
HAPPY READING...
***
Dion keluar dari Rumah Sakit bersama dengan Agus dan juga Gadis, anak kepala Desa yang memang sejak semalam memilih tinggal untuk menemani Dion.
Karena kepala Dion yang hanya di jahit ringan, pria itu di perbolehkan untuk melakukan rawat jalan saja dan akan sering kembali untuk melakukan kontrol lukanya.
Dengan Agus yang menjadi supir, Dion dan Gadis duduk di bangku tengah.
Sepanjang jalan tidak ada yang bersuara, hanya Dion yang sesekali melirik mencuri pandang dengan perempuan di sampingnya.
Apa penampilannya memang seperti ini?
Dion yang memang lahir dan tumbuh di Jantung Ibukota terbiasa melihat perempuan dengan pakaian yang memang di kenakan oleh seorang perempuan pada umumnya. Dress ataupun pakaian yang yang seksi.
Tapi kali ini, sosok di sampingnya justru malah terlihat seperti seorang pria. Memakai celana di mana bagian lututnya sobek dan kaos yang Oversize. Benar-benar jauh dari kesan feminim.
Jika saja rambutnya tidak panjang, semua orang akan berpikir kalau dia adalah seorang pria.
Beda lagi dengan Gadis, yang tak sengaja memergoki tatapan Dion yang entahlah.... Gadis susah untuk mendeskripsikan nya. Tatapan yang begitu dalam seperti tengah menel*njanginya saja.
Apaan sih dia itu? tatapannya sungguh menakutkan... batin Gadis langsung merapatkan kedua kakinya dan memilih untuk duduk di ujung kursi, menempel pada pintu mobil tersebut.
Karena merasa tak enak di tatap Dion seperti itu, Gadis memilih untuk melempar pandangannya ke jalanan sambil tangannya menulis sesuatu di kaca jendela.
Berharap hal itu bisa membuat dirinya nyaman.
"Jadi nama Lo Gadis?" tanya Dion sedikit mengejutkan yang di ajak bicara.
"Hm," jawab Gadis kembali membetulkan posisi duduknya.
"Kenapa?" entah kenapa dengan bodohnya Dion bertanya seperti itu.
Tapi pertanyaannya bisa di terjemahkan tentang kenapa orang tuanya menamai perempuan itu dengan nama Gadis.
"Ha?" tentu saja Gadis tidak paham.
Apa maksudnya coba... gerutunya dalam hati.
"Ya ada nama lain yang bisa di pakai... kenapa orang tua Lo memilih nama Gadis? padahal kalo di lihat-lihat Lo seperti..." ucap Dion ngambang. Sengaja untuk tidak meneruskan kalimatnya.
"Kenapa? gue wanita tulen ya... jangan asal bicara..." jawab Gadis dengan sewot.
Sangat keterlaluan bukan sampai pria di setelahnya mempertanyakan gendernya.
Ini termasuk pelecehan bukan sih?
"Masak sih?" goda Dion sambil menampakkan senyum aneh yang tentu saja membuat Gadis bergidik ngeri.
Karena jika di definisikan, senyum serta tatapan Dion seperti seorang pria mata keranjang yang sedang melihat mangsanya.
Apa dia bilang? dia mau bukti kalau gue perempuan tulen asli? ck... menggelikan...
Perjalanan yang harusnya terasa singkat berubah lama untuk Gadis. Apalagi ia harus semobil dengan pria yang sepertinya terlihat sebagai pria tidak baik. Begitulah penilaian Gadis pada Dion.
"Umur lo berapa sih?" tanya Dion penasaran.
Ini adalah pertama kalinya ia begitu penasaran dengan sosok perempuan. Apalagi keahlian bela diri Gadis kemarin malam yang disampaikan di acungi jempol.
Cukup keren lah karena mampu memukul mundur 3 pemabuk.
"25," jawab Gadis.
Padahal dalam hatinya ia juga menyesal karena memberitahu umurnya kepada Dion.
