gurauan saja.
Tau kan bagaimana persahabatan mereka?
Saling ejek dan justru membuat hubungan mereka lebih erat dari sebuah hubungan keluarga.
"Hahah... gue akan lewat jendela..." jawab Dion telak dan menepuk bahu Arjun sebelum akhirnya turun dari sana.
Melambaikan tangan kepada Arjun dan Akira hingga langkah kakinya membawa keluar gedung.
Saat Dion menunggu Galih dan Tiara yang masih menyapa Arjun, Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan paksa.
"Dion..." teriak Gadis spontan.
Gadis mampu melihat Dion yang semakin berjalan menjauhinya. Membuat Gadis ikut berlari mengejar tapi sepatu yang ia kenakan sungguh memperlambat gerakannya.
Karena banyak tamu yang juga ikut keluar dari pintu yang telah di sediakan, membuat Gadis kehilangan jejak kekasihnya.
Gadis bertambah panik tapi tetap berjalan mengikuti arus tamu yang mulai meninggalkan gedung.
Dan tepat di parkiran, Gadis sedikit lega karena melihat Dion disana.
"Dion..." teriak Gadis dan menghampiri kekasihnya. Tapi saat jarak mereka semakin dekat, Dion mengangkat tangannya. Berharap Gadis yang lagi maju. Cukup di jarak itu saja Gadis berdiri.
Kenapa? begitu sorot mata yang di tunjukkan Gadis kepada Dion.
Tapi tak ada jawaban sama sekali dari mulut Dion.
"Hanya karena kita dilahirkan dari Ibu yang sama, Lo tidak bisa seenaknya sendiri menyeret gue seperti tadi..." umpat Dion pada pria di depannya yang tak lain adalah Rega.
"Kapan lo kembali?" tanya Rega datar.
Sedangkan Dion, seperti meludah mendengar ucapan sang kakak.
Toh kapanpun Dion datang, tidak ada urusannya dengan pria itu bukan? Dion tak merugikan Rega sama sekali.
Ternyata tanpa Dion sadari, di belakang Gadis telah ada anak buah Papanya.
Tanpa aba-aba, Gadis segera di tarik oleh kedua pria itu dan di masukkan ke dalam mobil secara paksa.
"Dion, tolonggg!" teriak Gadis sesaat sebelum mobil itu pergi dari Hotel.
Membuat Dion terkejut dan hendak mengejarnya tapi tak berhasil.
"Br*ngsek!" teriak Dion murka. Mencengkeram kerah kemeja Rega tanpa ragu sedikitpun.
Kalau hanya dirinya saja yang dilukai, Dion tak peduli. Tapi kali ini, Gadis juga diikutsertakan olehnya. Dion tak terima.
"Mau Lo apa?" tanya Dion menjadi pusat perhatian semua orang.
Bahkan tangannya sudah gemetar untuk menahan agar tidak melayangkan pukulan pada kakaknya.
"Mau gue?" pancing Rega. Bahkan terlihat lebih menakutkan daripada Dion. "Membawa pulang Lo!".
Hingga kembali terkecoh, anak buah Rega membekap wajah Dion dengan sebuah sapu tangan. Dan di menit berikutnya, Dion ambruk tanpa sadar.
"Bawa dia...". Perintah Rega dan segera masuk ke dalam mobil. Tak menghiraukan tatapan semua orang yang tertuju padanya. Karena orang yang melihatnya belum tentu tau apa yang terjadi.
***
__ADS_1