
HAPPY READING...
***
Galih menatap layar ponsel yang baru saja mati. Ekspresinya sungguh tak terduga antara bingung, tak percaya juga sedikit umpatan karena Arjun mematikan panggilannya tanpa memberi penjelasan lebih dulu.
Apa dia sedang mabuk tadi? kenapa bicaranya ngelantur seperti itu? Gue akan bicara dengannya nanti...
Galih memutuskan untuk kembali masuk ke dalam gedung Pradipta Group. Mempersiapkan pekerjaan hari ini agar berjalan dengan lancar.
Sedangkan Arjun baru tiba 15 menit kemudian.
Baru tiba di depan gedung, Arjun langsung turun menyuruh satpam untuk memarkirkan mobilnya. Direktur muda bebas melakukan apa saja.
Dengan sesekali memeriksa pakaiannya, Arjun masuk ke dalam gedung Pradipta Group.
Seketika karyawan tempat itu langsung menundukkan kepala memberi hormat dan baru mengangkatnya kembali saat Arjun telah melewati mereka.
Biasanya saat ia tiba, ada Galih yang langsung menyambut kedatangannya. Tapi kali ini terasa beda. Dimana dia? kenapa tidak nampak batang hidungnya? batin Arjun bertanya-tanya.
Padahal asisten pribadinya itu sempat menghubunginya tadi.
Arjun masuk ke Lift khusus petinggi perusahaan yang akan membawanya sampai di lantai tempat ruangannya berada.
Sambil menunggu, Arjun memeriksa ponselnya. Kali aja ada pesan masuk dalam benda pipih miliknya.
Sampai Lift berdenting disertai dengan pintunya terbuka, Arjun masih sibuk dengan ponselnya. Bahkan tidak memperdulikan karyawan di lantai itu yang memberi hormat.
[Ayahnya bekerja di pabrik makanan ringan milik Pradipta Group, Tuan muda]
Arjun tidak membalas pesan itu tapi langsung menghubunginya.
"Pagi Pak," sapa Sella, sekertaris nya.
Tapi karena ada yang lebih penting, Arjun hanya mengangguk tanpa bersuara sama sekali. Dan segera masuk ke dalam ruang kerjanya.
"Kamu yakin dengan itu?" tanya Arjun kepada pria di seberang telepon.
"Iya Tuan, saya sudah memeriksa nya... dia memiliki pangkat yang cukup tinggi di Pabrik,"
"Bawa datanya ke Perusahaan saat ini!"
"Baik Tuan,"
"Apa ada lagi?" tentu saja Arjun tidak puas hanya dengan 1 informasi yang anak buahnya dapatkan.
"Ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Dia juga memiliki adik perempuan yang usianya baru 11 tahun,"
"Sekalian bawa informasi adiknya juga, foto dan semuanya..."
"Baik Tuan,"
Arjun tersenyum senang. Setidaknya ada pion yang sangat menguntungkan dirinya. Hanya itu cara untuk membuat Akira tetap berada di sisinya sampai kapanpun.
----
Akira mencoba untuk menelpon Dean berulang-ulang kali. Tapi nihil, pria itu sama sekali tidak menjawab teleponnya. Akira benar-benar cemas jika seandainya memang benar yang di mata-matai oleh anak buah Arjun adalah Dean.
"Dean... kemana saja kamu? kenapa tidak mengangkat teleponku?" gumam Akira sambil menghentakkan kakinya berulang kali.
__ADS_1
Kelas Akira akan di mulai sebentar lagi, tapi di sisi lain ia juga harus memastikan kalau Dean baik-baik saja.
Setidaknya Akira ingin melihat Dean, itu sudah cukup membuatnya tenang.
Tapi semuanya tidak berpihak padanya. Akira harus segera ke kelasnya karena mata kuliahnya akan segera di mulai. "Aku akan mengirim pesan," Akira memutuskan semuanya.
[Dean, kamu baik-baik saja kan? Temui Aku setelah kuliah usai,]
Pesan pun terkirim.
Hanya itu yang bisa Akira lakukan. Setelah kuliah selesai, ia akan memberi tahu Dean untuk selalu berhati-hati.
----
Arjun baru saja selesai rapat. Dengan langkah gontai, pria itu berjalan menuju ke ruangannya kembali.
"Tadi pagi lo bermain drama di mana?" sindir Galih. Ya.. sekarang adalah waktu yang tepat untuk menanyakan alasan kenapa Arjun terlihat berbeda tadi pagi.
"Gue sedang bersama Akira," jawab Arjun sambil mendongakkan kepalanya di sandaran kursi untuk sedikit meredakan rasa pening di kepalanya.
"Maksudnya?" tentu saja Galih bingung. Apa masalahnya jika sedang bersama Akira? Arjun tetap bisa menjawab pertanyaan Galih bukan? bukannya bersandiwara seperti sebuah film.
"Ceritanya panjang," jawab Arjun.
Galih hendak mengucapkan sesuatu, tapi diurungkannya saat sebuah ketukan pintu terdengar. Galih seketika berjalan menuju ke pintu itu dan membukanya, "Masuk," ucapnya singkat pada seorang pria berjas hitam.
Pria muda itu berjalan mendekati meja Arjun dan menyerahkan Map berwarna cokelat. "Ini Tuan," ucapnya dan kembali mundur 2 langkah untuk keselamatannya. Kali aja Bosnya itu tidak puas dengan informasi yang di bawanya.