"Widih... cocok dong..." ucap Dion antusias.
"Apanya?" membuat Gadis seketika bertanya.
"Cocok buat berumah tangga... heheh," jawab Dion sambil tersenyum lebar.
Sebenarnya Gadis itu ingin ikutan tersenyum karena ucapan Dion, tapi memalukan bukan. Sehingga yang dilakukannya hanya memutar kepala untuk melihat ke luar jendela.
__ADS_1
***
Mobil Dion telah tiba di depan rumah kepala desa. Terlihat sekali bangunan rumah itu sangat besar dengan pendopo di depan yang digunakan untuk pertemuan desa.
Dion merasa takjub melihat rumah yang bahkan tak bisa di temui di Ibukota. Sebagian besar rumah di Ibukota memang bergaya modern.
"Kami pulang dulu Pak..." ucap Agus memutuskan.
Karena sudah terlalu lama mereka bertamu sejak pulang dari rumah sakit tadi. Lebih tepatnya mengantar Gadis pulang.
"Oh, baiklah... Terima kasih telah mengantarkan Gadis pulang..." ucap Bapaknya Gadis.
Pria berkumis yang selalu mengenakan pakaian batik benar-benar memperlihatkan wibawanya.
Dion bahkan terpukau dengan tutur bicara Kepala Desa itu.
"Mari pak..." Dion menjabat tangan Kepala Desa bergantian dengan Agus. Dan setelah itu melirik Gadis hingga membuat yang di lirik menjadi salah tingkah.
Setelah kepergian Dion, Gadis masih tersenyum melihat ke arah jalanan. Membuat Bapak terheran-heran.
"Gadis..." memanggil putrinya.
"Iya Pak..." jawab Gadis spontan.
"Apa yang membuatmu tersenyum seperti itu?" selidik Bapaknya.
"Ti-dak..." elak Gadis. Ia tidak bisa memberitahu Bapaknya kalau alasan Gadis tersenyum adalah karena Dion.
"Dia pria kota..." ucap Bapak seperti menyadarkan Gadis kalau putrinya harus menjaga jarak.
Bapak hanya tidak ingin putri satu-satunya mengenal pria yang berasal dari jauh.
"Iya..." jawab Gadis lemah.
***
Keesokan harinya, Gadis memulai paginya dengan berolahraga.
Tadinya Gadis ingin ke Air terjun, tapi karena berpikir Dion tidak akan kesana hingga ia memutuskan untuk berputar di jalan desa saja.
Hingga langkah kaki membawa Gadis sampai di pertigaan dimana di belakang sana, sebuah Villa berlantai dua gagah berdiri.
Disana lah Dion tinggal.
Dulu saat masih kecil, Gadis selalu penasaran tentang rumah besar tersebut. Dia dan teman-temannya selalu mengintip di depan gerbang, mencari tahu siapa pemilik rumah yang terlihat kosong tapi selalu bersih.
Bahkan sampai ia lulus SMA, Gadis belum menemukan siapa pemiliknya.
Gadis memang lahir dan besar di Desa ini. Tapi setelah lulus SMA, Gadis memilih kuliah di Kota hingga beberapa tahun hingga mendapatkan pekerjaan disana.
Tapi nyatanya kehidupan Kota amat keras bagi dirinya yang terlalu lugu dan polos.
Gadis mendapat pelecehan di tempat bekerja hingga membuatnya pulang sebulan yang lalu.
Dan sekarang, Gadis kembali tinggal bersama dengan orangtuanya.
Itulah sebabnya Bapak tidak mengijinkan Gadis untuk kembali ke Kota. Takut jika ada hal buruk terjadi pada putri kesayangannya itu.
"Sedang menunggu seseorang?" tanya seseorang yang tentu saja mengejutkan Gadis.
Terlihat Dion berjalan mendekati Gadis dan duduk di sebelahnya tanpa meminta ijin.
"Tidak..." jawab Gadis dan menggeser duduknya spontan.
"Duh, sedihnya diriku..." keluh Dion di buat-buat sedramatis mungkin.
"Padahal gue udah berharap..." tambahnya.
Dasar pria bermulut manis! batin Gadis.
Sejenak Dion dan Gadis sama-sama terdiam. Melihat pemandangan sawah di depan sana.
"Seperti nya Lo tidak besar di sini ya?" tanya Dion. Karena penampilan Gadis terlihat berbeda dari warga lain pada umumnya.
__ADS_1
"Gue asli sini lah... gue kan anak kepala desa..." ucap Gadis dengan sombongnya.
"Besar disini?" tanya Dion menaikkan satu alisnya.
"Kenapa? lo penasaran?" tanya Gadis.
Membuat Dion tak bisa berkata-kata.
Mau menjawab iya, pasti akan membuat Gadis merasa aneh nanti.
Karena terlalu penasaran hanya di lakukan seorang penguntit saja. Sedangkan Dion bukan.
"Ya gimana ya... penampilan Lo tidak seperti orang sini... apalagi cara berpakaian Lo!" sindir Dion.
Sedikit aneh memang melihat perempuan berpenampilan seperti seorang pria.
Karena Dion terbiasa melihat wanita-wanita berpakaian minim yang memamerkan lekuk tubuhnya.
"Gue kuliah di kota beberapa tahun silam..." jawab Gadis mulai membuka masa lalunya.
"Gue kuliah di kota dan mendapat pekerjaan di sana juga sampai bulan lalu... tapi kembali pulang kesini..." tambahnya.
"Oh pantas saja..." jawab Dion.
"Kenapa pulang? cuti?" tanya Dion pada akhirnya.
"Pulang... gue gak betah tinggal di kota..." ucap Gadis menyembunyikan fakta yang ada.
"Sepertinya itu bukan alasannya..." ucap Dion hingga membuat Gadis menatapnya dengan terkejut.
"Benar kan?" selidik Dion. Karena tidak mungkin seseorang bilang tidak betah tinggal di Kota.
Padahal kuliah tentu saja bukan hanya 1 atau dua bulan saja. Bertahun-tahun.
"Sepertinya Lo cukup pintar..." puji Gadis pada pria di setelahnya yang mampu menebak tepat sasaran.
Karena memang bukan itu alasan Gadis pulang ke desa.
"Mungkin Lo tidak bisa berkerja sama dengan rekan kerja Lo... atau mungkin Lo di pecat karena memukul mereka..." ucap Dion hingga Gadis tertawa.
"Hahaha... memukul?" ucapnya tak percaya.
"Bisa saja kan, karena Lo jago berkelahi...".
"Bukan..." ucap Gadis menjelaskan. "Atasan gue berperilaku tidak baik kepada ku...".
Dion langsung menatap heran, " Pelecehan?".
Tanpa terduga Gadis mengangguk mengiyakan ucapannya.
Di lecehkan? batin Dion masih bertanya-tanya.
"Masak sih?" hingga tanpa sadar terlontar pertanyaan aneh dari mulutnya.
"Maksud Lo gue tidak akan jadi salah satu korban pelecehan gitu? Gue perempuan asli ya..." ucap Gadis sewot.
Entah kenapa Dion memandangnya sebelah mata seperti itu.
"Hahaha... mana buktinya?" tanya Dion masih dengan tawa yang membuat matanya sipit dan tidak bisa melihat.
Dion memang keturunan China, jadi pria itu memiliki mata sipit. Jadi ketika tertawa, Dion sama sekali tidak bisa melihat.
"Bukti? bukti apa?" tanya Gadis terkejut.
Bagaimana bisa ia membuktikan kalau dirinya adalah wanita normal.
"Bukti kalau Lo perempuan asli lah... sini kasih bukti ke gue..." pinta Dion.
"Sinting!" umpat Gadis hingga membuat Dion semakin tergelak.
Lucu sekali menggoda perempuan di samping Dion itu.
***
__ADS_1