Sedangkan Galih, masih berdiri di sisi kiri kursi yang sedang di duduki Arjun. Memperhatikan semua yang terjadi tanpa bertanya, padahal Galih sangat penasaran.
Dengan sangat yakin, Arjun membuka Map cokelat di depannya. Mengeluarkan isinya yang ternyata beberapa kertas dan juga Foto.
"Itu si bungsu," lapor pria di depan Arjun.
Arjun hanya melihatnya sekilas. Kini pandangannya beralih pada berkas di meja. Mengambilnya dan mulai membaca tulisan demi tulisan yang ada di sana.
Inilah kehebatan orang kaya, mereka mampu mencari informasi sedetail mungkin dari seseorang.
Arjun tersenyum aneh hingga membuat pria di depannya bergidik ngeri.
"Ikuti adiknya lagi, dan dapatkan foto lebih banyak... nanti, serahkan kepadaku..." perintah Arjun.
"Baik Tuan muda,"
Arjun menarik laci untuk mengambil amplop cokelat. Melemparkannya hingga tepat mengenai tubuh pria di depan sana.
Tentu saja pria itu langsung memungut amplop tersebut yang mungkin saja di dalamnya adalah uang. Sepertinya banyak... batinnya saat menggenggam amplop itu tanpa melihat isinya lebih dulu. Mana berani ia melihatnya di depan Arjun.
"Itu untuk kerja kerasmu," ucap Arjun.
Walaupun tanpa mengatakan begitu juga anak buahnya tentu saja sudah tau.
"Keluarlah!" usir Arjun.
"Terima kasih Tuan, Terima kasih..." pria itu segera undur diri dari ruangan Arjun.
Setelah kepergian anak buah Arjun, gantian Galih yang masih bingung dengan semuanya.
Apa yang sedang di rencanakan oleh Arjun kali ini. "Ada apa ini?" tanya Galih mencari jawaban.
__ADS_1
"Baca," Arjun sama sekali tidak berniat untuk memberitahu Galih dengan mulutnya. Setidaknya biar Galih membaca semuanya sendiri.
Walaupun sudah membaca semuanya, Galih masih tidak paham. Apalagi berkas itu hanya berisi biodata anggota keluarga yang sama sekali tidak Galih kenal.
Yang ia tau hanya si kepala keluarga yang tertulis kalau bekerja di sebuah Pabrik makanan milik Pradipta Group.
"Mereka adalah keluarga selingkuhan Akira," ucap Arjun datar.
Seketika Galih kembali mengecek data itu, DEAN?
"Dia pacar istri Lo?" tanya Galih saking terkejutnya.
"Pelankan suaramu bodoh!" umpat Arjun. Entah kenapa Galih berkata dengan nada meninggi dimana mungkin saja ada yang mendengar hal itu.
"Sorry, gue terkejut tadi. Terus maksudnya gimana?" tanya Galih. Untuk apa Arjun mengumpulkan semua informasi tentang kekasih istrinya? begitu pikir Galih.
"Akira meminta cerai pada gue semalam. Gue akan menggunakan kekasihnya untuk membuat gadis itu selalu berada di sisiku," ucap Arjun yakin.
"Apa yang akan Lo lakukan?" tanya Galih penasaran.
"Membuat perhitungan dengannya. Pria itu harus sadar dengan lawannya...".
Galih tak menyangka kalau Arjun memiliki ide seperti itu. Apa dia menyukai Akira? Arjun mencintai istrinya begitu?
"Lo... Lo suka sama Akira?" tanya Galih penasaran.
"Tidak!" jawab Arjun yakin. Tapi dengan menyembunyikan wajahnya dari Galih.
Melihat Arjun sepeti itu, Galih sedikit tak percaya. Ia tau kalau Arjun memiliki perasaan pada Akira, hanya saja Arjun sedikit gengsi untuk mengakui perasaannya.
----
Jam kuliah telah selesai. Akira bergegas mencari keberadaan Dean. Ya... Pria itu telah memberitahu Akira kalau dirinya sedang menunggu di taman kampus.
Tentu saja Akira tidak membuang-buang waktu untuk itu.
Dengan berlari, Akira menuju ke tempat janjian. Dan ternyata benar, disana sudah ada Dean yang menunggu sambil duduk di bangku besi tepat menghadap kolam.
"Dean," panggil Akira.
"Kenapa ingin sekali bertemu denganku? kangen ya?" goda Dean.
Tadi pagi Dean sedang di jalan saat Akira menghubunginya beberapa kali dan tidak memungkinkan untuk menjawab panggilan tersebut. Baru ketika sampai di Kampus, Dean membuka pesan Akira.
"Dean, kamu baik-baik saja?" tanya Akira bahkan dengan ekspresi yang begitu khawatir.
"Tentu saja, kenapa?"
"Apa tidak ada yang berbuat jahat padamu?" tanya Akira memastikan.
"Jahat? maksudnya?" tentu saja Dean tidak paham dengan apa yang sedang Akira bicarakan.
"Apa kamu tidak di mata-matai seseorang?"
Pertanyaan Akira langsung membuat mata Dean membulat sempurna,
"Apa?"
***
__ADS_1